drise-online.com – Bak…! Buk..! Bak..! Buk..!… Adu jotos itu bukan terjadi di atas ring tinju atau antar pemain sepakbola di lapangan rumput. Tapi di halaman kampus. Malah terkadang di jalan raya, di depan gerbang sekolah, di pusat perbelanjaan, atau di tengah keramaian kota.

Swiiing! Pletak!… Lemparan batu itu bukan berasal dari para calon jemaah haji yang sedang latihan melempar jumroh. Juga bukan dari para pejuang intifadah di Palestina. Tapi berasal dari tangan-tangan pelajar dan kaum intelektual yang seharusnya memoles kreatifitasnya agar menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat.

Tes..! Tes..! Tes..! Tetesan darah itu bukan darah mujahid Irak atau Afghanistan. Bukan juga darah seorang Ibu yang berjuang mempertaruhkan hidup demi melahirkan buah hatinya. Tetesan darah itu milik pelajar yang tengah ‘berjuang’ meregang nyawa di medan tawuran demi solidaritas, gengsi, atau predikat seorang jagoan yang ditakuti dan akhirnya disegani.

Serbuu..! Teriakan lantang itu bukan suara panglima perang kemerdekaan. Tapi berasal dari seorang ‘pentolan’ yang ngasih komando kepada para ‘prajurit putih abu-abu’ untuk memulai ‘perang kolosal’. Siapa yang dapat melukai lawan, dia hebat. Siapa yang dapat menjatuhkan lawan, dia pahlawan. Dan siapa yang kurang persiapan, bersiaplah jadi korban… itulah fenomena tawuran.

‘Metamorfosis’ Pelajar Nakal

Perlahan namun pasti, kenakalan remaja mengalami metamorfosis. Presis kaya ulat yang berubah bentuk menjadi kupu-kupu cantik. Bedanya, metamorfosis pelajar berubah dari sekedar nakal menjadi perilaku brutal bahkan sudah termasuk tindakan kriminal. Ngeri!

Kalo anak cowok berantem satu lawan satu pake tangan kosong, itu wajar bin normal. Ekspresi kekesalan. Tapi kalo beraninya keroyokan. Musuhnya satu orang tanpa sejata, dilawan puluhan orang bersenjata lengkap itu udah brutal. Lihat saja, sekarang amunisi tawuran sudah makin canggih bin modern. Mulai dari gear sepeda yang diikat pada sabuk, hingga pecut ujung pari yang beracun. Belum lagi senjata tajam seperti pedang samurai, katana, badik, clurit, klewang, hingga gergaji. Sadis!

Walhasil, korban tawuran pun berjatuhan. Tak cuman luka lebam yang menghiasi wajah, tapi sudah level berlumuran darah. Nasib tragis dialami Ade Sudrajat (16), siswa kelas 1 SMK Wiyata Kharisma, yang tewas dengan celurit yang masih menancap di kepalanya. Bersama teman-temannya, almarhum terlibat tawuran dengan pelajar SMK lainnya di Jalan Raya Kemang-Bogor, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Rabu (12/2/2014). (news.detik.com, 12/02/14)

Kalo cuman ngelempar batu ke bis yang ditumpangi sekolah lain mungkin masih kategori nakal. Tapi klo udah pake aksi melempar bom molotov saat tawuran, itu udah brutal. Apalagi trennya sekarang, ‘tentara’ pelajar itu  pake air keras untuk melumpuhkan musuhnya. Ini sih udah tindakan kriminal.

Dalam sebulan di akhir tahun 2013, terjadi 4 kali penyiraman air keras yang memakan korban. Diantaranya terjadi dalam kasus pertikaian antar pelajar alias tawuran. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, penyiraman air keras oleh pelajar merupakan fenomena baru dalam pertikaian antarpelajar. Ia mengatakan, dahulu para pelajar menggunakan ikat pinggang dalam tawuran. “Bekal” tawuran itu berganti dengan benda-benda tajam, seperti samurai. Kini, pelajar beralih menggunakan air keras. (Kompas.Com, 14/10/13).

Kalo cuman dibully olek kakak kelas bisa jadi masih kategori nakal. Tapi kalo aksi bully-nya udah pake kontak fisik sampe memakan korban jiwa, itu sudah jadi tindakan kriminal bro! Seperti yang dialami Dimas Dikita Handoko, mahasiswa semester satu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, yang tewas setelah dianiaya tiga mahasiswa seniornya. Selain Dimas, enam temannya juga jadi korban penganiayaan sehingga mengalami luka yang parah. Adapun motif penganiayaan karena para korban dipandang tidak respek terhadap para senior. Ketujuh korban dipanggil ke kos para pelaku, kemudian dianiaya di sana dengan cara dipukul di bagian perut, dada hingga ulu hati. (Kompas.Com, 26/04/14).

Kalo cuman cemburu buta lantaran karena cinta, masih wajar menimpa remaja. Tapi klo berujung dengan kehilangan nyawa, kriminalitas ceritanya. Seperti yang menimpa Ade Sara Angelina Suroto,  mahasiswa Universitas Bunda Mulia itu. Ade jadi korban penculikan mantan pacarnya, Ahmad Imam al Hafitd bersama kekasihnya Assyifa Ramadhani.

Niat awalnya, Hafitd hanya ingin menculik Ade Sara lantaran kesal doi nggak mau berhubungan lagi dengannya. Namun selama aksi penculikan, korban mengalami penganiayaan. Dikelikitik pake kabel listrik hingga Ade tak berkutik. Karena panik, mereka membuang jenazah Ade Sara ke pinggir tol Bekasi. (Kompas.Com, 17/03/14)

Driser, kenakalan remaja khususnya pelajar kian hari kian mencemaskan. Perilaku nakalnya berubah jadi brutal dan cenderung kriminal. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat hingga 2014 ini ada 229 kasus tawuran, 19 siswa meninggal dunia (tewas) sia-sia. “Karena itu, tahun ini merupakan tahun darurat terhadap kekerasan anak,” ujar Ketua Umum Komnas Anak,  Arist Merdeka Sirait. (Beritakaltara.com, 19/01/14). Karakter pelajar yang intelek seolah hilang ditelannya budaya tawuran turun temurun. Yang keliatan di dalam kelas selama kegiatan belajar mengajar seperti para preman berseragam sekolah. Inikah salah satu produk pendidikan nasional kita?

 

Ngapain Tawuran?

Kenakalan pelajar seperti tawuran atau bullying yang jadi brutal sudah pasti merugikan banyak pihak. Mulai dari pihak keluarga yang kehilangan anaknya yang menjadi korban tawuran. Rusaknya fasilitas umum atau sarana sekolah yang sering jadi sasaran amuk masa tawuran. Hingga terganggunya proses belajar di sekolah. Kita jadi penasaran. Apa sih yang memancing para aktivis tawuran untuk menekuni ‘profesinya’?

Pertama, solidaritas. Rasa setia kawan yang tinggi biasanya paling sering memicu tawuran. Nggak bisa terima kalo temennya ‘dikerjain’ ama pelajar lain. Baru denger kabar burungnya aja, emosi udah naik ke ubun-ubun. Langsung dibentuk panitia kerja yang mengumpulkan konco-konco aktivis tawuran. Lalu mempersiapkan berbagai amunisi. Dan akhirnya menentukan waktu penyerangan. Persis kaya mau perang beneran.

Kedua, prestise. Ajang tawuran udah menjadi media unjuk kekuatan untuk dapet pengakuan dari lawan. Kalo ada yang berani ngejelek-jelekin nama sekolah atau mencemari nama baik komunitas, ditantang duel fisik bareng-bareng. Sebagai pembuktian, siapa yang berhasil membuat lawan kocar-kacir, dialah pemenangnya dan lawan tanding mesti tunduk dihadapannya.

Ketiga, warisan turun-temurun. Bagi para pelajar junior biasanya dapet warisan dari kakak kelasnya berupa informasi seputar dunia tawuran. Siapa musuh bebuyutannya, dimana tempat-tempat nongkrong lawan, sampe tip en trik kalo ada serangan tiba-tiba dari lawan. Juniornya selalu dipanas-panasin oleh kisah perseteruaannya di masa lalu dengan pihak lawan. Pokoknya, hubungan dengan musuh bebuyutan mereka itu cuman satu yang dibolehkan, perang!

Keempat, lingkungan. Selama ini, kekerasan bukan perilaku aneh di lingkungan kita. Saban hari, kita dicekokin informasi seputar tindak kekerasan. Mulai dari bentrok fisik antara warga miskin yang terkena gusuran dengan satpol PP, kericuhan antar mahasiswa dan aparat saat berunjuk rasa, hingga  adu jotos pun sering ditunjukkan oleh anggota dewan legislatif pusat maupun daerah. Belum lagi tontonan bullying yang dikemas dalam konflik sinetron remaja, makin menanamkan dalam benak pemirsa remaja akan kekerasan sebagai cara untuk memecahkan persoalan. Walhasil, emosi kawula muda gampang tersulut dan otaknya jarang dipake buat pecahin masalah. Bawaannya pengen ribut mulu!

Driser, dari budaya tawuran cuman satu yang kita dapatkan, korban. Yaps, baik korban secara fisik maupun perasaan. Kalo kita terluka atau malah meregang nyawa, hanya kesedihan keluarga yang kita peroleh. Predikat jagoan atau gelar pahlawan dari komunitas nggak bisa mengobati kesedihan keluarga. Perasaan bersalah karena telah melukai/membunuh pun akan terus menghantui. Hidup kita jadi nggak nyaman. Selalu dibayangi oleh perasaan takut kalo-kalo ada musuh yang membalas. Kita sering berprasangka buruk ama orang lain. Nah lho, emang asyik hidup paranoid? Nggak banget..!

 

Buah Pendidikan Sekular

Kita nggak bisa nutup mata kalo sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Semua bagian dari sistem pendidikan, steril dari nilai-nilai ruhiyah yang berkaitan dengan aturan agama. Mulai dari penyusunan kurikulum, mata pelajaran, kualifikasi pengajar, hingga pola pergaulan antar pelajar. Sistem pendidikan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan ini mandul dalam melahirkan pelajar shaleh sekaligus melek sains dan teknologi.

Pentingnya pendidikan agama bagi pelajar pun cuman diganjar dua jam pelajaran dalam satu minggu. Itu pun kalo gurunya masuk. Giliran berhalangan, cuman ngerjain tugas dan waktu bebas. Cihuuy…!

Materi pendidikan agama yang lebih banyak membahas tentang ibadah ritual, makin menjauhkan pelajar dari peran agama sebagai solusi masalah kehidupannya. Itupun sekedar transfer ilmu pengetahuan tanpa mampu membentuk (transform) katakter anak didik. Aturan Islam dipake cuman untuk sholat, puasa, berzakat, dan pernikahan plus waris. Diluar itu, pelajar buta agama dan pake cara apa aja yang penting masalahnya selesai. Salah satunya dalam menghadapi masalah dengan sesama pelajar. Baik temen satu gedung sekolah atau dari sekolah lain. Seolah solusinya cuman satu, tawuran!

Pendidikan sekuler materialis tak mampu membendung pengaruh lingkungan dan media yang mendidik pelajar untuk mengandalkan otot daripada otak untuk beresin masalah. Jiwa pelajar rapuh. Akidah yang sejatinya bisa jadi benteng terakhir yang mengendalikan jiwa muda pelajar saat hadapi masalah, hilang ditelan budaya pemissif. Sekolah pun tak peduli dengan keberadaan nilai akidah anak didiknya. Tak ada upaya untuk mengingatkan, apalagi menguatkan.

Walhasil, para pelajar nggak punya pegangan akidah yang kuat buat menilai benar atau salah perilaku kesehariannya. Yang ada di otaknya, cuman nilai materi dan kesenangan dunia. Cara apapun bakal dipake untuk meraihnya. Hawa nafsu pun dijadikan Tuhan untuk menuntunnya beresin masalah. Hingga tega menumpahkan darah sesama pelajar dengan cara sadis tanpa perikemanusiaan dan perikehewanan. Tingkahnya udah kaya zombie. Iih ngeri!

 

Solusi Tuntas Atasi Tawuran

Secara jelas dan pasti Islam menjadikan tujuan pendidikan adalah melahirkan “Kepribadian Islam”. Anak didiknya punya modal kuat untuk hadapi setiap masalah. Apapun masalahnya, kacamata Islam dipake untuk beresin masalah. Jadi nggak sembarang comot solusi. Kepribadian Islam ini dibentuk dari sistem pendidikan yang nggak cuman “Transfer of Knowledge”. Tapi juga dibarengi dengan “Transform of character”. Materi pelajaran diarahkan agar menumbuhkan pola fikir dan tingkah laku terpuji yang dibangun dari aqidah islam.

Kalo ngeliat alasan dibalik lestarinya budaya tawuran, semuanya bisa dipangkas dengan konsep pendidikan Islam. Kuatnya akidah yang tertanam dalam diri pelajar akan membentengi mereka dari bisikan setan untuk ikut tawuran. Konsep pendidikan Islam ini nggak akan nongol ke permukaan selama negara kita masih betah pake demokrasi sekuler kapitalis buat ngatur rakyatnya. Dalam sekulerisme, agama dianggap kagak penting. Dalam kapitalisme, pendidikan dianggap penting kalo menghasilkan uang, bukan kepribadian. Nggak peduli lulusannya mau jadi apa, yang penting SPP-nya lancar.

Selain itu, kudu ada tindakan tegas setiap kali ada tawuran. Kalo cuma penjara mah enteng banget. Pelaku nggak bakal kapok, dan pasti berencana bales dendam. Soalnya nggak ada hukuman yang bikin takut pelakunya. Tawuran pun bakal berulang. Jangan cuma sanksi akademik dikeluarin dari sekolah atau nggak boleh ikut ujian. Tapi juga mesti dibarengi dengan sanksi hukum. Biar kapok tujuh turunan. Satu-satunya hukum yang adil adalah hukum Islam dalam bingkai negara Islam. Dalam Islam pelaku tawuran bakal kena hukuman berat. Kalo ada darah berceceran, maka pelakunya kena qishash atau diyat. Satu jari tangan aja dihargai denda 10 ekor unta atau sekitar 110 juta rupiah. Kalo sampai kehilangan nyawa maka 100 ekor unta atau sekitar 1,1 Miliar rupiah kudu dibayar, atau keluarga korban menuntut hukuman mati. Nah lho, pikir lagi deh!

Semua solusi di atas bakal terjadi kalo negara mau terapkan syariah Islam sebagai dasar negara dalam bingkai pemerintahan Islam, khilafah Islamiyah. Dijamin aman bray..!

 

Woles aja Cuy!

Driser, nggak mudah untuk memutuskan mata rantai budaya tawuran. Tapi bukan berarti mustahil. Yang diperlukan hanya kerjasama semua pihak untuk memangkas pemicu pelajar terjun ke dunia tawuran. Baik pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolah, dan tentunya pelajar itu sendiri.

Pemerintah berperan untuk meminimalkan informasi tentang kekerasan yang mendominasi pemberitaan media massa. Akan lebih baik jika media masssa pun tidak berlepas tangan dengan berita kekerasan yang jadi andalan mereka. Tetap kedepankan faktor edukasi agar masyarakat paham kalo cara kekerasan bukan satu-satunya jalan memecahkan persoalan. Peran pihak sekolah/kampus tidak kalah pentingnya. Pola pendidikan yang tak sekedar transfer ilmu tapi juga transform (membentuk) kepribadian, akan membantu pelajar untuk pake otaknya dibanding ototnya dalam menghadapi masalah. Idealnya, pemerintah pake aturan Islam untuk ngatur rakyatnya.

Dan ujung tombak yang sangat diharapkan bisa memutus rantai budaya tawuran, adalah kita sendiri selaku pelajar. Ini tipsnya:

Pertama, jangan umbar emosi kita. Meskipun kita jago bela diri atau badan kita macho, bukan berarti kudu selalu mengumbar emosi. Justru kalo kita mudah mengumbar emosi, tandanya kita kalah oleh hawa nafsu sebelum bertanding layaknya seorang pecundang. Kalo kita bukan seorang pecundang, hadapi setiap persoalan dengan kepala dan hati dingin. Rasul saw bersabda: “Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)

Kedua, tabayyun alias cek en ricek berita. Berita burung tak selamanya gosip, berita dari seorang kawan terpercaya pun tak selamanya dijamin benar. Nggak ada ruginya kita biasakan untuk ngecek berita yang sampe ke kita. Terutama berita yang bisa memancing adrenalin. Biar persoalannya jelas dan nyari solusinya juga lebih pas. Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujuran [49]: 6)

Ketiga, maafkan dan lupakan. Kalo ada temen kita dari luar jurusan, fakultas, atau lain sekolah dan kampus, yang berbuat salah sebaiknya dimaafkan dan dilupakan. Nggak usah diungkit-ungkit apalagi diceritain ama temen sambil dikasih bumbu panas pemancing emosi. Asli, nggak bagus kok punya dendam kesumat. Selain nambah beban dan pikiran, dendam kesumat cuman jadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan diri kita. Menjadi seorang pemaaf nggak bikin reputasi kita hancur. Justru kita menjadi lebih manusiawi dalam menghadapi persoalan. Karena setiap orang tak luput dari kesalahan. Dan kesalahaan terbesar adalah ketika kita tak mau memaafkan kesalahan orang lain. Catet tuh!

Driser, ayo kita ingatkan diri kita dan teman-teman kita untuk berhenti dari rutinitas tawuran. Tawuran nggak bikin diri kita mulia dihadapan manusia, apalagi dihadapan Allah swt. Yang ada, justru diri kita jadi terhina karena dikalahkan oleh hawa nafsu. Tawuran juga nggak bikin persoalan tuntas. Yang ada, tambah runyam.

So, daripada sibuk mikirin aksi balas dendam lebih baik salurkan gelora jiwa muda kita ke arah positif. Seperti dengan aktif mengenal Islam lebih dalam. Selain bisa membentengi diri dari godaan hawa nafsu, dengan mengaji juga membuat peran kita sebagai generasi harapan umat lebih maksimal. Ayo, tinggalkan tawuran dan aktif di pengajian! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam D’rise Edisi #37