Majalahdrise.com – D’Riser, edisi kali ini kita masih mo  ngebahas soal penulis dan buku  juga. Kita mo ngebahas soal penulis  di antara bookaholic dan biblioholic.  Cekidot….! Kita mulai dari definisi dulu ya.  Bookaholic itu berasal dari dua kata, “book”  yang artinya buku ato kitab, and kata “holic”,  kata itu pun berasal dari kata “alcoholic” yang  maknanya pecandu alkohol alias pemabuk  berat. Waduh! Eits, jangan paranoid dulu ya.  Ternyata dari asal dua kata tadi, bookaholic  maknanya adalah pecandu buku alias  penggemar berat buku, dia seperti ga bisa  hidup tanpa buku.

Waouw! Trus, kalo biblioholic itu berasal dari  kata “bibliotheque” yang artinya  perpustakaan, dengan diksi “holic” tadi. So,  jika kedua kata tadi digabungkan maka  maknanya menjadi pecandu perpustakaan  ato penggemar berat perpustakaan. Nah,  beda banget, kan, dengan istilah bibliomania  yang udah kita bahas di edisi D’Rise  sebelumnya?! Bibliomania itu maknanya  pecandu berat buku! Sedangkan biblioholic  hanya sekadar penggemar berat, gak sampai  jadi maniac ato nyandu berat.  Nah, seorang penulis pun kudu punya  tabiat asyik jadi seorang bookaholic and  biblioholic tadi. Apalagi bagi kamu-kamu  yang mo ngejadiin aktivitas nulis ini ga  sekadar hobi, tapi bentuk aktualisasi diri  sekaligus tambang ngeraih rizki, maka  bookaholic dan biblioholic ini jadi harga mati!  Catet! Oya, Saya mo ngutip tulisannya  Tomothy W.Rybak dalam bukunya The Book  That Shape His Life, dia bilang,

“Hitler read  almost one book per night in his chair while  drinking tea”. Rybak cerita, bahwa Adolf Hitler  adalah seorang bookaholic dan biblioholic.  Sepanjang hidupnya, Hitler banyak baca  buku plus sering menyambangi banyak  perpustakaan. Bahkan, ideolog fasisme  Jerman ini telah mengoleksi 160.000 buku  di perpustakaan pribadinya. T.O.P.B.G.T.lah! Dari hasil kegemaran Hitler membaca  dan mengoleksi buku itu, Sang Fuhrer  berhasil menyusun kitab injilnya Kaum Nazi,  Mein Kampf yang kini tercatat sebagai buku  super mega bestseller di dunia, melampaui  penjualan bible sekalipun! Buku karya Hitler  ini menguraikan visi politiknya, superioritas  bangsanya atas dunia, sekaligus ambisinya  membangun the third reich alias imperium  ketiga dunia, sehingga banyak orang  mengatakan bahwa Mein Kampf-nya ini  sebagai satanic bible! Waduh… gawat  banget, ya?!

Hadeuh, contoh bookaholic dan  biblioholic tadi sangar bin sadis, ya? Oke,  deh, kini saya mo ngasi contoh yang softly  tapi tetap keren. D’Riser tahu Syaikh  Nashiruddin al-Albani? Penulis dan  pentakhrij kitab-kitab hadits, sekaligus  muhaditsin ini adalah seorang bookaholic  dan biblioholic juga. Profesinya sebagai  tukang servis jam tidak menghalangi hobinya pada buku. Sepulang dari  pekerjaannya dia kerap singgah ke  perpustakaan untuk sekadar meminjam buku  ato mengembalikan buku yang telah  dilahapnya.  Di waktu senggangnya pun, Syaikh al-Albani lebih sering menghabiskan waktunya  untuk membaca dan menyalin kitab di  perpustakaan.

Bahkan saking seringnya dia  datang ke perpustakaan, Syaikh al-Albani  dititipi kunci perpustakaan agar dia lebih  leluasa datang ke sana, kapan pun dia mau.  Hasilnya? Syaikh Nashiruddin al-Albany berhasil  menyusun banyak kitab dan kutaib, di  antaranya yang populer adalah Salasilah Hadits  Dhoif wal Maudhu dan as-Sifah Sholah an-Nabiy.  Contoh lainnya, kamu tahu Syaikh  Taqiyuddin an-Nabhaniy? Pendiri dan ideolog  Hizbut Tahrir ini terkategori seorang bookaholic  dan biblioholic juga lho.

Di tengah  kesibukannya berdakwah membina umat dan  mengorganisir partainya di seluruh dunia,  Syaikh Taqi masih sempat menghabiskan lebih  dari 21.000 kitab yang dibaca sepanjang  hidupnya, baik kitab-kitab di perpustakaan  maupun yang disimpannya. Dari  kegemarannya membaca buku ini, Syaikh yang  pernah menjabat qadhi terkemuka di  mahkamah syari’ah al-Quds, Palestina ini  berhasil menyusun ratusan kitab, kutaib dan  nasyrah syar’iyah. Kini, sebagian besar kitab  yang ditulisnya itu, menjadi rujukan utama  partai politik Islam yang didirikannya. Mantap!  Nah, terbukti kan, tabiat bookaholic dan  biblioholic itu emang kudu dimiliki seorang  penulis.

Kalo kamu gada minat sama buku and  perpustakaan, hidup aja tuh kayak Si Tarzan  sama sekawanan gorila di hutan sana! Mereka  pasti ga minat sama buku, apalagi  menyambangi perpustakaan! Halah!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51