Sunday, July 26

Aku Tandai Kau, Nepotisme!

Aku tandai kau, ya! Kalimat itu lagi happening banget di kalangan netizen. Itu ucapan siswi berinisial SD  pada polwan yang menghentikan mobilnya saat konvoi kendaraan pasca Ujian Nasional. Itu loh, remaja asal Medan yang ngakungaku anak jenderal, padahal bukan. Gara-gara kelakuannya, SD langsung di-bully netizen. Akibatnya vatal.  Dara cantik itu shock dan bahkan ayahnya meninggal karena serangan jantung. Terlepas itu memang qodho, diduga sang ayah tak tahan dengan berita di media yang terus memojokkan putrinya. Tragis. Tanpa bermaksud ikut mem-bully, banyak pelajaran dari kasus ini. Pertama, pentingnya menaati peraturan apapun agar berujung pada kebaikan. Kedua, pentingnya menjaga perilaku dan etika di manapun berada. Ketiga, betapa mengakarnya budaya nepotisme hingga menginveksi otak remaja.    

Taat Aturan 

Perilaku remaja yang biasa  merayakan berakhirnya UN dengan hurahura, sudah banyak dikupas. Misal, merayakan di jalan raya dengan konvoi  kendaraan yang mengganggu pengguna jalan lain. Padahal, siapapun wajib menaati aturan berlalulintas. Ini memang kita sesalkan. Ingat, di manapun kita berada, harus selalu disiplin menerapkan aturan. Selama aturan itu tidak bertentangan dengan perintah dan larang Allah SWT, mengapa harus dilanggar?

Tertib dalam berkendaraan, sabar dalam antrean,  menaati rambu-rambu lalu lintas, dan mengikuti prosedur dalam segala urusan, pasti akan membawa kebaikan.  Jangan coba-coba melanggar.  Selain berpotensi membahayakan diri, juga membahayakan orang lain. Kita tidak perlu takut berhadapan dengan siapapun asal melakukan tindakan yang benar. Apalagi “cuma” berhadapan dengan polisi. Selama kita tertib mengikuti aturan, tidak perlu gentar. Sehingga, tidak pada tempatnya jika ada aparat yang berusaha menegakkan ketertiban, malah jadi tumpahan kemarahan. Yang salah siapa, yang marah siapa!   

‘Paparazi’ Malaikat 

Pelajaran selanjutnya adalah, sebagai  muslim, kita musti menjaga perilaku. Ingat, saat ini banyak paparazi di sekitar kita. Hampir semua orang mengantongi smartphone di saku atau tasnya. Mereka tanpa perlu menjadi wartawan, sewaktu-waktu siap melaporkan peristiwa on the spot. Memotret candid, menghasilkan liputan amatir di media sosial yang berpotensi booming. Tanpa izin.  Jadi, waspadalah. Selalu hati-hati di ruang publik. Kita memang bukan siapa-siapa, tapi salah sedikit saja, bisa jadi “artis” dadakan. Mendadak terkenal.  Mendadak di-bully. Karena, yang paling gampang booming itu adalah jika perilaku minus yang tersorot kamera. Jangan sampai, deh! Lebih dari itu, kita musti ingat, “kamera” malaikat selalu on setiap saat.

Merekam dan mencatat seluruh aksi kita tanpa jeda. Real. Tak bisa diedit, apalagi dihapus. Itulah yang kelak jadi pertanggungjawaban kita di hadapan-Nya. Tanpa bisa mengelak.  Nah, waskat inilah yang mustinya mendorong kita untuk selalu on the track. Nggak iseng, nggak usil. Selalu mengendalikan emosi. Menjaga akhlak, sopan santun dan etika. Menjaga aurat. Menjaga kehormatan diri dan keluarga. Jangan sampai ulah kita membawa efek buruk bagi orang tua yang kita sayangi. Jadi, terapkan waskat alias pengawasan melekat. Ingat selalu pengawasan dari para malaikat, agar tidak terjerumus berbuat maksiat. Hanya dengan itu seluruh aktivitas kita akan bermanfaat.  

Cermin Nepotisme

Kasus SD juga jadi cermin buat para  orangtua dan penguasa di negeri sekuler ini. Sistem demokrasi yang diterapkan, mengajarkan nepotisme yang begitu mendarah daging. Sampai-sampai ditiru remaja. Ya, nepotisme alias perkoncoan atau perkoneksian. Fasilitas terbaik, kemudahan dan layanan prioritas akan diberikan kepada orang ngetop, orang penting, pejabat tinggi dan orang kaya; tentu beserta anak cucu tujuh turunannya. Asal ada rekomendasi atau ketebelece, urusan beres. Apalagi ditambah pelicin, lebih cepet lagi beresnya.  Misal, kalau kamu anak gubernur, pasti diprioritaskan masuk sekolah terbaik. Dipercepat urusan administrasinya. Tidak diharuskan antre. Kalau melanggar nggak dihukum. Kalau berbuat salah dimaklumi.

Gitu seterusnya. Pokoknya segala urusan dipermudah. Bahkan, sekadar mencatut nama orang penting saja, kalau bisa bikin keder aparat, urusan bakal selamat.  Kondisi itu bertolak belakang banget dengan rakyat jelata kebanyakan. Contoh, kalo penghina lambang negara orang biasa atau aktivis dakwah, langsung deh jeblosin ke penjara. Dianggap makar. Giliran yang menghina lambang negara artis, eh, malah diangkat jadi duta lambang negara itu.   

Tampaknya, sikap nepotisme itulah yang menjalar deras di dalam tubuh SD. Entah siapa yang menurunkannya, tentu kontribusi dari sistem demokrasi ini juga. Karena, sikap nepotisme kayak gitu bukan hanya monopoli SD, bukan? Banyak orang yang melakukannya. SD bisa jadi hanya terinspirasi orang-orang dewasa di sekitarnya yang secara langsung maupun tidak telah mengajarkannya.

 Jadi, orang-orang dewasa, memang harus berkaca. Ini salah mereka juga. Salah menerapkan nepotisme. Salah menerapkan demokrasi. Jadi, kita tandai saja sistem salah ini dan buang rame-rame. Supaya nggak ada lagi SD-SD lainnya yang berbuat khilaf.Catet![asri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *