Friday, May 22

Anak Baru Di kelas Sebelah

“Adiiiittttt!”

 Tami berlari kecil mengejar Adit. Adit menghentikan langkah lalu membalikkan badan. Tak berapa lama, Tami tiba dihadapannya dengan nafas tak beraturan. “Lu kenapa sampai segitunya? Kangen ama gue ya?” ujar Adit.

Tami segera mensejajarkan langkahnya dengan Adit. “Dit, lu tau gak?di kelas sebelah ada anak baru!”, suara Tami terdengar penuh semangat. Full power. Wajahnya sumringah riang gembira. “Trus?”, Adit bertanya singkat, mereka berjalan cepat memasuki koridor sekolah.  “Yang ini special, Dit” “Special pakai telor?” ujar Adit  cuek. Keduanya memasuki kelas. Tami  senyam-senyum sementara Adit cemberut “Lu kenapa sih? Genit gituh?”

 “Hehehe” Tami hanya terkekeh lalu  menaruh tasnya. Belum sempat Ia membuka pembicaraan, dari arah pintu terdengar suara Rajib yang kerap di sapa Ajibonk. Si lelaki tulang lunak yang membuat Adit dan Tami serempak menoleh.

“Hey guys…. Apa kabar semua? Semoga hari ini ceriah ya. Semoga Pak Karim diberkahi wajah sumringah pas ngajar matematik hihihi” Rajib menaruh tasnya dengan gemulai, lalu menyambung sapaan paginya, khas Ajibonk “Kalian udah liat status gue hari ini, Cyiiin?”, mata Rajib menyapu kelas dengan genit “ Tadaaaaa….!!!” Ia memperlihatkan sebuah pic yang baru di uploadnya”ni foto  gue ama anak baru di kelas sebelah hihihi keren bo’. Ni juga butuh perjuangan. Datar banget ekspresinya ya?” Tami melotot ke arah Ajibonk.

“Hey, ajibonk. Lu malu-maluin aja  deh. Gue yakin, anak kelas sebelah itu gak rela berfoto ama lu. Jeruk minum jeruk”, teriak Tami “Hihihi biarin aja, yang penting, gue punya pic di pagi ini. Lu jangan sirik ya, Tam”, Ajibonk melirik genit kearah Tami.

 “Ih, enak ajah” Tami memalingkan wajah dari  Ajibonk. Diam-diam Ia memikirkan gimana caranya ngedapetin anak baru di kelas sebelah? Demam anak baru yang bernama Romi sepertinya benar-benar melanda sebagian kaum Hawa di SMA Insan Taqwa. Tak terkecuali Tami, Ia seperti berlomba untuk mendapatkan perhatian Romi. Uniknya Romi kalem aja.

“Lu tau gak, Dit, Nomer handphone  si Romi udah gue dapet”, Tami berucap dengan riang. Jam istrahat telah berlangsung beberapa menit yang lalu. Keduanya sedang mengisi kampung tengah di kantin Bu Sri.  “Romi siapa yah?” Adit balik bertanya “Itu lho, anak baru di kelas sebelah” “Ooohhh” “Onaknya hebat lho, Dit”, mata  Tami berbinar, menyimpan segumpal kekaguman. Adit hanya menaikkan kedua  alisnya “Romi itu pindahan dari Bandung.  Selain pintar, dianya juga oke punya”  “Oya?”, Adit menyeruput  minumnya “Romi tu keluarga pebisnis. Lihat  aja, kendaraan si Romi, mentereng gitu, Dit”, raut Tami bersemangat. “Oalaaahhh… lu ngincar si Romi karena kekayaan orangtuanya gituh? Basi!”, Adit menepiskan tangan ke udara. Tami manyun.

“Lu gak ngedukung gue, Dit?” “Mau ngasih dukungan apa? Ketik  Tami spasi Romi gituh?”, Adit mendelik ke arah Tami”gue angkat tangan dengan yang namanya pacaran. Illegal”, sahut Adit. Tami terdiam. “Mending lu ikut tuh, kegiatan Rohis hari minggu ini. Gue di ajak Oji. Saatnya berhijrah, jangan nunggu nanti, karena mati, ga nunggu nanti. Yuk ah!”, Adit bediri, bergegas kearah kasir di ikuti Tami yang masih terdiam. Hm, ternyata si Oji, sepupu Adit yang dedengkot Rohis putra itu berhasil ngubah pandangan Adit tentang pergaulan.  

***

Tami menekan keypad ponselnya. Ia berulang kali melakukan hal yang sama dengan hati deg-degan. Tami menghela  nafas dalam-dalam dan…hm, kali ini Ia  menempelkan ponsel ke telinganya. Beberapa detik menunggu, nomor yang dituju masih belum menjawab. Ffiuhhh….ia menghela nafas sekali lagi lalu mengulang hal yang sama, kali ini disertai ikrar dalam hati, jika masih gak diangkat, Ia gak akan menghubungi nomor itu, setidaknya untuk hari ini. Sekali lagi, Ia menekan tombol di layar ponsel, nomor yang dituju kembali berbunyi…satu dua tiga detik dan… “Halo, Assalaamu’alaykum warahmatullaah” Wuishhhhh gelombang udara dingin merambati Tami. Suara sopran itu tak lain adalah milik Romi.

 “Halo?”, Romi kembali mengulang ucapannya “Ha…ha..lo?”, Tami sedikit tergagap. “Ni siapa ya?” “E..ehh… Rom, ini gue…Tami”,  hadeuhhh gue ngomong kayak keselek geeenee seehhh, Tami mendelik sendiri “Tami siapa?” Tami menepuk jidat “Tami anak kelas XIB. Gue…gue  tetangga kelas lu”, Tami berusaha menjawab dengan suara senormal mungkin. “Ooh… ada yang bisa saya bantu?” Deuh…Romi kok datar gini sih… “Gue…em…mmmhhh…gue denger  lu pinter matematik…gue mau pinjam catatan!”, Tami mengernyitkan dahi, aduh ni alasan apaan sih? “Catatan? Pembahasan apa ya?” What?  Iya, tentang apa yah???  Adeuh ngebayangin matematika aja Tami udah mual. Tami terlonjak. Segera mencari buku matematika di rak buku “Halo?”, suara Romi terdengar kembali “Eh…i..iya ntar nih lagi nyari buku cat..eh… bukan enggg.. integral dan  diferensial!” seru Tami semangat.

“Oh, iya boleh. Ke kelas aja besok”, sahut Romi “Boleh?? Beneran?”, Tami kian bahagia “Boleh. Ada lagi?” “Eng…engggakk…” “Ya udah wassalaamu’alaykum  warahmatullaah”, Romi menutup pembicaraan. Tami masih terpaku. Ia seperti  kesetrum . Detik selanjutnya, Ia melompat kegirangan,jingkarakan seperti anak kecil.

***

 Adit tergesah-gesah memasuki sekolah. Sesekali Ia membetulkan letak kerudungnya. Selama ini, Ia hanya memakai kerudung bergo mini  plus celana jeans. Kali ini ada rasa yang beda memakai kerudung lebar. Ia berhenti di parkiran sekolah, sambil melihat kebawah, ke ujung gamis. Ia menarik gamisnya kesamping kiri dan kanan, rasa tidak pede menjalarinya.

Ia menuju sebuah mobil dan mulai memperbaiki letak kerudung sambil melihat bayangannya pada kaca mobil.  Ah, terlihat baik-baik saja. Namun perasaannya masih kurang nyaman. Ia mematut-matut wajah di kaca mobil. Berdiri tegak kemudian memperbaiki letak brosnya. Ia memutar tubuhnya, melihat bayangannya dari arah samping.

Ia memutar tubuhnya sekali lagi, hmmm lumayan baguslah.  Adit senyum-senyum sendiri.  Tepat pada saat itu, kaca mobil diturunkan, seseorang menengok keluar memandangi Adit yang membelalak. Wajah lelaki itu datar. Adit segera menutupi wajah dengan kedua tangannya, secepat itu pula Ia membalikkan tubuh.

Lelaki tadi terdengar keluar lalu menutup pintu mobil. Adit terdiam di tempat. Ia hanya mendengar suara sepatu yang beradu dengan kerikil jalanan. Detik selanjutnya, Ia segera mengambil langkah seribu. Tak lagi diperdulikan letak kerudungnya. Satu yang di inginkannya, segera bertemu Ika dan mengikuti acara.  Setelah cukup jauh meninggalkan parkiran, Ia mengeluarkan ponsel, mencari nomor Ika dan segera menguhubunginya.  

“Assalaamu’alaykum? Ka?”, Adit membuka pembicaraan sambil memberanikan diri menengok ke belakang. Wishhh Alhamdulillah gak ada orang. Ia memperlambat langkah “Ya, wa’alaykumsalam warahmatullaah…lu dimana,Dit?”, sahut Ika “Gue menuju aula” “Ok, sip. Buruan ya”  “Iya”, Adit buru-buru menaiki tangga menuju aula. _

 Acara yang berlangsung setengah hari itu emang TOP. Adit puas dengan training berikut cara trainer memaparkan materinya. Usai acara, Adit mencari Oji. Ia berniat meng-copy materi training hari ini. Adit celingukan mencari Oji, akhirnya Ia melihat Oji sedang membereskan kursi bersama panitia.  “Ji!”,Oji menoleh ke arahnya. Adit segera mendekati Oji dan menyodorkan hard disc miliknya,“nih, copyin materi tadi dong” “Oh, ok sip”, Oji mengambil hard disc tersebut  “gue ke bawah ya, mau sholat. Lu balik bareng siapa?” “Di jemput Papa. Eh nih Papa telepon”, Adit melirik ponselnya “Ya udah gue duluan”, Oji bergegas meninggalkan Adit yang hanya mengangguk sekilas sembari menerima telepon.

“Ya,Pa. Adit ke bawah” Adit bergegas menuruni tangga, Saking terburuburu, Adit nyaris menubruk seseorang.  Begitu mendongak, mata Adit membelalak. Ia segera berlalu dan kembali mengambil langkah seribu. Ya ampun! Cowok itu kok  jadi hantu hari ini??. Tadi Pagi dimulai dengan peristiwa memalukan, sekarang  nyaris saja Adit mempermalukan diri sendiri.

“Eh, Dit, acara Rohis kemarin gimana?”, Tami memasang wajah penuh minat. Adit hendak memulai cerita, namun urung karena tiba-tiba Ia menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya, berdiri di depan pintu, sedang berbicara dengan Dion, teman sekelas Adit. Tami ikut- ikutan menoleh ke pintu. Matanya berbinar terang “Hey! Rom. Kebetulan, nih gue mau balikin buku lu. Kemarin lupa, sorry ya”, Tami bergegas berdiri menyambut Romi yang menoleh kea rah Tami.

“Ng…saya nyari sepupu Oji. Katanya namanya Adit” “Oh…Adit?”, Tami mengernyitkan dahi lalu menoleh ke kursi Adit. “lho,Adit mana ya?”, gumamnya “Kenal Adit kan?” “Tentu saja”, Tami menganggguk  cepat “Ini hardisc Adit. Kemarin dititipin  ke Oji, minta di copyin materi” Tami mengernyitkan dahi “Materi apaan ya?” “Training Rohis kemarin”, Ucap  Romi sambil menyodorkan sebuah hardisc kea rah Tami. Tami segera mengambil hardisk tersebut.  “Nih buku lu, Rom”, Tami menyodorkan buku Romi “Oh iya,makasih ya”, usai berucap, Romi segera berjalan meninggalkan Tami yang masih mematung.  

“Tam!”, Adit tiba-tiba nongol, Ia menepuk pundak sahabatnya, Tami terlonjak kaget “Eh, lu…lu kenal Romi?” “Romi siapa?” “Yang ngasih harddisc lu. Nih”,  Tami menyodorkan hard disc Adit “Oh…itu yang namanya Romi  yah?”, Adit berucap pelan

“Iya. Lu kenal dimana?”, Tami  penasaran. Adit menggelengkan kepalanya “Gue gak kenal. Waktu kegiatan  Rohis, hard disc ini gue titip ke Oji” “Romi ikut Rohis ya?”, Tami tak  mampu menyembunyikan rasa penasarannya “Ya mana gue tahu”, Adit menjawab sambil berjalan menuju kursi. Tepat pada saat itu, Bel tanda apel pagi berbunyi. Keduanya keluar dengan pikiran yang berbeda. Tami dengan pikirannya  mengenai Romi yang di duga keras ngikut  Rohis. Dan Adit yang kembali terbayang  kejadian di parkiran kemarin. Di lapangan sekolah, keduanya melihat Romi dengan perasaan berbeda

***

“Dit, gue mau ikutan Rohis”, Tami berjalan gontai di sisi Adit.  “Karena Romi?”, Adit menghentikan langkah, Ia menatap lekat sahabatnya,Tami terdiam. “luruskan niat, Tam. Cinta sejati itu akan kita temukan dengan jalan yang benar. Dahulukan cinta kepada Allaah, insya Allaah cinta sejati bakal kita dapatkan” “Tapi..gue bener-bener…”,

Tami tak meneruskan ucapannya “Jangan menggantungkan harapan kepada manusia, Tam. Berharaplah kepada Allaah, pasti Allaah bakal nunjukin yang terbaik. Berharap kepada manusia  hanya akan meninggalkan sakit. Sadari itu, Tam. Sebelum perasaan lu jauh dan terikut dalam harapan palsu. Jangan abisin waktu untuk sesuatu yang gak jelas”, Adit menatap Tami, meyakinkan sahabatnya. Adit faham, sebagaimana Tami menyadari bahwa kondisinya sulit menerima nasihat Adit. Adit menepuk lembut pundak Tami “come on,Tam. Yakin Allaah berikan yang terbaik. Lagipula,lu belum siap nikah kan? Dan yang harus lu fahami, Romi pun gak akan menempuh jalan illegal  untuk mendapatkan cinta sejati”,

Adit tersenyum menatap Tami. Tami hanya mengangguk, dalam hati Ia membenarkan perkataan Adit. Sepenuhnya. Ya, sepenuhnya benar, seperti Ia meyakini bahwa cinta sejati akan tiba pada waktu dan orang yang tepat. [ Juan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *