Wednesday, February 19

Apa kabar pendidikan Indonesia?

Driser, di bulan lahirnya Ki Hajar Dewantara ini kita mau ngobrolin tentang pendidikan.  Kita penasaran, apa sih pendapat siswa, orang tua murid, atau guru yang berkaitan dengan keadaan pendidikan dalam negeri saat ini. Kali ini DRISE berhasil menodong mereka yang mewakili siswa, orang tua murid dan guru. Yuk kita intip pendapatnya!

Wawancara Crew dengan Putri, selaku Siswa.

Crew : Melihat pendidikan sekarang, baik mutu maupun sistem pendidikan, menurut kamu kayak apa?

Siswa : Tidak dapat dipungkiri Sob, bahwa sistem pendidikan sekarang jelas banyak mengeksploitasi waktu seorang siswa yang membutuhkan istirahat yang cukup. Kenyataan sekarang? Siswa disibukkan dengan belajar pelajaran duniawi. Dan porsi pendidikannya hanya 2 jam saja (90 menit).  Hmm, Putri ngalamin sendiri soalnya. Gimana tenaga kita diperas untuk belajar otodidak, presentasi di depan teman-teman, diskusi.  Terakhir kupaslah.. Apa tujuan kita belajar suatu “Mapel” . Sehingga pelajaran yang kita terima ngga sia-sia. Sehingga muncullah komentar “Buat apa belajar sejarah, bikin ngga bisa move on!”

Crew : Kalau boleh berkhayal, kamu pengen sekolah dan pendidikan di Indonesia kayak gmn?

Siswa : Yang jelas Putri pengen sekolah ngga bersikap sekuler. Sekedar mengambil pendidikan duniawi dan melepaskan unsur agama. Ibarat belajar biologi, kaitkan bahwa ada Allah yang menciptakan kita, sehingga kita akan faham siapakah diri ini? Dan untuk apa kita di dunia. Serta kelak bagaimana kia harus mempertanggungjawabkan amal ibadah kita. Kan lucu ya Sob? Seandainya agama cuma dikasih porsi 2 jam..

Crew : Menurut kamu, kalau ada yg corat coret abis lulusan itu gmn?

Siswa : Boleh dong, kalau coret-coretnya dengan pena diatas kertas.. Mengabadikan momen-momen dengan kawan-kawan dan pengalaman inspiratif yang bisa  dibukukan.. Sehingga dapat menginspirasi yang lain. Tapi kalau yang dicoret-coret baju? Aduh, jangan sampai dilakukan deh

Wawancara Crew dengan salah satu orang tua murid, Bu Neneng :

Crew : Melihat pendidikan sekarang, baik mutu maupun sistem pendidikan, menurut ibu seperti apa?

Ortu : Kacau balau, kurikulum kerap berganti ganti. Anak anak dibebani dengan pelajaran yg tidak  penting, sementara minat dan bakat anak tidak tergali.

Crew : Kalau ada yg corat coret abis lulusan, menurut ibu gmn? Bagaimana seharusnya remaja kita ber ekspresi?

Ortu : Sy menyayangkan perilaku seperti itu tapi saya juga memahami mereka, karena mereka tidak dilatih untuk mengekspresikan kebahagiaan mereka dengan hal yg positif dan tentunya minus teladan yg baik

Crew : Apa harapan ibu untuk pendidikan Indonesia di masa depan?

Ortu : Sistem pendidikan yang membuat anak belajar dengan gembira dan penuh semangat untuk mempelajari sesuatu. Sehingga anak menyambut hari sekolah dengan antusias.

Wawancara Crew dengan salah guru muda dari Cirebon, Ibu Juwita:

Crew  :  Apa yang paling meresahkan menurut ibu di dunia pendidikan sekarang?

Bu Guru : Yang meresahkan banyak sekali kadang merasa sedih sendiri dan bertanya dalam hati kok bisa ya pelajar kita seprti itu? Pacaran, gaul bebas seks bebas, aborsi, narkoba, tawuran, bullying

Crew : Bagaimana sebaiknya hubungan antara ortu dan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan?

 Bu Guru : Hubungan guru dengan murid harus tercipta rasa cinta dan rindu. Menjadi guru yg dirindu siswa/i , guru yag merindukan siswa, dan antara guru dan siswa saling mencintai ilmu dan menimba serta mengamalkannya. Guru yang menanamkan aqidah Islam yg kuat dan membentuk karakter pola sikap &perilaku Islami peserta didik. Keduanya saling bersinergi.

Sekolah tidak lepas dari peran guru. Sedang keberhasilan secara tidak langsung dipengaruhi peran serta orang tua selaku wali murid. Keduanya bersama merangkul anak bangsa untuk mencintai ilmu dan mendapati falsafah yang mulia dalam mengejar ilmu. Tak semata aspek materi atau kelulusan saja dikejar.

Harmonisasi siswa, guru, dan orang tua tak lepas dari aturan pendidikan yang menaunginya, apakah mengarah pada sekularisme atau ditopang oleh aqidah islam.  Jika asas sekulerisme yang menopang sistem pendidikan seperti di negeri ini, tak heran jika hasilnya memprihatinkan. Sebaliknya, jika akidah Islam yang menopang aturan pendidikan saat ini tentu akan lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dari negeri Kartini yang berkontribusi untuk kebaikan Islam dan kaum Muslimin.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *