Tuesday, July 21

Awkarin Bukanlah Kita

Buat yang belum pernah denger istilah Awkarin, nggak usah kepo deh. Kita kasih tau aja ya. Singkatnya:  doi itu gadis yang baru 18 tahun dan tibatiba populer di media sosial. Ini karena  postingan foto atau videonya yang gaul: baju seksi, merokok, minum alkohol dan pacaran.

Nah, yang terakhir ini yang bikin enek: gaya pacaran yang vulgar.  Herannya, penduduk dunia maya tergila-gila memujanya. Mungkin karena ia sangat mewakili anak muda. Di saat remaja seusianya ragu-ragu dan malu mengekspresikan kebebasannya (entah karena jaim, segen ama temen dan takut dimarahi ortu), Awkarin melakukkannya tanpa beban. Berjiwa muda dan bergaya bebas.

Padahal, waktu masih SMP ke sekolah nutup aurat rapi jali. Masih lugu, imut dan polos banget. Lalu bertransformasi jadi “liar” seperti sekarang. Tanpa takut dan ragu.  Eits, tentu saja tulisan ini nggak bermaksud nge-judge si Awkarin. Udah cukup kok yang nyinyirin dia. Kita doakan aja, doi segera menemukan hidayah dan kembali polos seperti sedia kala.

Tulisan ini cuma mau ngingetin kamu-kamu, supaya jangan sampai terkena Awkarin effect. Apalagi sampai jadi “Awkarin-Awkarin” selanjutnya yang memenuhi sampah media sosial.

Salah Identitas

D’Riser, usia belasan seperti kamu,  pastinya belum punya banyak pengalaman hidup. Masih hobi ‘haha-hihi’ dengan mencoba berbagai identitas diri. Terkadang, kamu sengaja cari role model untuk mengekspresikan jati diri itu.  Sosok idola seperti artis, mungkin “terlalu” tinggi dijangkau. Terlalu idealis untuk menjadi role model di dunia nyata. Terlalu cantik, terlalu kaya, terlalu populer dan terlalu sempurna.

Tetapi tidak demikian jika role model itu adalah sosok orang kebanyakan. Tak heran bila Awkarin, yang notabene berangkat dari gadis biasa kebanyakan, sontak jadi idola.  Anak-anak muda merasa sangat bisa seperti Awkarin, karena relatif lebih “mudah”. Tinggal bergaya lebih kece dan sedikit pede. Bagi anak muda kebanyakan, Awkarin adalah dirinya. Itu sebabnya langsung dijadikan panutan.

 Apalagi para fans yang rata-rata remaja SMP dan SMA itu, memang masih punya pemikiran yang labil. Buktinya, tiap postingan doi, terutama saat bersama pacarnya yang intim, langsung menghimpun ribuan like. Komentar para followernya juga mendukung, seperti:

 “OMG, relationship goals banget!” Efek Awkarin,

akan semakin membeludak remaja yang bergaya bebas, eksis dan narsis dengan vulgar di media sosial. Memang masih banyak orang-orang terkenal yang lebih bejat dari dirinya yang juga menebar keburukan.

Tetapi, tidak boleh menutup mata bahwa dia telah terlanjur menjadi inspirasi. Sengaja atau tidak sengaja, niat atau tidak niat, sedikit atau banyak pasti ada yang menirunya.  

Waraslah

Kamu, ya, kamu, jangan pernah  bermimpi menjadi Awkarin. Benar, kamu emang remaja dan berjiwa muda. Tapi, bukan remaja gaul. Kamu adalah remaja muslim. Beda. Kalau masih terbersit dalam hatimu keinginan menjadi seperti Awkarin, itu mimpi buruk. Kamu butuh pertolongan. Pertama, perbaiki otakmu.

Pemahamanmu. Ngaji yang bener. Biar tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang sesuai Islam, mana yang bertentangan dengan Islam. Berpose seksi, mengumpat, merokok, minum alkohol dan pacaran bukanlah ajaran Islam.

Dosa. Kedua, mintalah nasihat. Orangtua jangan dimusuhi. Ayah ibu jangan dijauhi. Remaja sepertimu, membutuhkan support lingkungan yang baik. Orang-orang yang baik. Orang yang lebih pengalaman yang bisa mengarahkan hidupmu. Jangan sampai kelak masa mudamu jadi penyesalan. Hari ini, banyak orang dewasa yang menyesali masa suram remajanya.

Dulu, mereka juga labil seperti kamu. Banyak melakukan trial and error. Salah gaul, hura-hura, hihi-haha. Kini, sungguh tak mudah menghapus jejak-jejak  kejahiliyahan itu. Apalagi, jika terlanjur direkam media sosial.

Misal, ada artis yang sudah menutup aurat, sangat menyesal karena tak mampu menghapus foto-foto pamer auratnya yang terlanjur tersebar seantero jagat. Ada istri yang sudah bahagia bersama suami tercinta, goyah rumah tangganya garagara sepotong foto mesra dengan sang mantan yang masih gentayangan.  Maka, sungguh kamu membutuhkan nasihat dan dukungan dari orang-orang baik di sekitarmu.

Supaya kamu ‘waras’ sejak muda. Supaya kamu saleh secepatnya. Kalau bisa dan harus, tak perlu mengalami masa-masa kejahiliyahan. Karena, itu cuma buang-buang tenaga. Menebar kontroversi, sharing lebay dan mempertontonkan kejahiliyahan di media sosial memperpanjang daftar dosa. Semua itu kelak akan dipertanggungjawabkan.

Bukan hanya di hadapan para penduduk dunia maya, apalagi guru atau orangtua, lebih dari itu Allah SWT menyaksikannya. Ingatlah! Sekali menebar keburukan, lalu ditiru, saat bertobat, mungkin saja sudah terlambat. Persis seperti memaku kayu, lalu kau cabuti lagi paku-paku itu, lubang yang menganga tak akan bisa tertutup kembali. Jadi, tak usahlah bermimpi eksis seperti Awkarin. Karena, Awkarin bukanlah kita.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *