Tuesday, July 28

Epik

Heka Eps 03 Ank Dalam Api

Heka Eps 03 Ank Dalam Api

Epik
Lelaki berpakaian putih yang basah  kuyup itu berdiri di hadapan perapian yang hangat dan terang, tepat di  hadapan lelaki bertampang merengut. Sang Hekau tegak membelakangi tamunya. Jelas saja pakaian basah yang membalut tubuhnya mendaratkan dingin pada kulitnya, namun pancaran hangat dari perapian sedikit mengobati rasa dingin itu. Kedua tangannya yang kokoh terangkat pelan-pelan, tatapan matanya terpaku dengan khidmat kepada Patung Amun yang dipandangnya suci itu. Berbagai tali dan serabut yang bergelantungan di langit-langit membuat suasana semakin seram. Lelaki bertampang merengut sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi tak lama lagi. Simbol-simbol Heka dari akar, batang, dan dedaunan menguarkan kemisteriusan. “Letakkan persembahannya,” kata Sang Hekau tanpa meno
Heka Eps. 01

Heka Eps. 01

Epik
kegelapan malam kembali merajai  dunia. Memang waktu silih berganti, namun keindahan malam tiada  terperi. Hawa dingin menjadi sedemikian pilu ketika setan-setan keluar dari sarangnya dan bergentayangan di muka bumi. Manusia hidup pada dua sisi wajah malam, pada keelokan dan ketenangannya, yang di sana manusia merasakan kebahagiaan, dan pada kesuraman dan kengerian, yang di sana manusia berlindung darinya. Betapa tenang dan nyamannya malam itu menyelubungi bumi Mesir, namun di dalamnya terselip hitam yang mencekam, dan kematian. Ada seorang lelaki berwajah senang yang amat dihormati di Mesir. Dia seorang pedagang besar yang tinggal di Thebes, namanya Abdamelek Acheri. Perawakannya akan mendeklarasikan kepada siapa saja bahwa dia adalah seorang saudagar besar. Abdamelek berba...
Derap Rantai eps 6

Derap Rantai eps 6

Epik
“Sebenarnya aku masih cukup bingung dengan instruksi dari Khalifah,” kata Jabal bin Abdul'uzza. “Bagaimana kita menemukan Aswad kalau informasi tentang dia hanya segini?” “Kita harus tetap besyukur kepada Allah, semoga Dia memberikan petunjuk kepada kita untuk menemukan Aswad walau petunjuk hanya segini,” kata Mutsana bin Harits. Kedua agen rahasia yang dikirimkan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq itu berada di tengah-tengah ramainya pasar di kota Ubullah. Mereka berjalan bersisian sambil terus merapat dan bicara dengan amat hatihati, sekaligus dengan mengatur seberapa  kuat suara mereka. Sebab pada misi ini Mutsana harus berpura-pura menjadi seorang yang bisu. Hanya Jabal yang boleh mengeluarkan suara sebab hanya dialah yang mengerti bahasa Persia. “Pasarnya seluas dan seramai
Derap Rantai

Derap Rantai

Epik
Seorang muslim memang seharusnya menjadikan malam sebagai teman Sebab di dalam malam itu ada waktu-waktu yang terbaik, di mana Allah azza wajalla menebarkan kedamaian kepada seluruh bumi dan mengabulkan doa-doa. Disanalah saatnya umat manusia bersimpuh dan mengiba, karena Tuhan berdiri tegak dihadapannya. Petiklah setangkai rahmat yangdimekarkan Tuhan di langit malam. Itulah yang sedang dilakukan oleh Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul'uzza, tahajud. Pada salah satu sudut kota Ubullah yang tak jauh dari tembok kota, membentanglah sebuah reruntuhan rumah. Rumah itu telah lama diabaikan dan terletak agak jauh dari rumah-rumah yang lain. Batu-batu dan sisa-sisa dinding berserakan di sekitar reruntuhan rumah itu. Sebagian atapnya telah hancur, dan pintunya telah hilang entah kemana...