Mendeteksi Kesombongan

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Mbk, bagaimana cara mendeteksi  penyakit sombong? (Syifa, Mlng)  

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik Syifa yang selalu menjaga hati,  Memang penyakit fisik lebih mudah dikenali daripada penyakit hati. Padahal keduanya sama-sama harus diobati. Jika tidak akan membawa keburukan bagi penderitanya. Bahkan, penyakit hati akan menghantarkan pada kesengsaraan tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nantinya.

Kita harus berhati-hati terhadap penyakit ini. Hadirnya rasa sombong sangat halus sekali. Banyak orang telah merasa rendah hati, padahal dirinya sedang terjangkiti sifat tinggi hati.  Dik Syifa yang selalu menjaga hati,

Sifat sombong telah menyebabkan  setan terusir dari surga dan dikutuk Allah SWT selamanya. “Tidak akan masuk surga siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat debu “ (HR Muslim).

Allah SWT benar-benar mengharamkan surga untuk dimasuki orangorang sombong. Kesombongan hanya layak  bagi Allah SWT yang memang memiliki keagungan dan sempurna. Sedang seluruh makhluk hanya sekadar menerima kemurahan dari-Nya.

Dik Syifa, Kita bisa mendeteksi ada tidaknya  sifat ini pada diri kita dengan mengenali ciriciri kesombongan. Rasulullah SAW  menyatakan “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia” (HR Muslim).

Jika di dalam hati kita  ada satu dari dua hal ini, atau kedua-duanya  ada, itu pertanda kita telah terjangkit  penyakit ini. Misalnya, merasa diri lebih mulia, lebih salih, lebih dekat Allah, lalu memandang orang lain dengan pandangan  yang merendahkan. Sifat ini jika ada akan  merugikan pelakunya. Sebab hakikatnya,  semua kebaikan dan keburukan terjadi  karena izin Allah.

Katakanlah bahwa  semuanya (kebaikan dan keburukan itu) adalah dari sisi Allah” (QS An Nisaa 4:78).

Kita tidak mampu membuat kebaikan dan keburukan jika Allah tidak menghendaki hal itu terjadi.

Dik Syifa, Hendaklah Kita selalu  membersihkan hati agar terhindar dari penyakit sombong. Senantiasalah ingat bahwa tiap penglihatan, pendengaran, bisikan hati Kita akan dimintai pertanggungjawaban Allah SWT.

Semoga Kita menjadi hamba Allah SWT yang senantiasa berhati bersih, dan kembali pada-Nya dalam keadaan bersih dan diridhai-Nya. []

Hukum Memelihara Anjing

Assalmuallaikum.wr.wb..drise..a ku mau nnya ,orng islam itu apa gak brdosa mmlihara anjing?soal x skrang2 ini bnxk orng muslim mmlihara anjing.mhon d jwab y drise…?

 Saudaraku yang shalih, Para ulama sepakat bahwa tidak boleh memanfaatkan anjing kecuali untuk maksud tertentu yang ada hajat di dalamnya seperti sebagai anjing buruan dan anjing penjaga serta maksud lainnya yang tidak dilarang oleh Islam. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa terlarang (makruh) memanfaatkan anjing selain untuk menjaga tananaman, hewan ternak atau sebagai anjing buruan. Sebagian ulama Malikiyah ada yang menilai bolehnya memelihara anjing untuk selain maksud tadi. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 25/124)

Mengenai larangan memelihara anjing terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. Bersabda,“Barangsiapa memanfaatkan anjing selain anjing untuk menjaga hewan ternak, anjing (pintar) untuk berburu, atau anjing yang disuruh menjaga tanaman, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qiroth” (HR. Muslim no. 1575). Kata Ath Thibiy, ukuran qiroth adalah semisal gunung Uhud (Fathul Bari, 3/149).

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah SAW.bersabda,“Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.” (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574) Anjing yang dibolehkan untuk dimanfaatkan adalah untuk tiga maksud yaitu sebagai anjing yang digunakan untuk berburu, anjing yang digunakan untuk menjaga hewan ternak dan anjing yang digunakan untuk menjaga tanaman.

Lalu bagaimana hukum memelihara anjing untuk menjaga rumah? Ibnu Qudamah rahimahullah pernah berkata,“Tidak boleh untuk maksud itu (anjing digunakan untuk menjaga rumah dari pencurian) menurut pendapat yang kuat berdasarkan maksud hadits (tentang larangan memelihara anjing). Dan memang ada pula ulama yang memahami bolehnya, yaitu pendapat ulama Syafi’iyah (bukan pendapat Imam Asy Syafi’i). Namun pendapat pertama yang mengatakan tidak boleh, itu yang lebih tepat. Karena selain tiga tujuan tadi, tetap dilarang.

Al Qodhi mengatakan, “Hadits tersebut tidak mengandung makna bolehnya memelihara anjing untuk tujuan menjaga rumah. Si pencuri bisa saja membuat trik licik dengan memberi umpan berupa makanan pada anjing tersebut, lalu setelah itu pencuri tadi mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah”. (Al Mughni, 4/324) Walaupun sebagian ulama membolehkan memanfaatkan anjing untuk menjaga rumah, namun itu adalah pendapat yang lemah yang menyelisihi hadits yang telah dikemukakan di atas.

Seorang muslim seharusnya berhati-hati dalam urusan ini. Bertawakkal kepada Allah adalah hal yang paling utama dilakukan dalam menjaga rumah bagi seorang muslim, sembari melaksanakan sababiah yang ahsan dan tidak menyalahi hukum syara’. Kalau memelihara anjing untuk menjaga rumah saja terlarang apalagi hanya untuk sekedar hoby dan bersenang-senang, bagi orang yang berakal tentu sangatlah terlarang. Wallahu a’lam

Bolehkah Menabung Emas ?

 

Asslamu alaikum wr. wb.

Ust, ada seseorang menabung

berupa emas (agar nilai tukarnya

tetap/naik), lalu berniat menjualnya

jika membutuhkan. itu bagaimana

hukumnya? apakah termasuk

menimbun yg jelas dilarang dalam

islam? mhn bimbingannya. syukron.

Farid, Surabaya.

Wa’alaikumussalam, wrwb.  Akhi fillah, di dalam kajian fikih  islam dikenal istilah ihtikar , idkhar dan  kanzul mal. Ihtikar adalah menimbun  barang yang merupakan kebutuhan  masyarakat yang apabila barang  tersebut tidak terdistribusikan maka  menimbulkan mudharat dan kesulitan bagi  masyarakat, seperti makanan atau barang  kebutuhan pokok (beras, minyak sayur, gas dll.)  

Ihtikar dilakukan agar penimbun bisa  menjualnya dengan harga tinggi. Ihtikar  hukumnya haram.  Ada juga yang disebut dengan idkhar. Idkhar  (menabung) adalah menyimpan (saving) uang  karena adanya kebutuhan. Contoh menabung  untuk membeli rumah, biaya pendidikan, untuk  menikah, untuk ibadah haji dll. Idkhar  hukumnya mubah.  

Yang terakhir adalah kanzul mal yaitu  menimbun harta (uang, emas dan perak) tanpa  ada tujuan tertentu (hanya menumpuk-numpuk  harta). Ini adalah aktivitas yang diharamkan  oleh Allah. Berdasarkan firman Allah, “Orang-orang yang menimbun emas dan perak, dan  tidak menafkahkannya di jalan Allah beritahulah  mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa  yang pedih.” (QS. Attaubah: 34)

Terkait dengan menabung emas dilihat dulu  tujuannya, jika tujuannya hanya untuk investasi  atau hanya untuk menjaga nilai agar tidak  terkena inflasi maka ini bisa masuk kategori  kanzul mal, dan aktivitas ini termasuk yang  diharamkan Allah berdasarkan firman Allah di  atas.

Tetapi apabila seseorang menabung emas  dengan tujuan menjualnya nanti untuk kebutuhan tertentu seperti; membeli  rumah, biaya sekolah, membeli mobil,  biaya haji dll. Maka aktivitas menabung  seperti diperbolehkan sebab:

  1. Emas tidak termasuk barang kebutuhan dharury (yang dibutuhkan masyarakat dalam  memenuhi kebutuhan hidup  mereka).
  2. Aktivitas menabung (idkhar) dibolehkan dalam islam, karena menabung tidak mempengaruhi  pasar dan tidak mempengaruhi  aktivitas okonomi secara makro. Wajib diketahui bahwa, aktivitas  penimbunan harta (kanzul mal) yang  diharamkan bukan hanya pada emas dan  perak saja tetapi juga dalam bentuk uang  (meskipun tidak dalam bentuk emas dan  perak).

Saya sarankan bagi yang ingin  berinvestasi agar menginvestasikan  uangnya pada sektor-sektor riil.  Maraknya tawaran investasi emas saat ini  menunjukkan banyaknya umat islam  yang tidak faham terhadap cara-cara  yang yang telah dibuka oleh islam dalam  upaya pengembangan harta (tanmiyatul  mal). Wallahu a’la. []

Hukum Shalat Orang bertato

Assalamualaikum wr.wb saya mau  tanya kalau seseorang pke tato,tpi  org itu blm tau hkm’a,solat’a sah  atau batal?  

Saudaraku, tentang hukum  mentato badan, semua ulama  sepakat bahwa itu haram. Alasannya  karena itu adalah upaya merubah  ciptaan Allah dan merupakan  akitifitas tasyabbuh bil kuffar  (menyerupai orang kafir).

Lantas  bagaimana jika seseorang sudah  terlanjur ditato badannya, kemudian  ia bertaubat dan ingin melaksanakan shalat,  apakah shalatnya sah? Di dalam sebuah hadits rasulullah  saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah  memaafkan dari ummatku, kesalahan,  kelupaan dan segala sesuatu yang  dipaksakan atasnya.” (HR. Hakim dari Ibnu  Abas).  

Menato badan hukumnya memang  haram, bukan berarti orang yang bertato  tidak wajib shalat. Mungkin ada yang  beralasan tidak sah shalat orang yang bertato  karena tato dianggap menghalangi air ke kulit  ketika bersuci (wudhu dan mandi junub),  sehingga bersucinya tidak sah. Sekilas  memang pernyataan ini benar, padahal tidak  tepat.   Sebab,

  1. Allah maha menerima taubat hambanya,
  2. Shalat lima waktu hukumnya wajib,
  3. Kalau menghapus tato itu mudah dan tanpa menyakiti badan maka harus dihapus, tetapi kalau menghapusnya  harus dengan menyakiti badan, dengan  disetrika misalnya, atau dengan memberikan  cairan yang menimbulkan rasa sangat sakit,  tentu ini justru perbuatan yang dilarang  dalam islam, karena Allah berfirman “Dan  janganlah kalian melemparkan diri kalian  dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah:195).  
  4. Ada beberapa kaidah ushul yang membenarkannya, diantaranya; a. Meninggalkan syarat lebih baik  daripada meninggalkan kewajiban, b.  apabila terdapat dua bahaya dalam  dua pilihan, maka pilihlah bahaya yang  lebih ringan.

Berdasarkan beberapa alasan  diatas, maka orang yang terlanjur  bertato kemudian ia bertaubat dengan  taubatan nashuha lalu melaksanakan  shalat maka insayaAllah taubat dan  shalatnya diterima oleh Allah swt. Di samping itu semua bahwa  islam adalah agama rahmatan lil  alamin, agama yang sesuai dengan  fitrah manusia dan tidak ada ajarannya  yang bertentangan dengan akal sehat.  

Betapa sulitnya manusia, sekiranya  keinginan kuatnya ingin bertaqarrub  kepada Allah tidak bisa tercapai hanya  gara-gara tato yang sulit dihapus.   Padahal Allah maha pengampun, maha  pemaaf dan maha menerima taubat.  Wallahu A’lam[]