Tuesday, July 21

Media Watch

Awkarin Bukanlah Kita

Awkarin Bukanlah Kita

Media Watch
Buat yang belum pernah denger istilah Awkarin, nggak usah kepo deh. Kita kasih tau aja ya. Singkatnya:  doi itu gadis yang baru 18 tahun dan tibatiba populer di media sosial. Ini karena  postingan foto atau videonya yang gaul: baju seksi, merokok, minum alkohol dan pacaran. Nah, yang terakhir ini yang bikin enek: gaya pacaran yang vulgar.  Herannya, penduduk dunia maya tergila-gila memujanya. Mungkin karena ia sangat mewakili anak muda. Di saat remaja seusianya ragu-ragu dan malu mengekspresikan kebebasannya (entah karena jaim, segen ama temen dan takut dimarahi ortu), Awkarin melakukkannya tanpa beban. Berjiwa muda dan bergaya bebas. Padahal, waktu masih SMP ke sekolah nutup aurat rapi jali. Masih lugu, imut dan polos banget. Lalu bertransformasi jadi “liar” seperti
Pake iman bukan POkemon

Pake iman bukan POkemon

Media Watch
Tetiba dunia disibukkan para monster. Yang pemain sibuk nangkepi, yang nggak main sibuk mengingatkan  bahayanya. Sebab, udah banyak korban berjatuhan. Para pejabat militer bahkan mengingatkan kemungkinan aksi intelijen di balik demam Pokemon Go. Waduh! Ini urusan games kok jadi meleber mengglobal lebay begini, ya? Ada apa sebenarnya?  _ Pokemon Go memadukan peta dunia nyata dengan peta virtual. Pemain kudu mendatangi lokasi tertentu di dunia nyata, temukan monster yang muncul di dunia digital, tangkap, poin. Itu yang bikin beda dengan game lainnya. Serunya beda. Kepuasannya beda.  _ So, meski baru resmi diluncurkan di 3 negara, Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru, hebohnya sudah mendunia. Usernya sudah ada di mana-mana. Bikin down server Niantic yang meril...
Celebriy Culture Melanda Remaja

Celebriy Culture Melanda Remaja

Media Watch
Sejak entertaiment menyelundup dalam gaya hidup masyarakat Indonesia, seolah tiada hari tanpa  memelototi dunia artis. Dunia hiburan kian memesona remaja. Musik, film dan idola menjadi isu penting. Usianya habis demi mendapatkan kenikmatan dari panggung hiburan. Telinganya tak lepas dari lantunan 'ayat-ayat' cinta penyanyi idolanya. Mulutnya basah menyenandungkan lirik lagu yang sedang hits. Matanya tak berkejap sedikitpun dari adegan-adegan film kegemaran. Rela berkorban harta demi memperkaya idola. Merogoh jutaan rupiah demi konser yang memanggungkan sang idola dan mengoleksi pernak-perniknya. Budaya “ngartis” ini pun kian menjadi-jadi di media sosial. Karena, kini para fans bukan saja bisa memelototi idolanya, bahkan bisa menjelma menjadi idola itu sendiri. Ya, media sosia
Aku Tandai Kau, Nepotisme!

Aku Tandai Kau, Nepotisme!

Media Watch
Aku tandai kau, ya! Kalimat itu lagi happening banget di kalangan netizen. Itu ucapan siswi berinisial SD  pada polwan yang menghentikan mobilnya saat konvoi kendaraan pasca Ujian Nasional. Itu loh, remaja asal Medan yang ngakungaku anak jenderal, padahal bukan. Gara-gara kelakuannya, SD langsung di-bully netizen. Akibatnya vatal.  Dara cantik itu shock dan bahkan ayahnya meninggal karena serangan jantung. Terlepas itu memang qodho, diduga sang ayah tak tahan dengan berita di media yang terus memojokkan putrinya. Tragis. Tanpa bermaksud ikut mem-bully, banyak pelajaran dari kasus ini. Pertama, pentingnya menaati peraturan apapun agar berujung pada kebaikan. Kedua, pentingnya menjaga perilaku dan etika di manapun berada. Ketiga, betapa mengakarnya budaya nepotisme hingga menginve...