Rayah di tanah Suriah

Langit masih memerah. Perang masih berdarah-darah. Berkecamuk meski matahari sudah di ufuk. Ledakan,  jeritan, desingan, dan rentetan peluru masih membayang-bayang. Hari kian senja ketika sang surya berada di peraduannya.

Dan langit timur sudah membiru hampir manghitam seluruhnya.  “Allaahu Akbar..! Allaahu Akbar…!!”, pekik seruan itu masih menggantung di telingaku. Disamping suara bom yang menggelegar, menghantam, menghancurkan. Meskipun begitu, aku masih berada di pos jagaku, di garda belakang.  

“Tapi.., oh tidak.”, seorang teman yang berbicara dari jauh sana meninggalkan suara seperti kaset rusak, malang, lantas diiringi suara ledakan yang jelas kami dengarkan.  Salim menggeleng. Melepas tombol handytalknya. Dia menelungkup-kan muka di tangan, menyedihkan. Kami menatap wajahnya, muram.

Ternyata posisi kami dalam kepungan. Di garda depan, satu regu mungkin sudah diledakan oleh para serdadu.  “Tak ada pilihan…”, Salim mengadah, wajahnya dikeruhkan. “kita harus maju ke depan. Tak ada pilihan selain menyerang.”ia mengangkat senapan.

Lantas berpaling. “dan bukankah di sini,, kita mencari kesyahidan?” Bulu kuduku bergetar. Tapi, ia benar. Walaupun aku ragu ketika mendengar ledakan-ledakan menggelegar. Sniper Hatclif yang kupegang serasa ikut bergidik. Entah, apakah nanti ia diam saat membidik.  

 “Jadi, kita keluar?”, tanyaku ragu. Semua terdiam. Salim mengangguk yakin mengiyakan. Sebagai pimpinan, dia memang penuh keberanian. “Tapi Salim, bukankah kita kita ditugaskan di bagian berta..,” “Diam!!”, bentaknya keras.

Dengan wajah menatap tajam. “Tidakkah cukup keadaan disana sebagai sirine untuk menyerang? Itu sama saja dalam perang!”. Matanya melotot, nafasnya ngos-ngosan, jarinya menunjukku tajam. “Kita harus tetap maju, dan terus bertahan.”,dia menjelaskan, lagi-lagi wajahnya muram. Kami mengambil langkah dalam ragu dan bimbang tak menentu. Meskipun kami dari garda belakang.

Para pengecut yang tak hafal Al-Qur’an.  Aku menelan ludah. Yang benar saja, kami harus berhadapan langsung dengan mesin pembunuh milik bangsa babi dan kera. Tak ada pilihan lain, suasana sudah genting. Maka kami mempercepat langkah dengan setengah berlari. Belum jauh meninggalkan pos kami, aku mengadah, melihat langit yang benar-benar terparuh setengah, hitam dan merah. Kupicingkan mataku, aku seakan melihat sesuatu. Tidak, jangan lagi, itu si burung besi!   “Salim, cepat lari!! Sebuah jet menuju kemari!!”, mereka sigap menanggapi. 

Berlari. Mengambil langkah panjang dan cepat.  Sayang, tak kuperkirakan ada pesawat yang lebih dekat. Roket diluncurkan. Mendesing menciptakan kengerian. Kami masih cepat dalam pelarian. Roket itu meledak di belakang. Bumm!!, bangunan di sampingku hancur berantakan. Bumm!!, bukan hanya satu, kaum terlaknat tak akan puas dengan itu. Bumm!!, kami berusaha menghindari bangunan rubuh dari kanan dan kiri. Bumm!! Sekarang dia meledak 5 meter di belakang kami. Masih bertahan. Entah, apa yang akan terjadi nanti. Terakhir..

Bumm!! 2 meter dari belakang. Aku dan Salim terjungkal ke depan. Kepalaku membentur palang,  pelipis mengucurkan darah segar. Salim? Entah, aku tak tahu. Batang hidungnya tak terlihat olehku. Aku tengkurap terluka. Pelipis kembang kempis.senapan terlempar jauh tak bisa kuraih. Teman-temanku mungkin tewas sebagai syahid. Tapi , selain itu semua,  aku malihat sebuah bendera. Lafadz suci ‘Laa ilaaha illallaah’ berwarna putih terlukis disana. Dengan warna dasar hitam dan menandakan, itu rayah, panji Rasulullah saw.

Dia jatuh terhempas di tanah. Tanganku tak mampu menjangkaunya, apalagi menegakannya. Parahnya, mataku sayu, jantungku cepat memacu,darah masih mengucur deras dari pelipisku. Entah, apa yang akan menimpaku, apakah hidup, atau meninggal-kan hidup dan jasadku, Syahid.

 ***

“Allaahu Akbar..!!”, suara itu  menggema. Merasuki telinga membuatku bangun tiba-tiba. Aku kalap seperti orang yang  tenggelam saja. Lantas ku usap-usap muka dan mengucek mata. Kulihat sekitar, tubuhku terselimuti, dan kepalaku diperban melingkar. Apa? Dimana ini? Tenda? “Ahmad?”, seorang yang berseragam putih, dengan surban dan sabuk yang mengikat pedang. Dia? “Salim?”, aku bertanya, heran saja dengan apa yang dipakainya. Apalagi dengan pedang, tapi, mana senapan yang biasa ia pegang dan gunakan? “Tentu saja,”, dia menatap tak biasa, lantas menghampiriku yang bingung dan linglung. “hey, kau kenapa? Ah…, mungkin karena lukamu yang diperban. Apa itu terlalu erat, kawan?”, ia bergurau, tersenyum.

“Allaahu Akbar..!!!”, untuk kedua kali, pekik itu terdengar lagi. Seperti ribuan pasukan muslimin yang mengaum laksana singa-singa kelaparan. Gema menembus langityang menjulang. Salim menoleh ke tenda, memperhatikan hal yamg tak biasa.

 “Sudahlah, jika kau benar-benar sehat, ayo, pasukan menunggumu.”, seraya menyerahkan seragamku dan bilah pedang untukku. Dia melangkah keluar. Selangkah sebelum itu, dia kembali menoleh kepadaku, tersenyum simpul sinis, “Dan aku tahu, ini yang selalu menjadi angan-anganmu. Ya, saat kita berada di barisan Khalid bin Walid melawan serdadu.” Aku terhenyak. Ditinggal peryataan Salim yang membuat mataku kian membelak. Khalid bin Walid? Tapi, dimana ini? Kapan ini terjadi? Ah, sudahlah, aku mesti mempersiapkan diri. Kupakai seragam putih itu rapi, dengan kepala yang tersemat topeng  besi.

Bilah pedang pun menemaniku di pinggang kiri. Tersarung dan siap menebas lawan yang aku tak tahu, siapa yang kuhadapi kini. Dan setelah tirai tersingkap, diriku terkejut. Apa?! Padang pasir! Matahari kian menyengat, memancar dan melelehkan batuan arab. Tiupan angin berhembus hangat. Batuan dan cadas melepuh karena sinar surya yang ampuh. Aku melangkah seolah dalam keadaan sadar setangah. Benarkah? Tempat ini, berbukit-bukit, dengan lembah di belakang dan sungai di sebelah kanan.

Aku tak salah lagi, ini medan Yarmuk! “Allaahu Akbar..!”, pekik itu kembali terdengar, hatiku bergetar. Di belakang, aku bergabung sengan sebuah barisan. Seregu dengan Salim yang tersenyum di sampingku. Matanya nanar berkaca-kca melihat pemandangan itu. Khalid bin Walid berorasi di hadapan pasukan.

Mengangkat tinggitinggi pedang, menunggang kuda dan memegang tali kekang. Terkesima, aku masih tak percaya juga. Selain itu, bukan hanya para rijal disana, para muslimat pun ada. Ketika kutanya seorang di sampingku, “Mereka ditugaskan untuk melempar kayu dan batu”, jawabannya mengagetkanku, “untuk memukul para pasukan muslim yang mundur dari medan perang lantaran besarnya kekuatan musuh kita itu.” Sekali lagi, aku dibuat terkesima dengan ucapannya. Tak lama setelah itu, genderang perang ditabuh bergemuruh.

“Allaahu Akbar..!”, pekik Khalid selaku panglima pasukan. Aba- aba untuk maju dan menyerang. Serentak, pasukan menyerbu bagai air bah yang membandang. Pasukan Romawi bersenjata lengkap, penunggang kuda, bahkan berbaju besi semua menghantam pasukan ini.

Tentu saja, Heraklius tak tanggung-tanggug mengirim pasukannya. 240.000 pasukan dikirimkan dari negeri adidaya dari sana, Romawi. Aku mengenali ciri mereka berbaju dan berhelm besi yang menutupi hidung dan pipi, dengan celana seperti rok mini juga dari besi. Sedangkan kami, hanya terdiri dari 12.000 pasukan. Bayangkan. 1 banding 20 Dan tentu saja, senjata tak sepadan dengan lawannya. Ada 38 batalion dalam pasukan Islam. Beberapa termasuk veteran Badr, ksatria muslim, dan pasa sahabat nabi saw.

 Aku pun tak mau ketinggalan. Pedang berdentingan, kapak beraduan, tameng memercikkan api menahan gempuran, panah menembus tubuh mematikan. Korban-korban berjatuhan. Angin gurun berhembus, meniup sakaratul maut. Aku tenteng pedang di kanan dan tameng di kiri. Mencoba menghadapi musuh seorang diri. Tapi, tatkala aku mengadah ke depan, aku terperangah. Seorang yang lincah. Menebas, memenggal, menangkis, menyerang. Cepat dan tanggap. Sigap dengan lawan. Dia menari bersama pedang.

Mengayun, banyak musuh yang dibuatnya terembab jatuh tewas tak  terhitung. Belum saja yang lain menembus  dinding tebal Romawi, dia sudah tiba di ujung lain seorang diri. Lantas kembali dan muncul di sisi lain, kembali dan muncul di sisi lain.  Ganas seganas ayahnya saat memusuhi Nabinya, Muhammad. Abu Jahal nama ayahanda. Tapi tidak untuknya, dia berjihad membela agama Muhammad Al Mushthofa.

Ikrimah bin Abu Jahal namanya. Sungguh ketika melihat kepiawaiannya itu, aku terus ingin maju dan maju. Berdiri di garda depan bersama para sahabat yang dimuliakan. Kerena itu, pedang kuayunkan lebih tajam, tameng kuhadapkan. Walau memang, luka tak bisa dihindarkan. Tapi darah pejuang di jalan Allah, adalah tetes misk yang mengantarnya ke surga.

Syahdan, gelora takbir selalu dipekikkan. Membuat para kafir Romawi lari  ketakutan. Pasukan Islam terus maju tak gentar. Bahkan, setengah pasukan Romawi jatuh ke jurang lembah. Lantaran terdesak hanya oleh 12.000 pasukan Islam. “Allaahu Akbar..!”, untuk kesekian kali, lafadz ini membumbung ke langit yang tinggi. Aku berada di pusat ketegangan. Tak ada waktu untuk diam. Semangat jihad semakin berkobaran.

Menyala di sela-sela bayangan ayunan pedang. Beberapa musuh, meski dengan keringat darah dan peluh, berhasil kutumbangkan. Itu belum seberapa dibanding dengan para veteran Badar maupun ksatria muslim yang mengaum bagai singa. Diantara mereka, para sahabat, yang mulia, aku memang bukan bandingannya. Aku tak ragu tentang perang ini. Benar-benar pertempuran Yarmuk yang menakjubkan. Lebih dari apa yang diceritakan. Menunjukan keberanian, kegagahan, kemuliaan pasukan Islam. Dimana jumlah bukan ukuan kemenangan, tapi niat yang menurunkan pertolongan Allah berupa kemenangan.

Perang ini adalah gerbang bagi futuhat Islam di Romawi dan Persia, kedua negara adidaya yang waktu akan membalik mereka, menjadi bagian dari Islam suatu saat nanti. Akan tetapi, tepat sebelum aku menyaksikan kemenangan dan auman takbir yang dipekikkan, sebuah anak panah bersarang di badan. Tepat di dada, menembus punggung di belakang. Entah dari mana. Panah itu membuatku jatuh tak berdaya. Mataku sayup memandang, tubuhku lemah lemas sekarang. Di luar, telinga masih sempat mendengar Salim yang berteriak kencang. “Ahmad.. !!”. Hey, apa yang kau lakukan, sama saja, hidup dan mati tak bisa kita tentukan. Percuma. Jika datang kematian, biarkan surga jadi ganjaran.

***

 Aku terbaring terlentang. Luka di  pelipis masih kembang kempis. Kucoba bangkit. Memegang dahi, pening sekali. Apa? Dimana ini? Ah.., ternyata tadi hanya mimpi. Bukan mimpi biasa (Q.S. Ali Imron : 154). Aku  coba berdiri, walau masih sedikit lemah  tubuh ini. Di luar, masih saja ter dengar teriakan mengerikan setelah ledakan.  Aku melangkah di reruntuhan puing bangunan. Salim? Dimana ia? Entahlah, mungkin sudah mendahuluiku ke surga. Di puing-puing bangunan yang berserakan, aku masih dapat mengambil senapan.

Hatclif. Juga ‘sesuatu’ yang jatuh lalu kuambil dan kulipat. Lalu ku masukan ke kantung jaketku. Lantas ku gantung sniper di punggung. Berjalan menuju gedung. “Hei Bashar Asad, kembalilah kepada Allah segera. Sebelum nereka menjadi tempat kembalimu yang menyiksa.”, bisikku lirih. Aku teguhkan langkah seperti Ikrimah meneguhkan janjinya. Aku tegaskan azam seperti Georgius yang mengikrarkan syahadatnya di tengah kecamuk perang. Aku berdzikir selalu seperti pekikan kalimat langit bagiku.

Aku pimpim tubuhku seperti Abu Ayyub Al-Anshari yang membawa dirimya terjun kedalam syahid ketika itu. Aku eratkan kepalan seerat ingatan Muhammad Al-Fatih tentang bisyarah Nabinya. Aku tiba di atap. Semilir angin menelisik membasuh hati. Aku tak ingin jadi pasukan terbelakang lagi. Di balik laras panjang, aku membidik seraya tidur terlentang. Kuarahkan pucuk senapan ke langit yang hitam menunggu sasaran.

Berharap seperti Sa’ad bin Waqqash yang tak pernah meleset setelah dido’akan Nabi Muhammad saw. Dan ketika benda berkelip itu datang, kutarik pelatuk, dan sebuah peluru meluncur dari magasinku. Dia memburu. Lalu.., Ka-Bomm.. pesawat itu meledak berkeping- keping. “Allahu akbar..”. Hatiku bergetar. Jiwaku terbakar. Dan Rayah akan segera berkibar…[]

Hijrah cinta Niyala

Terik mentari menyelimuti bumi siang itu, angin berhawa panas menyapunyapu dan membuat debu ikut menari  bersamanya. Siswa-siswi kelas sepuluh lima tengah bersiap menjalani pelajaran olahraga. Setelah mengganti seragam dengan pakaian olahraga, mereka berkumpul di tengah lapangan. Hari itu merupakan hari pertama kegiatan belajar mengajar mereka sebagai siswa SMA, setelah melewati serangkaian orientasi sebelumnya.            

Diantara mereka nampak seorang gadis jelita yang berpenampilan agak berbeda dibanding siswi lainnya. Orangorang biasa memanggilnya Niyala. Wajahnya  putih berseri, senyum manisnya selalu mengembang tatkala bertemu setiap orang,  pandangannya senantiasa terjaga dari lelaki yang bukan haknya. Beberapa pasang mata mencuri-curi pandang ke arahnya, ada yang tersenyum-senyum sendirian, ada juga yang tersipu malu ketika melihat wajah itu tersenyum merona kepada kawankawannya.

Hijab panjangnya berkelebatkelebat tertiup angin, ia tidak mengenakan celana panjang seperti yang lainnya. Namun ia mengenakan seragam olahraga yang telah dimodifikasi menjadimodel gamis sporty yang senada dengan warna seragam sekolahnya. Mereka berbaris rapi di bawah komando sang guru, dan bersiap mendengarkan arahan-arahannya.           

Namun baru beberapa saat sang guru berbicara, tiba-tiba pandangannya terpaku pada Niyala yang berbaris diantara teman-temannya.             

“Itu kamu yang berhijab, tolong kesini!” ucap guru olahraga itu dengan suara agak keras, tatapannya masih tertuju pada Niyala. Gadis itu berjalan dengan tenang ke arahnya.             

“Ada apa, Pak?” tanya Niyala sembari sedikit membungkukkan badan.     

“Mengapa pakaianmu seperti itu?” hardik guru itu.            

“Maaf, Pak. Namun yang saya pahami, beginilah seharusnya pakaian seorang muslimah.” Jawabnya dengan sopan.                  

“Mengapa kamu tidak memakai celana training seperti yang lainnya?” tanya guru olahraga itu masih dengan suara agak keras.           

“Saya memakainya dibalik pakaian ini, Pak.”          

Alaah.. Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu harus memakai celana training di luar jika ingin mengikuti pelajaran saya. Juga kerudungmu, tolong jangan terlalu besar. Itu akan menyulitkanmu bergerak nanti. Jika tidak, silahkan kamu  kembali ke kelas dan tidak usah mengikuti pelajaran saya!” bentaknya.    

Seketika itu Niyala pun membalikkan badan dan berjalan menuju sisi lapangan, air matanya tidak mampu ia bendung. Ia pun terduduk di salah satu tepi dan menutup mukanya sembari sesenggukan. Beberapa orang teman dekatnya menghampiri dan berusaha menenangkannya.    

“Sudahlah, Nia. Mungkin kamu memang harus melepas gaunmu demi mendapat nilai olahraga.” ujar Vivi yang duduk disamping Niyala.              

“Sabar ya, Nia. Tidak semua orang mengerti dengan apa yang kamu inginkan.”  Asha mengelus pundak Niyala yang kini  bermata sembab, menahan air mata.       

“Terima kasih teman-teman, tapi aku sudah bertekad untuk menjadi seorang muslimah seutuhnya. Tanpa mau mengulangi lagi dosa-dosa dan kesalahan di masa lalu. Sekarang kalian kembalilah ke lapangan, nanti tertinggal pelajaran.” Niyala masih berusaha tersenyum sembari mengusap air matanya yang tertumpah. Vivi dan Asha pun mengangguk dan bergegas meninggalkan Niyala seorang diri, gadis itu berjalan perlahan menuju ruang kelas.        

Di dalam kelas, Niyala masih belum bisa membendung kesedihannya. Ya Allah, mengapa jalan ini terasa begitu sulit. Ketika hamba mulai mencoba memperbaiki diri dan berhijrah dijalanmu, namun lingkungan di sekitar hamba belum bisa mendukung keputusan ini. Batinnya. Ia mencoba tegar dan ikhlas, jikala memang  harus mengorbankan sedikit nilai akademik demi meraih keridhaan Tuhannya.               

Hari demi hari berlalu, Niyala dan teman-temannya berkumpul di taman sekolah pada jam istirahat.           

“Nia, kenapa sih kamu sampai segitunya mempertahankan kemuslimahanmu?” tanya Evi sambil menyeruput jus mangga. Yang ditanya tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu.               

“Aku hanya ingin menjalankan perintah Allah mengenai kewajiban menutup aurat bagi seorang perempuan. Nah, yang aku pahami penutup aurat yang dibenarkan oleh Al-Qur’an itu ada dua yakni kerudung dan jilbab, atau sekarang lebih dikenal gamis.” Paparnya.  

“Oh.. Terus kalau yang baru pakai kerudung saja tapi tidak pakai gaun sepertimu, gimana?” tanya Vivi       

Hmm.. setahuku itu juga sudah mendapat pahala, namun alangkah lebih baik jika kita menyempurnakannya lagi.” Niyala tampak berpikir. “Allah akan menilai sejauh mana kita berproses, bukan bagaimana hasilnya.” lanjutnya.    

Keesokan harinya diperjalanan menuju ke sekolah, Niyala dikejutkan oleh sebuah kerumunan orang-orang di pinggir jalan. Sepertinya ada kecelakaan lalu lintas,  Niyala pun segera menghentikan motornya  dan menyempatkan diri untuk melihat. Ia segera menerobos kerumunan orang-orang yang tampak panik melihat kejadian itu.

Disana nampak seorang bapak berusia empat puluh tahunan terkapar bersimbah darah, kepalanya bocor. Rupanya ia korban tabrak lari, wajahnya tidak begitu jelas tertutup masker dan percikan darah. Sepeda motor yang dikendarainya tampak rusak.     “Permisi Bapak-bapak dan Ibu-ibu, apa tidak sebaiknya kita segera membawa Bapak ini ke Rumah Sakit? Ia sangat membutuhkan pertolongan, jika dibiarkan bisa kehabisan darah” ujar Niyala di tengah kerumunan itu.                  

“Iya, tapi kami bingung akan membawanya dengan apa. Diantara kami tidak ada yang membawa mobil.” Jawab seorang Bapak paruh baya. Tanpa pikir panjang Niyala segera menyetop mobil Avanza silver yang kebetulan melintas di dekat lokasi kejadian. “Permisi, Pak. Disini ada korban kecelakaan, boleh minta tolong untuk dibawa ke Rumah Sakit terdekat? Ia sangat membutuhkan pertolongan.” Niyala setengah berteriak. Tanpa berlama-lama, pengendara mobil itu menganggukkan kepalanya. Niyala dan beberapa orang yang sedari tadi mengerumuni, segera menaikkan Bapak itu ke dalam mobil.

Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, ia juga menghubungi polisi agar mengidentifikasi korban dan menghubungi keluarganya. Sesampainya di Rumah Sakit, ia dan  pemilik mobil mengantar korban ke Instalasi Gawat Darurat. Dengan sigap para perawat menangani korban kecelakaan tersebut. Sang empunya mobil segera pamit kepada Niyala untuk berangkat kerja, Niyala pun mengizinkannya.  

Sesaat setelah korban masuk ke ruang observasi, Niyala menunggu di ruang tunggu. Ia melirik arloji putih yang melingkar di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Artinya ia sudah terlambat satu setengah jam untuk masuk sekolah, kerudung putihnya terkena percikan darah saat mengangkat korban ke dalam mobil. Ia merogoh smartphone di dalam tasnya dan segera menelepon ke bagian piket sekolah untuk mengabarkan bahwa dirinya akan terlambat datang ke sekolah karena kejadian itu. Tidak lama kemudian beberapa orang polisi datang, Niyala pun menyambut mereka dan menceritakan apa yang terjadi. Selang lima menit, dokter yang memeriksa korban tadi keluar dan menemui mereka. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Niyala “Pasien cukup banyak kehilangan darah, ia harus segera ditransfusi. Golongan darahnya B rhesus positif, namun persediaan darah di Rumah Sakit ini tidak ada yang cocok.” ujar dokter wanita itu. “Kebetulan golongan darah saya juga B rhesus positif, Dok. Saya bersedia mendonorkan darah saya.”

“Baik, kalau begitu ikut saya untuk  cek darah terlebih dahulu.”    Gadis itu mengikuti dokter ke sebuah ruangan, sementara dua orang polisi tadi memeriksa identitas korban. Setelah memastikan golongan darah Niyala cocok, ia langsung mendonorkan darahnya. Ia pun berbaring sejenak di ruang donor hingga tubuhnya dirasa pulih. Kedua polisi itu menghampiri Niyala.                 

“Kami sudah memeriksa identitasnya, Dik. Sementara pihak keluarganya berada di luar kota, maka kami akan tangani kasus ini hingga selesai. Kepolisian juga sedang mengusut pelaku tabrak lari tersebut.” ujar polisi berbadan besar itu.                

“Iya, Pak. Terima kasih. Sekarang bagaimana keadaannya?” tanya Niyala.                

“Korban sudah siuman, darahmu juga sudah ditransfusikan.”        

Alhamdulillah, bolehkah saya melihatnya, Pak?”                

“Tentu, ayo ikut!”             

Niyala dan dua orang polisi itu berjalan beriringan menuju ruang observasi. Setelah diizinkan masuk oleh dokter, mereka pun melihat kondisi korban.         

“Jadi gadis ini yang menolong dan membawa Bapak ke Rumah Sakit, juga mendonorkan darahnya pada Bapak.” Ujar dokter berhijab itu sesaat ketika Niyala memasuki ruang rawat, dikawal oleh dua orang polisi.        

Namun betapa terkejutnya Niyala ketika melihat wajah korban kecelakaan itu dengan jelas, ternyata dia adalah guru olahraga Niyala.                 

“Masya Allah, Pak Eddy.” ujar gadis itu terkejut.  “Ni.. Niyala..” lirih pak Eddy, wajahnya juga menyiratkan keterkejutan yang sama. “Maafkan Bapak yang selama ini melarangmu ikut olahraga hanya karena hijabmu, Nak” mata pak Eddy berkaca-kaca.     

“Tidak usah dipikirkan, Pak. Saya maklum jika banyak yang belum setuju akan keputusan saya.” jawabnya dengan senyum yang tulus.          

“Maafkan Bapak, Bapak sudah banyak berdosa padamu. Tapi kamu masih mau menolong Bapak, yang selama ini sudah mendzhalimimu.” Pak Eddy memaksakan diri untuk duduk, namun saat itu juga Niyala mencegahnya agar tetap berbaring.            

“Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah melupakan kejadian itu, saya juga sudah memaafkan Bapak. Yang penting sekarang Bapak sembuh seperti sedia kala, anak-anak di sekolah pasti merindukan Bapak.” Niyala menghibur gurunya itu dengan riang.      

“Terima kasih banyak ya, Nak. Kalau tidak ada kamu, mungkin Bapak tidak akan selamat.”               “Berterimakasihlah pada Allah, karena sesungguhnya hanya Dia yang kuasa atas hidup dan matinya seseorang.” ujar Niyala.  

Alhamdulillah, terima kasih Ya  Allah. Engkau telah menganugerahkan  seorang anak didik yang baik dan shalihah sepertinya.” lirih Pak Eddy. Niyala menunduk malu, ia merasa belum layak mendapat pujian seperti itu.    

“Mohon maaf, saya harus segera pamit ke sekolah, Pak.” ia teringat ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.30. Semoga tidak terlalu terlambat. Batinnya.    

“Oh ya, sebentar. Mulai besok kamu saya izinkan untuk ikut pelajaran olahraga.” cegah pak Eddy ketika Niyala hendak pamit.    

“Benarkah?” mata Niyala berbinarbinar, Pak Eddy mengangguk dengan mantap.                 “Kamu telah mengajari Bapak banyak hal, Nak. Tentang kebaikan, keshalehan, ketulusan, keikhlasan, juga kerendahan hati.” sambungnya.                  

“Tidak, Pak. Ini semua atas kehendak Allah.” Niyala masih merendah. Sudah ya, Pak. Saya pamit ke sekolah, sementara Bapak-bapak polisi yang menemani Bapak disini. Assalamu’alaikum.”        

Wa’alaikumussalam.” Setelah mencium tangan gurunya, gadis itu pun beranjak pergi dari Rumah Sakit.    

Ya Allah, terima kasih karena Engkau masih menyelamatkan nyawa guruku. Terima kasih juga, Engkau telah membukakan pintu hatinya untuk menerima keputusanku. Insya Allah hamba berhijrah di jalan-Mu, tolong bimbing hamba untuk menjadi seorang muslimah yang lebih baik lagi. Aamiin. Batinnya.[] Fida Hafiyyan Nudiya (Cerpenis asal Bandung, tinggal di Yogyakarta)

Kania Gadis Penunggu senja

Senja selalu saja menyelipkan kemewahan yang tak tertandingi. Kaki langit yang keperakan, dan batas- batas langit yang tertimpa cahaya mentari, begitu perkasa menyorotkan pendar emasnya ke bumi. Gumpalan awan yang diterobos cahaya, menyiratkan puluhan lesakan anak panah yang berbaris-baris.

Sore yang menua dan senja yang kian memucat. Semilir angin membelai lembut kerudung Kania. sejak beberapa lama, Gadis itu tenggelam dalam pemandangan mistis di kaki langit. Gadis penunggu senja. Sesekali Ia mengarahkan lensa ponsel ke sudut langit, menangkap puncak pergeseran waktu yang siap menenggelamkan bumi ke dalam balutan malam yang suci.  Kali ini Ia tak sendiri. Ya, puluhan orang berdatangan sejak sore untuk meneropong bulan, memindai sang hilal berdasarkan rukyat syar’i.

Kania termangu, sejenak Ia memejamkan mata, membiarkan lembut angin  menyapa wajahnya. Satu bayangan hadir di benak. Menari dalam khayalan masa kecil Kania. Lelaki berwajah cahaya dengan senyum yang purna. Detikdetik ramadhan yang kian menyesakkan. Setelah beberapa lama Ia berusaha  meredam butiran bening yang mendanau,  Kania berhenti melawan. Ia membiarkan titik-titik bening itu bergulir dari matanya yang kini memerah.

Sempurna. Senja suci yang selalu saja berhasil mengembalikan kenangan, namun tak berhasil mengembalikan sang Ayah. Matanya yang kian mengabur, memburamkan bayangan sang Ayah, diganti sosok Fathir, lelaki yang ke rumahnya minggu kemarin. Meminta Kania kepada sang Kakak, juga sang Ibu untuk merelakan si bungsu untuk berada dalam tanggungannya. Mata Kania kembali memanas, menitikkan butiran yang sekali lagi melesak keluar. Satu fase perjuangan hidupnya di hadapan, setelah perbincangan panjang dengan sang Ibu.

 ………..

Kania melangkah ke dalam masjid, menelisik setiap sudut, seolah bermaksud mengail secuil jejak dirinya dengan sang Ayah. Setelah sekian lama, kali ini Ia kembali menjejakkan kaki di masjid yang menyimpan rekam jejak masa kecilnya yang indah. Bedug masjid berbunyi. Bertalutalu. Alarm jiwa yang renta dengan kemewahan dunia. Semewah apapun perangkat masjid, bedug selalu menimbulkan suasana yang khas.

Anak kecil  berlarian, berkejaran di taman masjid sembari menenteng IQRO dan mushaf Al- Qur’an. Tak peduli dalam kondisi apapun, bermain dilakukan selayak orang dewasa melakukan pekerjaan. Di sudut-sudut masjid, terlihat beberapa anak saling bergantian melakukan muroja’ah, menyetor hafalan di antara teman sebaya.

Satu lintas kenangan menyapa “Yah, Kania udah bisa muroja’ah?” Senyum mungil Kania mengintip  dari balik pintu. Sejak setengah jam lalu Ia memperhatikan aktivitas sang Ayah dan belum terbetik hatinya untuk mengganggu. Pak Syarif menoleh ke arah pintu. Ia mendapati si bungsu menenteng mushaf, hadiah darinya ketika memenangkan lomba hafalan tahun lalu.

Senyumnya terkembang, jika si bungsu ngotot untuk menyetor hafalan, alamat Ia harus menyiapkan janji yang akan dituntaskan pada saat ramadhon mendekati akhir. Ia mengangguk, di iringi langkah kecil Kania dengan senyum sumringah. “kemarin muroja’ahnya sampai mana, sayang?”, sang ayah menunduk, menatap mata anaknya yang bersinar terang. “juz 5, Yah. Hari ini Kania muroja’ah dulu, besok mulai masuk ke juz 6, gimana?”,

Kania yang selalu saja berbinar. Haus akan ilmu. Secuil kekaguman merambati sang Ayah. Dalam hati terselip do’a, sebagaimana lafadz yang selalu dilantunkan dalam sujud panjangnya, semoga sang anak bisa menghadiahkan orangtuanya, sebuah mahkota bercahaya di syurga kelak. Bagaimana bisa Ia menolak permintaan Kania? bungsu yang selalu istimewa dalam segala hal. Beruntung, kedua kakaknya begitu faham akan keeratan yang berlebihan serta perhatian sang Ayah kepada adik mereka. Kania terlahir dengan kondisi yang rentan terhadap sakit. Diluar dari kelemahannya, Kania adalah anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

 Kedekatan itulah yang senantiasa menimbulkan telepati rasa antara Kania dan Ayahnya. Dan, selepas SD, Ia dimasukkan ke pesantren oleh sang Ayah. Ia menjalani Tsanawiyah dan aliyah di sebuah pesantren milik seorang kyai ternama.

Tamat aliyah,  Kania mendapat beasiswa kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Ia mengambil jurusan Fisika kesehatan. Jurusan yang menenggelamkannya pada system akademik yang sedikit banyak merampas perhatiannya, tapi tidak dengan tautan hatinya dengan ma’had yang tetap diikutinya setiap akhir pekan, juga rutinitas dakwah kampus, yang mempertemukannya dengan seseorang yang kelak akan merebut separuh perhatiannya. _

Mata lentik Kania memindai setiap sudut, mengendus masa lalunya, dan pikirannya sibuk memutar masa kecilnya yang indah. Percik kenangan berlesatan dengan cepat. Menyisakan satu dua tetes airmata dari sudut matanya. Pada sebuah jendela masjid, Ia berdiri.

Menghadapi gunung yang berdiri angkuh menghadap kearah masjid. Ia ingat, dulu gunung kecil itu rumbun dengan  beberapa pohon kersen, tempat dimana Ia dan teman kecilnya bermain sambil menikmati buahnya. Dan kaki gunung yang tidak seberapa terjal itu, kerap dijadikan tempat luncuran anak lakilaki dengan menggunakan ujung pelepah kelapa yang tanggal dari pohonnya.Ah, masa kecil yang indah.

 _ Kania merogoh saku jilbabnya, mengambil ponsel sekedar untuk mengambil gambar yang lekat dengan masa keceriaannya. Beberapa shoot dilayangkan, selanjutnya Ia tenggelam dalam rutinitas para shooter, memilih gambar terbaik kemudian dibagi ke instagram miliknya. Lengkungan pelangi terbalik menggantung di wajahnya.

Menyadari betapa Ia sangat jarang meng-update status di akun tersebut. Dan hari ini, entahlah, mungkin sense of soul seseorang yang sedang mengendus jejak yang begitu sulit untuk dihapus dari ingatan. Ia sedikit berbagi dengan penghuni dunia maya.  Suara orang bercakap-cakap terdengar dari luar beranda masjid. Kania menoleh sebentar.

Ujung matanya menangkap bayangan Ahmad dan Pak Karim, marbut masjid yang beberapa hari ini menjadi pengurus masjid, menggantikan Ayah Kania yang minggu lalu meninggal. Kania bergegas keluar, di beranda masjid Ia bersitatap dengan Ahmad yang berubah kikuk. Bayangan masa kecil kembali membayang. Ahmad anak Pak Kyai, dan saat ini sedang menempuh pendidikannya di Mesir. Mungkin tak lama lagi juga akan selesai. Kania segera berlalu setelah terlebih dulu mengucapkan salam kepada keduanya.

……..

 “Nak ahmad tadi menanyakan kamu, Nia”, ujar Ibu di suatu malam.  Perkataan senada yang kemudian di dengar Kania hingga dua tahun ke depan. Hanya itu. Tak ada kata yang lebih dari itu. Sementara Kania, Ia bahkan bisa membaca pendaran maksud dari sorot mata Ibunya. Beberapa kali menangkap bahasa tubuh Ahmad, Kania bukan tak bisa menangkap maksudnya, bukan.

Bukan pula kania tak bisa membaca perasaan seseorang yang begitu betah menanyakan hal yang sama nyaris setiap bulan selama dua tahun. Hati Kania getas. Menimbang sesuatu yang membuat hatinya ragu. Ia dan Ahmad berteman di Facebook.

Ahmad bahkan tak pernah menyapa apalagi me-like satu dua status Kania. Selalu Ahmad menitipkan salam kepada Kania lewat Ibunya. Itupun, salam tersebut di sampaikan Ibu Ahmad ke Ibu Kania. Ah, Kania meriak. Antara menjaga iffah dan perasaan tak karuan. Tak jelas. Mungkinkah Ahmad yang begitu menjaga iffah atau kania yang…ah, begitu sulitnya perasaan ini di urai. Bukankah suatu keharusan menjaga interaksi?

 Tapi… kania menghela nafas. Bahkan Ahmad tak berani menatapnya ketika pertemuan mereka di masjid kala itu. Ia lebih memilih menekuri ujung sendalnya. Dan kini, di penghujung kesibukannya menyelesaikan tugas akhirnya, satu sosok membuyarkan sosok Ahmad. Kania sedikit demi sedikit faham, hatinya sedang dalam bahaya.

 ……………………

“gimana Dek Nia? Bukankah kalian juga udah saling kenal? Fathir meminta langsung ke saya untuk menghubungi dek Nia”, sambar Mbak Ayu, pipi Kania memanas, blushing. Siapa yang tak kenal Fathir? Tak sedikit akhwat yang mencoba mencari saluran yang menjembatani maksud hati. Dan sekarang? “what? Eh…eh…Mbak?”, Kania gelagapan, mulutnya tiba-tiba kelu. Mbak Ayu mengeluarkan sebuah amplop dan menyodorkan ke tangan Kania. Kania menerimanya dengan enggan.

Tangannya ikut gemetaran memegang amplop yang diberikan Mbak Ayu.“saya…saya…”, perbincangannya dengan Ibu di telepon beberapa hari yang lalu seolah menyimpan sebuah pesan, menunggu Ahmad yang masih dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Ah, Kania tiba-tiba butuh kehadiran Ayahnya.

Bagaimana harusnya seorang lelaki itu, Ayah?. “udah, jangan mikir macemmacem. Pikirkan baik-baik. Jangan lupa istikharah”, Mbak Ayu tersenyum menenangkan. Kania mengangguk pelan sambil menatap Mbak Ayu yang masih tersenyum. Percakapan yang meninggalkan segumpal rasa yang tak menentu pada diri Kania.

Kania bergegas memasuki kamar. Ia mengutuk diri sendiri yang begitu kepo dengan isi amplop yang diberikan Mbak Ayu. Perlahan, Ia menyobek amplop dan mengeluarkan secarik kertas. Sebuah foto terjatuh ke lantai begitu Ia mengeluarkan secarik kertas. Ia mengernyit. Buru-buru membuka lipatan kertas dan mulai membaca baris-baris kalimat yang tersusun rapi.

Cinta Awalnya adalah gurauan dan akhirnya adalah keseriusan. Terlalu rumit untuk di ungkapkan maknanya lantaran keagungannya. Tak bisa diselami hakikatnya melainkan dengan penuh kesulitannya. Agama tidak mengingkarinya, dan syari’atpun tak melarangnya. Tak banyak kata yang harus Saya ucapkan. Cukuplah Mbak Ayu menjadi penyambung rasa. Tak banyak janji yang harus Saya keluarkan saat ini, sebelum perjanjian kuat dalam ikatan pernikahan terikrarkan. Terikat oleh hukum syara, dan di sah-kan dihadapan walimu. Maukah engkau menjadi penyempurna Din-ku? Fathir

_ Kania termangu beberapa saat.  Buru-buru Ia merunduk, memungut foto Fathir yang terjatuh ketika membuka amplop. Ada rasa aneh menyeruak dalam dadanya. Rasa yang sulit Ia mengerti. Ponselnya tiba-tiba bordering, Kania sedikit terlonjak. Buru-buru Ia meraih ponselnya, dari Ibu. Darah Kania tersirap, tanpa basabasi Ibu menyampaikan pesan Ahmad “maukah Kania menjadi istriku, bu?”.

Kania memejamkan mata. Benaknya berkelindan  mencari jawaban. Dua cinta sekaligus dua lamaran. Seseorang menunggu jawaban, dari pertanyaan yang dilesakkan langsung tanpa prolog. Dan yang lain, menanti jawaban dari pertanyaan yang telah dua tahun ini membuat hati Kania getas, terombang-ambing.  Pada akhirnya, cinta adalah memilih, untuk melupakan ataukah memiliki.

Inikah ujian bagi hati yang sedang mencari tempat untuk menjejakkan rasa? Ah, kenapa seluruh puisi cinta menjadi terdengar absurd? Dan Kania? Ia tak mau berjudi dengan masa depannya. Dalam sujud panjangnya, puisi cinta tak lagi absurd dalam fitrahnya. Ia memejam sekali lagi, mencoba menerbangkan keraguan dalam sujudnya. Di ujung sya’ban, hatinya menetapi rasa pada belahan yang telah lama terpisah.[Ukhti Juan]

Anak Baru Di kelas Sebelah

“Adiiiittttt!”

 Tami berlari kecil mengejar Adit. Adit menghentikan langkah lalu membalikkan badan. Tak berapa lama, Tami tiba dihadapannya dengan nafas tak beraturan. “Lu kenapa sampai segitunya? Kangen ama gue ya?” ujar Adit.

Tami segera mensejajarkan langkahnya dengan Adit. “Dit, lu tau gak?di kelas sebelah ada anak baru!”, suara Tami terdengar penuh semangat. Full power. Wajahnya sumringah riang gembira. “Trus?”, Adit bertanya singkat, mereka berjalan cepat memasuki koridor sekolah.  “Yang ini special, Dit” “Special pakai telor?” ujar Adit  cuek. Keduanya memasuki kelas. Tami  senyam-senyum sementara Adit cemberut “Lu kenapa sih? Genit gituh?”

 “Hehehe” Tami hanya terkekeh lalu  menaruh tasnya. Belum sempat Ia membuka pembicaraan, dari arah pintu terdengar suara Rajib yang kerap di sapa Ajibonk. Si lelaki tulang lunak yang membuat Adit dan Tami serempak menoleh.

“Hey guys…. Apa kabar semua? Semoga hari ini ceriah ya. Semoga Pak Karim diberkahi wajah sumringah pas ngajar matematik hihihi” Rajib menaruh tasnya dengan gemulai, lalu menyambung sapaan paginya, khas Ajibonk “Kalian udah liat status gue hari ini, Cyiiin?”, mata Rajib menyapu kelas dengan genit “ Tadaaaaa….!!!” Ia memperlihatkan sebuah pic yang baru di uploadnya”ni foto  gue ama anak baru di kelas sebelah hihihi keren bo’. Ni juga butuh perjuangan. Datar banget ekspresinya ya?” Tami melotot ke arah Ajibonk.

“Hey, ajibonk. Lu malu-maluin aja  deh. Gue yakin, anak kelas sebelah itu gak rela berfoto ama lu. Jeruk minum jeruk”, teriak Tami “Hihihi biarin aja, yang penting, gue punya pic di pagi ini. Lu jangan sirik ya, Tam”, Ajibonk melirik genit kearah Tami.

 “Ih, enak ajah” Tami memalingkan wajah dari  Ajibonk. Diam-diam Ia memikirkan gimana caranya ngedapetin anak baru di kelas sebelah? Demam anak baru yang bernama Romi sepertinya benar-benar melanda sebagian kaum Hawa di SMA Insan Taqwa. Tak terkecuali Tami, Ia seperti berlomba untuk mendapatkan perhatian Romi. Uniknya Romi kalem aja.

“Lu tau gak, Dit, Nomer handphone  si Romi udah gue dapet”, Tami berucap dengan riang. Jam istrahat telah berlangsung beberapa menit yang lalu. Keduanya sedang mengisi kampung tengah di kantin Bu Sri.  “Romi siapa yah?” Adit balik bertanya “Itu lho, anak baru di kelas sebelah” “Ooohhh” “Onaknya hebat lho, Dit”, mata  Tami berbinar, menyimpan segumpal kekaguman. Adit hanya menaikkan kedua  alisnya “Romi itu pindahan dari Bandung.  Selain pintar, dianya juga oke punya”  “Oya?”, Adit menyeruput  minumnya “Romi tu keluarga pebisnis. Lihat  aja, kendaraan si Romi, mentereng gitu, Dit”, raut Tami bersemangat. “Oalaaahhh… lu ngincar si Romi karena kekayaan orangtuanya gituh? Basi!”, Adit menepiskan tangan ke udara. Tami manyun.

“Lu gak ngedukung gue, Dit?” “Mau ngasih dukungan apa? Ketik  Tami spasi Romi gituh?”, Adit mendelik ke arah Tami”gue angkat tangan dengan yang namanya pacaran. Illegal”, sahut Adit. Tami terdiam. “Mending lu ikut tuh, kegiatan Rohis hari minggu ini. Gue di ajak Oji. Saatnya berhijrah, jangan nunggu nanti, karena mati, ga nunggu nanti. Yuk ah!”, Adit bediri, bergegas kearah kasir di ikuti Tami yang masih terdiam. Hm, ternyata si Oji, sepupu Adit yang dedengkot Rohis putra itu berhasil ngubah pandangan Adit tentang pergaulan.  

***

Tami menekan keypad ponselnya. Ia berulang kali melakukan hal yang sama dengan hati deg-degan. Tami menghela  nafas dalam-dalam dan…hm, kali ini Ia  menempelkan ponsel ke telinganya. Beberapa detik menunggu, nomor yang dituju masih belum menjawab. Ffiuhhh….ia menghela nafas sekali lagi lalu mengulang hal yang sama, kali ini disertai ikrar dalam hati, jika masih gak diangkat, Ia gak akan menghubungi nomor itu, setidaknya untuk hari ini. Sekali lagi, Ia menekan tombol di layar ponsel, nomor yang dituju kembali berbunyi…satu dua tiga detik dan… “Halo, Assalaamu’alaykum warahmatullaah” Wuishhhhh gelombang udara dingin merambati Tami. Suara sopran itu tak lain adalah milik Romi.

 “Halo?”, Romi kembali mengulang ucapannya “Ha…ha..lo?”, Tami sedikit tergagap. “Ni siapa ya?” “E..ehh… Rom, ini gue…Tami”,  hadeuhhh gue ngomong kayak keselek geeenee seehhh, Tami mendelik sendiri “Tami siapa?” Tami menepuk jidat “Tami anak kelas XIB. Gue…gue  tetangga kelas lu”, Tami berusaha menjawab dengan suara senormal mungkin. “Ooh… ada yang bisa saya bantu?” Deuh…Romi kok datar gini sih… “Gue…em…mmmhhh…gue denger  lu pinter matematik…gue mau pinjam catatan!”, Tami mengernyitkan dahi, aduh ni alasan apaan sih? “Catatan? Pembahasan apa ya?” What?  Iya, tentang apa yah???  Adeuh ngebayangin matematika aja Tami udah mual. Tami terlonjak. Segera mencari buku matematika di rak buku “Halo?”, suara Romi terdengar kembali “Eh…i..iya ntar nih lagi nyari buku cat..eh… bukan enggg.. integral dan  diferensial!” seru Tami semangat.

“Oh, iya boleh. Ke kelas aja besok”, sahut Romi “Boleh?? Beneran?”, Tami kian bahagia “Boleh. Ada lagi?” “Eng…engggakk…” “Ya udah wassalaamu’alaykum  warahmatullaah”, Romi menutup pembicaraan. Tami masih terpaku. Ia seperti  kesetrum . Detik selanjutnya, Ia melompat kegirangan,jingkarakan seperti anak kecil.

***

 Adit tergesah-gesah memasuki sekolah. Sesekali Ia membetulkan letak kerudungnya. Selama ini, Ia hanya memakai kerudung bergo mini  plus celana jeans. Kali ini ada rasa yang beda memakai kerudung lebar. Ia berhenti di parkiran sekolah, sambil melihat kebawah, ke ujung gamis. Ia menarik gamisnya kesamping kiri dan kanan, rasa tidak pede menjalarinya.

Ia menuju sebuah mobil dan mulai memperbaiki letak kerudung sambil melihat bayangannya pada kaca mobil.  Ah, terlihat baik-baik saja. Namun perasaannya masih kurang nyaman. Ia mematut-matut wajah di kaca mobil. Berdiri tegak kemudian memperbaiki letak brosnya. Ia memutar tubuhnya, melihat bayangannya dari arah samping.

Ia memutar tubuhnya sekali lagi, hmmm lumayan baguslah.  Adit senyum-senyum sendiri.  Tepat pada saat itu, kaca mobil diturunkan, seseorang menengok keluar memandangi Adit yang membelalak. Wajah lelaki itu datar. Adit segera menutupi wajah dengan kedua tangannya, secepat itu pula Ia membalikkan tubuh.

Lelaki tadi terdengar keluar lalu menutup pintu mobil. Adit terdiam di tempat. Ia hanya mendengar suara sepatu yang beradu dengan kerikil jalanan. Detik selanjutnya, Ia segera mengambil langkah seribu. Tak lagi diperdulikan letak kerudungnya. Satu yang di inginkannya, segera bertemu Ika dan mengikuti acara.  Setelah cukup jauh meninggalkan parkiran, Ia mengeluarkan ponsel, mencari nomor Ika dan segera menguhubunginya.  

“Assalaamu’alaykum? Ka?”, Adit membuka pembicaraan sambil memberanikan diri menengok ke belakang. Wishhh Alhamdulillah gak ada orang. Ia memperlambat langkah “Ya, wa’alaykumsalam warahmatullaah…lu dimana,Dit?”, sahut Ika “Gue menuju aula” “Ok, sip. Buruan ya”  “Iya”, Adit buru-buru menaiki tangga menuju aula. _

 Acara yang berlangsung setengah hari itu emang TOP. Adit puas dengan training berikut cara trainer memaparkan materinya. Usai acara, Adit mencari Oji. Ia berniat meng-copy materi training hari ini. Adit celingukan mencari Oji, akhirnya Ia melihat Oji sedang membereskan kursi bersama panitia.  “Ji!”,Oji menoleh ke arahnya. Adit segera mendekati Oji dan menyodorkan hard disc miliknya,“nih, copyin materi tadi dong” “Oh, ok sip”, Oji mengambil hard disc tersebut  “gue ke bawah ya, mau sholat. Lu balik bareng siapa?” “Di jemput Papa. Eh nih Papa telepon”, Adit melirik ponselnya “Ya udah gue duluan”, Oji bergegas meninggalkan Adit yang hanya mengangguk sekilas sembari menerima telepon.

“Ya,Pa. Adit ke bawah” Adit bergegas menuruni tangga, Saking terburuburu, Adit nyaris menubruk seseorang.  Begitu mendongak, mata Adit membelalak. Ia segera berlalu dan kembali mengambil langkah seribu. Ya ampun! Cowok itu kok  jadi hantu hari ini??. Tadi Pagi dimulai dengan peristiwa memalukan, sekarang  nyaris saja Adit mempermalukan diri sendiri.

“Eh, Dit, acara Rohis kemarin gimana?”, Tami memasang wajah penuh minat. Adit hendak memulai cerita, namun urung karena tiba-tiba Ia menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya, berdiri di depan pintu, sedang berbicara dengan Dion, teman sekelas Adit. Tami ikut- ikutan menoleh ke pintu. Matanya berbinar terang “Hey! Rom. Kebetulan, nih gue mau balikin buku lu. Kemarin lupa, sorry ya”, Tami bergegas berdiri menyambut Romi yang menoleh kea rah Tami.

“Ng…saya nyari sepupu Oji. Katanya namanya Adit” “Oh…Adit?”, Tami mengernyitkan dahi lalu menoleh ke kursi Adit. “lho,Adit mana ya?”, gumamnya “Kenal Adit kan?” “Tentu saja”, Tami menganggguk  cepat “Ini hardisc Adit. Kemarin dititipin  ke Oji, minta di copyin materi” Tami mengernyitkan dahi “Materi apaan ya?” “Training Rohis kemarin”, Ucap  Romi sambil menyodorkan sebuah hardisc kea rah Tami. Tami segera mengambil hardisk tersebut.  “Nih buku lu, Rom”, Tami menyodorkan buku Romi “Oh iya,makasih ya”, usai berucap, Romi segera berjalan meninggalkan Tami yang masih mematung.  

“Tam!”, Adit tiba-tiba nongol, Ia menepuk pundak sahabatnya, Tami terlonjak kaget “Eh, lu…lu kenal Romi?” “Romi siapa?” “Yang ngasih harddisc lu. Nih”,  Tami menyodorkan hard disc Adit “Oh…itu yang namanya Romi  yah?”, Adit berucap pelan

“Iya. Lu kenal dimana?”, Tami  penasaran. Adit menggelengkan kepalanya “Gue gak kenal. Waktu kegiatan  Rohis, hard disc ini gue titip ke Oji” “Romi ikut Rohis ya?”, Tami tak  mampu menyembunyikan rasa penasarannya “Ya mana gue tahu”, Adit menjawab sambil berjalan menuju kursi. Tepat pada saat itu, Bel tanda apel pagi berbunyi. Keduanya keluar dengan pikiran yang berbeda. Tami dengan pikirannya  mengenai Romi yang di duga keras ngikut  Rohis. Dan Adit yang kembali terbayang  kejadian di parkiran kemarin. Di lapangan sekolah, keduanya melihat Romi dengan perasaan berbeda

***

“Dit, gue mau ikutan Rohis”, Tami berjalan gontai di sisi Adit.  “Karena Romi?”, Adit menghentikan langkah, Ia menatap lekat sahabatnya,Tami terdiam. “luruskan niat, Tam. Cinta sejati itu akan kita temukan dengan jalan yang benar. Dahulukan cinta kepada Allaah, insya Allaah cinta sejati bakal kita dapatkan” “Tapi..gue bener-bener…”,

Tami tak meneruskan ucapannya “Jangan menggantungkan harapan kepada manusia, Tam. Berharaplah kepada Allaah, pasti Allaah bakal nunjukin yang terbaik. Berharap kepada manusia  hanya akan meninggalkan sakit. Sadari itu, Tam. Sebelum perasaan lu jauh dan terikut dalam harapan palsu. Jangan abisin waktu untuk sesuatu yang gak jelas”, Adit menatap Tami, meyakinkan sahabatnya. Adit faham, sebagaimana Tami menyadari bahwa kondisinya sulit menerima nasihat Adit. Adit menepuk lembut pundak Tami “come on,Tam. Yakin Allaah berikan yang terbaik. Lagipula,lu belum siap nikah kan? Dan yang harus lu fahami, Romi pun gak akan menempuh jalan illegal  untuk mendapatkan cinta sejati”,

Adit tersenyum menatap Tami. Tami hanya mengangguk, dalam hati Ia membenarkan perkataan Adit. Sepenuhnya. Ya, sepenuhnya benar, seperti Ia meyakini bahwa cinta sejati akan tiba pada waktu dan orang yang tepat. [ Juan]