Tuesday, July 21

Monogatari

Rayah di tanah Suriah

Rayah di tanah Suriah

Monogatari
Langit masih memerah. Perang masih berdarah-darah. Berkecamuk meski matahari sudah di ufuk. Ledakan,  jeritan, desingan, dan rentetan peluru masih membayang-bayang. Hari kian senja ketika sang surya berada di peraduannya. Dan langit timur sudah membiru hampir manghitam seluruhnya.  “Allaahu Akbar..! Allaahu Akbar...!!”, pekik seruan itu masih menggantung di telingaku. Disamping suara bom yang menggelegar, menghantam, menghancurkan. Meskipun begitu, aku masih berada di pos jagaku, di garda belakang.   “Tapi.., oh tidak.”, seorang teman yang berbicara dari jauh sana meninggalkan suara seperti kaset rusak, malang, lantas diiringi suara ledakan yang jelas kami dengarkan.  Salim menggeleng. Melepas tombol handytalknya. Dia menelungkup-kan muka di tangan, menyedihkan.
Hijrah cinta Niyala

Hijrah cinta Niyala

Monogatari
Terik mentari menyelimuti bumi siang itu, angin berhawa panas menyapunyapu dan membuat debu ikut menari  bersamanya. Siswa-siswi kelas sepuluh lima tengah bersiap menjalani pelajaran olahraga. Setelah mengganti seragam dengan pakaian olahraga, mereka berkumpul di tengah lapangan. Hari itu merupakan hari pertama kegiatan belajar mengajar mereka sebagai siswa SMA, setelah melewati serangkaian orientasi sebelumnya.             Diantara mereka nampak seorang gadis jelita yang berpenampilan agak berbeda dibanding siswi lainnya. Orangorang biasa memanggilnya Niyala. Wajahnya  putih berseri, senyum manisnya selalu mengembang tatkala bertemu setiap orang,  pandangannya senantiasa terjaga dari lelaki yang bukan haknya. Beberapa pa...
Kania Gadis Penunggu senja

Kania Gadis Penunggu senja

Monogatari
Senja selalu saja menyelipkan kemewahan yang tak tertandingi. Kaki langit yang keperakan, dan batas- batas langit yang tertimpa cahaya mentari, begitu perkasa menyorotkan pendar emasnya ke bumi. Gumpalan awan yang diterobos cahaya, menyiratkan puluhan lesakan anak panah yang berbaris-baris. Sore yang menua dan senja yang kian memucat. Semilir angin membelai lembut kerudung Kania. sejak beberapa lama, Gadis itu tenggelam dalam pemandangan mistis di kaki langit. Gadis penunggu senja. Sesekali Ia mengarahkan lensa ponsel ke sudut langit, menangkap puncak pergeseran waktu yang siap menenggelamkan bumi ke dalam balutan malam yang suci.  Kali ini Ia tak sendiri. Ya, puluhan orang berdatangan sejak sore untuk meneropong bulan, memindai sang hilal berdasarkan rukyat syar'i. Kania ter...
Anak Baru Di kelas Sebelah

Anak Baru Di kelas Sebelah

Monogatari
“Adiiiittttt!”  Tami berlari kecil mengejar Adit. Adit menghentikan langkah lalu membalikkan badan. Tak berapa lama, Tami tiba dihadapannya dengan nafas tak beraturan. “Lu kenapa sampai segitunya? Kangen ama gue ya?” ujar Adit. Tami segera mensejajarkan langkahnya dengan Adit. “Dit, lu tau gak?di kelas sebelah ada anak baru!”, suara Tami terdengar penuh semangat. Full power. Wajahnya sumringah riang gembira. “Trus?”, Adit bertanya singkat, mereka berjalan cepat memasuki koridor sekolah.  “Yang ini special, Dit” “Special pakai telor?” ujar Adit  cuek. Keduanya memasuki kelas. Tami  senyam-senyum sementara Adit cemberut “Lu kenapa sih? Genit gituh?”  “Hehehe” Tami hanya terkekeh lalu  menaruh tasnya. Belum sempat Ia membuka pembicaraan, dari arah pint