Friday, May 22

Celebriy Culture Melanda Remaja

Sejak entertaiment menyelundup dalam gaya hidup masyarakat Indonesia, seolah tiada hari tanpa  memelototi dunia artis. Dunia hiburan kian memesona remaja. Musik, film dan idola menjadi isu penting. Usianya habis demi mendapatkan kenikmatan dari panggung hiburan. Telinganya tak lepas dari lantunan ‘ayat-ayat’ cinta penyanyi idolanya.

Mulutnya basah menyenandungkan lirik lagu yang sedang hits. Matanya tak berkejap sedikitpun dari adegan-adegan film kegemaran. Rela berkorban harta demi memperkaya idola. Merogoh jutaan rupiah demi konser yang memanggungkan sang idola dan mengoleksi pernak-perniknya. Budaya “ngartis” ini pun kian menjadi-jadi di media sosial. Karena, kini para fans bukan saja bisa memelototi idolanya, bahkan bisa menjelma menjadi idola itu sendiri.

Ya, media sosial membuka mimpi bagi siapa saja untuk terkenal.  Banyak yang telah sukses terkenal berkat Youtube, Instagram, Facebook, Twitter, Path, Vlog (video blog) dan sejenisnya. Ada yang eksis karena talentanya, tak sedikit yang karena kenyeleneh-annya. Aksi-aksi memalukan, dan bahkan aib, diumbar demi mendongkrak  volume followers.

Menaikkan popularitas. Karena, makin populer makin banyak job. Makin kaya. Inilah celebrity culture, di mana popularitas dan uang adalah tujuan. Kebahagiaan hidup. Itulah yang diimpikan remaja yang tumbuh dalam budaya sekuler ini. Apakah ini potret generasi harapan bangsa?

Merusak Mental

Orientasi hidup materialistik ini  merusak arah pandang remaja. Kepungan celebrity culture lambat laun membuat kecanduan. Merasa ketinggalan informasi jika belum up date info-info terkini dunia keartisan. Merasa terasing dari pergaulan jika tak kenal nama-nama orang terkenal yang jadi perbincangan.  Merasa tak nyambung dari obrolan jika tak mengikuti alur film-sinetron yang kejar tayang. Maka, remaja menghabiskan waktunya untuk mengikuti isu-isu seputar dunia hiburan saja. Minim kreativitas dan aktivitas.

Efek negatifnya, pecandu dunia hiburan ini akan jauh dari ajaran agamanya. Kian tak khusyu’ dan bahkan ogah-ogahan menegakkan salat, karena telah lelah untuk berleha-leha. Enggan melantunkan ayat-ayat suci Alquran, karena volume telinganya sudah overload dengan lagu-lagu cinta. Enggan mengkaji Islam, karena isi kepalanya sudah dijejali ‘kajian-kajian’ entertaiment dari berbagai media.   Sementara bagi remaja yang ‘sukses’ populer secara instan, kerap mengidap sindrom orang terkenal. Tidak siap mental. Stres. Depresi.

Mereka menyangka sangat nikmat menjadi populer. Iya, awalnya. Banyak job dan dikejar uang. Tapi, itu harus dibayar dengan tekanan kerja gila-gilaan. Eksploitasi tenaga dan pikiran. Dikejar-kejar penggemar, digosipkan, dan di-bully para pembenci.  Orang baru ngetop ini pun dilumuri kepura-puraan. Pencitraan. Harus tampak  a sempurna. Menjaga penampilan, fisik, dan diet ketat. Menjaga sikap, berusaha selalu tersenyum dan tak asal bertutur kata. Pokoknya harus menjaga imaje terusterusan.

Tak bisa tampil apa adanya. Tak  bisa menjadi diri sendiri. Bagi yang tak kuat, larilah ke halhal negatif. Obat-obatan terlarang kerap  dianggap bisa mendongrak rasa percaya diri. Tak heran bila dunia keartisan ditengarai  dekat dengan narkoba. Ada juga yang memilih melarikan diri dengan pesta-pesta di dunia gemerlap yang menyedot habis kekayaannya. Juga, melakukan kekonyolankekonyolan yang kontraproduktif bagi eksistensinya. Bunuh diri misalnya.  

Pelemahan SDM

Serangan budaya selebritas adalah  ancaman bahaya bagi generasi bangsa yang gencar dilakukan untuk melemahkan SDM umat muslim. Remaja yang terkungkung racun celebrity culture, hanya menjadi manusia rendah kualitasnya.

Bagaimana mereka bisa serius membina diri menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul, jika hanya fokus pada kesenangan individual?  Padahal, pembangunan sebuah masyarakat sangat tergantung pada SDMnya yang tidak dilahirkan dengan kualitas prima begitu saja.

SDM dibentuk dari hasil treatment manusia itu sendiri. SDM yang harus digembleng, dibina, dididik, diarahkan dan dibentuk menjadi manusia-manusia terbaik. Manusia yang kelak mampu menjalankan sistem terbaik.

Pejuang Islam

Kamu, ya, kamu, jangan sampai  teracuni budaya ngartis ini. Kalian adalah calon pemimpin dambaan umat. Penerus penegak peradaban mulia, yakni peradaban Islam. Bebaskan diri dari penghambaan terhadap budaya selebritas. Bersihkan nilainilai materialistik yang mengganggu konsentrasi dalam pembinaan.  Gembleng menjadi pejuang Islam, bukan pejuang sekulerisme.

Jadilah generasi berkualitas seperti generasi di masa Rasulullah, para sahabat, tabiin dan tabiut. Memang, saat ini tak mudah melahirkan generasi berkualitas sekaliber sahabat itu. Mengapa? Karena sistemnya masih sekuler. Itulah mengapa generasi muda saat ini wajib menjadi pejuang untuk meruntuhkan sistem sekuler dan mengganti dengan sistem Islam. Yuk merapat!(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *