Friday, May 22

CERITA DARI CHINA : dui bu qi, wo yao li bai yi xia, ke yi ma?

by jony karikno mahasiswa wuxi institute of tchnology- china

17 September 2015. Kaki ini menginjakan di tanah tirai bambu untuk pertama kalinya. Tidak pernah  terpikir sebelumnya bisa belajar ke luar negeri apalagi sampai ke negeri China yang sekarang lebih sering disebut Tiongkok. Sebelumnya, hanya bisa melihat kehidupan, pendidikan ataupun kebudayaan negeri Panda ini dari layar kotak kecil, televisi ataupun laptop. Tapi sekarang malah nyata berada di di tanah kelahiran Wong Fei Hung. Alhamdulillaah…!

Kehidupan Masyarakat China

Hal paling mencolok banget di China itu  yang namanya agama menjadi hal yang tabu. Cuma sedikit saja kayaknya yang mempunyai agama di china. Bahkan salah satu temen asli china, panggil aja Chong malah ingin masuk neraka “I want go to Hell.!!”. Haduuhh…Mereka lebih takut sama atasan dibandingkan dengan Tuhan. Ya karena menganggap atasanlah yang memberi gaji. Uang dan kesenangan yang berbentuk materi itulah yang di kejar-kejar oleh mayoritas penduduk China sampai kapan pun.

Tolak ukur kebahagiaan bersifat materi demi memenuhi pemuasan nafsu semata. Sehingga menjadi hal yang lumrah ketika kehidupan begitu bebas. Saking bebasnya, masyarakatnya pun cuek banget dengan yang lain. Terutama dalam urusan pergaulan dengan lawan jenis aduuhhh….aduuhh..kayaknya lebih ngeri dibandingkan dengan Indonesia walau jangan dibilang Indonesia sudah baik.

Aktivitas (maaf) ciuman di jalan, di kampus bahkan di halte bus pun sudah biasa dan tak  ada rasa malu kayaknya. Sama halnya dengan fashion. Saat di kampus kalau untuk pemuda sepertinya relatif normal. Namun untuk yang pemudi kadang sampai ‘horor’. Hots pant pun tak segan digunakan dalam area kampus. Judi, di negeri kita kegiatannya disembunyikan dan dilakukan di tempat tertutup.

Di sini, judi ibarat rutinitas biasa yang tak mengenal tempat bahkan seperti sebuah kebudayaan. Baik di tempat wisata, perempatan atau dipinggir jalan kayak difasilitasi walau sederhana berupa kursi 4, meja, dan kartu.

Tantangan Muslim Di China

Tantangan terbesar sebagai seorang  muslim minoritas di negeri Sakura ini adalah  ketaatan pada aturan agama . Jika dikampus ku sih tak begitu parah pertentangannya terhadap islam. Yaa masih pahamlah kalau kita ada sebuah kewajiban agama dan ada toleransi melakukan ibadah terlebih sholat jum’at yang hanya se minggu sekali.  

Berbeda dengan salah satu sahabat indonesia lainnya yang mengambil universitas di daerah Nanjing sekitar 2 jam lebih perjalanannya menggunakan kereta. Ketika mau izin meninggalkan kelas dengan alasan ingin melakukan sholat jum’at, di tolak mentah-metah. Xue sheng : Dui bu qi, wo yao li bai yi xia, ke yi ma ? ( Murid : Maaf, saya mau ibadah dulu, bolehkah.? ) Lao shi : Ni men zai zher yao xuexi, bu shi yao li bai. (Dosen : Kalian datang kesini itu untuk belajar, bukan ibadah)

Krikkk….kriikkk…..suasana kelas menjadi hening… Selain tantangan dari pihak kampus, ada tantangan yang lain dalam hal makanan. Di sini, babi dan  minuman beralkohol itu dijual bebas. Sehingga bagi yang muslim agak kesulitan untuk memperoleh makanan halal.  Untuk melakukan sholat berjamaah khususnya sholat jum’atan sangat berbeda kondisinya dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia, hampir setiap RW ada satu mushola atau masjid (walau tak semua tempat begitu tapi mayoritas).

Di sini, satu kota biasanya hanya ada satu masjid yang berada di tengah kota. Itu pun hanya digunakan ketika sholat jum’at. Masjid ini merupakan satu-satunya masjid (setahu saya) yang ada di kota Wuxi, Jiangsu, China.

Tempat dimana berkumpulnya umat muslim untuk sholat berjamaah.  Bila bulan Ramadhan tiba, diskriminasi dan pelarangan menjalankan ibadah puasa maupun sholat tarawih akan dilakukan pihak pemerintah. Secara adminitratif dipersulit seperti jika mau sholat tarawih harus mendaftar kepada pihak pemerintah untuk mendapatkan kartu identitas melakukan ibadah.  

Selain itu, ada kebijakan memberikan makanan kepada semua pekerja jika memang seorang muslim tersebut bekerja di pabrik ataupun lembaga pemerintah, dan diharuskan memakannya atau tidak pemotongan gaji. Sama halnya dengan anakanak sekolah dasar atau menengah, pemerintah melarang menjalankan ibadah puasa dengan dalih menjaga kesehatan  padahal hanya akal-akalan saja. Pesan saya untuk driser, “gantungkan cita-cita yang tinggi dan bersemangatlah dalam mengejarnya walau harus keluar negeri sekalipun. Tujuannya, bukan sekedar bermanfaat untuk diri sendiri tapi juga bermanfaat bagi umat islam dan dakwah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *