Thursday, October 17

Derap Rantai eps 04

langkah-langkah cepat berpijak kepada butir-butir pasir yang beku, dingin, keras dan misterius. Bukit-bukit karang tertancap pada butiran pasir itu, menyaksikan peradaban manusia. Purnama akhirnya keluar juga, diselimuti selendang angin yang rawan.

Mereka akan melihat sebuah aksi keteguhan dan keikhlasan prajurit Khilafah Islamiyah saat melaksanakan misinya. Kedua prajurit itu adalah Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka melangkah cepat di tengah-tengah kegelapan gurun pasir, berlari menyusuri tembok kota Ubullah yang menjulang tinggi.

Mereka menjaga jarak dari tembok itu sejauh kira-kira lima belas meter. Mereka sedang mencari tempat yang tepat untuk menjalankan aksi mereka. Sebuah sisi tembok yang paling gelap dan paling sedikit penjagaannya. Di setiap jarak lima belas meter, terdapat menara pengawas yang di puncaknya dihuni oleh seorang prajurit Persia. Terdapat semacam ruang di puncak menara pengawas itu, sehingga setidaknya seorang prajurit bisa berjaga di sana.

Menara-menara pengawas itu juga dilengkapi dengan obor-obor yang menyala terang. Satu demi satu menara pengawas dilintasi oleh Jabal dan Mutsana tanpa diketahui oleh prajurit Persia. Mereka terus menjaga jarak aman agar cahaya obor-obor yang tertempel di sepanjang tembok tidak menjangkau mereka. Kalau mereka sampai salah melangkah, bisa-bisa keberadaan mereka diketahui oleh para prajurit Persia di menara. Tibalah mereka pada sebuah sisi tembok yang berbatasan dengan tanah yang landai dan menurun.

Batu-batu cadas yang beringas bermunculan di permukaan tanah yang landai itu. Pada bagian tembok di sana, cahaya obor-obor tidak begitu rapat. Jarak antarmenara pengawas pun lebih jauh,  sehingga pada sisi tembok bagian itu ditelan kegelapan pekat, yang meneranginya hanya cahaya bulan. Mutsana dan Jabal terus berlari sampai ke sana. Sesampainya di sana, mereka segera mencari tempat persembunyian di balik sebongkah batu besar. Napas mereka menderu, menyisakan uap-uap air di depan hidung mereka sebab udara begitu dingin.

Namun karena mereka adalah prajuritprajurit terlatih, dengan cepat mereka dapat  menormalkan kembali deru napas mereka.  Hanya dalam beberapa detik saja mereka  bersandar pada batu besar itu untuk  beristirahat. Dengan hanya diterangi cahaya bulan, Mutsana menatap Jabal lekat-lekat. Sorot matanya menyiratkan sejuta makna. Dia mengacungkan tangan kanannya dan membuat isyarat kepada Jabal. Tanpa suara, Jabal mengangguk saja. Jabal segera bersiap, sambil berlutut dengan amat hati-hati, dia mengambil benda berbentuk panjang yang diselimuti kain tebal di punggungnya.

Dia letakkan benda itu di hadapannya kemudian dia buka selimut kain pada benda itu. Terhamparlah beberapa bentuk logam panjang dengan ukuran yang berbeda-benda yang entah apa di depan Jabal. Mutsana memerhatikan dengan saksama. Tangan Jabal yang besar merakit potongan-potongan logam itu dengan amat cekatan bahkan hanya dengan berpenerangan cahaya bulan. Dia menyambungkan bagian-bagian logam itu, mengaitkannya, memutarnya, menariknya, hingga setelah semua bagian logam itu menyatu, baru bisa diketahui benda apakah itu. Ternyata sebuah crossbow besi berukuran besar.

Crossbow kokoh itu berkilauan ditimpa cahaya bulan, dan Jabal langsung saja mengarahkan moncong  crossbow itu ke dinding kota Ubullah. Crossbow itu berdiri di atas sebuah  pilar besi yang bisa diputar, sehingga Jabal dengan mudah bisa menentukan sasaran. Setelah Jabal memasang sebuah anak panah besi berukuran panjang dan setelah semuanya siap, Mutsana melompat keluar dari batu besar itu dan berlari cepat menuju tembok.

Dia segera merapatkan punggungnya pada tembok itu dan menyatu dengan bayang-bayang pada sisi gelap tembok. Jabal mengarahkan moncong crossbow-nya pada satu titik yang tak jauh dari Mutsana kemudian melesatkan anak pahanya. Anak panah itu melesat secepat kilat dan menancap amat dalam di tembok kota Ubullah tak jauh dari Mutsana. Jabal memasang lagi anak panahnya kemudian menembakkannya lagi ke tembok. Anak panah yang kedua menancap dalam tak jauh dari anak panah yang pertama. Mutsana meraih anak panah pada tembok itu kemudian menaikinya. Dia mendaki tembok kota Ubullah yang tinggi itu dengan menggunakan anak panah yang dijajarkan Jabal sebagai anak tangga.

Setiap kali Mutsana menaiki sebatang anak panah, Jabal menembakkan anak panah lagi yang menancap di atasnya, kemudian Mutsana meraih anak panah itu untuk mendaki tembok. Tak perlu banyak menghabiskan waktu, Mutsana segera menjejak puncak tembok. Dia segera berlutut untuk menyamarkan keberadaannya. Dia membuka tas kain di punggungnya untuk mengambil sesuatu. Jabal dengan cepat membongkar crossbow itu menjadi bagian-bagian terpisah sebagaimana semula dan melapisinya lagi dengan kain tebal.

Diikatnya crossbow itu dan disandangnya melintang di bahunya. Cepatcepat dia berlari menuju tembok dan mendaki tembok melewati barisan anak panah yang dia tancapkan di tembok seperti tangga. Tak perlu menghabiskan banyak  waktu, Jabal telah hadir di dekat Mutsana di puncak tembok. “Kau turun duluan,” bisik Mutsana, yang ternyata telah menyiapkan seutar tali yang dia ulurkan ke bawah.

Dia mengikatkan tali itu kepada anak panah yang tertancap paling atas dan memeganginya agar Jabal bisa turun lebih dulu. Jabal menaati perintah Mutsana dan dengan hati-hati dia menggenggam tali itu erat-erat, kemudian menyusuri tembok sambil berpegangan kepada tali. Setelah Jabal tiba di bawah, giliran Mutsana menyusul. Mereka sudah berada di bagian dalam kota Ubullah. Bayang-bayang tembok menyamarkan keberadaan mereka. Apa yang mereka lihat di hadapan mereka adalah salah satu sudut kota Ubullah. Rumah-rumah penduduk berderet-deret di sana, sepi dan lengang, sebab malam telah cukup larut.

Mereka cepat-cepat membuka tas kain yang merek sandang dan mengeluarkan sehelai jubah serta serban. Mereka melapisi pakaian mereka yang hitam-hitam dengan jubah. Mutsana berjubah warna merah, Jabal mengenakan jubah warna putih. Mereka melepas bandana hitam mereka dan menggantinya dengan serban. “Sekarang kita cari tempat persembunyian,” bisik Mutsana. “Kau kenal kota ini, di mana baiknya kita bersembunyi?”

“Di dekat sini ada puing-puing sebuah ramai yang sudah lama diabaikan, lebih baik kita bersembunyi di sana,” kata Jabal. Mereka berjalan cepat dan sebisa mungkin menghindari cahaya dan keramaian. Tak lama kemudian mereka telah tiba di tempat yang mereka tuju. Sebuah tempat persembunyian yang amat tepat untuk menyusun langkah selanjutnya. Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *