Sunday, December 8

Derap Rantai eps 6

“Sebenarnya aku masih cukup bingung dengan instruksi dari Khalifah,” kata Jabal bin Abdul’uzza. “Bagaimana kita menemukan Aswad kalau informasi tentang dia hanya segini?” “Kita harus tetap besyukur kepada Allah, semoga Dia memberikan petunjuk kepada kita untuk menemukan Aswad walau petunjuk hanya segini,” kata Mutsana bin Harits.

Kedua agen rahasia yang dikirimkan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq itu berada di tengah-tengah ramainya pasar di kota Ubullah. Mereka berjalan bersisian sambil terus merapat dan bicara dengan amat hatihati, sekaligus dengan mengatur seberapa  kuat suara mereka. Sebab pada misi ini Mutsana harus berpura-pura menjadi seorang yang bisu.

Hanya Jabal yang boleh mengeluarkan suara sebab hanya dialah yang mengerti bahasa Persia. “Pasarnya seluas dan seramai ini, bagaimana cara kita menemukan pedagang kain yang wajahnya paling jelek?” Jabal menyapukan pandangannya, kepalanya menoleh kesana-kemari.

 “Tampan atau jelek tergantung mata siapa yang melihatnya, kalau di mataku ada banyak orang jelek di sini, bagaimana cara kita menemukan orang jelek di tengah-tengah orang jelek?” Mutsana tersenyum simpul mendengar kegalauan mitranya. “Tenang saja, Allah akan memberikan petunjuk kepada kita, insya Allah.

Pedagang kain yang wajahnya jelek, kurasa itu adalah sebuah  34 petunjuk yang cukup baik. Sebab jika seseorang telah mengatakan bahwa wajah seseorang itu jelek, maka biasanya secara umum orang-orang juga akan memandang wajahnya jelek. Petunjuk lain, Aswad adalah seorang muslim yang saleh, yang harus kita lakukan adalah mencari cara bagaimana kita mengetahui bahwa pedagang kain berwajah jelek itu adalah seorang muslim. Jika semua ciri ada padanya, maka dialah Aswad.” Cuaca yang terik memayungi pasar di kota Ubullah itu.

Kios-kios dan lapak-lapak pedagang berderet-deret diteduhkan oleh tenda-tenda yang terbuat dari kain. Tiangtiang dari kayu dan tambang-tambang terikat  di sudut-sudut tenda itu, kemudian diikatkan  pada pancang yang tertanam di tanah.  Lapak-lapak dan kios-kios itu membentuk  lorong-lorong yang berliku-liku.

Berbagai  barang dijual di pasar itu, biasanya pedagang  yang menjual satu jenis barang tertentu  berkumpul di suatu sudut dari pasar itu,  sementara pedagang-pedagang jenis barang  yang lain berkumpul di sudut pasar yang lain. Sudah beberapa lama Mutsana dan Jabal menyusuri pasar itu, namun mereka belum juga menemukan pedagang kain. Mereka berada di tengah-tengah pedagang emas. “Di mana pedagang kain?” Gumam Mutsana.

Dia berkacak pinggang sambil memandang ke sekitarnya. “Ini pedagang emas.” “Setahuku, pedagang kain letaknya tidak jauh dari pedagang emas,” sahut Jabal. “Tapi sepertinya para pedagang kain sudah  dipindahkan entah kemana. Dari tadi sudah kita susuri pedagang emas, tapi tidak bertemu juga pedagang kain.”

 “Mungkin kau sebaiknya bertanya pada seseorang,” usul Mutsana sambil menoleh pada Jabal. “Tapi tetaplah hati-hati, dari tadi aku melihat prajurit Persia ada di mana-mana, sepertinya mereka memang alergi dengan orang Islam, penjagaannya ketat sekali.” Jabal mengangguk dengan penuh makna kepada mitranya.

Mereka tetap merapat di antara kerumunan pasar itu, Mutsana mengikuti langkah Jabal. Mereka keluar dari kerumunan dan berjalan menuju pedagang emas yang terdekat dengan mereka, seorang lelaki bertampang masam. Jabal segera memerlihatkan kemampuannya berbahasa Persia, sementara Mutsana diam seribu bahasa. “Hey tuan, di mana pedagang kain?” Tanya Jabal.

Pedagang emas itu menyahut dengan acuh tak acuh. “Di bagian barat pasar.” Mutsana dan Jabal bergegas pergi tanpa berterimakasih sama sekali kepada pedagang emas itu. Mereka memang amat terburu-buru, sebab waktu mereka sangat sempit. Mereka cepat-cepat membelah kerumunan pasar itu menuju bagian pasar yang tadi ditunjukkan pedagang emas. Setelah berbelok beberapa kali, bertanya lagi beberapa kali, tersandung, tersenggol, saling dorong, dan terinjak kakinya, sampailah mereka di wilayah pedagang kain.

Di  hadapan mereka telah membentang kioskios dan lapak-lapak pedagang kain pasar Ubullah. “Ayo kita telusuri dengan saksama,” kata Mutsana. “Aku yakin wajah jelek yang dimaksud bukanlah karena ras atau etnis. Jadi tentunya bukan selalu orang berkulit hitam atau berbibir tebal. Aswad bisa jadi berasal dari ras mana saja, dan kemungkinan ada semacam cacat atau penyakit tertentu di wajahnya yang karena itulah dia disebut berwajah jelek.”

“Cukup masuk akal,” balas Jabal. “Agar lebih efektif bagaimana kalau kita berpencar saja?” Mutsana menggeleng. “Itu bukan ide bagus. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, lebih baik kita terus bersama karena akan selalu ada kemungkinan kita sulit berkumpul kembali nantinya.”

“Baiklah,” Jabal menerima keputusan komandannya itu. Mereka melangkah pelan-pelan, menyusuri deretan toko-toko dan lapaklapak pedagang kain itu. orang-orang ramai  tawar-menawar harga, hal itu membuat  mereka kesulitan menjalankan misi mereka.  Sering kali mereka terombang-ambing  karena kerumunan begitu ramai.

Mereka  mengamati pedagang kain yang sedang sibuk melayani pembeli satu persatu. Ada yang berkulit hitam, cokelat, dan kuning.  Ada yang berasal dari Afrika dan Asia. Namun sejauh ini wajah para pedagang kain  itu normal-normal saja. Kawasan pedagang kain di pasar Ubullah itu memang cukup luas. Selama  sekitar setengah jam mereka menyusuri kawasan pedagang kain itu. Kalau bukan karena sedang menjalankan misi penting dari Khalifah kaum Muslim, pastilah mereka tidak akan mau dekat-dekat dengan tempat yang menyebalkan itu.

Mereka lagi-lagi harus merasakan bagaimana berhimpit-himpitan dengan kerumunan orang yang berbelanja, mereka terdorong, kaki mereka terinjak, dan tentu saja mereka selalu berada di bawah ancaman dari prajurit-prajurit Persia yang selalu waspada. Mutsana dan Jabal menyingkir menuju sudut pasar yang lebih sepi, mereka masih berada di kawasan pedagang kain. Orang-orang hilir-mudik di hadapan mereka, sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Napas mereka terengah-engah, keringat bercucuran di sekujur tubuh mereka bercampur dengan debu-debu pasar. Lengkaplah sudah. “Sepertinya kita dapat masalah,” kata Mutsana. “Inilah yang aku khawatirkan,” sahut Jabal. “Kita menemukan dua orang pedagang kain berwajah jelek yang diduga adalah Aswad bin Asadi. Bagaimana sekarang, waktu kita makin sempit.” Jabal melempar pandang ke seberang, kepada seorang pedagang kain yang sedang bersemangat menjajakan dagangannya.

Dia terus mengamati pedagang kain itu. Memang ada sesuatu di wajah pedagang kain itu yang kurang enak  dipandang, banyak kutil menggelantung di  wajahnya. Pedagang kain itu memang selalu terlihat tersenyum, namun senyum yang seharusnya terlihat manis itu tenggelam di bawah kutil-kutil berbagai ukuran yang memenuhi wajahnya. Usia pedagang kain itu kira-kira empat puluh tahun, tubuhnya kurus, kulitnya cokelat, berkumis dan berjenggot.

Sementara Mutsana menatap ke sisi lain, tak jauh dari situ, ada seorang pedagang kain yang juga sedang sibuk menjual barang dagangannya. Yang cukup menarik perhatian adalah, wajahnya juga ditumbuhi kutil. Pedagang kain yang satu ini bertubuh gemuk, lehernya bergelambir, suaranya lantang. “Ada dua orang pedagang kain berwajah jelek,” gumam Jabal.

 “Bagaimana sekarang? Kalau berpencar, kita bisa menemui dua orang itu sekaligus. Kita bisa tentukan tempat kita berkumpul kembali di Rumah Kematian.” Mutsana menggeleng, “Aku masih tetap cenderung pada keputusanku di awal tadi, kita tetap bersama untuk menghadapi berbagai kemungkinan.” “Berarti siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Jabal menjadi agak gusar. Dia mengkhawatirkan sesuatu…

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *