Tuesday, July 28

Di Balik Megahnya Masjid Selimiye

by: Nidaa Hazimah Sholehah, kelas 12 SMA Bina Insan Mandiri

Siapa yang pernah berkunjung ke Turki, angkat tangannnya!! Beruntung ya, buat driser yang sempat  menginjakkan kakinya ke Turki. Sebab Turki memiliki banyak sejarah tentang islam apalagi kalo ingat pesona arsitektur bangunannya yang sangat menarik. Seperti arsitektur Hagia Sophia yang begitu megah, arsitektur Istana Topkapi yang bernuansa kekerajaan, arsitektur benteng konstantinopel yang sulit di hancurkan oleh siapapun, dan masih banyak lagi arsitektur indah yang hanya dapat di temukan di Turki.

Dan salah satunya adalah Masjid Selimiye, masjid yang memiliki keindahan interior elegan, masjid yang memiliki kubah terbesar di dunia, mengalahkan Hagia Sophia yang telah berusia hampir seribu tahun. Siapakah arsitek yang membuat masjid selimiye?  Dia adalah Koca Mimar Sinan Aga, atau lebih akrab dipanggil Sinan. Sinan adalah ketua arsitektur dan insinyur pembangunan untuk Sultan Sulaiman I, Sulan Salim II, dan Sultan Murad III. Selama periode 50 tahun sinan bertanggung jawab pada konstruksi dan supervisi 476 bangunan.

Dia melatih banyak asisten, salah satunya adalah Sedefhar Mahmet Aga arsitek sebenarnya untuk Masjid Sultan Ahmet. Asistennya saja mampu membuat masjid yang begitu megah, apalagi sinan yang kedudukannya di atas Sedefhar. Jadi wajar saja jika sinan dianggap sebagai arsitektur terbesar dari periode arsitektur klasik, yang setara dengan Michelangelo di eropa.

Awal kariernya terjadi pada 1512 ketika dia direkrut menjadi korp Jenissari, yaitu  pasukan khusus Ustmaniyah. Ketika usianya menginjak 23 tahun, dia tidak diizinkan untuk masuk ke sekolah tinggi kesultanan di Istana Topkapi, tapi dia dikirim ke sebuah kursus keterampilan. Awalnya dia belajar menukang kayu, dan matematika, tapi karena dia adalah anak yang cerdas, membuatnya segera menjadi asisten arsitek dan secara tidak langsung dilatih sebagai arsitek. Tiga tahun kemudian dia menjadi ahli arsitek dan insinyur.

Meskipun telah menjadi arsitek, dia tetap terjun ke medan jihad, sebagai pasukan Jenissari. Sebagai arsitek, sinan senantiasa mempelajari titik kelemahan suatu bangunan jika ditembak. Dia diperkenankan untuk merobohkan bangunan disetiap kota yang telah ditaklukkan, dan merubahnya apabila tidak sesuai dengan perancangan kota. Dia membantu membuat jembatan-jembatan, salah satunya adalah jembatan di atas Sungai Donau. Berkat terjunnya dia menjadi Insinyur Militer, membuat sinan medapatkan pengalaman sangat praktis. Sinanpun menyadari bahwa arsitektur Ustmaniyah sangatlah pragmatis.  

Bangunan yang ada hanya dibentuk seperti bangunan sebelum-sebelumnya, tidak ada perubahan, tidak memiliki ide baru untuk suatu bangunan. Dan ketika membangun, banyak arsitek yang boros dalam penggunaan material dan tenaga. Sinanpun mencoba mentranformasi arsitektur yang telah mapan, memperkuatnya, dan menambahnya dengan inovasi demi kesempurnaan. Merubah struktur kubah tunggal menjadi kubah yang banyak, menjadi design kubah berbentuk segiempat, atau segidelapan. Kejeniusan sinan terletak pada penataan ruang, menggabungkan masjidnya dalam suatu cara yang efisien dalam satu komplek yang melayani masyarakat sebagai pusat intelektual, komunitas dan kebutuhan sosial serta kesehatan.

Sehingga mempermudah ummat untuk melakukan segala aktivitas dalam satu tempat. Kita patut bangga akan prestasi yang telah dicapai oleh sinan. Sinan dapat menggabungkan antara Islam yang dia pegang teguh dengan kreatifitas yang dia miliki, sehingga dapat menghasilkan karya yang dapat bermanfaat untuk ummat. Namun kini Islam telah kehilangan arsitek Islam layaknya Sinan. Apalagi setelah negara Khilafah runtuh, tidak ada lagi dorongan untuk melahirkan arsitek inovatif yang dapat melayani ummat. Padahal kedudukan seorang arsitek di suatu negara itu sangat dibutuhkan.

Jika Mimar Sinan mengetahui bahwa memugar makam dan  membangun kubah di atasnya dilarang dalam Islam, maka ia bisa menasihati para sultan agar makam mereka tidak dibangunkan kubah-kubah yang megah, itu adalah salah satu contoh betapa pentinganya seorang arsitek islam.  Dan inilah saatnya kita untuk unjuk gigi, memperlihatkan bahwa akan ada generasi penerus Sinan. Hal ini dapat kita capai dengan  menuntut ilmu secara sungguh-sungguh.

Masa iya orang islam males nuntut ilmu? Padahal menuntut ilmu adalah suatu kewajiban kita sebagai orang islam. Oleh karena itu jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu dibidang apapun, seperti pepatah Imam Syafi’i “Bila kau tak tahan menahan lelahnya menuntut ilmu, maka kau harus menahan perihnya kebodohan”.  

Teruslah bergerak menuju perubahan dan kebaikan, jangan pernah lelah dan lalai, karena ini adalah bentuk perjuangan kita untuk kejayaan islam. Jika orang kafir melihat hal ini mereka akan menghalangi gerak kita. Karena sampai kapanpun orang kafir tidak akan pernah rela melihat islam jaya kembali.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *