Saturday, October 19

Di Cari Bukan Di tunggu

by Amilatun Sakinah SMAN 1 Palimanan

Di cari, bukan ditunggu! Pasti pernah dengar kalimat di atas, kan? Biasanya kalimat di atas identik dengan hidayah yang sering disindir-sindirkan bagi yang masih bikin gemez untuk diajak bener. Ketika yang diajak berkata, “Maaf, gue belum dapet hidayah. Ini juga lagi nunggu.

” Lantas kita berkata, “Bro, sist, hidayah ntu dicari, bukan ditunggu! Tapi, sobat, kali ini yang akan dibahas bukan tentang hidayah, melainkan sesuatu yang lain yang sama pentingnya bagi diri kita agar tetap istiqomah patuhi perintah Allah.

Kalo ini ga ada, wah, bisa gaswat! Emangnya apaan, sih? apa, ya? 😀 Sesuatu yang penting ini adalah sesuatu  yang juga ada di lingkungan olahraga, terutama kalo sedang mengadakan pertandingan. Apa coba tebak? Support! Yeah, support! Alias Dukungan!

Banyak sekali fenomena-fenomena unik yang dialami oleh ‘challenger’ kita  dalam hidupnya, terutama jika ia tinggal di tempat yang tak ada dukungan sama sekali baginya untuk tetap patuh pada aturan Allah, entah itu dalam bentuk lingkungan rumah, sekolah atau lingkungan kerja.

Kita bisa bayangkan, gimana sih rasanya memakai jilbab dan kerudung bagi perempuan yang tinggal di daerah orang yang tak mengenal apa itu pakaian muslimah sebenarnya. Apalagi kalau daerahnya itu memiliki suhu yang tinggi. Wah, kalau nggak ada dukungan, bisa-bisa tanggal tuh pakaian dari tubuh si perempuan, diganti dengan pakaiannya kaum primitif.

Atau yang lagi happy-happy puasa sunah, eh, kiri-kanan orang pada nyeruput teh dalam gelas yang dikasih es dingin. Atau ketika sedang menyebarkan undangan kajian di antara penyebar undangan pernikahan, eh, maksudnya undangan konser dan sebagainya, yang bikin kita makin terasingkan. Nggak ada yang dukung sama sekali. Hingga akhirnya muncul ketertarikan atas  rayuan dan ‘mantra’ dari makhluk yang dekat  dengan kita namun tak dapat terdefinisikan.

“Udah, nggak usah tutup aurat lagi, kan bisa pakai alasan karena kamu sendirian. Mau, nggak punya teman? Mau dijauhi?” atau “Hei? Masih aja nyebarin undangan kajian! Yang ada malah sakit hati karena nggak ada yang dateng, kan? Kasian deh! Udah, berhenti aja. Ayo tinggalin kajian. Maen aja dengan temantemanmu.”

Dan rayuan lainnya yang nggak  kalah ampuhnya. Sampai akhirnya kita  bergumam, “Iya, gue sendiri, nggak ada dukungan. Gue berhenti aja deh. Gimanapun gue butuh dukungan. Nanti aja kalo udah pada dukung, baru gue taat lagi.” Padahal, kalo kita analogikan ini pada acara kontes seperti mencari bakat atau nyanyi dan sebagainya, mereka itu, para peserta, mencari dukungan atau menunggu dukungan? Sekali lagi, mencari dukungan atau menunggu dukungan? Sob, kita bisa tahu apa yang akan terjadi kalo mereka hanya diam menunggu dukungan. Apa hasilnya? Ya, kalah! Sehingga akhirnya mereka bekerja keras mencari dukungan, dan salah satu caranya adalah, meningkatkan talenta yang dipunya agar menarik banyak dukungan.

Nah, dari analogi ini, kalo kita ingin lingkungan kita berubah menjadi lingkungan yang mendukung kita dalam menaati aturan Allah, kita harus tetap menaati Allah, bukan malah menjauh. Kalo kita berhenti, gimana orang mau mendukung? Wong yang didukung aja nggak ada. Tul gak? Kalo kita pengen orang kenal dengan jilbab dan kerudung agar nanti pakaian ini juga dipakai oleh teman-teman kita n mendukung kita. Tapi kitanya sendiri nggak pakai pakaian itu. kira-kira orang bakalan tahu nggak seperti apa jilbab n kerudung itu? pikirkan sendiri.. So, nggak ada alasan untuk  nggak taat. Kalo mau dukungan, ya, cari. Bukan ditunggu! Sepakat? []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *