Tuesday, July 21

Digoda Bollywood, Akidah Semaput

Yup, serial  Bollywood alias film India dan sekitarnya kembali warawiri di layar kaca. Meski adegan muter pohon udah gak ada, tapi durasinya itu lho kaya jalan kaki muterin lapangan senayan tujuh keliling. Gempor-gempor dah melotoin televisi 2,5-4 jam! Benar-benar ngebajak sebagian waktu para penonton, utamanya kaum hawa nihhh.  

Sebelumnya, ada serial bertema sejarah yang beberapa udah di utak-atik sejarah aslinyasepertiHatim dan Jodha Akba, Mahabaratha, Ramayana, Sri Khrisnadll. Seolah pengen melengkapi histeria penonton tanah air, kini hadir beberapa serial baru bertema cinta, dendam danpengorbanan.

Persis kaya telenovela yang sempat booming. Adegan -adegan yang mengaduk emosi, alur cerita yang berliku,ditambah para pemain yang udah barang tentu ciamik bikin kaum hawa enggan beranjak dari depan tv.Hati-hati sis!

Bollywood : Pencetak generasi dewa

Driser, namanya hiburan yang  berbau indiahe itu, udah jelas kental dengan asesoris en ritual yang dulunya cuma lekat di agama Hindu. Tapi karena udah pada mabuk serial Bollywood, ritual yang sebenarnya cuma untuk agama hindu, sekarang kian dekat di hati pemirsa yang muslim. Meski bukan film bertema agama, tapi nyatanya banyak didalam film tersebutmengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan akidah Islam.

Lirik aja konsep di beberapa serial yang ada. Dari budayanya, cara berdo’anya, pakaiannya, prosesi pernikahannya, hingga dialog yang kerap di ulang seperti “demi dewa”.  Yup,konsep ketuhanannya sangat kental nyaris disemua serial tersebut. Dewa-dewa yang mereka anggap Tuhan, digambarkan layaknya manusia dan bisa terlihat.

Misalnya Dewa Krisna yang digambarkan sebagai anak berkulit hitam. Dewa Wisnu yang menyerupai manusia bertangan empat. Dewa Ganesha disebut sebagai layaknya manusia berkepala gajah, bertangan empat en berbadan besar. Dewa-dewa itu beberapa di antaranya menikah dengan manusia. Wah, jangankan orang dewasa, anak-anak yang rata-rata doyan juga nyantap serial india ini, bisa-bisa dibuat bengkok akidahnya sejak dini.

Kebayang kan gimana kalo Tuhan digambarkan layaknya manusia? Menikah dengan manusia pula. Padahal kita, sebagai manusia itu gak akan sanggup mengindera gimana wujud zat Tuhan.  Haram hukumnya bagi  seorang muslim menggambarkan bahwa Tuhan itu bertangan empat atau banyak karena Ia diketahui Maha Pengatur.

Haram juga menciptakan sosok Tuhan duduk di atas awan gara-gara dikatakan Ia berada di atas Arsy. Logikanya nih ya, kalau Tuhan itu menyerupai manusia yang nyata-nyata lemah ini, gimana mungkin Ia bisa mengatur alam semesta yang sedemikian dahsyatnya. Mustahil kan? Makanya, kasihan banget ngeliat adik-adik juga remaja seusia kamu yang udah terlanjur doyan dengan tayangan ini. Berdo’anya bukan nyebut demi Allaah lagi tapi demi dewa. Harapannyapun digantungkan kepada dewa, bukan kepada Allaah. Ini pengen jadi generasi Robbani apa generasi dewa?? Parah!

Mendulang Rupiah

Selain menggadaikan akidah yang  emang kerap gak diperhatikan stasiun TV, Masyarakat yang saat ini sangat menuhankan fisik, mudah banget kesemsem dengan pemain yang memerankan tokoh di salah satu serial. Produser yang tahu banget selera pasar milih pemain-pemain prianya yang gantengganteng en kekar.

Pemain wanita juga dipilih yang cantik en langsing. Harapannya, selama serial ini tayang, ibu-ibu, bapak-bapak,  kakak-kakak, adik-adik, om-om, tantetante betah melototin  televisi. Biar kata  waktu sholat tiba, gak akan beranjak kalau gak mati listrik. Kalo betah nonton, berarti ratingnya naik. Kalo ratingnya naik,  iklan yang masuk banyak.  Iklan banyak masuk berarti duit produser en krunya jadi tajir. Kalo duitnya bejibun, serial kayak gini akan gencar ditayangin dan diperbanyak. Yaa kayak sekarang ini nih.

Kudu Dibenahi

Nah,Ngeliat dampaknya yang  nyaris negative semua, kita layak mengajukan protes nih kepada pengambil kebijakan. Apalagi jika udah urusan akidah. Driser. Udah selayaknya perangkat kebijakan yang ada di negeri kita dibenahin. Kudu lebih ketat lagi menyeleksi serial impor. Jangan sampai, serial yang ada, malah membentuk identitas baru remaja Muslim kita.  Udah digempur budaya barat, digempur juga oleh ajaran dewa.

 Alhasil, remaja kita mengalami krisis identitas sebagai seorang Muslim. Gak bangga dengan Islam,  malah bangga dengan budaya kafir dan musyrik, dan kamu non, gak usah segitunya  mend ewakan fisik para pemainnya. Inget, yang mulia disi Allaah adalah orang bertaqwa, bukan yang lain. Catet! [ Juanmartin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *