Wednesday, October 16

Edisi # 35 Politik Milenial atau Politik bagi remaja (Remaja Ngompol -ngomong Politik)

Saat dengerin lagu ‘Sumbang’di atas, boleh jadi tanpa disadari kepala kita mengangguk-angguk tanda setuju.

Yup, lagu lawas debutan musisi legendaris,  Iwan Fals ini emang pas banget gambarin kondisi politik dalam negeri. Politik Milenial atau Politik bagi remaja di maknai Perebutan kursi kekuasaan menjadi ajang pertarungan antar partai dan politikus. Saling sikut, membongkar skandal hingga menebar fitnah seolah jadi hal yang lumrah dilakukan mereka yang bermain di panggung politik.

Korban pun berjatuhan. Mulai dari yang bunuh diri, jadi korban  tindakan kriminal, berurusan  dengan KPK hingga menyandang predikat narapidana.  Wajar kalo masyarakat banyak yang alergi dengan dunia politik. Kalo ngomongin  politik (ngompol), kulit langsung terasa gatal. Kepala pusing. Perut mual dan mata berkunang-kunang. Apalagi remaja.

Politik Milenial atau Politik bagi remaja

Kayanya nggak penting banget remaja ikut nimbrung ngobrolin soal politik. Masih dianggap bau kencur bin minim pengalaman. Akibatnya, nggak ada kamus politik dalam otak remaja. Politik Milenial atau Politik bagi remaja ngompol dinilai sok tahu bin belagu. Masa sih?! Politik Itu Kejam! Kata Siapa?

Politik Milenial atau Politik bagi remaja

Dunia politik itu kaya arena tinju ala smackdown. Kalo udah di dalam ring, nggak peduli dia kawan atau sodara pasti bakal jadi lawan. Lantaran politik penuh rekayasa dan intrik. Orang baik-baik selagi belum terjun dalam dunia politik, bisa tiba-tiba diciduk KPK karena terlibat korupsi. Orang yang sholeh aja bisa berubah seratus delapan puluh derajat perilakunya setelah masuk dunia politik. Entah lantaran fitnah atau emang bermasalah.

Yang pasti, kalo terjun ke dunia politik harus siapin dana, tenaga dan energi ekstra. Bahkan mempertaruhkan nyawa.  Bukannya kita mau nakut-nakutin lho ya. Faktanya politik itu emang kejam. Nggak  ada lagi toleransi atau persahabatan, yang ada adalah kepentingan. Banyak pihak yang bakal menghalalkan segala cara agar kepentingannya tetap terjaga.

Kalo ada penguasa atau birokrat yang mengusik bisnisnya, urusannya bisa perang. Baik lewat jalur hukum atau gunakan jasa preman.  Seperti cerita Ibu Risma, Walikota Surabaya yang lagi buah bibir lantaran hendak membubarkan Gang Dolly, sebuah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Dalam sebuah wawancara stasiun televisi swasta, Ibu Risma bilang dia udah pamitan dan minta keluarganya ikhlas jika terjadi apa-apa dengan dirinya.

Jika dia mati, jangan ada yang menuntut. Bayangin aja, banyak pihak yang berkepentingan dengan keberadaan gang dolly. Mulai dari mucikari, preman, PSK, hingga tukang jualan. Tak heran jika Ibu Tri Rismaharini kerap mendapat ancaman dan teror jika programnya membebaskan kota pahlawan dari prostitusi tetap berjalan.  

Kekejaman dunia politik kerap meminta korban nyawa. Seperti dialami oleh Munir Said Thalib (1965 – 2004) aktivis HAM Indonesia yang tewas dalam pesawat perjalanan Jakarta – Amsterdam. Atau Marsinah (1969 – 1993), seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari.  

Kekejaman dunia politik nggak cuman fisik. Tapi juga mental. Nggak sedikit politikus atau caleg yang stress bahkan gila lantaran nggak kesampaian duduk di kursi senayan.  Bayangin aja, jumlah kursi legislatif yang bakal direbutkan bulan April mendatang jumlahnya secara nasional adalah 19.699 unit kursi. Sementara caleg yang terdaftar lebih dari 200 ribu. Artinya, udah pasti 180 ribu caleg bakal tereliminasi sambil gigit jari.

Ngenes! Padahal, untuk biaya kampanye dana yang kudu dirogoh nggak sedikit. Untuk jadi caleg DPR, mesti siap minimal 1 Miliar rupiah bagi mereka yang belum dikenal publik. Untuk kalangan selebritis, minimal 600 juta udah bisa kampanye dibantu popularitasnya. Kebayang, kalo ternyata nggak kepilih. Tuh duit bakal hangus.

Masih mending kalo duit sendiri. Lah kalo tuh dana boleh minjem ke rentenir atau dari kucuran sponsor yang nuntut balas budi, dijamin stress tuh para caleg gagal mikirin cara balikin modal kampanyenya. #tepokjidat! Terus kalo ternyata kepilih, dana kampanye tetap harus balik modal. Waktu menjaring simpati pemilih berbicara demi rakyat, giliran sudah duduk di kursi kekuasaan bicaranya demi modal. Kalo nggak bisa nutup dari gaji bulanan, mesti pinter cari obyekan. Korupsi berjamaah pun dijabanin.

Hasilnya, kementerian Dalam Negeri mencatat sebanyak 309 kepala daerah di Tanah Air terjerat kasus korupsi sejak pemilihan kepala daerah secara langsung pada 2005, baik berstatus tersangka, terdakwa maupun terpidana. Ngeri!  Driser, kejamnya dunia politik bukan bawaan lahir lho. Tapi disebabkan aturan yang dipake buat jalanin aktivitas politiknya bermasalah. Ibaratnya sebuah pisau, bisa dipake buat motong bawang merah. Bisa juga buat bunuh orang.

Tergantung siapa yang pake itu pisau. Seperti itulah politik, sebagai alat bantu buat ngurus rakyat. Kalo yang pakenya bener, politik jadi dambaan. Sebaliknya, kalo yang pakenya error, hasilnya seperti lirik lagu Sumbang di atas. Politik itu kejam! Pengertian Politik Biar nggak salah persepsi tentang politik, ada baiknya kita pahami dulu maknanya. Politik berasal dari bahasa Yunani politeia, yang artinya kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri.

Polis artinya negara, teia artinya urusan.  Dalam bahasa Inggris, politics adalah suatau rangkaian asa atau prinsip, keadaan, cara dan alat untuk mencapai cita-cita dan tujuan tertentu. Secara garis besar, politik itu adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat.  

Sementara dalam Islam, disebutkan dalam kamus Al-Muhit bahwa As-Siyasah (politik) berasal dari kata: Sasa –Yasusu – Siyasatan bi ma’na ra’iyatan (pengurusan). Dalam kitab Mafahim Siyasiyah dijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah, alias pengaturan urusan ummat berdasarkan suatu aturan tertentu yang tentu berupa perintah dan larangan.

 Rasulullah SAW menggunakan kata siyasah (politik) dalam sabdanya: “Adalah Bani Israil, urusan mereka diatur (tasusuhum) oleh para Nabi. Setiap seorang Nabi wafat, digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada Nabi sesudahku, dan akan ada para khalifah yang banyak” (HR. Bukhari).

Politik dalam Islam nggak ngasih kesempatan bagi penguasa dan umat untuk saling berebut kekuasaan. Sebab, dalam Islam, kekuasaan itu sendiri ditujukan untuk melayani umat. Artinya, penguasa Islam (khalifah) sesungguhnya adalah pelayan/pengurus umat, bukan gila hormat. Karena itu, politik dalam Islam begitu mulia lantaran bagian dari ajaran Islam yang sempurna. Pertanyaannya, kalo emang politik itu mulia seperti ajaran Islam, kenapa yang terjadi sebaliknya?  Jawabannya tentu lantaran bukan ajaran Islam yang dipake buat ngatur negeri ini. Tapi aturan sekuler yang justru steril dari aturan agama.

Jadinya, sistem politik yang dipake seperti ajarannya Machiavelli. Eits, sapa tuh? Niccolo Machiavelli (1469-1527) adalah filsuf dan ahli politik dari Italia. Salah satu teorinya yang terkenal adalah bagaimana cara merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Machiavelli menginginkan negara yang kuat, sehat, dan  tidak korup.

Lucunya, untuk mewujudkan negara yang tidak korup, ajaran Machiavelli justru menawarkan cara-cara manipulatif. Jika perlu dengan menggunakan kekuatan senjata dan uang. Bahkan demi stabilitas negara raja boleh melalukan kekejaman, asal dilakukan dengan tepat. Tuh kan, persis seperti yang terjadi di negeri kita.  Jangan salahkan politik kalo tampil dalam wujud yang menyeramkan.  Remaja Ngompol? Siapa Takut!

Driser, kalo kata bang Iwan politik itu kejam itu lantaran aturan sekular machiavelis yang dipake. Tapi kalo aturan Islam yang dipake buat ngatur urusan umat, dijamin aman dan nyaman. Ini bukan kampanye lho. Sekedar ngasih kabar gembira buat kawula muda. Bahwa ngomongin Politik Milenial atau Politik bagi remaja justru ngasih banyak kebaikan. Simak nih! Pertama, merangsang daya pikir. Remaja yang membiasakan diri peduli dunia politik, cara berpikirnya lebih maju dan matang.

Nggak cuman mikirin diri sendiri, tapi juga urusan umat. Otomatis daya pikirnya lebih terasah lantaran sering dipake buat mikirin masalah umat dan solusinya. Berpikir lebih panjang sebelum ngasih suaranya di ajang pemilu. Rasul saw bersabda: ”Barang siapa bangun di pagi hari, tapi tidak memikirkan nasib kaum Muslimin, maka dia bukan termasuk golonganku.” (H.R Ahmad) Kedua, solving problem. Politik Milenial atau Politik bagi remaja yang terbiasa ngomongin politik jadi terlatih untuk selalu berusaha memecahkan setiap masalah  yang dihadapi.

Bukan malah menghindari atau malah lari. Lantaran politik adalah solusi, bukan cuman mengkritisi masalah. Tak hanya pandai mengkritisi kebobrokan penguasa, tapi juga piawai menawarkan solusi yang oke punya.  Ketiga, bertanggung jawab. Remaja yang terbiasa ngomong politik nggak akan lari dari tanggung jawab. Dia sadar, setiap perkataan maupun perbuatannya bakal ada itungannya di akhirat nanti. Bukan hanya di hadapan manusia. Jadinya, lebih berhati- hati dalam mengkritisi dan menawarkan solusi.

Termasuk nggak asal nyoblos atau ikut-ikutan masuk bilik suara.  Keempat, awareness/kepedulian. Politik Milenial atau Politik bagi remaja yang terbiasa ngomong politik otomatis rasa pedulinya terhadap lingkungan dan urusan umat lebih terasah. Sikap egp alias egois bin individualis nggak ada dalam kamus hidupnya. Dia peduli dengan pilihannya saat pemilu apakah bisa memberikan maslahat bagi umat atau malah menjadi mudharat.  Kelima, agent of change.

Remaja yang ngomong politik memantaskan diri menjadi agen perubahan. Sebagaimana Mushab bin Umar, Thariq bin Ziyad atau Muhammad Al-Fatih yang menjadi ujung tombak penyebaran Islam di usia mudanya.  Ngomong politik bukan berarti ngoceh tentang penguasa dan kekuasaan semata. Tapi lebih luas dan lengkap mencakup kepedulian terhadap masalah mahalnya biaya pendidikan, krisis ekonomi, seks bebas remaja, hingga gonjang-ganjing perebutan kursi kekuasaan di ajang pemilu legislatif.

Nggak perlu takut bin minder mentang-mentang masih pemula. Cukuplah Allah yang menilai sikap kita, bukan manusia.  Jadi, nggak ada alasan bagi kita untuk alergi ngomongin politik. Kalo ngerasa belum pantas, ayo sama-sama pantaskan diri dengan ikut ngaji. Bukan ngaji yang cuman membenahi akhlak pribadi tapi dilengkapi dengan kajian Islam sebagai ideologi. Islam sebagai solusi masalah pribadi, masyarakat, dan juga negara. Remaja ngomong politik, siapa takut![341

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *