Sunday, December 8

Hallowen Tahun ini

Hari itu Kamis 31 Oktober. Jam di dinding menunjukkan waktu sekitar pukul enam petang. Di luar rumah  udara dingin dan lembab khas musim gugur. Kami sekeluarga sedang mengobrol saat pintu depan diketuk. “Ingat, ya,” suami yang bersiap salat Isya’ mengingatkan, “Nggak usah dibuka pintunya.” “Kalo ngintip lewat jendela aja gimana?” tanya saya.  “Nggak boleh!” tegas suami lagi. “Peraturannya, kalau tidak merayakan, tidak boleh membukakan pintu.

Kalau membukakan pintu, harus ngasih permen.” Satu jam setelahnya, kami berdua sudah berada di ASDA, toko swalayan terdekat. Berbelanja kebutuhan pokok. Sebagian pelayan dan pembeli mengenakan kostum vampir atau drakula berbagai model, berdandan bak setan merah bertanduk dengan garpu trisula di tangan, bajak laut, dan banyak lagi.Tak lupa make up menyesuaikan kostum. “Beli pumpkin, ya, Yah?”

saya memasukkan labu ke keranjang belanjaan. Sepanjang perjalanan pulang, berkalikali kami berpapasan dengan rombongan  penyihir perempuan, baik anak-anak, remaja,  juga dewasa. Maksudnya perempuan-perempuan  berkostum hitam, bertopi tinggi hitam, lengkap  dengan tongkat sihir atau sapu terbang. Juga ‘mayat hidup’ berbusana putih dan make up ‘berdarah-darah’. Kostum hantu, tengkorak berjalan dan jubah hitam plus topeng ghost face seperti di film Scream, lebih banyak diminati laki-laki.  

Di halaman-halaman rumah, terpasang buah-buah pumpkin (labu) hias. Labu-labu itu dikeruk isinya, lantas diukir menyerupai wajah hantu dan dipasangi lilin di dalamnya seperti lampion. Biasa disebut jack-o-lantern. Anak-anak dan remaja berkostum itu mengetuk pintu-pintu rumah. Bila sang empunya rumah membukakan pintu, mereka berseru, “TRICK OR TREAT?”. Sesuai tradisi, pemilik rumah lantas memberikan permenpermen kepada mereka. Menurut Wikipedia, perayaan Halloween berasal dari festival Samhain (dari bahasa Irlandia Kuno samain) yang dirayakan bangsa Galia Kelt (Gaels dan Celt) di Eropa untuk merayakan panen.

Orang Galia Kelt yang menyembah berhala dan dewa-dewi menggunakan kesempatan festival untuk menyembelih hewan ternak dan menimbun makanan untuk persiapan musim dingin. Mereka percaya bahwa pada 31 Oktober, pembatas dunia orang mati dan  hidup terbuka. Orang  mati membahayakan orang hidup dengan membawa penyakit dan merusak hasil panen. Mereka menyalakan api unggun untuk membakar tulang-tulang dari hewan yang mereka sembelih dan berpurapura sebagai arwah jahat untuk berusaha berdamai dengan mereka. Karenanya hingga  kini, simbol-simbol Halloween dekat dengan  kematian, keajaiban, monster, dan karakter  menyeramkan yang sering dikaitkan dengan  setan dan iblis dalam kebudayaan Barat. 

Misalnya penyihir, kelelawar, burung hantu,  burungcgagak, burung bangkai, rumah hantu,  kucing hitam, laba-laba, goblin, zombie,  mumi, tengkorak, dan manusia serigala. Meski belakangan karakter film horor klasik seperti drakula atau monster Frankenstein juga  banyak dipakai. Sementara labu jack-o-lantern  menggambarkan keadaan alam Eropa di musim gugur. Dari sinimuncul warna hitam  dan oranye yang dianggap sebagai warna  tradisional Halloween. Ketika bangsa Romawi menaklukkan Galia, penganut Kristen berusaha mengubah tradisi penyembahan berhala ini menjadi bernuansa Kristen.

Paus Gregorius III dan Paus Gregorius IV memindahkan perayaan All Saints’ Day (Hari Raya Semua Orang Kudus) yang sebelumnya jatuh pada 13 Mei ke tanggal 1 November. Dari kata All Saints’ Day, lahir kata All Hallows’ Even (eve/even berarti petang/malam) yang kemudian menjadi Halloween. Melihat sejarah lahirnya Halloween, rasanya wajar bila muslim tidak ikut merayakannya. Mbak Dian Neilson, ibu tiga  remaja putra yang tinggal di London, mengemukakan pendapatnya, “Memang amat disayangkan masih saja ada ibu (muslim) yang ikut-ikut meramaikan Halloween, dengan alasan sekedar for fun. For fun ini kalau tidak dihentikan menjadi suatu kebiasaan untuk anak-anak. Alhamdulillah, anak-anak saya tidak pernah meramaikan acara beginian dari semenjak saya tinggal di UK (United Kingdom). Kalau mereka ketok pintu atau pencet-pencet bel, saya tidak pernah bukakan, apalagi sampai memberikan sweet (permen).

Saya cuekin saja.” Pada dasarnya, Islam telah melarang kaum muslim merayakan hari perayaan orang kafir, baik musyrik (penyembah berhala) maupun ahlul kitab (Nasrani/KristendanYahudi). Larangan ini mencakup aktivitas; mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Ini didasarkan pada ayat, “Dan apabila mereka melewati (orang-orang) yang mengerjakan perbuatanperbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”  (QS Al Furqan [25]: 72).

Dari Sahabat Anas RA, ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya yang mereka rayakan, beliau pun bersabda, “Sungguh Allah Swt telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i dengan sanad yang shahih). Yuk, bangga menjadi muslim. Di mana pun kita berada.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *