Saturday, April 4

Haters, Jarimu harimau mu!

pofesi baru di dunia maya: haters. Ya, berbekal jari-jemari, kebencian begitu mudah  merebak di kalangan netizen. Caci maki, tuduhan keji hingga fitnah jadi menu sehari-hari. Biasanya yang jadi sasaran adalah para seleb di dunia maya. Artis, selebgram, pejabat publik, ustad ngetop dan pesohor lainnya. Terbaru, Deddy Corbuzier sampai harus menangkap haters yang bikin rusuh di lapaknya. Pelaku seorang pegawai bank bernama Antho asal Jambi. Haters ini menuding Deddy dan artis Chika Jessica dengan fitnah berbau SARA (tribunnews.com, 9/2/16).  

Rupanya, orang seperti Antho ini banyak gentayangan. Heran ya, sempetsempetnya mereka ngabisin waktu dan energi untuk menebar kebencian. Kurang  kerjaan. Berlindung di balik kebebasan  berpendapat, seenak perutnya nyetatus atau komentar miring. Kalau pepatah bilang mulutmu harimaumu, kini jarimu harimaumu. Apapun hasil ketikan burukmu, kelak akan menerkam dirimu. Panen karma. Catet!

Hate Speech

Jadi haters, berarti siap dipenjara.  Sebab di negara kita, berlaku UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Di situ ada ancaman enam tahun penjara bagi yang terbukti bikin rusuh di dunia maya. Lalu ada pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau  denda maksimal Rp500 juta. Hujatan kebencian berbau SARA, bisa kena batunya. Ditambah lagi UU Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2013 tentang Teknis Penanganan Konflik Sosial.

Di situ ada pasal hate speech yang jadi alat menciduk para haters ini biar kapok. Bayangkan aja, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, saat ini ada 180.000 akun media sosial yang diduga menyebar kebencian yang tengah diselidiki. Wow! Udah ada UU kok nggak bikin jera. Hatihati ya, D’Riser. 

Cermin Moral  

Membudayanya bullying dan ujaran kebencian di dunia maya, menunjukkan gagalnya demokrasi. Khususnya turunan dari doktrin hak asasi manusia (HAM) yang begitu didewakan, yakni kebebasan berpendapat. Sampai-sampai pendapat buruk dan fitnah pun boleh eksis. Ya, menurut HAM ini, orang bebas berpendapat apa aja, asal nggak mengganggu orang lain.

Nyatanya kebablasan.  Selain itu, budaya caci maki dan sumpah serapah di internet juga potret rendahnya etika masyarakat modern. Makin melek teknologi, seharusnya dibarengi dengan ketinggian akhlak. Nyatanya tidak.  Padahal para haters itu, jika ditilik pendidikannya, juga bukan orang bodoh. Buktinya melek internet. Tapi, pintar saja tanpa etika, jadinya rendahan. Inilah bumerang dalam sistem liberal yang mendewakan HAM.  

Emang, ada yang ngeles, sejatinya para pesohor itu sendirilah yang memicu kebencian. Tindak tanduk mereka emang layak dibenci. Makanya, jangan salahkan haters. Misalnya ada pesohor yang suka komentar nyeleneh, akhirnya dikecam. Ada yang suka pamer harta, akhirnya difitnah. Ada yang dituduh penghancur rumah tangga, akhirnya disumpah-serapahi. Ada yang sombongnya nggak ketulungan, jadinya dibenci tujuh turunan.  

Puas? Dapat apa setelah mencacimaki? Nothing. Ulah buruk para pesohor itu toh juga nggak berubah. Biarkan saja. Kelak, akan mendapat ganjaran sendiri. Entah di dunia atau di akhirat. Ngapain ikut-ikutan ngurusi. Hanya menambah ketenaran atas ulah minus mereka.  Mencaci orang, nggak akan menyelesaikan masalah. Juga, nggak bikin hidup si pencaci lebih baik. Toh para pencaci itu tak lebih baik daripada yang dicaci. Bahkan bisa jadi lebih buruk. Atau, minimal sama. Bercerminlah!

Benci pada Tempatnya

Kebencian dan kemarahan kita,  harus proporsional. Pas pada tempatnya. Misal, kita benci kemunkaran yang merajalela, termasuk yang dilakukan orang terkenal. Tapi, dilarang nge-bully person itu seenaknya. Pastinya kita nggak boleh jadi haters.  Apalagi sebagai muslim, segala perilaku, ucapan, ide dan gagasan kita musti terikat pada hukum syara’. Ide kebebasan itu hanya ilusi. Nggak ada. Bebas sebebasbebasnya hanya merusak.

Ya, manusia itu emang nggak bebas. Termasuk dalam berpendapat. Musti dibatasi.  Hanya pendapat yang baik dan benar saja yang boleh eksis. Yang sesuai tuntunan wahyu Allah SWT. Jemari ini pun nggak bebas ngetik. Tulisan sependek apapun pasti tercatat di buku malaikat. Musti dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta kelak.  Nasihat, ide, masukan, kritik dan saran harus membangun. Inspiratif dan solutif.

Disampaikan dengan kalimat yang baik dan konstruktif. Jadi kalo kamu nggak bisa bikin pencerahan, mending diam. Tahan jari. Nggak usah kegatelan nge-bully jika nggak sependapat dengan orang. Kita ingin,  para netizen adalah orang-orang yang  santun, cerdas, dan berakhlak mulia. Kita juga pingin, para pesohor itu  hanyalah orang-orang baik yang menebarkan aura positif bagi masyarakat. Mereka yang mampu memperbaiki jiwa-jiwa manusia digital yang kian kotor oleh debu-debu  teknologi.

 Makanya, untuk mencegah supaya nggak terinspirasi jadi haters, pilih-pilih kalo mau mem-follow pesohor ya, D’Riser. Ikuti sosok yang ngasih inspirasi kebaikan. Pasti hanya hal-hal positif aja yang dia dibagikan. Jadi nggak merangsang kedengkian.  So, mulai sekarang, putus hubungan deh sama para inspirator kebencian. Yakin deh, kalo pesohorpesohor minus itu nggak punya followers, eh…haters, ntar mati gaya sendiri. Yakin.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *