Sunday, July 5

Hijrah cinta Niyala

Terik mentari menyelimuti bumi siang itu, angin berhawa panas menyapunyapu dan membuat debu ikut menari  bersamanya. Siswa-siswi kelas sepuluh lima tengah bersiap menjalani pelajaran olahraga. Setelah mengganti seragam dengan pakaian olahraga, mereka berkumpul di tengah lapangan. Hari itu merupakan hari pertama kegiatan belajar mengajar mereka sebagai siswa SMA, setelah melewati serangkaian orientasi sebelumnya.            

Diantara mereka nampak seorang gadis jelita yang berpenampilan agak berbeda dibanding siswi lainnya. Orangorang biasa memanggilnya Niyala. Wajahnya  putih berseri, senyum manisnya selalu mengembang tatkala bertemu setiap orang,  pandangannya senantiasa terjaga dari lelaki yang bukan haknya. Beberapa pasang mata mencuri-curi pandang ke arahnya, ada yang tersenyum-senyum sendirian, ada juga yang tersipu malu ketika melihat wajah itu tersenyum merona kepada kawankawannya.

Hijab panjangnya berkelebatkelebat tertiup angin, ia tidak mengenakan celana panjang seperti yang lainnya. Namun ia mengenakan seragam olahraga yang telah dimodifikasi menjadimodel gamis sporty yang senada dengan warna seragam sekolahnya. Mereka berbaris rapi di bawah komando sang guru, dan bersiap mendengarkan arahan-arahannya.           

Namun baru beberapa saat sang guru berbicara, tiba-tiba pandangannya terpaku pada Niyala yang berbaris diantara teman-temannya.             

“Itu kamu yang berhijab, tolong kesini!” ucap guru olahraga itu dengan suara agak keras, tatapannya masih tertuju pada Niyala. Gadis itu berjalan dengan tenang ke arahnya.             

“Ada apa, Pak?” tanya Niyala sembari sedikit membungkukkan badan.     

“Mengapa pakaianmu seperti itu?” hardik guru itu.            

“Maaf, Pak. Namun yang saya pahami, beginilah seharusnya pakaian seorang muslimah.” Jawabnya dengan sopan.                  

“Mengapa kamu tidak memakai celana training seperti yang lainnya?” tanya guru olahraga itu masih dengan suara agak keras.           

“Saya memakainya dibalik pakaian ini, Pak.”          

Alaah.. Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu harus memakai celana training di luar jika ingin mengikuti pelajaran saya. Juga kerudungmu, tolong jangan terlalu besar. Itu akan menyulitkanmu bergerak nanti. Jika tidak, silahkan kamu  kembali ke kelas dan tidak usah mengikuti pelajaran saya!” bentaknya.    

Seketika itu Niyala pun membalikkan badan dan berjalan menuju sisi lapangan, air matanya tidak mampu ia bendung. Ia pun terduduk di salah satu tepi dan menutup mukanya sembari sesenggukan. Beberapa orang teman dekatnya menghampiri dan berusaha menenangkannya.    

“Sudahlah, Nia. Mungkin kamu memang harus melepas gaunmu demi mendapat nilai olahraga.” ujar Vivi yang duduk disamping Niyala.              

“Sabar ya, Nia. Tidak semua orang mengerti dengan apa yang kamu inginkan.”  Asha mengelus pundak Niyala yang kini  bermata sembab, menahan air mata.       

“Terima kasih teman-teman, tapi aku sudah bertekad untuk menjadi seorang muslimah seutuhnya. Tanpa mau mengulangi lagi dosa-dosa dan kesalahan di masa lalu. Sekarang kalian kembalilah ke lapangan, nanti tertinggal pelajaran.” Niyala masih berusaha tersenyum sembari mengusap air matanya yang tertumpah. Vivi dan Asha pun mengangguk dan bergegas meninggalkan Niyala seorang diri, gadis itu berjalan perlahan menuju ruang kelas.        

Di dalam kelas, Niyala masih belum bisa membendung kesedihannya. Ya Allah, mengapa jalan ini terasa begitu sulit. Ketika hamba mulai mencoba memperbaiki diri dan berhijrah dijalanmu, namun lingkungan di sekitar hamba belum bisa mendukung keputusan ini. Batinnya. Ia mencoba tegar dan ikhlas, jikala memang  harus mengorbankan sedikit nilai akademik demi meraih keridhaan Tuhannya.               

Hari demi hari berlalu, Niyala dan teman-temannya berkumpul di taman sekolah pada jam istirahat.           

“Nia, kenapa sih kamu sampai segitunya mempertahankan kemuslimahanmu?” tanya Evi sambil menyeruput jus mangga. Yang ditanya tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu.               

“Aku hanya ingin menjalankan perintah Allah mengenai kewajiban menutup aurat bagi seorang perempuan. Nah, yang aku pahami penutup aurat yang dibenarkan oleh Al-Qur’an itu ada dua yakni kerudung dan jilbab, atau sekarang lebih dikenal gamis.” Paparnya.  

“Oh.. Terus kalau yang baru pakai kerudung saja tapi tidak pakai gaun sepertimu, gimana?” tanya Vivi       

Hmm.. setahuku itu juga sudah mendapat pahala, namun alangkah lebih baik jika kita menyempurnakannya lagi.” Niyala tampak berpikir. “Allah akan menilai sejauh mana kita berproses, bukan bagaimana hasilnya.” lanjutnya.    

Keesokan harinya diperjalanan menuju ke sekolah, Niyala dikejutkan oleh sebuah kerumunan orang-orang di pinggir jalan. Sepertinya ada kecelakaan lalu lintas,  Niyala pun segera menghentikan motornya  dan menyempatkan diri untuk melihat. Ia segera menerobos kerumunan orang-orang yang tampak panik melihat kejadian itu.

Disana nampak seorang bapak berusia empat puluh tahunan terkapar bersimbah darah, kepalanya bocor. Rupanya ia korban tabrak lari, wajahnya tidak begitu jelas tertutup masker dan percikan darah. Sepeda motor yang dikendarainya tampak rusak.     “Permisi Bapak-bapak dan Ibu-ibu, apa tidak sebaiknya kita segera membawa Bapak ini ke Rumah Sakit? Ia sangat membutuhkan pertolongan, jika dibiarkan bisa kehabisan darah” ujar Niyala di tengah kerumunan itu.                  

“Iya, tapi kami bingung akan membawanya dengan apa. Diantara kami tidak ada yang membawa mobil.” Jawab seorang Bapak paruh baya. Tanpa pikir panjang Niyala segera menyetop mobil Avanza silver yang kebetulan melintas di dekat lokasi kejadian. “Permisi, Pak. Disini ada korban kecelakaan, boleh minta tolong untuk dibawa ke Rumah Sakit terdekat? Ia sangat membutuhkan pertolongan.” Niyala setengah berteriak. Tanpa berlama-lama, pengendara mobil itu menganggukkan kepalanya. Niyala dan beberapa orang yang sedari tadi mengerumuni, segera menaikkan Bapak itu ke dalam mobil.

Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, ia juga menghubungi polisi agar mengidentifikasi korban dan menghubungi keluarganya. Sesampainya di Rumah Sakit, ia dan  pemilik mobil mengantar korban ke Instalasi Gawat Darurat. Dengan sigap para perawat menangani korban kecelakaan tersebut. Sang empunya mobil segera pamit kepada Niyala untuk berangkat kerja, Niyala pun mengizinkannya.  

Sesaat setelah korban masuk ke ruang observasi, Niyala menunggu di ruang tunggu. Ia melirik arloji putih yang melingkar di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Artinya ia sudah terlambat satu setengah jam untuk masuk sekolah, kerudung putihnya terkena percikan darah saat mengangkat korban ke dalam mobil. Ia merogoh smartphone di dalam tasnya dan segera menelepon ke bagian piket sekolah untuk mengabarkan bahwa dirinya akan terlambat datang ke sekolah karena kejadian itu. Tidak lama kemudian beberapa orang polisi datang, Niyala pun menyambut mereka dan menceritakan apa yang terjadi. Selang lima menit, dokter yang memeriksa korban tadi keluar dan menemui mereka. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Niyala “Pasien cukup banyak kehilangan darah, ia harus segera ditransfusi. Golongan darahnya B rhesus positif, namun persediaan darah di Rumah Sakit ini tidak ada yang cocok.” ujar dokter wanita itu. “Kebetulan golongan darah saya juga B rhesus positif, Dok. Saya bersedia mendonorkan darah saya.”

“Baik, kalau begitu ikut saya untuk  cek darah terlebih dahulu.”    Gadis itu mengikuti dokter ke sebuah ruangan, sementara dua orang polisi tadi memeriksa identitas korban. Setelah memastikan golongan darah Niyala cocok, ia langsung mendonorkan darahnya. Ia pun berbaring sejenak di ruang donor hingga tubuhnya dirasa pulih. Kedua polisi itu menghampiri Niyala.                 

“Kami sudah memeriksa identitasnya, Dik. Sementara pihak keluarganya berada di luar kota, maka kami akan tangani kasus ini hingga selesai. Kepolisian juga sedang mengusut pelaku tabrak lari tersebut.” ujar polisi berbadan besar itu.                

“Iya, Pak. Terima kasih. Sekarang bagaimana keadaannya?” tanya Niyala.                

“Korban sudah siuman, darahmu juga sudah ditransfusikan.”        

Alhamdulillah, bolehkah saya melihatnya, Pak?”                

“Tentu, ayo ikut!”             

Niyala dan dua orang polisi itu berjalan beriringan menuju ruang observasi. Setelah diizinkan masuk oleh dokter, mereka pun melihat kondisi korban.         

“Jadi gadis ini yang menolong dan membawa Bapak ke Rumah Sakit, juga mendonorkan darahnya pada Bapak.” Ujar dokter berhijab itu sesaat ketika Niyala memasuki ruang rawat, dikawal oleh dua orang polisi.        

Namun betapa terkejutnya Niyala ketika melihat wajah korban kecelakaan itu dengan jelas, ternyata dia adalah guru olahraga Niyala.                 

“Masya Allah, Pak Eddy.” ujar gadis itu terkejut.  “Ni.. Niyala..” lirih pak Eddy, wajahnya juga menyiratkan keterkejutan yang sama. “Maafkan Bapak yang selama ini melarangmu ikut olahraga hanya karena hijabmu, Nak” mata pak Eddy berkaca-kaca.     

“Tidak usah dipikirkan, Pak. Saya maklum jika banyak yang belum setuju akan keputusan saya.” jawabnya dengan senyum yang tulus.          

“Maafkan Bapak, Bapak sudah banyak berdosa padamu. Tapi kamu masih mau menolong Bapak, yang selama ini sudah mendzhalimimu.” Pak Eddy memaksakan diri untuk duduk, namun saat itu juga Niyala mencegahnya agar tetap berbaring.            

“Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah melupakan kejadian itu, saya juga sudah memaafkan Bapak. Yang penting sekarang Bapak sembuh seperti sedia kala, anak-anak di sekolah pasti merindukan Bapak.” Niyala menghibur gurunya itu dengan riang.      

“Terima kasih banyak ya, Nak. Kalau tidak ada kamu, mungkin Bapak tidak akan selamat.”               “Berterimakasihlah pada Allah, karena sesungguhnya hanya Dia yang kuasa atas hidup dan matinya seseorang.” ujar Niyala.  

Alhamdulillah, terima kasih Ya  Allah. Engkau telah menganugerahkan  seorang anak didik yang baik dan shalihah sepertinya.” lirih Pak Eddy. Niyala menunduk malu, ia merasa belum layak mendapat pujian seperti itu.    

“Mohon maaf, saya harus segera pamit ke sekolah, Pak.” ia teringat ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.30. Semoga tidak terlalu terlambat. Batinnya.    

“Oh ya, sebentar. Mulai besok kamu saya izinkan untuk ikut pelajaran olahraga.” cegah pak Eddy ketika Niyala hendak pamit.    

“Benarkah?” mata Niyala berbinarbinar, Pak Eddy mengangguk dengan mantap.                 “Kamu telah mengajari Bapak banyak hal, Nak. Tentang kebaikan, keshalehan, ketulusan, keikhlasan, juga kerendahan hati.” sambungnya.                  

“Tidak, Pak. Ini semua atas kehendak Allah.” Niyala masih merendah. Sudah ya, Pak. Saya pamit ke sekolah, sementara Bapak-bapak polisi yang menemani Bapak disini. Assalamu’alaikum.”        

Wa’alaikumussalam.” Setelah mencium tangan gurunya, gadis itu pun beranjak pergi dari Rumah Sakit.    

Ya Allah, terima kasih karena Engkau masih menyelamatkan nyawa guruku. Terima kasih juga, Engkau telah membukakan pintu hatinya untuk menerima keputusanku. Insya Allah hamba berhijrah di jalan-Mu, tolong bimbing hamba untuk menjadi seorang muslimah yang lebih baik lagi. Aamiin. Batinnya.[] Fida Hafiyyan Nudiya (Cerpenis asal Bandung, tinggal di Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *