Saturday, October 19

Impian Lima Menit Lagi

by WitaDahlia

Masih dengan celana abu-abunya, Yudo mengayuh sepedanya meski bau matahari menguar dari  tubuhnya. Ubun-ubunnya nyaris berasap andai sebuah topi hitam pudar tidak bertengger di kepalanya.  Lima menit lagi!  Ya, lima menit lagi, ia akan tiba di  tempatnya bekerja paruh waktu. Bukannya mempercepat kayuhannya,  Yudo justru melambatkan tendangannya pada pedal dan, berhenti. Seperti biasa, sudah sebulan ini, sambil menuntun sepedanya, matanya menatap lekat sebuah buku di dalam etalase toko yang di depannya terpampang besar sebuah nama ‘Toko Buku Sensei’. Buku itu bergambar pria berdasi dan berkaca mata serta di bawahnya bertuliskan nama pria tersebut, Tung Desem Waringin. Uniknya, judul bukunya dicetak secara vertikal dan ditulis besar-besar ‘Marketing REVOLUTION’.

National Best Seller.  Yudo pernah mendengar talk show tentang buku seharga Rp. 185.000 itu. Terlepas dari akidah penulisnya, Yudo menganggap buku itu bisa membantu mewujudkan impiannya dalam berwirausaha. Terutama membantu  mengembangkan usaha air isi ulang milik Pak Sukimin, duda tua beranak empat tempatnya bekerja sebagai pengantar galon air.

Setelah cukup puas memelototi buku itu, seperti biasa pula, Yudo akan melirik seorang gadis yang berdiri tegak, menatap kosong ke arah etalase toko pakaian di sebelah toko buku.  Tidak seperti dirinya, gadis itu berdiri di sana sekitar 1 jam, saban hari.

Ia tampak acuh dengan tatapan sinis orang yang lalu lalang. Ia tak peduli dengan cibiran dari pelanggan yang berbelanja, bahkan ia bergeming, saat lambaian tangan-tangan pegawai toko memintanya pergi.  Entah apa yang diinginkannya. Yudo hanya yakin, gadis itu mendambakan sesuatu di dalam sana.Entahlah. Pemuda SMA itu kembali menaiki sepeda tuanya. Sambil mengayuh, matanya sesekali beralih ke sederetan ruko yang berdiri kokoh, mengamati detail bangunanbangunan itu. Tapi, pikirannya tidak di situ. Bayangan buku hard cover bergambar pria berdasi terus di kepalanya.

Di sebuah rumah yang di depannya terdapat kios air isi ulang, Yudo berhenti. Di  situlah ia bekerja usai pulang sekolah.  “Assalamu’alaikum.” Tanpa menunggu  jawaban, Yudo sigap mengangkat  galon yang sudah ditempeli kertas berisi alamat tujuan. “Wa’alaikumsalam.” Pak Sukimin, pemilik usaha tersebut menoleh. Ditatapnya remaja di hadapannya dengan kening berkerut. “Do, keringkan dululah keringatmu itu. Kalau sampai menetes ke air galonku, bah! Bisa rugi aku.” Canda Pak Sukimin.

Ada aroma kasih sayang menguar pada nada bicaranya. Seperti biasa, Yudo menanggapi canda keturuna Jawa-Batak itu dengan senyum kalem. “Kasihan ibu-ibu itu Pak. Kalau saya telat, masaknya juga jadi telat.”  “Bah! Gaya sekali lagak kau ini! Baru diidolain ibu-ibu sudah bangga. Coba seperti aku ini, nenek-nenek saja tak mau mengidolakanku. Sekali-kali lah, Nak, kau pinjamkan wajah gantengmu itu ke bapakmu ini.” Lalu pria berusia 51 tahun itu terbahak.  Yudo tersenyum.

Kali ini lebih lebar karena sebaris gigi putihnya kini menyembul dari balik bibirnya. “Pak Sukimin nggak perlu pinjam wajah saya, Pak. Saya yakin seyakin-yakinnya, Pak sukimin itu lebih ganteng dari saya. Meski menyesal sekali, kata-kata itu berlaku 25 tahun yang lalu.”  Pak Sukimin mendelik. “Apa pula ini? Habis diangkatnya, dibantingnya pula aku.” Namun tak ayal, celetukan Yudo membuat Pak Sukimin terkekeh juga. Tapi tidak dengan Yudo. Ia malah diam, matanya menerawang. “Tapi sejujurnya, Pak. Pak Sukimin itu memang tampan sekali. Terbukti, wanita sesholehah Almarhumah Bu Wanda, memilih Pak Sukimin tuk menjadi suaminya. Karena ketampanan Pak Sukimin tidak di wajah, namun di hati. Kesholehan itulah yang saya jadikan panutan, Pak.” Seketika tawa Pak Sukimin melirih. Tibatiba matanya berembun.

Tangannya sedikit bergetar. Pria separuh baya itu masih terkekeh pelan. Namun kali ini diiringin dengan airmata membayang di pelupuk matanya.  “Ah, Nak. Darimana pula kau dapatkan kata-kata indah itu. Ah, kau memang pintar membahagiakan hati laki-laki tua sepertiku.” Pak Sukimin mengingat istrinya, Bu Wanda, wanita yang paling dermawan di daerah tersebut. “Nak…” Yudo mendongak tiba-tiba Pak Sukimin sudah di sampingnya. Dekat sekali. “Sebaiknya kau pulang sajalah, Nak. Kau pakailah hari ini untuk istirahat. Lihatlah matamu itu, cekung. Kau kurang tidur. Galongalon ini  biar aku yang antar.” Yudo ternganga.

“Maaf, Pak. Apa saya salah bicara?” “Alhamdulillah tidak, Nak. Aku justru  bangga denganmu. Dibalik usiamu yang remaja, kau itu dewasa.” Pak Sukimin memasukkan tangannya ke saku celananya, dan memindahkan sebagian isinya ke saku baju Yudo. “Ini uang 200 ribu. Bukan, bukan sebagai honor bulananmu, apalagi bayaran atas kata-kata gombalmu tadi. Ini sematamata dari Allah, Nak.” “Tapi, Pak….”

 “Bah! Kau ini, kualat tidak mematuhi  kata-kata orangtua. Kau pulang sana.” Pak Sukimin mendorong lembut  tubuhnya. Yudo terharu. Diciumnya tangan yang  kulitnya mulai mengendur itu. “Terimakasih, Pak. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Yudo segera menghampiri sepedanya  dan mulai mengayuhnya. Wajah Pak Sukimin terbayang di benaknya. Namun itu hanya sesaat, wajah itu kemudian terganti dengan wajah Pria Berdasi. Ya Allah, ia ingin membantu mengembangkan usaha Pak Sukimin dengan membeli buku itu.

 Seketika sampul buku itu membayang dengan jelas. Tercetak tegas di antara dinding-dinding rumah yang dilaluinya. Tersangkut tiang-tiang listrik yang terpancang. Tubuhnya menegang. Lima menit lagi! Yudo mengayuh dengan kecepatan  tinggi. Ya, lima menit lagi! Yudo serasa ingin terbang. Lima menit lagi ia akan tiba di toko  yang di depannya terpampang besar sebuah nama ‘Toko Buku Sensei’. Lima menit lagi ia akan berada di depan etalase dan menatap buku idamannya. Lima menit lagi, tidak-tidak! tidak hanya menatap namun ia akan membeli buku bergambar pria berdasi dan berkaca mata yang di bawahnya…… Braaakk!!

Bergetar tubuh Yudo menatap  pemandangan di hadapannya. Di samping toko buku yang menjadi  tujuannya, Persis di depan toko pakaian,  seorang gadis terjungkal. Seorang pria  pengendara motor berlalu tanpa menoleh lagi ke arahnya.  Lalu sekitar 4 – 5 orang berlari mendekatinya dan mulai bergumam. “Kasihan gadis stress ini. Diserempet motor.” “Huss, jangan bilang stress. Kata Mboknya dia itu autis. Bukan stress.” “Bukannya sama aja?” Anehnya begitu terjatuh, gadis itu seketika bangkit dan kembali fokus menatap ke dalam etalase, seolah tak mengalami kejadian apa pun.  “Ayo, Sih, pulang. Bapak nungguin Asih di rumah.

” Tiba-tiba seorang ibu menarik tangannya setelah sebelumnya menyeka darah di bibir Asih. Asih bergeming. Tak ada reaksi. Tubuhnya seolah-olah terpaku di tanah, dan kedua kakinya masuk ke pusaran bumi. Si ibu menghela napas, membuang sesak yang bersarang di dadanya. “Ya Allah, Nak, mau sampai kapan berdiri di sini?” Orang-orang turut berbicara pada Asih, membujuknya, mengangguk-angguk. Namun demi melihat sikap acuh Asih, mereka pun mulai meninggalkannya. Berpacu dengan kegiatan mereka kembali. Si ibu pun berlalu. Yudo menatap setiap kejadian dengan tubuh tertegak. Perlahan ia menuntun sepedanya mendekat. Gadis seusianya itu kini tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Assalamu’alaikum.” Sapa Yudo Gadis berkuncir dua itu bereaksi dengan  melirik sekilas ke arah Yudo. “Asih mau apa?” Tak ada respon. Mata Yudo beralih ke etalase dan mengikuti arah tatapan Asih. Ia meraba-raba pikiran gadis itu. Kemudian dirabanya perlahan saku bajunya. Yudo menelan ludah. “Asih mau apa?” diulanginya pertanyaannya. Kali ini dengan menunjukkan 2 lembar seratus ribuan ke arah Asih.  Tiba-tiba Asih bereaksi, banyak. Ia  menunjuk ke arah etalase dan bibirnya  bergerak-gerak. “Baju muslimah. Asih muslimah. Baju muslimah, untuk Asih yang  muslimah.” Yudo terpana. Tak  menunggu lama, ia melesat ke dalam toko dan keluar dengan baju yang diinginkan Asih. Sebuah jilbab hijau pupus, lengkap dengan kerudung hijau berbahan spandek yang lembut dan tebal. Ada sulaman 3 buah bunga lily  kecil di bagian atasnya. Selera yang bagus. Yudo menyerahkan baju itu  yang segera direnggut oleh Asih dengan mata berbinar dan senyum lebar.  “Baju muslimah. Asih muslimah. Baju muslimah, untuk Asih yang muslimah.” Si gadis terus mengulang kata-katanya sambil berlari menenteng baju impiannya. Yudo tersenyum. Tak ada ucapan terimakasih. Dan sungguh, Yudo tak mengharapnya.

Ucapan Asih yang berulangulang itu, jauh lebih berharga daripada sebuah ungkapan terimakasih. Yudo mengambil sepedanya dan mulai menaikinya. Beberapa orang berbisik-bisik menanggapi perbuatan Yudo. Yudo tak peduli. Sama dengan tak pedulinya ia terhadap sisi lain dari nafsunya yang merutuki kebodohannya. Dikayuhnya sepedanya dengan ringan. Sesekali matanya menatap deretan ruko yang berdiri kokoh.  Wajah Pria Berdasi dalam benaknya, sesaat, digantikan siluet Asih dalam balutan jilbab dan kerudungnya.  Yudo tersenyum. Bogor, 5 Juni 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *