Friday, May 22

Jari Tanpa tinta | Golput dalam Pemilu

Wacana Golput menjelang pelaksanaan pemilihan umum selalu jadi trending topic Baik di dunia maya apalagi dalam headline berita. Golpu dalam pemilu Mungkin akan dianggap sepele jika pemilih golput cuman seupil. Masalahnya, prosentasi golput pada setiap pemilu terus beranjak naik dari tahun ke tahun.

Saking populernya itu istilah, remaja sebagai bagian dari GOLongan Pinky dan imUT (GOLPUT) banyak yang nggak ngeh asal muasal golput itu sendiri. Padahal penting banget bagi kita yang udah termasuk usia pemilih, memahami hakikat golput.

Golput dalam Pemilu

Biar kita bisa mensikapi setiap pemilu lebih dewasa dan nggak asal ngikut. Golongan putih (golput) pada dasarnya adalah sebuah gerakan moral yang dicetuskan pada 3 Juni 1971 di Balai Budaya Jakarta, sebulan sebelum hari pemungutan suara pada pemilu pertama di era Orde Baru dilaksanakan .

Arief Budiman sebagai salah seorang eksponen golput berpendapat bahwa gerakan tersebut bukan untuk mencapai kemenangan politik, tetapi lebih untuk  melahirkan tradisi dimana ada jaminan perbedaan pendapat dengan penguasa dalam situasi apa pun. Menurut kelompok ini, dengan atau tanpa pemilu, kekuatan efektif yang banyak menentukan nasib negara ke depan adalah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).  

Kala itu, rezim yang berkuasa memanfaatkan militer untuk menekan rakyat agar memilih satu partai tertentu, suatu tindakan yang jelas bertentangan dengan prinsip bebas dalam LUBER JURDIL. Golpu dalam pemilu Sebagai bentuk protes, Arief Budiman dan kawan-kawan mengajak masyarakat memilih golput.

Mereka tetap datang ke tempat pemungutan suara, tetapi tidak mencoblos lambang partai melainkan bagian putih di sampingnya, sehingga surat suara dihitung tidak sah.  Sejak Pemilu 1955 angka golput cenderung terus naik.

Bila dihitung dari pemilih tidak datang dan suara tidak sah, golput pada pemilu 1955 sebesar 12,34%. Pada pemilu 1971, ketika golput dicetuskan dan dikampanyekan, justru mengalami penurunan hanya 6,67%. Pemilu 1977 golput sebesar 8,40%,  9,61% (1982), 8,39% (1987), 9,05% (1992), 10,07% (1997), 10.40% (1999), 23,34% (Pemilu Legislatif 2004), 23,47% (Pilpres 2004 putaran I), 24,95% (Pilpres 2004 putaran II).

Pada Pileg tahun 1999 angka golput 10,2 persen, pileg 2004 (23,3 persen) dan pada tahun 2009 menjadi 29 persen pemilih yang tidak menggunakan haknya. Golput adalah sebuah sikap moral yang dilindungi Undang-undang.

Hak pemilih untuk tidak memilih, yang dilindungi UUD 1945 Pasal 28E ayat (2): setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Jadi golput bukan gerakan ilegal yang mesti dibasmi bak nyamuk demam berdarah. Golpu dalam pemilu Apalagi sampe difatwakan haram. Terlalu gegabah mengharamkan golput di era demokrasi yang steril dari pemimpin berbasis religi.  

Semakin tingginya jumlah pemilih yang nggak ikut milih dalam pilkada, pileg, pilpres atau pil-pil lainnya seharusnya bikin pemerintah malu bin tengsin. Ngaca dong. Semakin banyak yang golput menunjukkan masyarakat udah nggak  percaya lagi ama para pejabat yang ikut audisi pemimpin. Saat kampanye, berkoar-koar mengumbar janji surga demi kepentingan rakyat.

Giliran udah berkuasa, janjinya udah keburu menguap. Yang ada, dianya sibuk kasak kusuk nyari obyekan biar bisa cepet balik modal ongkos politiknya. Endingya, kena ciduk KPK dan ngantor di hotel prodeo.

Ngenes! Jadi, sebagai remaja yang melek politik tunjukkin deh sikap dalam menghadapi pemilu dengan baik dan benar sesuai hukum syara. Nggak perlu tengsin bin minder kalo jari kita tanpa tinta saat hari pemilihan tiba.

Kalo pun harus masuk bilik suara, pilihlah dengan bijak seperti pertama kali gerakan golput itu ada. Kita sekedar ngingetin, setiap pilihan dalam hidup bakal dimintai pertanggungjawabannya. Tak terkecuali saat mencoblos surat suara.

Makanya, pilihlah pemimpin atau wakil rakyat yang taat sama Allah dan Rasul-Nya dan komitmen mau ngatur urusan rakyat pake aturan Allah. Kalo nggak ketemu kandidat pemimpinnya, ngapain juga ngotorin jari kita pake tinta? [341] 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *