Thursday, July 2

Kania Gadis Penunggu senja

Senja selalu saja menyelipkan kemewahan yang tak tertandingi. Kaki langit yang keperakan, dan batas- batas langit yang tertimpa cahaya mentari, begitu perkasa menyorotkan pendar emasnya ke bumi. Gumpalan awan yang diterobos cahaya, menyiratkan puluhan lesakan anak panah yang berbaris-baris.

Sore yang menua dan senja yang kian memucat. Semilir angin membelai lembut kerudung Kania. sejak beberapa lama, Gadis itu tenggelam dalam pemandangan mistis di kaki langit. Gadis penunggu senja. Sesekali Ia mengarahkan lensa ponsel ke sudut langit, menangkap puncak pergeseran waktu yang siap menenggelamkan bumi ke dalam balutan malam yang suci.  Kali ini Ia tak sendiri. Ya, puluhan orang berdatangan sejak sore untuk meneropong bulan, memindai sang hilal berdasarkan rukyat syar’i.

Kania termangu, sejenak Ia memejamkan mata, membiarkan lembut angin  menyapa wajahnya. Satu bayangan hadir di benak. Menari dalam khayalan masa kecil Kania. Lelaki berwajah cahaya dengan senyum yang purna. Detikdetik ramadhan yang kian menyesakkan. Setelah beberapa lama Ia berusaha  meredam butiran bening yang mendanau,  Kania berhenti melawan. Ia membiarkan titik-titik bening itu bergulir dari matanya yang kini memerah.

Sempurna. Senja suci yang selalu saja berhasil mengembalikan kenangan, namun tak berhasil mengembalikan sang Ayah. Matanya yang kian mengabur, memburamkan bayangan sang Ayah, diganti sosok Fathir, lelaki yang ke rumahnya minggu kemarin. Meminta Kania kepada sang Kakak, juga sang Ibu untuk merelakan si bungsu untuk berada dalam tanggungannya. Mata Kania kembali memanas, menitikkan butiran yang sekali lagi melesak keluar. Satu fase perjuangan hidupnya di hadapan, setelah perbincangan panjang dengan sang Ibu.

 ………..

Kania melangkah ke dalam masjid, menelisik setiap sudut, seolah bermaksud mengail secuil jejak dirinya dengan sang Ayah. Setelah sekian lama, kali ini Ia kembali menjejakkan kaki di masjid yang menyimpan rekam jejak masa kecilnya yang indah. Bedug masjid berbunyi. Bertalutalu. Alarm jiwa yang renta dengan kemewahan dunia. Semewah apapun perangkat masjid, bedug selalu menimbulkan suasana yang khas.

Anak kecil  berlarian, berkejaran di taman masjid sembari menenteng IQRO dan mushaf Al- Qur’an. Tak peduli dalam kondisi apapun, bermain dilakukan selayak orang dewasa melakukan pekerjaan. Di sudut-sudut masjid, terlihat beberapa anak saling bergantian melakukan muroja’ah, menyetor hafalan di antara teman sebaya.

Satu lintas kenangan menyapa “Yah, Kania udah bisa muroja’ah?” Senyum mungil Kania mengintip  dari balik pintu. Sejak setengah jam lalu Ia memperhatikan aktivitas sang Ayah dan belum terbetik hatinya untuk mengganggu. Pak Syarif menoleh ke arah pintu. Ia mendapati si bungsu menenteng mushaf, hadiah darinya ketika memenangkan lomba hafalan tahun lalu.

Senyumnya terkembang, jika si bungsu ngotot untuk menyetor hafalan, alamat Ia harus menyiapkan janji yang akan dituntaskan pada saat ramadhon mendekati akhir. Ia mengangguk, di iringi langkah kecil Kania dengan senyum sumringah. “kemarin muroja’ahnya sampai mana, sayang?”, sang ayah menunduk, menatap mata anaknya yang bersinar terang. “juz 5, Yah. Hari ini Kania muroja’ah dulu, besok mulai masuk ke juz 6, gimana?”,

Kania yang selalu saja berbinar. Haus akan ilmu. Secuil kekaguman merambati sang Ayah. Dalam hati terselip do’a, sebagaimana lafadz yang selalu dilantunkan dalam sujud panjangnya, semoga sang anak bisa menghadiahkan orangtuanya, sebuah mahkota bercahaya di syurga kelak. Bagaimana bisa Ia menolak permintaan Kania? bungsu yang selalu istimewa dalam segala hal. Beruntung, kedua kakaknya begitu faham akan keeratan yang berlebihan serta perhatian sang Ayah kepada adik mereka. Kania terlahir dengan kondisi yang rentan terhadap sakit. Diluar dari kelemahannya, Kania adalah anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

 Kedekatan itulah yang senantiasa menimbulkan telepati rasa antara Kania dan Ayahnya. Dan, selepas SD, Ia dimasukkan ke pesantren oleh sang Ayah. Ia menjalani Tsanawiyah dan aliyah di sebuah pesantren milik seorang kyai ternama.

Tamat aliyah,  Kania mendapat beasiswa kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Ia mengambil jurusan Fisika kesehatan. Jurusan yang menenggelamkannya pada system akademik yang sedikit banyak merampas perhatiannya, tapi tidak dengan tautan hatinya dengan ma’had yang tetap diikutinya setiap akhir pekan, juga rutinitas dakwah kampus, yang mempertemukannya dengan seseorang yang kelak akan merebut separuh perhatiannya. _

Mata lentik Kania memindai setiap sudut, mengendus masa lalunya, dan pikirannya sibuk memutar masa kecilnya yang indah. Percik kenangan berlesatan dengan cepat. Menyisakan satu dua tetes airmata dari sudut matanya. Pada sebuah jendela masjid, Ia berdiri.

Menghadapi gunung yang berdiri angkuh menghadap kearah masjid. Ia ingat, dulu gunung kecil itu rumbun dengan  beberapa pohon kersen, tempat dimana Ia dan teman kecilnya bermain sambil menikmati buahnya. Dan kaki gunung yang tidak seberapa terjal itu, kerap dijadikan tempat luncuran anak lakilaki dengan menggunakan ujung pelepah kelapa yang tanggal dari pohonnya.Ah, masa kecil yang indah.

 _ Kania merogoh saku jilbabnya, mengambil ponsel sekedar untuk mengambil gambar yang lekat dengan masa keceriaannya. Beberapa shoot dilayangkan, selanjutnya Ia tenggelam dalam rutinitas para shooter, memilih gambar terbaik kemudian dibagi ke instagram miliknya. Lengkungan pelangi terbalik menggantung di wajahnya.

Menyadari betapa Ia sangat jarang meng-update status di akun tersebut. Dan hari ini, entahlah, mungkin sense of soul seseorang yang sedang mengendus jejak yang begitu sulit untuk dihapus dari ingatan. Ia sedikit berbagi dengan penghuni dunia maya.  Suara orang bercakap-cakap terdengar dari luar beranda masjid. Kania menoleh sebentar.

Ujung matanya menangkap bayangan Ahmad dan Pak Karim, marbut masjid yang beberapa hari ini menjadi pengurus masjid, menggantikan Ayah Kania yang minggu lalu meninggal. Kania bergegas keluar, di beranda masjid Ia bersitatap dengan Ahmad yang berubah kikuk. Bayangan masa kecil kembali membayang. Ahmad anak Pak Kyai, dan saat ini sedang menempuh pendidikannya di Mesir. Mungkin tak lama lagi juga akan selesai. Kania segera berlalu setelah terlebih dulu mengucapkan salam kepada keduanya.

……..

 “Nak ahmad tadi menanyakan kamu, Nia”, ujar Ibu di suatu malam.  Perkataan senada yang kemudian di dengar Kania hingga dua tahun ke depan. Hanya itu. Tak ada kata yang lebih dari itu. Sementara Kania, Ia bahkan bisa membaca pendaran maksud dari sorot mata Ibunya. Beberapa kali menangkap bahasa tubuh Ahmad, Kania bukan tak bisa menangkap maksudnya, bukan.

Bukan pula kania tak bisa membaca perasaan seseorang yang begitu betah menanyakan hal yang sama nyaris setiap bulan selama dua tahun. Hati Kania getas. Menimbang sesuatu yang membuat hatinya ragu. Ia dan Ahmad berteman di Facebook.

Ahmad bahkan tak pernah menyapa apalagi me-like satu dua status Kania. Selalu Ahmad menitipkan salam kepada Kania lewat Ibunya. Itupun, salam tersebut di sampaikan Ibu Ahmad ke Ibu Kania. Ah, Kania meriak. Antara menjaga iffah dan perasaan tak karuan. Tak jelas. Mungkinkah Ahmad yang begitu menjaga iffah atau kania yang…ah, begitu sulitnya perasaan ini di urai. Bukankah suatu keharusan menjaga interaksi?

 Tapi… kania menghela nafas. Bahkan Ahmad tak berani menatapnya ketika pertemuan mereka di masjid kala itu. Ia lebih memilih menekuri ujung sendalnya. Dan kini, di penghujung kesibukannya menyelesaikan tugas akhirnya, satu sosok membuyarkan sosok Ahmad. Kania sedikit demi sedikit faham, hatinya sedang dalam bahaya.

 ……………………

“gimana Dek Nia? Bukankah kalian juga udah saling kenal? Fathir meminta langsung ke saya untuk menghubungi dek Nia”, sambar Mbak Ayu, pipi Kania memanas, blushing. Siapa yang tak kenal Fathir? Tak sedikit akhwat yang mencoba mencari saluran yang menjembatani maksud hati. Dan sekarang? “what? Eh…eh…Mbak?”, Kania gelagapan, mulutnya tiba-tiba kelu. Mbak Ayu mengeluarkan sebuah amplop dan menyodorkan ke tangan Kania. Kania menerimanya dengan enggan.

Tangannya ikut gemetaran memegang amplop yang diberikan Mbak Ayu.“saya…saya…”, perbincangannya dengan Ibu di telepon beberapa hari yang lalu seolah menyimpan sebuah pesan, menunggu Ahmad yang masih dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Ah, Kania tiba-tiba butuh kehadiran Ayahnya.

Bagaimana harusnya seorang lelaki itu, Ayah?. “udah, jangan mikir macemmacem. Pikirkan baik-baik. Jangan lupa istikharah”, Mbak Ayu tersenyum menenangkan. Kania mengangguk pelan sambil menatap Mbak Ayu yang masih tersenyum. Percakapan yang meninggalkan segumpal rasa yang tak menentu pada diri Kania.

Kania bergegas memasuki kamar. Ia mengutuk diri sendiri yang begitu kepo dengan isi amplop yang diberikan Mbak Ayu. Perlahan, Ia menyobek amplop dan mengeluarkan secarik kertas. Sebuah foto terjatuh ke lantai begitu Ia mengeluarkan secarik kertas. Ia mengernyit. Buru-buru membuka lipatan kertas dan mulai membaca baris-baris kalimat yang tersusun rapi.

Cinta Awalnya adalah gurauan dan akhirnya adalah keseriusan. Terlalu rumit untuk di ungkapkan maknanya lantaran keagungannya. Tak bisa diselami hakikatnya melainkan dengan penuh kesulitannya. Agama tidak mengingkarinya, dan syari’atpun tak melarangnya. Tak banyak kata yang harus Saya ucapkan. Cukuplah Mbak Ayu menjadi penyambung rasa. Tak banyak janji yang harus Saya keluarkan saat ini, sebelum perjanjian kuat dalam ikatan pernikahan terikrarkan. Terikat oleh hukum syara, dan di sah-kan dihadapan walimu. Maukah engkau menjadi penyempurna Din-ku? Fathir

_ Kania termangu beberapa saat.  Buru-buru Ia merunduk, memungut foto Fathir yang terjatuh ketika membuka amplop. Ada rasa aneh menyeruak dalam dadanya. Rasa yang sulit Ia mengerti. Ponselnya tiba-tiba bordering, Kania sedikit terlonjak. Buru-buru Ia meraih ponselnya, dari Ibu. Darah Kania tersirap, tanpa basabasi Ibu menyampaikan pesan Ahmad “maukah Kania menjadi istriku, bu?”.

Kania memejamkan mata. Benaknya berkelindan  mencari jawaban. Dua cinta sekaligus dua lamaran. Seseorang menunggu jawaban, dari pertanyaan yang dilesakkan langsung tanpa prolog. Dan yang lain, menanti jawaban dari pertanyaan yang telah dua tahun ini membuat hati Kania getas, terombang-ambing.  Pada akhirnya, cinta adalah memilih, untuk melupakan ataukah memiliki.

Inikah ujian bagi hati yang sedang mencari tempat untuk menjejakkan rasa? Ah, kenapa seluruh puisi cinta menjadi terdengar absurd? Dan Kania? Ia tak mau berjudi dengan masa depannya. Dalam sujud panjangnya, puisi cinta tak lagi absurd dalam fitrahnya. Ia memejam sekali lagi, mencoba menerbangkan keraguan dalam sujudnya. Di ujung sya’ban, hatinya menetapi rasa pada belahan yang telah lama terpisah.[Ukhti Juan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *