Thursday, October 17

Kemulyaan ada di hatimu

aya teringat ketika masih di bangku Sekolah Dasar (SD) ada seorang teman saya, sebut aja namanya Shinta –tapi bukan nama sebenarnya—yang mendapat perlakuan kurang mengenakan dari teman-teman saya terutama anak-anak cowok. Persoalannya mungkin sepele hanya karena fisik Shinta yang mungkin di mata mereka kurang menarik.

Sorry, gigi Shinta agak nongol sehingga Shinta selalu diperolok dengan sebutan “Boneng”. Tiap hari lihat Shinta diperolok, jujur saya merasa sedih, saya ikut berempati dengan apa yang dialami Shinta. Meski terlihat selalu tegar dan cuek, saya yakin pasti di lubuk hatinya yang terdalam dia merasakan sakit. Betapa tidak, giginya yang nongol bukanlah kehendak dia. Bukan pula kemauan dia.

Kemulyaan ada di hatimu

Ini adalah ketetapan Allah atasnya, tapi mengapa dia harus mendapatkan perlakuan rasis dari teman-temannya? Hari ini, ketika saya mengajar anakanak SMK—saya masih melihat hal serupa. Ada seorang murid cowok saya yang selalu jadi bulan-bulanan dan bahan olokan teman yang lain. Juga karena hal sepele, gara-gara dia tidak lancar dalam melafalkan huruf “R” atau orang Sunda bilangnya dengan istilah “cadel”. 

Tertawa ngakak, puas sampai terpingkal-pingkal adalah ekspresi teman-temannya saat Idam –bukan nama sebenarnya—mulai melafalkan kata atau kalimat yang mengandung huruf “R”. Lihat kejadian itu saya mengurut dada, menggelengkan kepala, dan tidak habis pikir kenapa mereka tega berbuat seperti itu pada temannya. Akhirnya separo pelajaran saya dipake buat  S teman saya, sebut aja namanya Shinta –tapi bukan nama sebenarnya—yang mendapat perlakuan kurang mengenakan dari teman-teman saya terutama anak-anak cowok.

Persoalannya mungkin sepele hanya karena fisik Shinta yang mungkin di mata mereka kurang menarik. Sorry, gigi Shinta agak nongol sehingga Shinta selalu diperolok dengan sebutan “Boneng”.  aya teringat ketika masih di bangku Sekolah Dasar (SD) ada seorang  Tiap hari lihat Shinta diperolok, jujur saya merasa sedih, saya ikut berempati dengan apa yang dialami Shinta. Meski terlihat selalu tegar dan cuek, saya yakin pasti di lubuk hatinya yang terdalam dia merasakan sakit. Betapa tidak, giginya yang nongol bukanlah kehendak dia.

Bukan pula kemauan dia. Ini adalah ketetapan Allah atasnya, tapi mengapa dia harus mendapatkan perlakuan rasis dari teman-temannya? Hari ini, ketika saya mengajar anakanak SMK—saya masih melihat hal  28 nasehatin mereka semua. Hadeuuh, cape deeh! Oke sobat, yuk berfikir lebih realistis. Sebenarnya, jika kita mau belajar berempati pada orang lain, tentu aksi bulying yang merendahkan teman tidak akan terjadi. Kita andaikan saja jika hal itu menimpa kita, menimpa saudara kita, adik atau kakak kita. Perasaan apa yang kirakira muncul? Relakah jika hal tersebut  dialami oleh orang-orang yang kita kasihi? 

Mampukah kita bertahan untuk tidak marah, atau bersikap biasa aja, atau  bahkan cuek?  Marilah mulai saat ini kita lebih menghargai orang lain. Sadarilah bahwa untuk menilai kemuliaan seseorang sesungguhnya Allah Swt tidak akan melihat kepada tampak muka dan harta kita. Tetapi justru Allah Swt melihat kepada hati dan pikiran serta amal-amal kita.

Lebih spesifik lagi Allah hanya akan melihat ketakwaan kita.  Kita tidak akan menduga mungkin suatu hari nanti entah kapan, siapa tahu orang-orang yang kita hina, kita lecehkan,  dan kita rendahkan itu, justru akan menjadi orang yang paling berjasa dan memberi pertolongan kepada kita di saat-saat yang kita butuhkan. Siapa yang menebar benih energi negatif maka akan menuai keburukannya di masa mendatang. Sebaliknya, siapa saja yang menanam benih energi positif maka akan menuai kebaikannya di masa yang akan datang. Allah Swt telah berfirman:          

 “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula” (TQS Al Zalzalah: 7-8).

Kalau belum cukup juga, hadist berikut mungkin akan mengerem kebiasaan buruk kamu-kamu yang ngga bisa menjaga lisannya. Rasul bersabda “Mencaci maki seorang muslim adalah perbuatan fasik, sedang membunuh seorang muslim adalah tindak kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi masih tetep berani menghina dan melecehkan sodara se-muslim? Nggak dong![]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *