Saturday, April 4

LAKSAMANA CHENG HO ADMIRAL PALING TERKENAL

Selain Ibnu Battutah yang pernah dibahas D’Rise pada edisi #46 dan Piri Reis yang pernah dibahas pada edisi  #51, ternyata umat Islam masih punya satu lagi tokoh penjelajah sekaligus pelaut ulung yang ternama di dunia. Beliau adalah Admiral Zheng He atau yang di Indonesia dikenal juga dengan Laksamana Cheng Ho.

Yup, betul banget, beliau adalah muslim dari etnis Tionghoa dan merupakan ikon pelaut dari negeri tirai bambu. Selama 28 tahun (antara tahun 1405 hingga 1433), Laksamana Cheng Ho menjelajah lebih dari 50.000 km dan mengunjungi kurang lebih 37 negeri. Dan penjelajahan Cheng Ho ini dilakukan 87 tahun sebelum Columbus!

Nama asli Cheng Ho yang sebenarnya adalah Ma He. Beliau lahir di tengah keluarga Muslim etnis Hui di daerah Yunnan China pada tahun 1371. Marga Ma merupakan nama khas muslim karena merupakan turunan dari kata Muhammad. Selain itu, ayah dan kakek Cheng Ho juga memiliki gelar Haji. Bahkan sebagian sejarawan menduga bahwa Cheng Ho merupakan keturunan dari  Sayyid Ajjal Syamsuddin Omar dari Bokhara (sekarang  Uzbekistan), yang nasabnya menyambung kepada Nabi Muhammad Saw. Pada tahun 1381 pasukan dinasti Ming melakukan ekspedisi militer ke Yunnan untuk memerangi pasukan Mongol (dinasti Yuan).

Ma He yang saat itu berusia 10 tahun, ditangkap oleh pasukan Ming untuk diinterogasi terkait keberadaan pasukan Mongol. Sang calon laksamana ini pun berusaha kabur dengan nyemplung ke danau, namun tertangkap kembali. Akhirnya ia pun dikebiri dan dijadikan pelayan istana (kasim) Pangeran Yan.

Mungkin salah satu alasannya karena postur tubuh Ma He yang kuat dan bongsor, konon tinggi badan sang Laksamana ketika dewasa mencapai 7 kaki atau lebih dari 2 meter! MasyaAllah, jangkung banget ya. Selama pengabdiannya pada Pangeran Yan, Ma He terbukti loyal dan cerdas. Bakat kemiliterannya pun terasah dengan keikutsertaannya dalam berbagai ekspedisi militer, sehingga ia pun menjadi orang kepercayaan Pangeran Yan, yang di kemudian hari menjadi Kaisar Yongle.

Atas kesetiaan dan jasa-jasa Ma He, Kaisar menganugerahinya nama Zheng (Cheng), serta memberinya jabatan tinggi di  kekaisaran, yaitu sebagai Kepala Pelayan Istana (taijian) dan kemudian sebagai Kepala Utusan (zhengshi). Dalam batu prasasti yang ditemukan di Provinsi Fujian, Laksamana Cheng Ho mengatakan bahwa dirinya diperintahkan kaisar Dinasti Ming untuk berlayar mengarungi samudera menuju negaranegara di luar horizon.

Tujuan utamanya selain misi perdagangan yaitu untuk menunjukkan kebesaran Kekaisaran  Tiongkok waktu itu, sekaligus untuk membasmi bajak laut. Namun sebagai seorang muslim, kesempatan ini juga ia gunakan untuk melakukan dakwah di negeri-negeri yang dikunjunginya. Pada ekspedisi pertama, ia mengerahkan armada 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakkan 27.800 ribu awak.

Pada pelayaran ketiga, Cheng Ho menurunkan kapal besar sebanyak 48 buah dengan 27 ribu awak. Sedangkan pada pelayaran ketujuh, tak kurang dari 61 kapal besar dikerahkan dengan awaknya mencapai 27.550 orang. Dalam setiap ekspedisi itu, Laksamana Cheng Ho menumpangi kapal terbesar pada abad ke15 M yang disebut ‘kapal pusaka’. Panjangnya saja mencapai 138 m, lebarnya sekitar 56 m, dan berat  mencapai 2.500 ton. Sebagai perbandingan, ekspedisi yang dilakukan Columbus saat mencari benua India (tapi malah nyasar dan terdampar di benua Amerika) hanya mengerahkan  tiga kapal dengan 88 awak kapal.

Ukuran kapal La Nina yang ditumpangi Colombus pun panjangnya hanya 15 meter dan  hanya mampu menampung 24 awak. Dalam penjelajahannya, Cheng Ho tercatat mengunjungi Nusantara sebanyak tujuh kali. Selain berdagang, Cheng Ho juga mengajarkan tatacara pertanian, peternakan, pertukangan, dan perikanan kepada warga pribumi. Salah satu kawasan yang dikunjungi Cheng Ho ialah kota Semarang, Jawa Tengah. Dalam salah satu muhibahnya, Cheng Ho pernah  mendarat di Bukit Simongan, Semarang.

Di situ Cheng Ho kemudian mendirikan masjid, tapi sayangnya sekarang masjid itu berubah menjadi klenteng.  Hanya sedikit catatan Dinasti Ming mengenai peran Cheng Ho dalam penyebaran Islam, bisa jadi penyebabnya karena penyebaran Islam memang bukan misi yang didelegasikan pada Cheng Ho oleh Dinasti Ming, dan Islam juga bukan agama mayoritas di Tiongkok. Sehingga, dakwah yang dilakukan Cheng Ho lebih bersifat misi pribadi.

Tetapi dampak dari dakwah Cheng Ho di Nusantara bisa dilihat diantaranya dengan muncul dan berkembangnya komunitas-komunitas Muslim China (khususnya yang bermazhab Hanafi), serta pembangunan masjid-masjid di Semarang, Sembung, Sarincil, Talang, Ancol, Lasem, Tuban, Gresik, dan Jiaotung. Laksamana Cheng Ho meninggal dalam kepulangannya dari India di ekspedisinya yang ke tujuh pada tahun 1433. Ada pula yang menyatakan dia meninggal setelah sampai di Cina pada 1435. Di atas pusaranya di Nanjing, terpahat ukiran kaligrafi “Allahu Akbar”.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *