Wednesday, October 16

Majalah Drise Edisi #33 : REMAJA LATAH “Kelihatan Gaul Padahal Amburadul”

Sorry brada…gw gak bisa ikut goyang caesar. Lg ada konspirasi hati yg menyebabkan cinta terkudeta sehingga berujung pada labil ekonomi di usia twenty one my age”. Sms EMEn ke temannya di ujung sana. Rupanya Emen termasuk salah satu korban Vicky.

 Eits, bukan korban cintanya lho ya. Tapi korban virus bahasa sok intelek vicky yang tengah mewabah. Enggak cuman gaya bahasa, Emen juga lagi demam goyang Caesar yang mengguncang trans studio. Saban denger suara seruling sakti tangannya otomatis menirukan gaya peniup seruling. Saat kupingnya mendengar lantunan lagu ‘goyang dikit joss!’seluruh persendian tubuhnya tanpa dikomando yang bergerak bak cacing kepanasan.

Goyang maang…! Emen cuman satu dari sekian juta remaja en remaji negerinya Ivan Dimas yang latah ngikutin tren. Berlagak intelek ngomongnya bertaburan istilah asing padahal ilmunya cetek. Belagu pake kawat gigi atau kamera DLSR padahal kualitas KW. Meski duitnya cekak, Emen bela-belain ngutang atau merengek ke emaknya biar bisa tampil trendi dengan aksesoris masa kini. Padahal keseharian Emen hidupnya susah, rumahnya dari bilik reot yang udah hampir rubuh, dan makan senin-kamis. Bapaknya cuman jadi sekuriti dengan gaji nggak pernah pas, dan ibunya cuman buruh cuci yang harus membanting cucian demi mendapat beberapa lembar recehan. Sialnya, Emen selalu ngotot ngikutin tren.

Kalo diingetin jangan terlalu ngoyo kalo emang duit tak ado, emen malah jawab. Kalo nggak ngikut tren, apa kata dunia…!!! *tepok jidat!* Penyakit latah terhadap berbagai hal yang dianggap gaul tengah menjangkiti remaja-remaji Islam. Sekedar ngingetin, berikut penjelasan tentang latah dari wikipedia. “Latah dari Asia Tenggara, adalah sebuah kondisi ketika seseorang mengalami kekagetan yang kemudian menghasilkan perilaku yang abnormal. Ketika kaget, orang yang menderita latah ini akan mengalami perilaku seperti menjerit, mengutuk, bergerak seperti menari, dan tertawa yang tidak bisa dikontrol.

” Nggak jauh beda sih dengan pengertian latah yang udah umum. Orang latah biasanya akan ngikutin perintah apapun saat dia kaget atau tak bisa mengendalikan diri. Kalau kita kagetkan orang latah sambil bilang “lari”, nanti dia akan lari sekencang-kencangnya. Kalau dia kita kagetkan sambil bilang “dor”, maka dia juga akan meniru. Kasian banget ya orang latah. Sering dijadikan objek tertawaan dan hiburan. Padahal bisa jadi mereka ngikutin perintah tanpa sadar alias bukan kemauan sendiri. Ternyata, ada yang lebih kasihan dari mereka yang latah secara harfiah. Yaitu kawula muda di negeri kita yang terjangkiti bukan cuman latah penyakit syaraf yang ngikutin perintah atau meniru perkataan. Tapi latah tingkah dewa yang lebih parah.

Gaya Hidup Remaja LatahLatah meniru gaya hidup, budaya dan kebiasaan yang menjadi trend setter dalam keseharian. Mulai dari gaya berbicara, berbusana, berperilaku, hingga cara berfikir agar bisa tetep eksi dalam pergaulan. Dalam kamus gaul remaja, berbagai hal yang terkesan trendy dan keren wajib mereka ikuti tanpa pikir panjang lagi. Perkara bener atau salah itu urusan belakangan. Apakah pantas atau nggak, bukan jadi pertimbangan. Yang penting nggak ketinggalan jaman dan tetep nyambung dalam setiap obrolan. Kalo kita ulik, ternyata remaja latah ngikutin gaya hidup yang lagi trendi nggak jauh karena alasan berikut: Pertama, karena dorongan teman. Ketika seorang teman menggunakan sebuah barang baik itu gadget maupun aksesoris, teman tersebut akan mendorong mereka untuk menggunakan barang yang sama.

Apalagi saat ini banyak yang terjebak pola pertemanan yang sering mengharuskan mereka mempunyai sesuatu yang sama untuk bisa berteman atau bergabung dalam kelompok pertemanan tertentu, sehingga mau tidak mau mereka akan Latah atau mengikuti apa yang temannya pakai atau perbuat. Dalam kasus narkotika yang mewabah di kalangan remaja, seringkali berawal dari tekanan teman sebaya (peer pressure). Kalo gak nyobain lintingan cimenk (ganja) atau sedotan shabu, dianggap belon afdhol jadi anak gaul. Dalam gaya berbicara juga sama. Kalo temennya kena virus bahasa vickysasi, nggak matching dong kalo dianya pake bahaya EYD.

Otomatis yang lain menyesuaikan pake bahasa istilah asing yang dipaksain nyambung dengan kalimat ala vicky. Kacau blast! Kedua, karena merasa tersaingi. Dimana remaja nggak pengen temannya menggunakan aksesoris atau gadget terbaru yang menarik perhatian teman yang lain. Doi bakal ngerasa tersaingi dan kemudian akan menggunakan sesuatu yang sama atau lebih agar mendapat perhatian yang sama. Kemajuan teknologi sering dijadikan ukuran buat menilai ‘status sosial’ dikalangan remaja. Remaja dianggap paling gaul kalo pake gadget yang terbaru, tercanggih, bahkan termahal. Dari smartphone sampe kamera DLSR dijabanin untuk dibeli meski harus merengek ke ortu. Padahal cuman gaya-gayaan. Gayanya jepret sana jepret sini pake DLSR, gak tahunya tutup lensanya belon dibuka!

*Gubrak..!*

Dalam gaya hidup, anak yang paling keren diukur dari daya tahan dan keberanian melakukan sesuatu yang ekstrim. Otomatis, satu sama lain akan saling berlomba berebut perhatian dengan busana yang mengumbar aurat atau perilaku yang nyeleneh. Kalo temennya udah gak perjaka atau perawan lagi, dianggap keren dan dewasa seperti dalam film American Pie. Akhirnya ikutikutan terjun dalam kubangan seks bebas yang dibalut dalam kisah-kasih pacaran. Gombal…! Ketiga, iseng aja. Ketika ada satu tren yang berkembang dia akan mengikuti tren tersebut. Bukan karena dorongan teman atau karena tersaingi. Tapi asyik aja biar tetep ngeksis gitu. Pengen nyobain gimana sih rasanya pake sepeda fixie walau akhirnya kaki jadi gempor karena setiap hari mengayuh pedal. Atau penasaran dengan gigi behel yang menghiasi senyum para selebriti. Meski ngerasa tersiksa karena banyak daging kambing kurban idul adhakemaren yang nangkring di kawat gigi pasca pesta sate. Kawat gigi berubah jadi etalase bumbu makanan.

Ada potongan cabe merah, cabe ijo, bawang merah, sambel kacang, sampe dipasangin tulisan ‘Obral..!’ Halah…! Lebay dot kom. Orang yang latah, bersikap spontan meniru. Nggak pake mikir dulu halal atau haram, pantas atau nggak. Yang penting kalo keliatan keren dan gaul maka akan diikuti. Mereka juga tidak berpikir lagi tentang konsekuensi apa yang akan mereka dapat dengan mengikuti gaya hidup sekuler dan menyesatkan yang dijajakan media massa. Karakter spontan itu yang lekat dengan remaja. Demi eksistensi, lebih mengedepankan gengsi demi menuai sensasi yang akibatnya bikin hidup malah tak berarti. Cuman dosa dan penyesalan yang dibawa mati. Rugi..rugi..rugi..! (Mode Upin-Ipin: ON)

Padahal dibalik gaya hidup latah yang menyerang remaja, ada bahaya yang mengancam kehidupannya di dunia dan di akhirat. Waduh! Pertama: Kecemburuan sosial. Gaya hidup remaja latah itu ongkosnya mahal banget. Padahal nggak semua bisa beradaptasi secara ekonomi. Pernah trend gelang power balance yang katanya baik untuk menjaga stamina tubuh (padahal hoax). Harganya lumayan jebret dengan 150 ribu per buah.

Kalo maksain, remaja pasLatah Menuai Masalah pasan yang kondisi perekonomiaannya tergantung dari suplai ortu bisa-bisa gak jajan sebulan. Akhirnya, cari produk KW yang harganya 20 ribu per buah. Biar imitasi, yang penting keliatan rendy. Masih mending kalo cuman beli barang KW, nah kalo ternyata duit bener-bener gak punya. Sementara tuntutan pergaulan seolah mengharuskan tampil jumawa, akhirnya gelap mata. Tindakan kriminalitas jadi jalan keluarnya dengan mencuri atau merampok. Sehingga pernah ada remaja yang bela-belain menjambret biar punya duit buat beli kado hadiah valentine.

Yang lebih parah, tergambar dalam film remaja yang menuai kontroversi. Virgin, ketika keperawanan diperjualbelikan. Pelajar sekolah menengah yang rela menjual kegadisannya biar bisa borong busana yang lagi trendi, nyicipin fast food yang populer, hingga pakai gadget mahal yang banyak digandrungi. Ngeriii….! Kedua, wasting time. Waktu termasuk sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Waktu akan terus berjalan dan nggak mungkin balik lagi. Siapa yang menghargai waktu, dia akan menuai kesuksesan di dunia dan akhirat. Gaya hidup latah, memaksa remaja untuk meremehkan arti waktu. Lantaran ngikutin trend itu bakal banyak menyita waktu hidup untuk sesuatu yang minim manfaat atau malah bergelimang maksiat.

Nongkrong di café atau pinggir jalan untuk habiskan waktu luang seolah jadi kegiatan favorit. Sambil cekakak cekikik cekukuk dengan teman sebaya, seolah waktu hanya untuk tertawa. Ada yang bela-belain mangkal di studio seharian biar bisa ikut tayangan joget gak karuan yang tengah mewabah dan melenakan. Coba bayangin kalo waktu buat nongkrong, ikut joget kaya cacing kepanasan, atau nonton konser musisi idola dikonversi menjadi waktu belajar dan beribadah. Dijamin… kita bakal dicintai penduduk bumi dan langit. Itu baru keren! Ketiga, akidah dicacah. Tren yang gencar menyapa remaja banyak didominasi oleh gaya hidup barat yang sekuler danmenyesatkan. Lantaran kita hidup dalam dunia yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan. Keseharian kita steril dari aturan Islam.

Otomatis, media yang saat ini dikuasai oleh orang-orang sekuler telah sukses mengendalikan alam berpikir dan bertingkahlaku kita. Baik secara sadar maupun nggak sadar kita digiring untuk hanya asyik memerhatikan hal-hal yang tak berguna dan remeh temeh. Bahkan akidah kita dipaksa untuk mengakui semua ajaran agama itu benar dan wajar jika sudah dibalut dalam kemasan trendi. Ngakunya remaja muslim. Pengennya masuk surga. Ogah kalo harus mendekam di neraka bersama orang-orang kafir dan aktivis dosa. Tapi masih latah ikut perayaan tahun baru masehi, natalan bersama, valentine days, april mop, halloween dan budaya kufur lainnya. Lantaran hari-hari besar orang kafir itu dipopulerkan oleh media seolah hanya budaya yang nggak ada hubungannya dengan agama. Padahal, latah ngikutin budaya kufur sama saja memantaskan diri masuk neraka. Rasul saw mengingatkan, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Driser, jelas-jelas gaya hidup latah itu bikin tekor waktu, doku, dan harga diri. Masih mau latah? Pikir deh dalam-dalam. Akui aja kalo gaya hidup yang banyak digandrungi oleh kawula muda saat ini, belum tentu baik buat kita selaku remaja muslim yang oke punya. Malah cenderung merugikan. Karena itu, kendalikan diri biar gak gampang terhanyut oleh gaya hidup trendi yang melenakan. Sebagai muslim, kita diwanti-wanti untuk menjaga setiap perbuatan kita. Agar selalu menjadi amal sholeh bukan amal salah. Lantaran setiap perilaku di dunia bakal dimintai tanggung jawab di akhirat nanti. Allah swt berfirman: Jangan Ikut kebanyakan.. “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui tentangnya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran, dan hati masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya.“ (QS. Al-Isra: 36)

Berhati-hati dalam mensikapi setiap trendi, harga mati bagi setiap muslim. Cari tahu dulu ilmunya sebelum berbuat. Pake standar hukum Islam buat menilai apakah suatu perbuatan itu boleh atau nggak dikerjain. Kalo nggak boleh, segera jauhi dan jangan coba-coba mendekati karena setan akan menggoda dan menjerumuskan kita. Kalo boleh, liat lagi apakah perbuatan itu mendatangkan kebaikan atau keburukan dihadapan Allah. Digandrungi banyak orang atau gencar diopinikan media massa, bukan standar untuk ngikutin trend. Bahaya. Bisabisa kita kebawa sesat. Allah swt mengingatkan: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)

Terakhir, tanyain pada diri sendiri. Hidup ini untuk apa sih? Pola hidup kita akan sangat ditentukan oleh jawaban dari pertanyaan ini. Kalau hidup kita untuk memberikan pengabdian yang terbaik kepada Allah dan RasulNya, tentunya kita akan mengisi kehidupan dengan berbagai aktifitas yang berguna dan berpahala. Tapi kalau hidup hanya untuk meraih kesenangan dengan menjauhkan diri dari aturan agama, kehidupan akan banyak diisi dengan hurahura dan foya-foya. Bergelimang kemaksiatan dan dosa. Biar nggak gampang dimangsa gaya hidup latah yang menyesatkan, ikut ngaji. Selain membentengi diri, ngaji juga bakal menjadikan kita pribadi para penghuni surga. Keren kan. Mau? Yuk ngaji![341]

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *