Thursday, July 2

Majalah Drise edisi 55 : LGBT buruan tobat

Nama lengkapnya Samuel David Alexander Brodie. Pria nashrani kelahiran Medan 14 Maret 1987 ini  terlahir sebagai laki-laki tulen. Pada usia 11 tahun, orangtua Sam membawanya hijrah ke Inggris. Ketika memasuki usia 12 tahun, Sam Brodie memutuskan menjadi perempuan setelah sebelumnya mengalami kekerasan seksual.

Samantha, itu nama yang dipilih. Hal inilah yang membuat dia tidak diterima oleh keluarganya.  Kisah Sam di atas, melengkapi pemberitaan seputar LGBT yang lagi marak belakangan ini. Sejak mencuatnya kiprah Kelompok Support Group and Resource Center On Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia (UI), isu LGBT bergulir bak bola salju. Opini pro dan kontra silih berganti menghiasi media massa. Komunitas LGBT dan para pendukungnya seolah dapat angin surga dengan makin merebaknya isu LGBT. Mereka mulai berani nongol ke permukaan. Nggak lagi gerilya biar nggak dikejar tramtib.  

LGBT Memangsa Remaja

Sudah sejak tahun 90-an organisasi  yang mewadahi kaum LGBT kian menjamur. Di awali Lamda Indonesia pada tahun 1982, Ikatan Persaudaraan Orang-orang Sehati (IPOS) di Jakarta; Gaya Dewata di Bali; Komunitas Pelangi dan PLUSH (People Like Us Satu Hati) di Yogya; Gaya Priangan di Bandung; atau Gaya Nusantara di Surabaya; Di Lampung ada GayLam (Gaya Lentera  04 d’rise #55 maret 2016 Muda Lampung).

Kaum lesbiannya banyak yang gabung di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Swara Srikandi, Jaringan Kerja WarnaWarni, atau Persatuan Lesbian Indonesia. Semua institusi di atas mengadakan advokasi, seminar, pendidikan tentang hakhak politik dan sosial, kampanye anti narkoba  dan bahaya HIV, pemberian beasiswa, hingga kegiatan pengajian.  

Keberadaan komunitas LGBT so pasti bikin resah masyarakat. Kehadirannya bukan sekedar kumpul bareng. Tapi juga ngadain aktifitas kampanye dibarengi dengan edukasi kalo LGBT itu dianggap normal dan nggak perlu risau untuk tunjukkan jati diri. Walhasil, remaja yang labil dan latah trendi gampang banget terpengaruh. Apalagi kalo sudah diiming-imingi dengan duit, gadget, atau fasion model baru.

Nggak pake lama mikir dan akhirnya bergabung dengan komunitas. Ngeri! Buktinya, sekitar 3.000 pelajar di Kota Batam Kepulauan Riau diketahui sebagai lelaki penyuka lelaki (LSL). Selain di Batam, anak dengan perilaku LSL juga banyak terdapat di Tanjungpinang dan Bintan. Berdasarkan hasil survei AUSAID yang diterimanya, 700 anak usia 16-20 tahun di  Tanjungpinang dan Bintan berperilaku LSL.  (Okezone.com, 12/02/16)

 Sementara di Ciamis, ketua LSM Wisma,  Deni Wahyu, mengungkupakan, saat pihaknya melakukan pembinaan HIV/AIDS ke komunitas LSL (Lekaki Suka Lelaki), sempat terkejut ketika melihat komunitas itu di dominasi usia remaja. Dari 1440 komunitas LSL di Ciamis, ujar dia, 70 persennya  berumur 15-24 tahun. (harapanrakyat.com, 17/01/2015) Keadaan di Cirebon pun tak jauh beda. Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, Sri Maryati, jumlah gay yang beraktivitas di Kota Cirebon setidaknya tercatat 900 orang.

Dari jumlah tersebut sebanyak 70 persennya merupakan gay berusia muda. Salah satu faktor yang bikin remaja dekat dengan perillaku LGBT adalah kemudahaan mereka mengakses info seputar LGBT via sosial media atau aplikasi gadget. Awal cuman pengen tahu, lalu penasaran, temenan, akhirnya ketularan.  

Jangan Dibiarin..

 Sebagai seorang muslim, kita wajib  ngeliat masalah LGBT pakai kacamata Islam. Biar jelas penyebabnya dan ketemu solusi jitunya. Jangan terjebak oleh opini pendukung LGBT yang menghalalkan segala cara dan mengobral alasan demi membela perilaku kaumnya nabi Luth itu. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengembalikan pelaku LGBT ke jalan yang benar.

 Pertama, pelaku, masyarakat, keluarga, dan negara mesti menyadari bahwa LGBT itu menyalahi syariah, tak sesuai fitrah, dan bakal menuai banyak masalah. Itu berarti, perilaku menyukai sesama jenis yang berorientasi seksual seperti hombreng atau lesbong termasuk maksiat. Allah swt berfirman:  

“(Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya, kamu melampiaskan syahwatmu kepada sesama lakilaki, bukan kepada perempuan. Kamu benarbenar kaum yang melampaui batas’.” (al-A’raf:  80-81)

Bagi aktivis LGBT yang mendapat julukan waria, bencis, bencong, lekong, pewong, hunter, butch, stoone dan sejenisnya, rasul saw mengingatkan,  

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat kaum laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat pula kaum wnaita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari)  

Kalo perbuatan udah terkategori maksiat, udah pasti menuai mafsadat alias  musibah. Allah swt nggak main-main lho untuk mengingatkan hambanya kalo tetep ngeyel bermaksiat. Seperti kejadian pada kaumnya nabi Luth yang melakukan penyimpangan. Allah timpakan azab yang sangat besar dan dahsyat, membalikan tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri hujanan batu yang membumihanguskan mereka, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Hijr ayat 74.

Kalo udah gitu, yang kena getahnya bukan cuman pelaku dan pendukungLGBT, tapi semua masyarakat. Ngeri! Kedua, kalo udah paham dahsyatnya musibah yang bakal terjadi akibat maraknya perilaku LGBT, kita nggak boleh berdiam diri. Bukan untuk ngerecokin urusan pribadi. Tapi sebagai bentuk peduli untuk kebaikan bersama. Makanya jangan berhenti menyuarakan penolakan terhadap LGBT biar para pelaku dan pendukungnya mikir dan dapat hidayah. Kalo kita mundur karena dianggap melanggar HAM, cuekin aja.

Ingat perkataan Rasulullah saw:  “Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan,  maka akan selamatlah semuanya”.  (HR. Bukhari)

Ketiga, kalo perilaku LGBT udah marak  maka mesti ada tindakan tegas untuk mengatasinya. Di sini  peran negara sangat diperlukan untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan rakyat. Hal itu akan menjadi kendali diri dan benteng yang menghalangi muslim terjerumus pada perilaku LGBT.

Negara akan menghilangkan rangsangan seksual dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi. Nggak ketinggalan segala bentuk tayangan dan sejenisnya yang menampilkan perilaku LGBT juga akan dihilangkan. Tak lupa, Islam juga menetapkan aturan berupa hukuman berbentuk siksaan/deraan yang bersifat menyembuhkan, menghilangkan homoseksual dan memutus siklusnya dari masyarakat dengan menerapkan hukuman mati bagi pelaku sodomi baik subyek maupun obyeknya. Rasulullah bersabda :

“Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi).

Dengan tiga hal di atas, umat akan bisa diselamatkan dari perilaku LGBT dan bahayanya. Kehidupan umat pun akan dipenuhi oleh kesopanan, keluhuran, kehormatan sebagai manusial. Dan semuanya hanya bisa terwujud jika Syariah Islam diterapkan secara total di bawah naungan institusi Khilafah. Catet!

Buruan Tobat Selagi Sempat

Untuk remaja yang terjerumus dalam  komuntias LGBT atau terjerat opini sesat LGBT, buruan tobat selagi sempat. Sebelum masalah bertambah gawat. Atau ajal keburu mendekat. Caranya, mulailah dengan mengaji. Kenali Islam lebih dalam. Pahami gimana Islam ngatur pergaulan dengan lawan jenis. Yakinkan diri kalo Allah bakal bantu nunjukkin jalan keluarnya.  Seperti yang dialami oleh Sam Brodie. Meski tenar dan memiliki uang banyak, Brodie merasa hidupnya kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang. Kegelisahan ini menuntunnya dalam pencarian jati diri lagi. Saat itulah, ia berkenalan dengan al-Quran, sekitar tahun 2009.

Saat membaca isinya, Brodie tertegun karena merasa ditegur. “Saya buka Al Qur’an, ada sesuatu yang kayak bilang bahwa hidup saya selama ini tuh dosa.” Setahap demi setahap, Brodie mulai melazimkan dirinya sebagai pria. Dia meninggalkan perilaku seperti wanita. Hingga akhirnya Sam Brodie pun menikah pada tahun 2010, usai bersyahadat. Masuk Islam, menjadi muallaf. “Islam itu luar biasa, pelanpelan saya berubah. Saya merasa lengkap sekarang. I have family dan nggak kekurangan. Alhamdulillah.” Driser, kisah Brodie bisa meyakinkan kita bahwa semua orang bisa berubah. Dia bisa kembali berubah mendekat pada Allah Swt. Kata Sam Brodi, “Tidak ada kata terlambat untuk kembali,”. LGBT, buruan tobaat! [@Hafidz341]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *