Wednesday, February 19

Majalah Drise Edisi 57 : Yuk Ngaji

Bebas euy! Spontan pelajar yang baru aja beres ngikut ujian nasional berhamburan keluar kelas. Lepas  udah tekanan ujian akhir yang selama ini bikin sutris. Meski belum tentu lulus, yang penting udah lewat dulu ujiannya. Urusan bagus atau pas-pasan hasilnya, belakangan aja dipikirinnya. Sekarang mah, happy!

 Banyak cara meluapkan kegembiraan untuk merayakan berakhirnya ujian nasional (UN) yang dilakukan para siswa. Namun, yang paling banyak diliput media justru yang negatif. Perilaku yang tak mencerminkan karakter pelajar yang terdidik. Bukannya menjadi bagian dari solusi, malah terhanyut dalam euforia dan menjadi bagian dari masalah. Berikut beberapa aksi pelajar yang dianggap ritual pasca ujian nasional.

1.Corat-coret Entah siapa yang pertama kali  memulai, budaya corat-coret pelajar pasca UN seolah tak terpisahkan. Saat hari terakhir UN usai, para pelajar tanpa komando langsung berhamburan ke lapangan. Berteriak kegirangan sambil sibuk mencorat-coret baju seragam yang dipakai teman. Siswa siswi berlarian ke sana ke sini membubuhkan tanda tangan secara bergantian dengan spidol atau menyemprot  wajah, rambut, dan seragamnya dengan pylox warna-warni.

Nggak jauh beda dengan supporter bola. Aksi ini dilakukan oleh banyak pelajar di setiap daerah. Menurut mereka aksi corat-coret ini merupakan ritual rutin kelulusan para siswa sebagai kenang-kenangan terakhir. Emang abis lulus mau pada ‘pamit’?

2. Konvoi kendaraan Tak cukup dengan aksi corat-coret,   para pelajar pun turun ke jalan. Beramairamai ikut konvoi kendaraan bermotor. Tanpa helm dan seragam penuh coretan,  mereka tumpah ruah memenuhi jalan raya.  Bunyi  klakson saling bersahutan memecah kesunyian jalan. Tak ketinggalan, suara  bising knalpot racing mengusik kenyamanan para pengguna jalan.

Tak ayal, ada pelajar yang nekat bawa senjata tajam dan melakukan tindakan kriminal. Mentang-mentang banyakan, berani  membajak kendaraan umum hingga kontainer. Bahkan tak sungkan memicu tawuran dengan pelajar lain yang mereka  temui di jalan.

 3. Pesta seks Ini perilaku bejat yang tak patut  ditiru. Tahun lalu, puluhan siswa-siswi di  Kendal tertangkap basah berbuat mesum di salah satu tempat wisata yang sering dipake remaja untuk mojok bareng pacarnya.

Pasca UN berakhir, pasangan pelajar tamasya ke pinggir Pantai Muara Kencan Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah Kamis (16/4/15) hingga sore. Menjelang malam, mereka lanjut check in dan berbuat mesum.Salah satu pelajar bernama Luluk mengaku sengaja menyewa kamar hotel usai UN.

Selain itu, ada pula pelajar yang dengan malu-malu mengaku menyewa hotel untuk berbuat mesum dan melakukan hubungan layaknya suami isti dengan alasan untuk melepas ketegangan usai melaksanakan UN. Astaghfirullah!

4. Splash after class Luapan kegembiraan pasca UN  seolah jadi legalisasi digelarnya pesta bagi remaja. Demi mengusir kepenatan, tahun lalu salah satu EO di ibukota mengundang pelajar tingkat SMA dan sederajat untuk menghadiri ‘Splash after Class’. Sebuah pesta bikini summer dress yang rencananya digelar di kolam renang di hotel berbintang di Jl Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada 25 April 2015 ini undangannya beredar luas via jaringan youtube dan sosial media.

Meski akhirnya dibatalkan, namun sempat menuai kritiktan pedas dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pesta bikini, kolam renang, campur baur cewek cowok plus minumanberalkohol sama dengan memancing kemaksiatan. Waspadalah!

Buah Pendidikan Sekular

Kita nggak bisa nutup mata kalo  sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah sistem pendidikan yang sekularmaterialistik. Semua bagian dari sistem pendidikan, steril dari nilai-nilai ruhiyah yang berkaitan dengan aturan agama. Mulai dari penyusunan kurikulum, mata pelajaran, kualifikasi pengajar, hingga pola pergaulan antar pelajar.

Sistem pendidikan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan ini mandul dalam melahirkan pelajar shaleh sekaligus melek sains dan teknologi. Pentingnya pendidikan agama bagi pelajar pun cuman diganjar dua jam pelajaran dalam satu minggu. Itu pun kalo  gurunya masuk. Giliran berhalangan, cuman ngerjain tugas dan waktu bebas. Cihuuy…! Materi pendidikan agama yang lebih banyak membahas tentang ibadah ritual, makin menjauhkan pelajar dari peran agama sebagai solusi masalah kehidupannya.

Itupun sekedar transfer ilmu pengetahuan tanpa mampu membentuk (transform) katakter anak didik. Aturan Islam dipake cuman untuk sholat, puasa, berzakat, dan pernikahan plus waris. Diluar itu, pelajar buta agama dan pake cara apa aja yang penting masalahnya selesai.  Pendidikan sekuler materialis tak mampu membendung pengaruh lingkungan dan media yang mendidik pelajar untuk berbuat semaunya. Budaya permisif yang serba boleh melakukan apa saja selama tidak menggangu orang lain tercermin dalam gaya hidup idola remaja dan tayangan sinetron yang membanjiri layar kata.

Sekolah pun tak peduli dengan keberadaan nilai akidah anak didiknya. Tak ada upaya untuk mengingatkan, apalagi menguatkan. Walhasil, para pelajar nggak punya pegangan akidah yang kuat buat menilai benar atau salah perilaku kesehariannya. Yang ada di otaknya, cuman nilai materi dan kesenangan dunia. Cara apapun bakal dipake untuk meraihnya. Hawa nafsu pun dijadikan Tuhan untuk menuntunnya beresin masalah.!

Cuma Taat Kalo Ada yang Liat

Salah satu hasil pendidikan sekuler  di kalangan pelajar adalah mental “taat kalo diliat’. Kalo nggak ada yang liat, terangterangan bermaksiat. Sikap mental ini tumbuh subur lantaran empat hal: niat, sanksi, pengawasan, dan kesadaran. 

Pertama, niat. Kita pasti tau kalo niat selalu ada di balik setiap perbuatan. Terlepas apa niat itu udah direncanain jauhjauh hari atau spontan. Untuk ketaatan  pada aturan, nggak semuanyaenjoyjalaninnya. Aturan udah kadung dianggap ngebatasin gerak. Kalo ngadepin aturan, bawaan niatnya jelek mulu. Pikirnya, aturan ada untuk dilanggar, bukan untuk ditaati.

Walhasil, kalo niat udah kuat, ngelanggar aturan jadi kebiasaan. Malah perbuatan dosa pun dianggap sepele. Dari sekedar nggak shalat, nggak nutup aurat, cabut dari sekolah, nongkrong di mall saat jam belajar, mesum bareng pacar saat weekend, atau nge-fly untuk ngusir rasa penat. Cuma lantaran nggak ada yang liat. Berabe kan?

Kedua, sanksi. Sebuah aturan bakal tegak en punya power buat ngatur kalo ada sanksi yang tegas. Tanpa itu, pelajar bisa setengah-setengah taat ama aturan. Pelajar yang bermasalah, terkadang hanya diberi peringatan atau surat panggilan untuk orang tua. Saat kena razia oleh aparat pun, hanya dipulangkan setelah dikasih pembinaan. Sanksi model gini sering dianggap sepele oleh pelajar. Walhasil, nggak ada kapoknya bikin masalah.  

Ketiga, pengawasan. Ketegasan sanksi nggak punya arti tanpa pengawasan. Makanya, pengawasan yang kendor baik oleh sekolah, guru, atau sesama siswa terhadap aturan, memancing pelajar untuk berbuat semaunya. Padahal itu masih di dalam lingkungan sekolah. Beberapa video pelajar yang beredar di dunia maya, bikin kita miris. Ada yang melecehkan gerakan shalat yang diiringi lagu Maroon 5, ada aksi bully secara fisik yang dilakukan pelajar SD, atau siswi yang merokok di dalam kelas. Kalo saja sesama siswa saling mengingatkan atau melaporkan kejadian kepada yang berwenang, akan lain ceritanya. Setidaknya, ada upaya untuk mencegah perilaku negatif dari pelajar.  

Keempat, kesadaran. Ini gerbang terakhir sebelum seeorang ngelanggar aturan. Niat udah kuat, sanksi nggak ketat, yang ngawasin juga nggak ada di tempat, berarti tinggal selangkah lagi. Kalo dia sadar ada beban moral untuk melanggar atau ngerasa bakal bikin rugi semua pihak, tentu mikir-mikir lagi untuk nggak taat. Sayangnya, beban moral terlalu lemah untuk mencegah pelanggaran. Di zaman nafsi-nafsi kayak sekarang, moral udah jadi almarhum.

 Yang ada tinggal kepentingan diri sendiri dan cuek dengan sekitarnya. Nggak asyik tuh! Driser, dari keempat faktor di atas, yang terakhir kudu dapet perhatiin khusus. Yup, soalnya kalo kesadaran seseorang dilandasi dorongan yang shahih, tentu nggak gampang tergoda melanggar aturan. Mesti niat, sanksi, atau pengawasan udah kondusif. Di sinilah pentingnya kita punya kesadaran shahih yang nggak cuma ngandelin beban moral. Dan itu ada dalam Islam. Yuk!

Ngaji Bagian dari Solusi

Hanya ada satu cara untuk  memperkuat kesadaran pelajar yang dilandasi dorongan yang bener yaitu dengan ngaji. Yup, dengan mengaji kita selalu diingatkan akan kebesaran Allah dengan sifat-sifatNya yang mulia, kelengkapan syariatNya untuk mengatur hidup kita, dan kasih sayang Allah bagi hamba-hambaNya yang selalu berusaha untuk taat di segala situasi dan kondisi.

Selalu pake ukuran dosa atau pahala sebelum berbuat. Sebagai seorang muslim, kita udah sering dengar sifat-sifat Allah yang biasa dikenal dengan sebutan asma’ul husna. Keyakinan terhadap asma’ul husna ini yang mengokohkan keimanan kita kepada Allah Swt. Keimanan yang akan melahirkan kesadaran akan adanya Allah dalam setiap perilaku kita di dunia. Penting nih! Salah satu sifat Allah yang mulia itu adalah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Itu artinya,

Allah bisa melihat dan mengetahui setiap perilaku hambaNya baik di tempat terang maupun tempat yang tersembunyi. Termasuk mengetahui letak semut hitam yang berjalan di atas batu hitam  di tengah malam yang gelap gulita. Tuh kan, makhluk kecil yang tak terjangkau penglihatan manusia aja dengan mudah diketahui Allah, gimana kita yang ukurannya beberapa ratus kali lipat dari ukuran semut. Makanya aneh kalo kita selaku muslim merasa nggak ada yang ngawasin perbuatan kita saat berbuat maksiat.

Pengawasan manusia terbatas, namun pengawasan Allah unlimited! Kita mungkin udah tau celah untuk lolos dari razia polantas. Ada juga yang mahir ngibulin guru biar bisa cabut tepat waktu. Atau mungkin udah terbiasa menghilangkan jejak agar tak terdeteksi oleh pengawasan ortu. Tapi siapa yang jamin kamu bisa sembunyi dari pengawasan Allah? Nggak ada.

Kalo kamu ngerasa aman dan bebas ngelanggar aturan Allah cuma lantaran Allah nggak terlihat, siap-siaplah menghadapi rasa takutmu yang menjadi-jadi di akhirat nanti. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., tentang perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya. Allah berfirman:

“Demi kemuliaanKu, aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepadaKu di dunia, maka Aku akan memberikannnya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dariKu di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat.” (HR Ibnu Hibban)

Karena itu, agar kita nggak ngerasa  aman dari Allah di dunia, Allah udah ngasih  konsekuensi pahala dan dosa untuk ngukur ketaatan kita pada syariatNya. Kalo kita  senantiasa taat dan ikhlas dalam ngikutin tuntunan Allah dan RasulNya di hari-hari kita, kita bisa meraih pahala. Sebaliknya, kalo kita melanggar atau taat setengah hati terhadap Allah, dosalah yang kita dapetin.

Semuanya bakal diperlihatkan pada kita diakhirat nanti. Disinilah pentingnya kita ngaji. Biar melek pahala dan dosa serta sadar keberdaan surga dan neraka yang bakal mengerem perilaku maksiat saat nggak ada yang liat.  

Yuk Ngaji Tanpa Tapi

Ngaji itu hukumnya wajib. Rasulullah  saw  bersabda,“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR Ibnu Majah). Dalam hadits ini, Rasulullah saw dengan tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas setiap muslim, bukan bagi sebagian orang muslim saja, lho. Tuh, catet ya. Yang namanya kewajiban itu untuk dilaksanakan. Bukan malah dihindari biar nggak jadi beban. Kewajiban ngaji sama dengan wajibnya shalat. Tanpa tapi.

Dalam kondisi apapun, kita upayakan tetap ngaji.  Ngaji bukan hanya sebatas baca alQuran tanpa ngerti maknanya, bukan sekadar tahu hadits tanpa paham maksudnya. Ngaji juga berarti terampil  membaca fakta dan menilainya dengan ukuran Islam dan ilmu dunia untuk menunjang utuhnya pemahaman. Misalnya nih, kenapa sih kasus terorisme selalu dihubungkan dengan Islam dan umatnya? Di sini kita perlu ngaji banyak hal selain ngaji seputar ajaran Islam, yakni ilmu komunikasi,  ilmu politik, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya.

Dukungan ilmu tersebut akan membantu menyusun kepingan puzzle informasi dan opini dan menilainya dari sudut pandang Islam. Sehingga bisa menyimpulkan dengan benar dan baik. Asik juga ya? Pastinya! Ayo, kapan mau ngaji? Hubungi rohis di sekolahmu ya! Atau bergabung dengan komunitas lembaga dakwah sekolah terdekat di kotamu. Jangan sampai hari-harimu kosong dari aktivitas mencari ilmu. Terutama ilmu agama yang bisa bikin hidupmu penuh makna. Karena bahagia tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat sana. #YukNgaji sampai nanti, sampai mati tanpa tapi. Yuk! [@Hafidz341]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *