Thursday, July 9

Majalah Drise edisi 59 : Bukan ‘anak Mami’

Gadis berkerudung itu tak mampu menahan air matanya saat melihat nilai  UN-nya awal Juni 2013 lalu. Perempuan berkacama itu tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karena keberhasilannya mendapatkan nilai tertinggi di daerahnya dan termasuk tiga besar Se-Provinsi.  

Bahkan, Ia meraih nilai sempurna UN untuk mata pelajaran matematika. Mata pelajaran yang selama ini menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Impiannya melanjutkan pendidikan ke salah satu SMA di Ibukota pun terwujud.  Kini, siswi berprestasi yang baru saja lulus SMA itu muncul lagi menjadi selebgram. Sayangnya, tak ada kerudung dan kacamata.

Berbusana seksi, rambut pirang dan tato besar di lengan kanannya menghiasi penampilannya. Kontras banget dengan penampilannya tiga tahun lalu. Potret pergaulannya yang hedon, kerap menghiasi akun instagramnya.

Gaya pacaran yang vulgar, merokok, clubbing hingga pesta pora seolah menjadi simbol pergaulan remaja masa kini.   Sialnya, banyak remaja en remaji yang mengidolakan putri dari pasangan dokter ini. Kisah cintanya bak telenovela yang menjadi viral di youtube, dianggap remaja sebagai cerminan #relationshipgoal.

Meski endingnya, putus setelah lima bulan melakoni ajang baku syahwat dengan pacarnya.  Kamu penasaran siapa orangnya? Cari sendiri aja ya. Yang pasti, meski menuai banyak kecaman di dunia maya dan panen cacian di sosial media, dia tetap remaja. Sebuah potret pencarian jatidiri yang salah kaprah. Gaul, trendy, nakal, bitchy.

Bad example. Ada orang tua yang memaklumi karena pernah mengalami, tak sedikit emak-emak yang menyayangkan karena banyak remaja yang mengidolakan.  Padahal, hal-hal nyeleneh yang dia banggakan dan agungkan: body, outfit, gaul, ratu nongkrong, dan asyik – sama sekali bukan apa-apa. Nggak ada yang bisa dimanfaatkan untuk mengarungi rumah tangga dan jadi ibu.

Semua itu sudah nggak penting sama sekali. Lenyap begitu saja  seiring saya menjalani babak dan peran baru dalam hidup. You’re so young and you still have a long journey ahead of you. Setuju?

 Aku Bukan Anak Mami Lagi..

Nggak papa sih kalo remaja  pengen mandiri. Nggak mau dijulukin anak mami. Bagus malah. Biar saat dewasa, udah terbiasa hidup mandiri. Tapi, biar nggak salah kaprah, ada baiknya kita pahami dulu, seperti apa sih remaja mandiri itu? Menurut pakar psikologi, Reber (1985), remaja mandiri diartikan sebagai suatu sikap otonomi , dimana seseorang secara bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain.

Lalu dikuatkan oleh Kartini dan Dali (1987), remaja yang mandiri memiliki hasrat dan keinginan untuk mengerjakan sesuatu bagi diri sendiri. Jadi, remaja mandiri adalah perwujudan dari sikap dan perilaku yang mampu mengatasi hambatan atau masalah serta melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Nggak cuman mandi sendiri, tapi juga dalam beberapa hal berikut.  Yang pertama, emosi (perasaan).

Emosi merupakan suatu kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantung kepada emosi orang lain. Sebagai remaja yang mandiri, selayaknya mampu untuk mengendalikan emosi untuk bersikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.  

Yang kedua, ekonomi. Ekonomi yang dimaksudkan sebagai kemampuan mengatur kebutuhan yang bersifat mandiri  dan tidak memiliki ketergantungan kepada keadaan ekonomi orangtuanya.

Yang ketiga, intelektual. Intelektual sebagai upaya perwujudan kemampuan untuk memahami dan mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Kemandirian secara intelektual, tidak bergantung kepada orang lain ketika dihadapkan dengan permasalahan yang dialaminya. Selain itu, sudah memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan. Yang terakhir, kemandirian sosial. Kemampuan  melakukan interaksi sosial dengan orang lain dan tidak menunggu reaksi dari orang lain. Hal tersebut, diiringi dengan kreatifitas dan inisiatif dalam perwujudan sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, kebayang kan sekarang. Remaja mandiri bukan semata-mata memenuhi kebutuhan secara fisik (usia), melainkan kemampuan belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusan sendiri dan bertanggungjawab.  

Yang jadi pertanyaan, kalo ada remaja bilang bukan anak mami lagi tapi bertingkah semaunya, nggak peduli dengan omongan orang, bahasanya kasar tak terkendali, emosinya meledak-ledak udah gitu dengan seenaknya mengumbar fotofoto pribadi yang ‘vulgar’ di sosial media, beneran mandiri atau lupa diri? Yang kaya gini justru anak mami tulen.

Childish.  Gimana ortu bisa ngasih kepercayaan untuk hidup mandiri kalo perilakunya kekanak-kanakan?  

Jadi Remaja Mandiri? Ini yang Bener!

Kemandirian bagi remaja, emang udah haknya. Nggak boleh dibatasi, tapi dibimbing jangan sampai mereka lupa diri. Apalagi sampai nggak tahu diri. Karena remaja mandiri, justru lebih peduli. Baik terhadap dirinya, lingkungan, dan terutama masa depannya.  Bagi remaja muslim, mandiri itu sebuah kepastian. Udah sunatullah kamu pasti dapat giliran. Nggak mesti nunggu lulus SD atau SMP untuk bisa mandiri.

Islam udah jelas ngasih petunjuk kapan kamu harus udah mandiri. Dimulai ketika kamu memasuki usia baligh. Usia baligh dalam islam adalah petunjuk bagi kita untuk lebih bertanggung jawab dengan kehidupan sendiri. Karena sejak saat itu, itung-itungan pahala dan dosa yang dicatat oleh malaikat raqib dan atid udah mulai.

Dari Ali juga dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Diangkat pena (tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang : orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga ihtilam, dan orang gila hingga berakal” (HR. Abu Dawud).

Udah tahu kan ciri-ciri usia baligh? Untuk anak cowok, ciri-cirinya ihtilam atau mimpi basah keluar air mani. Dalilnya disebutkan dalam Al-Qur’an, dimana Allah ta’ala berfirman:

“Dan bila anak-anakmu telah sampai hulm (ihtilam), maka hendaklah mereka meminta ijin seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta ijin,” (QS. An Nuur : 59 )

Kalo anak cewek, dapat haidh atau menstruasi. Jangan tanya saya seperti apa rasanya haidh, karena saya belon pernah ngalamin. Hehehe…yang pasti, kedua ciri di atas menjadi awal kamu untuk belajar menjadi remaja mandiri yang bertanggung jawab atas kehidupannya baik di dunia maupun akhirat.  

Jadi, hal pertama yang harus kita pahami kenapa menjadi remaja mandiri karena ini perintah Allah. Agar kita ambil tanggung jawab setiap perkataan dan perbuatan kita di dunia. Nggak pake nyari kambing hitam atas kesalahan yang diperbuat.

Allah swt berfirman, “Tiap-tiap dari (individu) bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. (QS. Al-Mudatstsir, 14: 38)

Kedua, istiqomah dalam kebaikan, tegas menolak kemaksiatan. Remaja mandiri punya prinsip dalam bergaul. Remaja sekarang pergaulannya terjangkiti wabah sekuler. Pacaran, busana seksi, merokok, narkoba, hingga seks bebas. It’s okay to be different. Nggak ikut-ikutan seperti mereka bukan berarti nggak keren. Justru kita lebih mandiri karena punya sikap terbaik. Nggak gampang kehasut omongan orang. Tak mudah kebawa-bawa maksiat. Toh yang kita kejar ridho Allah, bukan ridho teman.  

Ketiga, bermanfaat bagi orang lain. Remaja mandiri nggak egois yang cuman mikirin dirinya sendiri. Justru dia aktif membantu orang lain. Usianya yang sudah dewasa memaksa dia untuk berfikir, gimana caranya agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

 Mungkin dia aktif bergabung di organisasi, baik di sekolah maupun di  masyarakat. Nggak mesti jadi ketuanya, yang penting bisa turut berkontribusi untuk kebaikan orang lain. Baik secara sosial kemanusian, maupun untuk mengingatkan dalam kebenaran.  

Keempat, bantu ortu. Remaja mandiri itu meringankan beban orang tua. Kalo punya adik, bantu ngurusin adikadiknya. Kalo ekonomi orang tua paspasan, bisa cari sambilan untuk membiayai kehidupannya sendiri. Syukur-syukur bisa bantu biaya anggota keluarga yang lain. Kalo orangtua berkecukupan, belajar mengatur keuangan. Yang pasti, berusaha untuk melepaskan ketergantungan  terhadap pihak lain. Terutama anak cowok  ya. Kalo anak cewek, bantu ortu dalam rangka memantaskan diri jadi istri dan ibu rumah tangga.  

Kelima, create your own future. Masa depan kita, buka orang lain yang nentuin. Tapi diri kita sendiri. Remaja mandiri ngeh banget tuh. Makanya, dia bakal pake waktu hidupnya seoptimal mungkin untuk membentuk masa depannya. Tak pernah berhenti belajar, ngasah skill, dan mengaji.  Udah sunatullah kalo masa depan itu akibat dari masa kini.

Dan masa kini adalah akibat dari masa lalu. Itu artinya, kalo semasa muda leha-leha alamat masa depan suram gak karuan. Kalo masa muda foya-foya, bisa jadi masa depan tinggal penyesalan. Kecuali di  tengah jalan insaf, terus berbenah diri. Masalahnya, belum tentu kita nyampe tengah jalan. Kalo malaikat ijroil keburu menjemput, cuman dosa yang kita dapat.  Makanya, remaja mandiri mulai dari sekarang membangun kebiasaan baik.

Dari sejak tidur hingga tidur lagi. Ibadahya digetolin, demi menjemput masa depan akhirat gemilang. Potensi terus digali biar masa depan dunia sesuai harapan orangtua. Berusaha mengukir prestasi, baik di sekolah atau dalam dakwah. Keep learn, grow, and fun. Teruslah belajar, berkembang, dengan perasaan bahagia.  Seperti dicontohkan oleh sahabat Zaid bin Tsabit. Saat zaid berusia 13 tahun, dia pengen ikut berjihad.

Tapi kata Rasul, masih terlalu belia. Akhirnya Rasul menugaskan Zaid untuk belajar bahasa Yahudi dan tulisan Ibrani. Karena kemampuannya, Zaid dipercaya menjadi sekretaris Rasul saw terutama dalam berkomunikasi dengan kaum Yahudi. Josh! Wuiih..ideal banget tuh kriteria remaja mandirinya. Emang ada yang kaya gitu? Ya bisa jadi kamu salah satunya.

Gak susah kok menjadi remaja mandiri, asalkan ada kemauan dibarengi dengan ilmu yang diamalkan. Kalo memang ngerasa udah besar, bukan anak mami lagi, butuh privasi, tetap harus jaga diri. Biar nggak kebablasan dan jadi omongan. Kuncinya, ikut ngaji biar semua aspek kemandirian kamu jadi  terasah. Baik emosi, ekonomi, sosial, maupun intelektual.

Semuanya sudah ada dalam Islam. Tinggal kita yang harus siap menjemputnya dengan mengenal Islam lebih dalam dan mengamalkannya. Ayo..kamu pasti bisa menjadi remaja mandiri. #YukNgaji! [@Hafidz341]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *