Wednesday, February 19

Majalah Remaja Islam Drise edis 56 : High Quality Jomblowati

Apa bedanya remaja dulu dengan remaja sekarang? Yup bener banget. Remaja dulu,  sekarang sudah tua. Dan remaja sekarang, dulu belum ada. Hehehe…. yang pasti, perbedaan mencolok antara remaja dulu dan sekarang adalah pola asuh.

Seriusan! Remaja dulu, terutama yang putri, jauhjauh hari udah dibimbing untuk jadi seorang istri, ibu, dan pengatur rumah tangga. Sementara remaji sekarang,  jauh-jauh hari sudah diarahkan untuk jadi selebriti, penyanyi, atau pekerjaan yang berlimpah materi. Baik karena  dorongan keluarga atau terhanyut oleh opini media. Selebrity wanna be!

Sadari Fitrahmu Sis!

Driser, sebagai manusia kita nggak  akan selamanya remaja. Kalo ada umur, pasti kita juga bakal jadi orang tua. Tambah dewasa, tambah usia. Dan satu lagi yang pasti, kita juga nggak selamanya hidup di dunia. Kalo udah waktunya, bakal meninggalkan dunia fana dan berjumpa dengan-Nya.  Selama hidup di dunia, masa depan ada di tangan kita.

Apa yang kita lakukan sekarang, bakal kita tuai hasilnya suatu saat ketika jadi orang tua. Mungpung masih remaja, terutama untuk kaum hawa segera sadari 3 peran yang bakal diemban. Sebagai istri, ibu, dan pengatur rumah tangga. Ini penting biar hidup kami bernilai dan jelas tujuannya. Sebagai istri, ini mah nggak perlu diingatkan lagi ya. Kamu pasti udah nyadar sejak baligh. Rasa cinta pada lawan jenis, bikin hidup penuh warna.

Meski belon kepikiran untuk berkeluarga, tapi udah ngerasa pengen punya belahan jiwa. Bisa  bersama-sama berbagi suka dan duka. Pacaran not recommended! Peran istri dalam keluarga yang paling penting berkaitan dengan melanjutkan keturunan alias reproduksi. Kalo saat ini masih anak-anak, suatu saat ini akan punya anak. Untuk yang satu ini, Rasul bangga banget kalo umatnya punya anak-banyak.

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I).

Seru banget kayaknya punya anak banyak ^_^ Sebagai ibu, kamu punya kepentingan untuk melahirkan generasi sholeh dan sholehah. Karena itu faktor pendidikan sangat berperan dalam menjalankan kewajiban sebagai ibu. Sedari kecil, udah mesti siap dengan urusan yang ribet dan repot oleh si kecil. Karena nggak ada ceritanya anak baru lahir terus udah bisa buang air sendiri. Ngeri! Mendidik anak memang tak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Semuanya bisa kita jalanin dengan belajar dari orang tua juga teladan shahabiyah. Siapkan waktu lebih banyak untuk ngikutin perkembangan anak dari hari ke hari.

Itu fitrah seorang ibu. Jangan sampai jadi ibu setengah tiang, eh ibu setengah hati. Jalanin peran ibu sekedar sambilan. Ngerasa udah berjasa besar dengan melahirkan. Selanjutnya, sehari-hari biar si bibi aja yang urus.  Padahal, Ibu memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter anak. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak.

Ibu adalah sosok yang sangat dekat, yang pertama kali berinteraksi dengan anak. Bagaimana jadinya seorang anak jika ibu lebih memilih karir di luar rumah?  Sebagai pengatur rumah tangga, kamu punya kuasa agar suasana rumah nyaman dan para penghuninya betah di rumah. Meski nggak terjun langsung beres-beres rumah, setidaknya bisa mengarahkan ART untuk merapikan dan membersihkan tempat tinggal. Idealnya sih, kamu banyak turun tangan ikut mengatur rumah. Biar kecipratan pahala kalo suami dan anak-anak ngerasa nyaman menghabiskan waktu di dalam rumah. Asyik kan?

Yuk Pantaskan Diri

Driser, Rasul pernah bersabda,  Rasulullah Saw. bersabda : Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. (HR. Muslim).Hadits ini ngingetin kita tentang masa depan. Siapa yang nggak ngiler dengan perhiasan dunia. Dan ternyata, sebaik-baiknya perhiasan dunia itu wanita sholehah. Itu kamu sis!  Salah satu ciri wanita sholehah itu memantaskan diri untuk menjadi muslimah sejati. Sadar dengan perannya di  masa depan sebagai istri, ibu, dan pengatuh rumah tangga.

Makanya dari sekarang ayo pantaskan diri menjadi muslimah sejati. Biar bisa masuk kategori sebaik-baiknya perhiasan dunia. Yuk! Driserwati, mulai deh asah beberapa kebiasaan biar masa depan kamu cerah. Ingat, apa yang terjadi di masa depan itu akibat perilaku kita di masa lalu. Apa yang terjadi hari ini, akibat kelakuan kita kemarin. Jadi, biar masa depan sebagai muslimah sejati sukses, beberapa keterampilan mesti kita kuasai.  Sebagai istri, kamu harus pandai menyenangkan suaminya kelak.

“Sebaikbaik isteri ialah yang menyenangkan-mu ketika engkau menatapnya, mematuhi-mu ketika engkau perintah; dan ketika engkau pergi, ia menjaga kehormatan-mu, yaitu dengan menjaga dirinya dan juga hartamu”. (H.R. Ath-Thabrânî. Lihat Al-FathulKabîr juz III hal. 126 no.: 3294)

Untuk urusan dandan, kayanya kamu lebih paham ya. Gimana berpenampilan menarik di hadapan suami. Tidak apa mengasah kemampuan untuk tampil menawan dengan balutan fashion yang nyaman dipandang namun tetap ngikutin kaidah syara. Nggak berlebihan.  

Oh ya, jangan sepelekan juga  kemampuan memasak untuk orang-orang  tercinta lho. Jangan sampai udah merit, disuruh masak lauk pauk harus tanya mbah google dulu. Giliran suami minta masakan yang enak, langsung ngibrit ke restoran terdekat.  Jadi, mulailah belajar masak dari sekarang. Recokin ibu di dapur saat lagi masak. Kalo perlu, bantu-bantu siapin bumbu. Sesekali, buat masakan spesial untuk orangtua atau saudara. Semakin banyak berlatih, semakin piawai kita menyajikan hidangan istimewa untuk suami tercinta. Urusan rasa, biar juri chef yang menentukan.

Eh.. ^_^  Sebagai ibu, kedekatan dengan anak jadi hal mutlak. Targetnya, setiap anak-anaknya yang lahir ke dunia ingin menjadi anak shalih shalihah dan generasi yang baik. Untuk itu, mulailah belajar mengenali karakter anak sedari lahir, balita, batita, abg, remaja, hingga dewasa dan bagaimana mendidik mereka sesuai tahapan usianya. Ya, meski sebatas informasi karena belum punya anak, tak ada salahnya mulai nabung wawasan. Syukur-syukur kamu bisa ikut rembug ngajarin anak-anak ngaji atau ngajar di PAUD.

Jadi mulai mengenal dunia anak. Ingat, mendidik anak adalah investasi akhirat. Catat! Sebagai gambaran hasil didikan ibu yang sholeh, tercermin dari kisah shahabiyah Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu anaknya masih remaja, Usianya baru 13 tahun. Dengan pedenya, itu anak datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah menolaknya karena saat itu syarat usia  anak laki-laki untuk perang adalah 15 tahun. 

Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Dia adalah Zaid bin Tsabit r.a. Keren! Terakhir, sebagai pengatur rumah tangga kamu bisa mulai membiasakan diri bersih-bersih ruang keluarga, kamar tidur hingga pekarangan rumah. Rasulullah saw. memuji seorang istri yang pandai merapikan rumah dengan mengatakan,

Ia tidak memenuhi rumah kita dengan sarang burung.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Jangan lupakan juga untuk belajar ngelola keuangan. Soalnya, nanti kamu bakal terima nafkah dari suami untuk kebutuhan sehari-hari. Mesti pandai mengatur pengeluaran biar cukup. Karena bisa jadi penghasilan suami tak seberapa besar. Dari sekarang bisa mulai membiasakan diri menyusun daftar rencana pemasukan dan pengeluaran dalam satu bulan, dengan prioritas pengeluaran yang dianggap paling penting. Good luck sis!

Jadi High Quality Jomblowati

Driserwati, kalo kamu sudah  nyadar peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga kelak, plus getol memantaskan diri menjadi muslimah sejati, tinggal tunggu datangnya sang buah hati. Ini yang lumayan perlu kesabaran. Tak ada yang tahu kapan datangnya. Masih menjadi sebuah misteri.  Menyiapkan diri untuk menyambut masa depan bisa dilakuan setiap remaja putri. Belajar memasak, berdandan, atau bantu-bantu ibu rapikan rumah.

Itu standar banget kalo mau jadi pasangan yang baik kelak. Namun, ada nilai lebih yang bikin kualitas jomblowati kamu tinggi tak tertandingi.  Kuncinya ada dalam pemaman Islam kamu. Yup, Rasul udah ngingetin kaum adam dalam sabdanya kalo nyari pasangan hidup. Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata:

 “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan  beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.

Hadits di atas jelas-jelas ngasih tahu kita kalo high quality jomblowati itu dilihat dari agamanya. Bukan sekedar Islam KTP. Tapi pemahaman terhadap Islam yang akan memberikan kebaikan pada dirinya, keluarganya, lingkungan sekitar dan kelak keluarga kecilnya.  Jomblowati yang paham agama nggak akan mengumbar aurat dengan dandanan menor bin seksi. Dia akan berusaha menjaga kemuliaannya dalam balutan busana muslimah yang sempurna.

Nggak pake parfum yang bikin jakun kaum adam naik turun ketika mencium wanginya yang menggoda. Nggak juga memamerkan foto selfie yang sok imut bin kiyut khas alay semaput.  Jomblowati yang paham agama nggak akan tinggal diam dengan kondisi umat yang tengah terpuruk. Belajar agama bukan semata untuk perbaikan diri dan pembekalan menjadi istri. Tapi sebagai bagian dari aktifitas dakwah. Menyeru umat pada kebaikan dan  mencegah mereka dari kemunkaran.  

Mulai dari sekarang, ayo kejar predikat jomblowati berkualitas tinggi. Ikut ngaji, demi mengejar ridho illahi. Ketika keluar rumah berbusana syar’i. Tak lupa menjaga jarak pergaulan dengan laki-laki. Plus menjaga diri dari virus merah jambu yang menyerang hati. Biar tak terjerumus dalam budaya pacaran meski dikasih label islami.  Phew!..Berat banget ya? Hehehe….itu pilihan sis. Pilihan terbaik yang tak boleh kamu lewatkan. Itu juga kalo kamu mau jadi high quality jomblowati. Yang disayang Allah dan penduduk bumi. Bonusnya, Insya Allah bakal dijemput pujaan hati sholeh yang kelak jadi suami. Mau? #YukNgaji! [@Hafidz341]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *