Monday, December 9

Marching band militer yang tertua di dunia

Marching band militer yang tertua di dunia dRiser sekalian pasti udah pada ngeh dong dengan yang namanya Marching Band alias Orkes Barisan. Biasanya tuh banyak remaja en remaji yang ikut ekskul marching band di sekolahnya. Latihan berbaris bukan pasukan pengibar bendera. Lantaran masing-masing bawa alat musik.

Merekalah yang disebut orkes barisan, karena memang terdiri dari barisan orangorang yang memainkan lagu dengan  menggunakan sejumlah kombinasi alat musik secara bersama-sama. Selain alat musiknya  yang bermacem-macem, seragam dengan  kombinasi warna-warni tabrak lari yang  digunakan marching band selalu memancing perhatian.

Kenapa nggak satu warna aja? Kok  warna warni ngejreng dan agak mirip seragam militer? Jawabannya karena awalnya  marching band memang dibentuk untuk mengiringi dan meningkatkan semangat pasukan yang berperang. Tau gak si loh!

Marching band militer yang tertua di dunia

Marching band militer yang tertua di dunia adalah marching band dinasti Utsmaniyah, yang di barat dikenal dengan mehter. Mehter berasal dari bahasa persia, mahtar, yang sebenarnya merujuk pada satu orang musisi, sedangkan untuk menyebut band digunakan kata mehteran atau mehterhane. Mehteran juga sering disebut sebagai janissary-band, karena merupakan bagian dari korps elit janissary. Instrumen-instrumen standar yang dimainkan oleh mehteran adalah kos (timpani besar), davul (drum bass), zil (simbal), zurna (sejenis oboe) , boru (sejenis terompet) dan cevgan (tongkat dengan lonceng-lonceng kecil).

Kostum yang dikenakan mehteran walaupun bervariasi tapi hampir selalu colorful dan ngejreng. Konon, mehterhane pertama dikirimkan oleh sultan Seljuk Alaeddin Keykubad III kepada Osman I, Sultan pertama dinasti Utsmaniyah pada tahun 1289 M sebagai hadiah dan tahniah atas berdirinya dinasti baru tersebut. Sejak saat itu mehterhane kemudian menjadi simbol kesultanan Utsmaniyah. Band mehter paling dikenal karena penampilannya di medan perang mengiringi pasukan elit janissary.

Tujuannya untuk memainkan musik yang keras hingga menciutkan nyali lawan dan sebaliknya meningkatkan semangat kawan. Maka tak heran jika musik mehter diasosiasikan dengan musik peperangan.Ketika Christian Schubart, seorang penyair Jerman mendengar musik band mehter, ia menuliskan bahwa musik yang ia dengar “sangat bernuansa perang, bahkan bisa membuat jiwa-jiwa yang pengecut mendadak jadi pemberani”.

Keberadaan mehter di medan perang ternyata memang memberi pengaruh yang hebat pada pasukan Eropa, yang belum pernah mendengar bunyi simbal dan drum yang begitu memekakkan telinga. Apalagi ditambah dengan bunyi ledakan senapan blunderbuss dan dentuman meriam, pasukan musuh pun kocar-kacir tak karuan.

Makanya tak heran, negara-negara Eropa mencontek penggunaan marching band di medan perang. Augustus II dari Polandia (bertahta tahun 1697-1704) adalah penguasa pertama di Eropa yang menggunakan marching band yang terinspirasi dari mehterhane.

Trend ini pun menyebar ke negara-negara Eropa. Walaupun identik dengan militer, musik mehter tidak hanya dimainkan dalam peperangan lho. Mehteran juga tampil dalam berbagai upacara dan perayaan kenegaraan. Selain band resmi negara, ada juga band-band mehter non-official yang lebih kecil yang tergabung dalam guild-guild. Mereka biasa tampil dalam resepsi pernikahan, juga pada  saat melepas jemaah haji.

Duta-duta besar dan pejabat-pejabat provinsial juga memiliki band mehter sendiri, bahkan kaum sufi pun memainkan musik mehter.  Mehteran Utsmani  tampil di kota Vienna selama beberapa hari setelah ditandatanginya perjanjian Karlowitz pada tahun 1699. Selanjutnya duta-duta besar yang dikirim ke negara-negara Eropa barat membawa serta band mehter masing-masing. Abad 18 M, Eropa mulai gandrung dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Turki Utsmani. Fenomena ini dikenal dengan Turquerie, atau Turkomania.

Orang-orang Eropa meminum kopi Turki dengan memakai jubah Turki. Kaum aristokrat dilukis dengan mengenakan busana khas Turki, menghiasi rumah mereka dengan motif-motif Turki, bahkan mereka membaca terjemahan “Seribu Satu Malam”, padahal bukan berasal dari Turki. Termasuk dalam bidang musik klasik, mehter pun menancapkan pengaruhnya di Eropa.

Komposer-komposer top sekelas Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, dan  Ludwig van Beethoven sekalipun, menelorkan karya yang terinspirasi dari, atau didesain untuk meniru musik mehter. Salah satu contohnya adalah Rondo Alla Turca, yang dikarang oleh Mozart dan Marcia Alla Turca, karangan Beethoven. Mantabs!  

Memang kenyataannya sebuah negera yang kuat, pasti peradaban dan kebudayaannya akan dicontek oleh negaranegara yang lebih lemah. Makanya, sekarang  ini banyak yang membebek budaya barat, itu karena negara-negara barat sedang kuat,  sehingga budaya barat itu dianggap maju dan modern.

Fenomena itu pula yang terjadi  dahulu ketika negara Islam sedang jayajayanya, kebudayaannya pun menjadi trendsetter, ditiru oleh negara-negara Eropa.  Semoga info ini makin menambah kecintaan  kita pada kemuliaan Islam. [Ishak]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *