Thursday, July 2

Membumikan Al Quran Ala Pakistan

Langit selalu sama.  Ia menampung siapa pun untuk dinaungi dan menggantungkan harapan. Hari ini aku  menitipkan harapan yang tinggi kepada ilahi robbi dan memulai hidup baru di sini, negeri seribu cahaya. Sebagai seorang pemuda yang haus ilmu dan pengalaman, Pakistan bukan pilihan paling ideal, tapi tidak juga buruk.

Namun sesuatu yang menakjubkan hadir di sini.  Aku menginjakkan kaki di Pakistan tepatnya kota Islamabad guna melanjutkan studiku di bidang Islamic Banking & Finance di International Islamic University Islamabad. Sejak bulan Juli 2013 lalu aku mengawali hidup di negeri orang, yang kini sudah semester 6 dalam perkuliahan.

Pakistan tentu tidak seluas Indonesia, tapi bukan berarti perilaku dan budayanya homogen. Berbagai peristiwa politik, aneka budaya, pendekatan bahasa, memberi efek kejut bagiku pada awalnya. Namun aku cepat beradaptasi. Sesekali aku menghabiskan waktu melaksanakan hobi di bidang olahraga maupun travelling.

Hobi yang satu ini banyak juga manfaatnya. Salah satunya memudahkanku bergaul, berbaur dan mengenal bangsa-bangsa. Nilai-nilai keislaman di Pakistan memang kental. Suatu kali aku bersafar yang akhirnya membuatku hilir dari satu bagian distrik ke distrik berikutnya. Sebagai seorang pendatang dari Indonesia yang ‘apa adanya’pemandangan unik di Pakistan ini menggelitik spiritualitasku.

Bagaimana hati tidak senang, pikiran tenang, sebab banyak distrik di Pakistan lekat dengan Al-Qur’an. Masjid atau surau mereka ramai dengan para penghafal al-Quran. Baik yang masih kecil, berumur muda, dewasa, juga lansia. Kalau pemandangan seperti ini, bisa dibilang langka di Indonesia. Kecuali kita menyengajakan diri datang ke Pesantren atau saat Ramadhan tiba. Sedangkan di sini, membaca dan menghafal Al-Qur’an itu sudah seperti kebutuhan, seolah makan dan minumnya kehidupan.  

Rahasianya terletak pada pembiasaan keluarga muslim di rumah- rumah yang berlanjut kepada habits sosial.  Bisa dibilang, orang tua malu jika anaknya tidak pandai mengaji, tidak berangkat ke surau, seolah itu aib.

Bedakan dengan budaya Indonesia yang tentu masih jauh dari gambaran ini. Bukannya tidak bangga jadi orang Indonesia, tapi kita sudah sepatutnya iri dengan kebaikan orang lain, apalagi jika  sudah sampai kepada tatanan komunitas. Wah kayaknya keren ya kalau Indonesia menyalakan gerakan cinta Al-Qur’an seperti ini.

Beberapa waktu yg lalu saya mengunjungi salah satu tempat dimana anak-anak menghafal qur’an saya pun berkesempatan untuk sedikit sharing dengan mereka dan gurunya. Mereka mulai menghafal al-quran pada umur 5-15 tahun. Program dimulai dengan membaca huruf hijaiyah-qur’an- dan start mulai menghafal. Untuk program tahfiz maksimal 2 tahun sudah selesai 30 juz.

Di sini mereka tidak dipungut biaya sepeserpun. Semengara gurunya tidak ada persyaratan yang harus dia penuhi asalkan sang anak siap dan ingin bersungguh sungguh menghafal dan mengaplikasikannya di kehidupan seharihari, dengan kegiatan yang full seharian untuk menghafal quran mulai subuh hingga isya.

Satu lagi yang aku sukai dari karakteristik orang sini ialah kebiasaan mereka dalam memuliakan tamu. Tanpa memandang warna kulit, kasta sosial, maka tamu yang berhadir dijamu seperti raja layaknya saudara dekat mereka sendiri.

Makan dan minum yang enak, yang kadang mereka pun jarang menikmatinya. Sematamata ingin tamunya senang dan kerasan.  Sehingga persaudaraan akan tumbuh dengan sendirinya. Keramah-tamahan itu tentu tidak sekedar basa basi melainkan terlihat nyata.  Itu juga yang membuatku rindu dengan tempat ini.  

Bukan berarti, Pakistan sepi dari masalah ya. Pergolakan politik, kesenjangan sosial, termasuk migrasi rakyat Afghanistan ke Pakistan tentu menjadi sorotan tersendiri. Isu Sunni-Syiah juga kerap menjadi perbincangan. Pergolakan politik Pakistan yang turun naik terkait pemerintahan, namun lebih banyak menyangkut kepada keamanan, perihal terorisme.  Sudah wajar di sini apabila suatu saat datang informasi dari KBRI Islamabad untuk tidak pergi ke suatu tempat atas informasi intelejen Pakistan bahwa tempat tersebut akan terjadi penyerangan dari berbagai kelompok dengan berbagai ideologi, seperti Taliban Pakistan yang bermarkas di North Waziristan.

Tidak selesai sampai di situ, masalah refugee Afghanistan menambah tingginya tingkat kesenjangan sosial di Pakistan dikarenakan mereka tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Konflik Sunni-Syiah yang kerap terjadi ketika hari 10 Muharram dan Hari maulid nabi Muhammad SAW sering memicu insiden tembak menembak ataupun bomb blast yang  tidak dapat terhindari. Saya berkeyakinan bahwa Ilmu bisa di timba darimanapun asalnya dan ajal akan menjemput dimanapun kita berada entah di daerah yang aman maupun daerah yg bergejolak konflik seperti di Pakistan.

Namun justru ini menjadi tantangan kami semua untuk semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta dan semoga apapun tantangan yg sedang saya hadapi di sini menjadi pelajaran dan memudahkan jalan kedepannya untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Aamin ya Rabbal’alamiin. [Seperti yang dituturkan Aldila Putra Ramadhan kepada Redaksi/Alga Biru]  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *