Friday, May 22

Mengapa Nabi orang Arab ?

Drises pernah nggak bertanya, kenapa sih kok Nabi kita orang Arab? Kenapa bukan orang Sunda  atau orang Jawa? Kalau Nabi kita orang Sunda atau orang Jawa kayaknya bakalan lebih enak deh, kita bisa memahami wahyu Allah pake bahasa Sunda atau bahasa Jawa. Pokoknya pake bahasa yang langsung bisa kita ngerti.

Hehehe, tapi itu cuma khayalan kita doang, karena kenyataannya Nabi kita, Rasulullah Muhammad Saw., adalah orang Arab. Dan kenyataan bahwa Nabi kita berasal dari Arab ternyata memiliki hikmah yang sangat banyak lho. Apa aja sih hikmahnya? Let’s cekidot! Pertanyaan, kenapa sih Nabi kita orang Arab, sebenernya udah dijawab oleh Allah Swt. sendiri melalui firman-Nya di dalam Alquran surah al-An’am ayat 124.

Ayat itu menyatakan: “Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulanNya.” Nah, jadi jawaban atas pertanyaan tadi adalah, wallahu a’lam, hanya Allah yang mengetahui. Tetapi tentu saja nggak sembarangan Allah mengutus Nabi-Nya di tanah Arab dan nggak sembarangan juga kenapa Allah menjadikan Nabi-Nya yang pamungkas berasal dari bangsa Arab. Kalo ada orang nyari pegawai buat perusahaannya, pastinya nggak mau dong orang sembarangan. Nah tentunya nggak sembarangan juga kenapa Nabi kita orang Arab.

Para ulama dan sejarahwan Muslim menelusuri jawaban tentang mengapa Nabi kita orang Arab. Di dalam Alquran surah at-Taubah ayat 97 Allah Swt. menjelaskan: “Orang-orang Arab Badui itu lebih kuat kekafiran dan kemunafikannya dan sangat wajar mereka tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.” Terus apa hubungannya fakta tentang orang Arab Badui ini dengan pertanyaan kenapa Nabi kita orang Arab?

Di dalam ayat itu, Allah sendiri yang mengabarkan bahwa masyarakat tempat diutusnya Rasulullah Saw. adalah masyarakat yang sangat kafir dan sangat munafik. Jangankan mengenal hukumhukum Allah, bahkan mereka hampir nggak punya peradaban. Untuk hal-hal paling sederhana saja bahkan mereka harus diajari. Misalnya, tersenyum, orang-orang Arab  Badui sangat jarang tersenyum. Kebayang banget gimana sepetnya tu muka, dan Rasulullah Saw. datang kepada mereka  kemudian mengajarkan bahwa tersenyum itu adalah sedekah. Contoh lain, orang Arab Badui bahkan harus diajarkan mencium anak-anak mereka.

Padahal kalau di sini kita kan udah biasa banget mencium anak atau adik kita. Suatu kali, ada seorang dari Arab Badui yang datang kepada Rasulullah Saw. Saat itu, Rasulullah sedang bermain dengan cucunya. Terlihatlah canda tawa mereka, dan Rasulullah mencium cucu-cucunya itu. orang Arab Badui ini terlihat heran saat menatap Rasulullah mencium cucu-cucunya. Dia kemudian bertanya:

“Apakah engkau juga melakukan ini wahai Rasulullah?” (maksudnya mencium anak kecil). Nabi pun heran dengan pertanyaan model begini, lha wong orang nyium anak kok ditanya. Maka Rasulullah pun balik bertanya: “Apakah engkau tidak punya anak?”

Si Arab Badui ini  menjawab: “Aku punya sepuluh orang anak dan aku tidak pernah sekali pun menciumnya.” Maka Rasulullah segera menyuruh orang itu pulang ke rumahnya dan mencium anaknya. Beliau bersabda: “Aku takut rahmat akan dicabut dari hatimu.”

Begitulah keras dan bengisnya masyarakat tempat pertama kali Rasulullah diutus. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan, apabila Islam sanggup mengubah masyarakat yang kasar dan keras ini menjadi masyarakat yang indah, yang dari mereka terlahir para pemimpin luar biasa, dan lahir sebuah negara besar yang juga luar biasa, tentunya Islam pasti akan bisa mengubah bentuk masyarakat di luar jazirah Arab yang tidak serusak orangorang Arab Badui.

Islam telah diujicoba dalam sebuah masyarakat yang disebut oleh Allah sangat kafir dan sangat munafik, dan Islam berhasil mengubah mereka menjadi masyarakat baru.

Tentunya hanya Islam pula yang sanggup untuk mengubah negeri ini dari keadaan yang rusak dan bobrok, menuju keagungan dan kemuliaan. Perjuangan dan perubahan terletak di dalam genggaman tangan kita, generasi Islam.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *