Saturday, July 25

Mengenal Dunia Editor 3 : Melek Kerja Editor

Driser jika kamu sudah dapet info dari penerbit bahwa naskah tulisanmu lulus seleksi sekaligus  mereka siap nerbitin karya kreatifmu jadi buku, siap-siaplah jika editornya menghubungi kamu, minta ketemu secara langsung. Jika gak bisa kopdar, mungkin pake teknologi informasi via sosmed aja juga bisa mewakili.

Biasanya, editor (yang diwakili managing editor and senior editor) ngajak kamu brainstorming soal proses kreatifmu nulis naskah buku yang akan diterbitin itu. Selain itu, Si Editor juga bakalan ngajak diskusi, apa yang penulis inginkan dengan buku yang bakal diterbitin itu. Soal editingnya, kemasannya sampe urusan promo marketing dan yang pasti soal itungitungan kontraprestasi atas buku yang bakal terbit itu.

Apakah mau plat fee, royalty atau semi-royalty?  Kalo sudah deal, baru deh, pihak penerbit mengeluarkan SAN (surat akad naskah) jika plat fee atau SPP (surat perjanjian penerbitan) jika disepakati dengan sistem royalty atau semi royalty.  Dalam perjanjian itu, biasanya juga dicantumkan soal hak dan kewajiban yang mengikat kedua belah pihak antara penulis dengan penerbit. FYI bagi para penulis pemula, khususnya bagi yang baru pertamakali nerbitin buku, bagusnya ga usah ngeributin soal kontrapretasi itu.

ikutin saja apa maunya penerbit. Kalo kamu sudah ribet soal ginian, alamat editor males ketemu lagi sama kamu. Tapi kalo kamu sudah punya passion yang bagus (dengan buku-bukumu yang bestseller), kamu tentu punya bargain yang bagus pula, daya tawar kamu untuk minta “lebih” dan diistimewakan pun, pasti difasilitasi oleh penerbit.  Selanjutnya jika soal perjanjian ini sudah disepakati, maka Si Editor itu akan segera menggarap naskahmu itu sesuai hasil brainstorming denganmu sebagai penulisnya.

Hal ini penting bagi seorang editor untuk mengetahui latar belakang kamu menulis naskah buku yang dimaksud. Istilah redaksinya adalah review book story!  Sebelum mulai mengedit naskahmu itu, seorang editor harus memahami terlebih dahulu content dan context dari naskah buku yang akan dieksekusinya itu.

Meminjam istilah pakar perbukuan nasional, Pak Bambang Trimansyah, “seorang editor yang baik itu dia harus bisa bersetubuh dengan buku yang dieditnya…”  Kalo Si Editor sudah memahami isi naskah sekaligus pesan yang hendak penulis sampaikan dalam  bukunya itu, maka dia akan merasa nyaman dan asyik saat mengedit naskahmu itu karena dia telah konek dengan karakter tulisanmu dan apa yang kamu mau.

Perlu kamu-kamu ketahui juga, dalam mengedit naskah buku, sedikitnya ada dua orang editor yang terlibat dalam proses editingnya, yaitu senior editor dan junior editor. Bahkan, dalam beberapa kasus, chief editor dan managing editor juga bisa turun tangan. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan di meja redaksi.

Saat proses editing, para editor berpanduan pada teknik editologi yang lazim di dunia penerbitan, plus dengan bahasa selingkung yang ada di masingmasing penerbit. Mereka berbagi tugas sebagaimana job desk and skill masingmasing editor. Senior editor melakukan substantive editing (penyuntingan isi) dan mechanical editing (penyesuaian tata bahasa dan EYD), sedangkan junior editor biasanya mengerjakan mechanical editing  sekaligus proofreading ato menyelaraskan  kembali teks, khawatir ada yang terlewat  saat proses editing di tangan senior editor.

Selain mengandalkan keterampilan dalam mengedit naskah buku, para editor juga dilengkapi dengan “arsenal tempur” yang wajib bin kudu selalu ada di meja redaksi, yaitu kamus; baik kamus bahasa Indonesia, kamus bahasa asing ataupun kamus bahasa daerah. Begitupun saat teknologi telah maju berkembang, kamus digital juga harus siap sedia sebagai amunisi bagi para editor. Nah kini, mungkin gak, ya, seorang penulis juga bisa berprofesi ganda jadi seorang editor? “Sangat mungkin!” itu jawaban lugas master editor di Penerbit Mizan Pustaka, Pak Hernowo Hasim. Guru editor saya ini bilang, seorang editor itu sebaiknya terampil menulis dan cakap bicara, karena dia juga punya tanggung jawab untuk ikut menyuarakan dan mempromosikan buku hasil editannya ke khalayak luas. Tuh, kan? Catat! []

Belajar Jadi Penulis sekaligus Editor

Kini, saya mo berbagi tips bagi D’Riser semua agar terampil menulis sekaligus taktis menyunting buku:  

  1. tulis sudah kelar, kalo baru bab niat mah payah dah, segera beresin dulu tulisanmu?!;  Kamu pastiin dulu naskah yang kamu  
  2. naskahnya, terus dicek dan periksa lagi naskah tulisanmu dengan baik, baca dengan sungguh-sungguh, siapin pula alat tulis jika kamu mau ngoreksi atau nambahin ini-itu;  Kalo sudah kelar nulisnya, print out deh  
  3. hasil baca and koreksiannya tadi ke dalam tulisanmu di layar PC, atau gadget yang biasa kamu pake nulis;  Kalo sudah ngerasa puas, silahkan input  
  4. sudah ngerasa nyaman sama tulisanmu, ajak orang-orang terdekatmu atau orang kepercayaanmu jadi first reader tulisanmu, jangan lupa minta masukannya;  Baca lagi, periksa lagi, koreksi lagi.
  5. Kalo difollow-up, tapi kalo dapet kritik, jangan menyerah… revisi lagi, nulis lagi, edit lagi…  Kalo dapet masukan konstruktif, segera  Selamat…kamu sudah belajar jadi seorang editor![]  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *