Saturday, October 19

Mengupas Mitos write’s block bagian 2

sebelumnya kita bahas Mengupas Mitos write’s block bagian 1 bisa cek tulisanya sekarang kita lanjut

So, apa seh tahapan sebelum nulis itu? Neh, saya kasi bocoronnya, ya…. Jujur aja, teori ini didasarkan pada fakta  empirik yang lazim dialami oleh para penulis, termasuk Dan Brown ataupun J.K. Rowling sekalipun!

Pertama, menentukan ide; Kedua, menyiapkan referensi atau sumber bacaan; Ketiga, menentukan arah atau tujuan; Keempat, menentukan media yang akan dituju; Kelima, menentukan khalayak sasaran yang akan dituju via tulisan yang kita bikin. Soal ide tulisan, dah gak zaman kalo ada orang ngaku gak punya ide, apalagi kalo penulis ngaku gak punya ide tulisan. Wah, dia pasti boong abis. Kok bisa?

Iya atuh, karena setiap orang yang masih mampu berpikir dengan baik, maka dia punya banyak info yang bisa dia komunikasikan pada orang laen, baik secara lisan maupun lewat tulisan.  Selama pancainderanya masih ada yang berfungsi maka dia punya banyak hal yang bisa dia share pada banyak orang.  14 Artinya, apa yang masih bisa kita liat, kita denger, kita rasakan, semua itu merupakan amunisi ide yang dapet kita ledakkan kapan pun kita mau! Ide paling unik, antik sekaligus orisinil adalah pengalaman hidup kita sendiri.

Pengalaman itulah yang bisa kita ceritakan pada orang laen lewat lisan atopun tulisan.  Sebagai contoh, liat tuh, Aries Nugraha yang sukses dengan sinetron Bajaj Bajuri-nya. Doi sukses berat dengan komedi situasi yang tayang di tv swasta nasional itu berkat naskah skenarionya yang kocak, koclak plus konyol. Om Aries ngaku bahwa ide sinetronnya itu berasal dari pengalaman dia sendiri dan keluarganya.

Doi ngaku bahwa Si Bajuri itu, ya refresentasi Om Aries sendiri. Bagi Aries Nugraha, pengalaman adalah gudang ide yang gakan abis dieksplorasi.     Nah, lho, masih ngaku gak punya ide? Awas, jangan boong, lo! Lanjut, ah. Kalo ide udah dapet, kita kudu nyiapin reference, maroji’ ato sumber bacaan! Bahasa kerennya adalah sumber  literatur berupa setumpuk buku dan kitab-kitab klasik. Bila perlu semua koleksi buku kita keluarin semuanya.

Sebagai contoh, kalo kita mo nulis soal politik ekonomi Islam vis a vis politik ekonomi sekular, maka kita gak sekadar nyiapin kitab Nizhom Iqthishodi fil Islam-nya Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail atau Iqthishoduna-nya Muhammad Bakr ash-Shadr. Tapi juga, buku klasiknya Adam Smith, The Wealth of Nations dan sekaligus antitesanya, Das Kapital-nya Karl Heinz Marx. Pokoknya, top markotoplah! Kalo kita masih ngerasa kurang reference, gada salahnya  kita menyambangi perpustakaan atau surfing di situs-situs internet, penyedia layanan pdf buku-buku yang kita buru.

Asyik, lho, kita bisa milih yang gratisan ato kalo punya modal lebih, gada salahnya ngambil yang berbayar, dijamin this book isn’t corrupt alias bukunya lengkap dengan akurasi tinggi! Selain itu, untuk mengeksplor ide tulisan, jika sangat dibutuhkan, kita juga bisa sowan sama para pakar di bidang ilmunya.

Contoh kalo mo nulis soal sejarah Islam di Indonesia, sowan aja sama Prof. Drs. H. Ahmad Mansur Suryanegara di Bandung, ato kalo mo ngangkat tema sejarah nasional Indonesia, gada salahnya datang ke LIPI Pusat di Jakarta, kita bisa silah fikriyah sama Prof. Dr. Taufik Abdullah atau Prof. Dr. Asvi Warman Adam. Wah…kita ketemu sama para sejarawan beken, tuh! Kalo reference, maroji’ ama sumber bacaan dah lengkap, yakin, deh, kita gakan mengalami write’s block yang dikhawatirkan para pemula itu! Lha, iyalah, namanya juga dah lengkap.

Jadi, nulisnya pasti lancar! Niat dah ada, ide dah dapet, reference pun dah bejibun. Lanjuuut… Berikutnya, kita nentuin arah ato tujuan dari karya kreatif tulisan kita. Mo diapain dan digimanain tulisan kita bergantung pada tujuan dari tulisan kita itu. Kalo kita mo nulis opini, ya pasti kita harus beropini sebaik mungkin, dari mulai menyajikan fakta, data, berita sekaligus analisa dengan argumentasi yang meyakinkan serta didukung dengan sumber literatur dan quote para pakar di bidangnya. Dijamin, deh, tulisan kita ini bobotnya luar biasa!  Selain itu, tulisan opini gak hanya beropini tanpa ada reason.

Maksudnya adalah kita ngarep bahwa opini kita dapet membuka wawasan intelektual para pembacanya, open mind, mengedukasi plus mencerahkan, sekaligus tulisan opini kita mengajak para pembaca untuk ngikut apa yang kita tuju. Kita ngajak orang lain untuk berubah, ngajak para pembaca untuk punya perspektif dan paradigma yang sama dengan kita.

Tentu, bahasa yang dipake dalam beropini itu ga hanya deskripsi dan argumentasi. Namun juga, persuasi. Di sinilah pentingnya kita mengarahkan tujuan dalam tulisan kita. Kalo menentukan arah dan tujuan dari tulisan kita ini bermasalah, beuh! write’s block sudah menanti kapan pun kita menulis! Jadi, pastikan dulu, ya mo diapain dan digimanain, tulisan yang kita buat itu.   Berikutnya, soal menentukan media  yang akan dituju.

Hal ini juga penting diperhatikan, mengingat tulisan kita kan pengen dipublikasikan dan dibaca banyak orang. Artinya, kalo kita mo nulis opini tentang Islam, maka tulisan kita, ya dikirim ke media Islam dunk, jangan kita kirim ke media nonMuslim, ato kalo kita nulis soal bahaya pemikiran sepilis (sekularisme, pluraisme & liberalisme), eh, kita malah posting di medianya orang-orang begituan.

Wah…, ntar Jaka Sembung bawa golok, dunk! Ups! Terakhir, kita juga kudu memperhitungkan plus menentukan siapa yang jadi para pembaca tulisan kita. Kalo bahasa marketingnya adalah ada segmentasi pasar yang dibidik gitu, lho! Kita nulis kan, untuk dibaca.

Jadi, siapa yang akan baca tulisan kita kudu diperhatiin juga, layaknya seorang da’i kepada mad’unya, seperti pengajar kepada anak didiknya, bak juru kampanye kepada konstituennya, sebagaimana seorang komunikator kepada komunikannya. Itulah, komunikasi yang efektif dan tepat sasaran! Kalo kita gagap nentuin sapa para pembaca tulisan kita itu, pasti deh, write’s block akan menghinggapi proses penulisannya. Gak mau, begitu, kan?

Jadi, buruan tentuin dulu, sapa yang bakal jadi pembaca tulisan kita. Kalo dah jadi professional book writer, kita malah sudah berhitung, sapa saja yang jadi pembaca setia kita, bahkan kita bisa bikin klub pembaca karya-karya kita. Keren abis!

Ntar, dalam edisi D’Rise berikutnya, masih nyambung sama tahapan saat kita nulis, ya, agar write’s block gak jadi alasan kita gak merampungkan tulisan. Intinya, kalo kita emang niat jadi penulis, write’s block emang hanyalah sebuah mitos belaka. Saya gak mengada-ada karena kalo kita dah punya azzam yang kuat jadi penulis, Allah Swt pasti memudahkan jalannya. Fatawakal’alallah….Keep Write![]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *