Wednesday, July 22

Ngerokok kelar Hidup loe!

…Aku bukan menakutnakuti kalian. Saya cuma berkata kami adalah contoh
korban kenikmatan rokok yang mengisi waktu luang biar kita nggak stres.
Dan rasanya mantab setelah habis makan…” begitu tulisan Robby di laman
akun media sosialnya.

Robby, lengkapnya Robby Indra Wahyuda. Cowok kelahiran 12 Oktober 1988 ini mulai aktif ngepulin  asap rokok sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Akibatnya, doi divonis mengidap kanker larynk. Kanker tenggorokan akibat ngerokok sejak usia muda. Parahnya, kanker yang diidapnya sudah stadium 3. Sehingga dia terpaksa harus kehilangan pita suaranya. Nggak bisa bicara padahal dia salah satu vokalis band. Ngeri! Robby nggak tinggal diam.

Sejak Oktober 2014, Robby terlibat dalam kampanye anti rokok. Usai menjalani operasi yang meninggalkan lubang di tenggorokan akibat diangkatnya pita suara, Robby kemudian giat berkampanye antirokok. Dia kerap mengunggah fotofotonya di media sosial untuk menunjukkan betapa bahayanya dampak yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan.  Sampai akhirnya, kabar duka datang hari Selasa, 23 Juni 2015.

Di usianya yang menginjak 27 tahun, Robby menghembuskan napas terakhir setelah berjuang keras melawan kanker larynk dan paru-paru akibat kebiasaannya merokok.  Nggak cuman Robby, dari dulu rokok udah memakan banyak korban. Anggota Tim Monitoring Iklan rokok di sekitar sekolah  Hendriyani, mengatakan, sekitar 200 ribu orang di Indonesia meninggal dunia karena sakit yang disebabkan rokok.  

Parahnya, Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok aktif terbanyak ketiga di dunia. Diperkirakan terdapat 66 juta perokok aktif di Indonesia, dan 3,9 juta diantaranya adalah anak berusia 10 sampai 14 tahun. (republika.co.id, 15/06/15) Waduh!  

Rokok Kian Menjerat Remaja

Ngerokok alias ngudud bin nyemok  udah jadi rutinitas di sekitar kita. Nggak  mandang usia, status sosial, status pendidikan, atawa jenis kelamin, rokok  temenan ama siapa aja. Nggak di kampus, warteg, sekolah, dalam rumah, atau toilet, asap rokok pun ngebul dimana-mana. Padahal dulu, nggak sembarang orang bisa ngerokok.  

Waktu di SMP, temen-temen pada ngumpet di belakang sekolah pas jam istirahat agar bisa ngisep rokok. Satu batang dikeroyok rame-rame biar cepet abis dan irit. Abis itu, pada beli permen penyegar mulut untuk ngilangin bau asbak, eh rokok. Padahal mah, boro-boro wangi. Apalagi kalo dari pagi belon sikat gigi. Rokok + permen + ‘bau naga’. Whueks..!

Menurut data terbaru Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2014, 18,3 persen pelajar Indonesia sudah punya kebiasaan merokok, dengan 33,9 persen berjenis lakilaki dan 2,5 persen perempuan. GYTS 2014 dilakukan pada pelajar tingkat SLTP berusia 13-15 tahun. GYTS 2014 juga menunjukkan bahwa sebagian besar perokok pelajar tersebut masih merokok kurang dari lima batang sehari. Tapi, ternyata 11,7 persen perokok pelajar laki-laki dan 9,5 persen pelajar perempuan sudah mulai merokok  sejak sebelum usia 7 tahun.

Itu kan setara  kelas 2 SD! (cnnindonesia.com, 31/05/2015) Berdasarkan penelitian di Universitas Andalas, motivasi anak merokok di usia dini adalah coba-coba, pengaruh teman, untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika bergaul dengan teman, teladan orang tua, dan ingin terlihat lebih gagah kaya dalam iklan ( Jambi Online,11/01/03).

Rupanya tren merokok bagi remaja kian menjadi tuntutan pergaulan. Terutama kalangan anak cowok. Kalo ada temennya yang anti rokok,  dibilang banci. Walhasil, ada rasa gengsi dan malu kalo mulut nggak ikut ngebul pas lagi kumpul bareng. Tetep pede meski diselingi batuk-batuk dikit. Maklum pemula!

Nggak cuman anak cowok, remaja putri juga mulai banyak yang deket ama lintingan tembakau. Sebuah riset menemukan, rata-rata remaja merokok agar berat badannya turun dan langsing! Riset ini dirilis oleh Profesor Jenny O’Dea dari Universitas Sydney, Australia seperti dilansir ABC News Online, Rabu (13/7/2005).

Keinginan ingin langsing itu diakui oleh 3% remaja perokok berusia 11 hingga 14 tahun dan 7% pada gadis muda sekitar 20 tahun yang dirisetnya (Detik.com, 13/07/05). Makin lengketnya remaja dengan rokok banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lantaran mereka hidup diantara para perokok aktif.

Di rumah, bokap sering keliatan asyik ngepulin asap rokok sehabis makan atau selagi santai. Di sekolah, mulai dari tukang dagang sampe guru pun nggak ketinggalan merokok. Akhirnya, aturan larangan merokok dari guru atau ortu dianggap angin lalu. Ya iyalah, wong yang bikin aturannya sendiri ngerokok.

Masuk akal dong kalo anak didik ikut meniru. Betul? Pancingan untuk jadi perokok bagi remaja juga datang dari industri rokok. Tiap hari remaja dicekokin oleh iklan rokok yang menggoda dengan label keren, macho, en bikin confident. Menurut riset yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2006, sebanyak 9.230 iklan rokok terdapat di televisi, 1.780 iklan di media cetak, dan 3.239 iklan di media luar ruang, seperti umbul-umbul, papan reklame, dan baliho (Kompas, 09/11/07).

Hasilnya, penelitian Komnas Anak Jakarta menunjukan bahwa 99,7% remaja Jakarta terpapar iklan rokok lewat televisi; 36,7% terpapar iklan baliho di jalan dan media cetak; dan 81% pernah menghadiri kegiatan yang diselenggarakan atau disponsori industri rokok. Dan sialnya, justeru kegiatan remaja yang paling banyak didukung sepenuh hati oleh industri rokok. Lantaran bagi produsen rokok, remaja adalah calon pelanggan tetap di hari esok.

Dukungannya juga nggak setengah-setengah, dari promosi acara hingga pembagian rokok gratis di ‘TKP’. Otomatis makin tak ada alasan bagi remaja untuk ‘musuhan’ ama rokok. Padahal kalo udah kecantol ngerokok, susah berhentinya.

Awalnya tuntutan pergaulan, terus jadi kecanduan. Lantaran dalam rokok ada kandungan nikotin yang bersifat adiktif alias bikin ketagihan. Bawaannya mulut asem kalo sehari nggak ngerokok. Apalagi rokok dijual bebas. Dengan modal 2000 perak aja bisa dapet sebatang. Atau kalo lagi cekak, banyak temen yang nawarin gratisan. Gimana bisa berhenti kalo kebutuhannya selalu terpenuhi dengan mudah dan murah!

Rokok dan Kesehatan Kita

Label peringatan akan bahaya rokok  jelas-jelas tercantum di bungkus rokok meski dengan tulisan kecil. Tapi kayanya, ditemukan pada aki mobil; karbon monoksida yang ditemukan pada asap knalpot mobil; serta toluen yang juga dipakai sebagai pelarut industri. Gile bener, emangnya tubuh kita tempat sampah? Selain kanker paru-paru, kebiasaan ngerokok juga ngasih efek buruk pada kesehatan gigi dan mulut.

Lidah jadi susah ngerasain rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds) akibat tumpukan hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecoklatan. Jumlah karang gigi yang bisa bikin gusi berdarah pada perokok cenderung lebih banyak daripada yang bukan perokok.

Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Dan perubahan mukosa (selaput lendir) akibat merokok menyebabkan kanker mulut (Gizi.net, 06/03/2003) . Bahkan kebiasaan ngerokok mengancam kesehatan organ seksual. Untuk cowok, bisa mengalami disfungsi ereksi alias impotensi kalo udah tua. Makalah ahli jantung dari RS Jantung Nasional Harapan Kita, Dr. Santoso Karo Karo, SpJP., menyebutkan rokok meningkatkan risiko terkena disfungsi ereksi hingga 50% -terutama berkaitan dengan masalah pada pembuluh darah (Rileks.com, 18/02/03) .

Sementara wanita yang saat remaja diketahui menjadi penghisap rokok dikemudian hari akan mengalami resiko 21% terkena kanker payudara bila dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok. Demikian hasil penelitian Dr Janet E Olson dari Mayo Clinic College of  Medicine di Rochester Minnesota (AS) yang dipublikasikan dalam ‘the journal, Mayo Clinic Proceedings’ ( JakNews.com, 16/12/05).

Saking banyaknya dampak buruk rokok bagi kesehatan kita, nggak heran kalo setiap tahunnya angka kematian yang diakibatkan berbagai penyakit yang disebabkan rokok, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung terus meningkat. Di Indonesia sendiri, menurut Demografi Universitas Indonesia, sebanyak 427.948 orang meninggal rata-rata  per tahunnya.

Dan angka kematian ini secara keseluruhan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 10 juta orang di tahun 2030, dengan jumlah korban terbanyak berasal dari negara berkembang. Demikian menurut data Organisasi Paru Internasional (World Lung Foundation/WLF) (Kompas.com, 02/02/03) .

Driser, masa iya sih kita masih anggap omong kosong bahaya rokok terhadap kesehatan kita. Jangan tertipu ama produk rokok rendah tar dan nikotin yang menyesatkan. Bahaya rokok nggak jadi berkurang dengan diturunkannya kadar tar dan nikotin. Yang ada, merokok produk ini cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama. Bisa-bisa kita jadi awet muda alias nggak akan pernah tua lantaran keburu tutup usia selagi belia. Masih ngeyel ngerokok? Kelar hidup loe! [@Hafidz341]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *