Friday, May 22

Ngintip “daleman” Redaksi (mengenal penerbitan)

Halo D’Riser dah ngerasa pede mau nerbitin buku di sebuah penerbit, jangan sungkan kamu ngirim karya  terbaiknya ke penerbit tersebut. Tungguin saja, kira-kira satu sampe empat bulanan karya tulis yang kamu kirim itu pasti sudah ada jawaban dari penerbit. Apakah karyamu itu bakal diterbitkan ataukah dikembalikan.

Namun, jika lebih dari setengah tahun karyamu tak adakabar, tanyain saja langsung ke bagian redaksinya.  Siapa tahu masih dalam proses antri atau malah karyamu ga lulus seleksi alias gagal terbit! Cape deh!

Oh ya, kalo kamu udah ngirim karya terbaikmu ke penerbit, tetep tenang ya. Jangan grasa-grusu nanyain karyanya itu diterima atau tidak? Kapan terbit jadi buku? Atau pertanyaan sejenis itu. Biasanya yang suka rese nanya ini-itu adalah para pemula. Tahu nggak, pertanyaannya model interogasi kayak gitu, bikin illfeel awak redaksi penerbit, lho, khususnya para editor. Emangnya para editor cuma ngurusin karya kamu doang?

Jujur saja nih, saat saya jadi managing editor di Mizan, nyaris tiap hari   saya nerima 20 naskah kiriman para penulis di meja redaksi. Jadi, itungin deh, berapa naskah buku yang harus saya seleksi setiap bulannya? Sedangkan dalam sebulan, saya “hanya” bertanggungjawab untuk meluluskan 6-8 naskah untuk diterbitkan jadi buku! Jadi, kalian kudu rada empati sama para editor, ya?!

Oke D’Riser, daleman redaksi yang ada di penerbitan itu di antaranya adalah: chief editor (manager publishing), managing editor (penanggung jawab (pj) lini penerbitan), senior editor, editor, junior editor/copy editor/proofreader.

Nah, para editor itu dilengkapi sama seorang sekretaris redaksi. Setiap naskah buku yang masuk ke redaksi penerbit, selalu dicatat detilnya mulai tanggal masuk redaksi, judul naskah, tema naskah, nama penulis, alamat penulis, hingga deadline respon redaksi kepada penulis. Selanjutnya, naskah tadi  diberikan kepada chief editor untuk diperiksa dan didistribusikan ke masing-masing managing editor yang menanggungjawabi lini penerbitan sesuai tema yang diusung penulis.   

Nah, sejak tiba di meja managing editor inilah, setiap naskah mulai diperiksa dan diseleksi kelayakan terbitnya oleh awak redaksi, khususnya oleh managing editor dan senior editor. Jika menurut mereka, naskah yang masuk itu bagus maka naskah tersebut langsung  masuk waiting list untuk diperiksa lagi oleh chief editor soal kelayakan terbitnya.

Apabila chief editor juga bilang oke maka naskah yang dimaksud akan dibawa oleh chief editor dan managing editor ke sidang redaksi.   

Dalam sidang redaksi inilah, naskah-naskah yang lolos seleksi itu didiskusikan kembali oleh redaksional penerbitan dengan pihak manajemen, mulai dari direktur (chief executive officer), finance control manager, dan promotion and marketing manager.

Jika para pemangku kebijakan penerbitan itu samasama setuju maka naskah buku tersebut akan segera dieksekusi untuk diterbitkan, sekaligus dipastikan juga kapan waktu penerbitan, promo sekaligus pemasarannya?  Namun sebaliknya, jika salah seorang pejabat itu angkat tangan maka dipastikan naskah buku tersebut gagal terbit. Kok bisa? Iya dunk, masa para editor di redaksi keukeuh nerbitin naskah tersebut tanpa dukungan keuangan dari fincon, atau maksa kudu terbit sedangkan manajer promosi & marketingnya ogahogahan promo en masarin bukunya? Gawat kan, alamat jeblok performa penjualannya, tuh!    

Oke, D’Riser di edisi berikutnya, kita akan ngebahas gimana redaksi penerbitan dalam ngelola naskah-naskah layak terbit, ya? tunggu aja di edisi D’Rise yang akan datang. Ciyus, lho! []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *