Friday, May 22

Pake iman bukan POkemon

Tetiba dunia disibukkan para monster. Yang pemain sibuk nangkepi, yang nggak main sibuk mengingatkan  bahayanya. Sebab, udah banyak korban berjatuhan. Para pejabat militer bahkan mengingatkan kemungkinan aksi intelijen di balik demam Pokemon Go.

Waduh! Ini urusan games kok jadi meleber mengglobal lebay begini, ya? Ada apa sebenarnya?

 _ Pokemon Go memadukan peta dunia nyata dengan peta virtual. Pemain kudu mendatangi lokasi tertentu di dunia nyata, temukan monster yang muncul di dunia digital, tangkap, poin. Itu yang bikin beda dengan game lainnya. Serunya beda. Kepuasannya beda.

 _ So, meski baru resmi diluncurkan di 3 negara, Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru, hebohnya sudah mendunia. Usernya sudah ada di mana-mana. Bikin down server Niantic yang merilisnya. Lebih heboh lagi, dilaporkan pula korban-korban berjatuhan. Gara-gara main game itu di tempat umum, ada yang jadi korban kecelakaan. Ada yang tersesat di terowongan. Ada yang dirampok, dll.

_ Di Indonesia, meski belum resmi diluncurkan di sini, pemainnya juga sudah bejibun. Pejabat hingga militer pun sudah mengingatkan bahayanya. Termasuk dugaan, permainan ini jadi ajang spionase untuk mencuri peta lokasi-lokasi strategis dan rahasia sebuah negara. Maka, dilarang memainkan di tempat-tempat strategis milik negara.  

Peradaban Main-main

_ Saat ini, dunia dalam kungkungan peradaban sekuler-liberal. Peradaban ini sangat mendewakan hiburan. Entertaiment. Games. Film. Musik. Video. Bola. Media Sosial. Itu semua adalah hiburan. Dibangun sama pentingnya dengan pembangunan bidang lainnya.

_ Maka, produk-produk hiburan seperti game akan terus diproduksi demi merangsang hormon dopamin yang membuat para penggilanya merasa bahagia. Nah,  Pokemon Go hanyalah salah satunya. Maka,  sejak generasi millenium hingga hari ini, hiburan jadi ruh bagi manusia modern. Kebutuhan pokok.

_ Berjam-jam usia manusia habis untuk menikmati hiburan. Bermiliar rupiah peredaran uang menggelembung di dunia hiburan. Menyedot sumber daya keuangan umat dunia. Lihat saja gaya hidup kaum  penghibur yang lebih makmur dibanding ilmuwan, misalnya.

  _ Pokemon Go pun tak lepas dari lingkaran setan kapitalisasi di dunia hiburan. Ujung-ujungnya uang. Perusahaan pemilik merek Pokemon Go, Nintendo dipastikan mengeruk keuntungan berlipat. Antara lain dari penjualan benda-benda yang jadi kebutuhan berburu dan mesti dibeli menggunakan uang sungguhan. Juga, rencana Nintendo untuk menciptakan iklan virtual di lokasi penangkapan Pokemon.

_ Di ranah user pun, saat ini penjualan akun Pokemon Go sudah mulai marak. Para gamer maniac yang sukses menangkap banyak monster, menjual akunnya kepada para pengguna game yang malas bersusah payah. Bahkan, acara di Amerika Serikat “Ripley’s Believe It or Not” siap mengganjar pemain yang berhasil menangkap Pokemon langka dengan hadiah 5.000 dolar AS atau Rp65 jutaan (liputan6.com, 18/7/16).

 _ Belum lagi bisnis lain yang turut terkerek seiring popularitas Pokemon Go. Sebentar lagi, stiker, kartu permainan, monopoli, sampul buku tulis, tas sekolah, kaos main atau baju tidur anak, sarung bantal-guling, boneka, bahkan mukena sekalipun, bakal bertaburan karakter Pokemon. Menjajah alam bawah sadar kita.

_ Well, ajaran sekuler memang berpikir bahwa hidup ini hanya main-main saja. Beruntung bisa kaya, kalau miskin ya nasib. Beruntung bisa baik, kalau jadi orang jahat, ya takdir. Beruntung bisa masuk surga, kalau masuk neraka, gimana entar. Yang penting di dunia bersenang-senang. Main-main. Ada sih yang serius, ya itu tadi,  serius memikirkan bagaimana kesenangan ini terus berlangsung langgeng.  

Peradaban Serius

 _ Tentu beda banget sama konsep peradaban yang dibangun ideologi Islam. Islam membangun masyarakat serius, tidak memainkan hidup. Sejak Rasulullah SAW diutus hingga eksinya peradaban Islam 1.300 tahun lebih, umat manusia tak pernah dimanjakan dengan permainan. Paling-paling permainan tradisional di berbagai tradisi, tempat rehat dari  aktivitas. Tapi, tidak diorganisir dan dihebohkan hingga berujung uang.

 _ Maka, pemuda dulu nggak hobi main. Hobinya belajar. Haus ilmu. Nggak ada yang menghabiskan umurnya sekadar nongrong main gaple. Apalagi main games, nonton film, dengerin musik, mantengin film, dll. Hasilnya? Pemuda saat itu tangguhtangguh. Hebat. Pintar. Saleh. Berguna buat umat. 

_ Usia muda udah jadi ulama sekaligus ilmuwan. Sastrawan plus agamawan. Pengajar juga penulis. Kaya tapi dermawan. Pintar juga berakhlak. Jauh bumi dan langit dibanding remaja produk peradaban sekuler saat ini.

 _ So, terlepas dari dampak negatifnya, Pokemon Go seharusnya tidak menjadi bagian penting bagi kehidupan kaum muslim. Nggak butuh permainan yang menyita waktu dan buang-buang energi. Buat apa? Manfaat positifnya apa?

_ Nambah pinter nggak, nambah saleh nggak. Boro-boro nambah iman, jamin surga juga nggak. Makanya, pikir-pikir dulu deh kalo mau nangkep Pokemon. Mending manfaatkan waktu buat nangkep yang jelasjelas aja deh. Surga. Dan itu bisanya pake  iman, bukan pake Pokemon. [Asri]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *