Tuesday, July 14

Penderitaan Anneliese Michel

Anneliese Michel, atau lengkapnya Anna Elisabeth  Michel, dilahirkan pada 21 September 1952, di Leiblfing, Bavaria, Jerman sebelah barat, di dalam sebuah keluarga Katolik yang sangat taat. Dia tumbuh di dalam suasana relijius Katolik dan bahkan bercita-cita menjadi seorang guru agama Katolik. Saking taatnya, kalau orang-orang biasa melakukan misa seminggu sekali, dia menjalankan misa dua kali dalam seminggu.

Ketika dia masih kecil, orang sudah bisa melihat bahwa dia akan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Dia suka menolong, sangat murah hati, suka menyanyi, pintar, baik dan tidak sombong, dan mungkin saja rajin menabung.

Anneliese kemudian menderita sakit dan segera dilarikan ke sebuah rumah sakit di Mittelberg, Jerman. Rumah sakit ini ternyata sebuah sanatorium untuk para penderita TBC, sebab Anneliese terjangkit TBC.

Selama perawatan di Mittelberg, Anneliese berdoa setiap hari dan menguatkan keyakinan imannya, dia sungguh-sungguh ingin menjadi seorang guru agama Katolik. Hari-hari berlalu, Anneliese pun akhirnya sembuh dari penyakitnya. Setelah sembuh dari penyakitnya, Anneliese melanjutkan sekolah di Aschefenburg, setingkat SMA. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya, hingga menjelang kelulusannya semua berubah. Dia mulai menderita kesulitan bicara, tubuhnya sulit digerakkan, dia mulai kesulitan berjalan dan tubuhnya mesti ditopang.

Lebih parah lagi, dia mulai mengalami kejang-kejang, yang di kemudian hari didiagnosa sebagai Temporal Lobe Epilepsy (semacam ayan). Saat kondisinya semakin parah, Anneliese dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Berbagai obat dan terapi dijalani oleh Anneliese.

Dia minum obat antikejang, obat penenang, dan berbagai obat  lainnya, namun semua itu tidak juga meredakan penderitaannya. Dia mulai tidak toleran dengan berbagai ikon relijius seperti salib, lukisan Yesus, dan yang semacamnya. Lebih parah lagi, dia mulai mengaku melihat wajah-wajah Iblis di dinding dengan tanduknya yang amat menyeramkan. Ada suara-suara aneh dan menyeramkan, yang menurut pengakuannya, menyatakan bahwa dia “telah dikutuk”, dan dia “akan membusuk di neraka.”  Rosemary Ellen Guiley, dalam ensiklopedinya tentang hantu dan roh, menjelaskan lebih lanjut bahwa tindaktanduk Anneliese semakin kasar dan keras. 

Dia kerap kali mengamuk dan membanting berbagai benda di sekitarnya, bahkan dia cenderung menyakiti dirinya sendiri juga orang lain. Dia pun mulai menolak makanan karena katanya setan-setan itu melarangnya makan. Sebagai gantinya, Anneliese malah makan serangga dan potongan-potongan batu bara.

Untuk  melegakakn dahaganya, dia minum air kencingnya sendiri. Semua yang dilakukannya sudah tidak masuk akal. Berbagai upaya medis semuanya gagal, dan keluarganya, serta Anneliese sendiri, meyakini bahwa setan sudah campur tangan mengerjai dirinya. Maka diupayakanlah eksorsisme (exorcism, ritual Katolik untuk mengusir setan), dari pihak Gereja.

Pada 24 September 1975, sesi pertama ritual eksorsisme pun dilaksanakan, dan seluruh upaya medis untuk mengobati Anneliese dihentikan. Keluarganya hanya menggantungkan keselamatan Anneliese pada ritual eksorsisme. Saat ritual itu dilaksanakan, sebenarnya, penderitaan Anneliese sedang mencapai puncaknya.

Anneliese meraung-raung dan mengamuk seperti orang kerasukan. Suaranya parau dan serak, seolah-olah bukan suaranya sendiri, dan para pendeta itu mulai mengajukan pertanyaan, sementara orangtua Anneliese hanya bisa terpaku. Terungkaplah, setidaknya ada 6 setan yang bersemayam di dalam tubuh Anneliese, dan mereka mengaku sebagai: Judas Iscariot, Lucifer, Hitler, pendeta sesat Fleischmann, Nero, dan Qabil. Atas izin Gereja, ritual-ritual eksorsisme ini pun direkam.

Ritual eksorsisme bukanlah ritual yang menyenangkan. Kerap kali Anneliese diharuskan berlutut dalam waktu yang lama walaupun tubuhnya sudah kelihatan sangat lelah. Karena tindakan berlutut inilah, Anneliese harus mengalami keretakan tempurung lutut.

Dia pun sering sekali terjatuh dan tehempas dengan kepala membentur dinding atau lantai, maka tak aneh jika dia menderita bengkak dan memar-memar berat seperti maling ayam yang dikeroyok massa. Keadaannya sangat memprihatinkan. Jeritan-jeritannya memilukan, dan terkadang muncul suarasuara parau yang mengeluarkan kata-kata kotor dan semua itu menyeramkan.

Ada 67 sesi eksorsisme yang dijalani Anneliese, dalam seminggu dijalankan satu atau dua sesi, masing-masing sesi berlangsung selama 4 jam, sebanyak 10 bulan dari tahun 1975 hingga 1976, dan pada akhirnya Anneliese harus menyerah kalah. Anneliese yang malang tewas pada 1 Juli 1976 di rumahnya.

Mayatnya diotopsi, dan dari hasil otopsi itulah didapat keterangan bahwa Anneliese tewas karena malnutrisi dan dehidrasi, sebab selama hampir setahun dia selalu berada pada titik hampir kelaparan pada saat ritual eksorsisme itu dijalankan. Saat dia tewas, berat badannya hanya 30 kg, mengalami kerusakan lutut, dan menderita pneumonia (radang paru).  

Terang sekali kita saksikan, bahwa setan tetap tidak akan melepaskan seseorang dari godaannya walaupun dia telah kafir kepada Allah. Setan sangat senang melihat manusia menderita, dan memang itulah yang dia janjikan sejak jauhjauh hari. Ritual eksorsisme pun tidak akan sanggup menyembuhkan Anneliese, sebab agama Kristen pun adalah agama yang telah menyimpang karena godaan setan.

Bagaimana mungkin kita menggunakan agama yang telah disimpangkan setan untuk mengusir setan? Kalau saja Anneliese menjalani proses ruqyah syar’iyyah seperti yang diajarkan Rasulullah Muhammad Saw., mungkin saja kisahnya akan berbeda. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *