Tuesday, July 14

Pernikahan Dua Negara

Menikah dengan Bule, Dijamin Hidup Enak?  

Di zaman yang “katanya” sudah maju seperti ini, masih banyak orang yang berfikir kebelakang. Contohnya masih banyak yang berfikir menikah dengan bule dijamin akan hidup enak. Kadang suka gemes sama orang yang pola pikirnya seperti itu.

Dulu pernah punya pengalaman pas di Pandeglang, suami berencana membelikan boneka kodok untuk saya, tetapi menurut saya harganya masih bisa ditawar. Si abang penjual tiba-tiba nyeletuk “beli aja neng nggak usah ditawar, kan bule mah kaya-kaya”. Rasanya ingin saya colek pakai gegep.  

Bule juga sama aja seperti kita, makanannya masih karbohidrat juga. Mereka fikir setiap harinya bule mengonsumsi emas. Mentang-mentang kulit putih, mata berwarna dan rambut pirang, jadi disamakan dengan bule Amerika yang gajinya pakai dollar. But he is Turkish!

Dan orang Turki bukan orang Amerika! Lagian bule Amerika juga “enggak” semuanya kaya, ada gelandangan juga kok. Ini kok mikirnya semua bule kaya raya.  Contoh lain, kalau si bule “pulang kampung” ke Indonesia. Nah rata-rata pada rame minta oleh-oleh.

Ini kebiasaan orang Indonesia banget! Pas suami ke Indonesia, yang ditanyain pertama kali “bawa oleh-oleh ga?” nanya kabar duluan ngapa. Lah suami juga belinya pake morat-marit, walaupun harga oleholehnya murah tapi kalo dibeli dalam jumlah banyak yaa tetep aja jatuhnya mahal. Kadang mikir kalo saya mudik nggak akan bawain oleh-oleh sekalian.  Ini berbeda banget sama kebiasaan orang Turki kalau tahu kita mau berpergian.

Orang Turki biasanya mengucapkan “iyi yolculuklar”, kurang lebih artinya selamat  menikmati perjalananmu. Dan sekedar info saja, orang Turki nggak pernah loh minta oleh-oleh sama yang berpergian (terutama di keluarga saya). Duh, please banget jangan terus menganggap bule itu hidup dengan gelimangan harta. Beberapa oknum iseng juga suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ketika si bule tidak tahu apaapa, mereka bisa nipu seenaknya.

Pas suami pertamakali ke Indonesia, ada porter  yang nawarin bawain barang, suami kasih 50 ribu tapi dia minta 100 ribu. 50 ribu aja udah kebanyakan, kalo saya tahu, saya akan minta kembali uangnya dan cukup beri dia 5000 rupiah saja.

Bukannya saya pelit, saya hanya tidak bisa menerima “penipuan”. Kalo orangnya jujur, diberi 100 ribu juga kita “engga” rugi. Kalo nipu, simpatinya jadi hilang. Kalau dibiarkan terus nanti jadi kebiasaan.  Di kampung juga masih banyak orang yang punya paham seperti itu. Ada beberapa tetangga yang nyeletuk “enak dong Dea nikah sama bule, pasti banyak duitnya”, duh pengen rasanya saya ajak selfie di puncak monas deh kayanya.  

Beberapa cewek Indonesia juga ada yang keukueuh sumekeuh ingin menikah dengan bule. Alasannya biar hidup lebih makmur. Sampai-sampai tidak peduli si bule masih muda atau sudah kakek-kakek, yang penting berduit. Saya melihatnya miris. Jadi untuk mereka, harta adalah ukuran kebahagiaan. Padahal sejatinya belum tentu banyak harta menjamin kebahagiaan seseorang. Kalau iya, Robbin William nggak kan milih bunuh diri buat mengakhiri hidupnya.  

Stop mikir semua bule kaya raya, itu pemikiran purba banget. Bule juga manusia, mereka makan nasi sama roti kayak kita  juga. Roti dibikin dari gandum juga kan, bukan emas. Ya memang ada kok bule yang kaya raya, tapi tidak sedikit yang hidupnya biasa-biasa saja. Jadi intinya bule sama aja seperti orang Indonesia. Yang membedakan hanya fisik dan bahasanya.

Tidak semua orang kulit putih hidup serba mewah, tinggalkanlah warisan penjajahan dulu. Hanya karena bangsa Eropa yang pernah menjajah  Indonesia adalah bangsa yang berduit jadi kita menyamaratakan mereka semua dengan generasi bule masa kini.  Yang saya rasakan menikah sama bule ya begini. Saya jadi lebih mandiri karena semua dikerjakan sendiri. Orang Indonesia masih sanggup kan menyewa asisten rumah tangga.

Di sini sewa asisten rumah tangga mahal banget, hanya orangorang super tajir aja yang punya asisten rumah tangga. Menurut saya orang  Indonesia malah  lebih banyak yang kaya raya. Banyak yang punya mobil lebih dari satu, punya rumah pribadi, kontrakan  menyebar dimana-mana, jalan-jalan ke mall terus, barang-barang di rumah branded  semua, pakaian bagus dan lainnya.  

Pengalaman Mengajarkan suami Bahasa Indonesia  

Alkhisah suami saya mengikuti tes untuk pendidikan master di salah satu universitas terkemuka di Ankara. Jurusan yang dia ambil adalah Pendidikan Bahasa Inggris dan Pelajaran Asia. Suami mengikuti tes untuk jurusan Pelajaran Asia.

Dia sangat optimis bisa lolos di jurusan ini. Karena dia bercerita ke semua penguji bahwa dia punya istri orang Indonesia. Indonesia dan Malaysia adalah negara Asia yang pernah dikunjungi. Ketika penguji bertanya bahasa Asia mana yang dikuasai, dengan mantap dia bilang Bahasa Indonesia.

Para penguji meminta sertifikat kemampuan berberbahasa Indonesia dari suami. Jrengg..deg dag dur..! Suami mengiyakan membawa sertifikat tersebut.  Suami lalu meminta saya membuatkan sertifikat tersebut sesampainya di rumah.

Yaelah masbro, saya mana bisa buat sertifikat begitu. Harus dari lembaga resmi dengan tanda tangan penanggung jawab resmi pula. Akhirnya saya menawarkan alternatif mengikuti tes berbahasa Indonesia di kampus saya di Bandung.

Mungkin bisa saja sertifikat tersebut didapatkan secara online, tetapi ternyata tidak bisa saudara-saudara. Sertifikat tersebut harus didapatkan dengan datang ke tempat tes  berbahasa Indonesia di  negara Indonesia. Informasi tersebut didapatkan dari salah satu dosen saya yang sudah dekat sekali dengan saya. Kabar baiknya, sertifikat tersebut bisa didapatkan tanpa mengikuti kursus berbahasa Indonesia di lembaga resmi.  

Akhirnya demi mempersiapkan diri dalam tes tersebut, suami meminta saya untuk menjadi guru pribadinya. Hari ini saya mulai mengajari suami bahasa Indonesia, beberapa menit berlangsung sangat menarik hingga akhirnya suami menanyakan beberapa pertanyaan yang saya sulit jawab karena terlanjur lupa alias karatan kelamaan banget nggak dipelari. Makin sadar, ternyata banyak ilmu yang sudah terlupakan.

Hampir setahun saya tidak belajar dan hampir setahun saya tidak mengajar juga. Rasanya ya malu, jelas-jelas pertanyaan tersebut jawabannya ada di bidang yang saya geluti selama kuliah 4 tahun.  Intermezzo: Setelah belajar Bahasa Indonesia selama setahun penuh (yang akhirnya saya harus ikhlas kembali membuka materi kuliah selama 4 tahun), suami mencoba mengikuti lomba pidato bahasa Indonesia yang diadakan oleh KBRI Ankara Turki.

Alhamdulillah keluar sebagai  juara. Hadiahnya adalah tiket pulang pergi ke Indonesia selama 5 hari, mengikuti upacara peringatan 17 agustus di Istana Negara serta kunjungan budaya ke Jakarta dan Jogjakarta bersama pemenang dari 19 negara lainnya. Alhamdulillah. Semoga pelajaran berharga ini, jadi bahan cerita kami kelak ke anak-cucu, aamiin. [Terima Kasih kepada Kak Dea Audia Kursun atas ceritanya kepada Majalah DRISE]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *