Tuesday, July 14

Rayah di tanah Suriah

Langit masih memerah. Perang masih berdarah-darah. Berkecamuk meski matahari sudah di ufuk. Ledakan,  jeritan, desingan, dan rentetan peluru masih membayang-bayang. Hari kian senja ketika sang surya berada di peraduannya.

Dan langit timur sudah membiru hampir manghitam seluruhnya.  “Allaahu Akbar..! Allaahu Akbar…!!”, pekik seruan itu masih menggantung di telingaku. Disamping suara bom yang menggelegar, menghantam, menghancurkan. Meskipun begitu, aku masih berada di pos jagaku, di garda belakang.  

“Tapi.., oh tidak.”, seorang teman yang berbicara dari jauh sana meninggalkan suara seperti kaset rusak, malang, lantas diiringi suara ledakan yang jelas kami dengarkan.  Salim menggeleng. Melepas tombol handytalknya. Dia menelungkup-kan muka di tangan, menyedihkan. Kami menatap wajahnya, muram.

Ternyata posisi kami dalam kepungan. Di garda depan, satu regu mungkin sudah diledakan oleh para serdadu.  “Tak ada pilihan…”, Salim mengadah, wajahnya dikeruhkan. “kita harus maju ke depan. Tak ada pilihan selain menyerang.”ia mengangkat senapan.

Lantas berpaling. “dan bukankah di sini,, kita mencari kesyahidan?” Bulu kuduku bergetar. Tapi, ia benar. Walaupun aku ragu ketika mendengar ledakan-ledakan menggelegar. Sniper Hatclif yang kupegang serasa ikut bergidik. Entah, apakah nanti ia diam saat membidik.  

 “Jadi, kita keluar?”, tanyaku ragu. Semua terdiam. Salim mengangguk yakin mengiyakan. Sebagai pimpinan, dia memang penuh keberanian. “Tapi Salim, bukankah kita kita ditugaskan di bagian berta..,” “Diam!!”, bentaknya keras.

Dengan wajah menatap tajam. “Tidakkah cukup keadaan disana sebagai sirine untuk menyerang? Itu sama saja dalam perang!”. Matanya melotot, nafasnya ngos-ngosan, jarinya menunjukku tajam. “Kita harus tetap maju, dan terus bertahan.”,dia menjelaskan, lagi-lagi wajahnya muram. Kami mengambil langkah dalam ragu dan bimbang tak menentu. Meskipun kami dari garda belakang.

Para pengecut yang tak hafal Al-Qur’an.  Aku menelan ludah. Yang benar saja, kami harus berhadapan langsung dengan mesin pembunuh milik bangsa babi dan kera. Tak ada pilihan lain, suasana sudah genting. Maka kami mempercepat langkah dengan setengah berlari. Belum jauh meninggalkan pos kami, aku mengadah, melihat langit yang benar-benar terparuh setengah, hitam dan merah. Kupicingkan mataku, aku seakan melihat sesuatu. Tidak, jangan lagi, itu si burung besi!   “Salim, cepat lari!! Sebuah jet menuju kemari!!”, mereka sigap menanggapi. 

Berlari. Mengambil langkah panjang dan cepat.  Sayang, tak kuperkirakan ada pesawat yang lebih dekat. Roket diluncurkan. Mendesing menciptakan kengerian. Kami masih cepat dalam pelarian. Roket itu meledak di belakang. Bumm!!, bangunan di sampingku hancur berantakan. Bumm!!, bukan hanya satu, kaum terlaknat tak akan puas dengan itu. Bumm!!, kami berusaha menghindari bangunan rubuh dari kanan dan kiri. Bumm!! Sekarang dia meledak 5 meter di belakang kami. Masih bertahan. Entah, apa yang akan terjadi nanti. Terakhir..

Bumm!! 2 meter dari belakang. Aku dan Salim terjungkal ke depan. Kepalaku membentur palang,  pelipis mengucurkan darah segar. Salim? Entah, aku tak tahu. Batang hidungnya tak terlihat olehku. Aku tengkurap terluka. Pelipis kembang kempis.senapan terlempar jauh tak bisa kuraih. Teman-temanku mungkin tewas sebagai syahid. Tapi , selain itu semua,  aku malihat sebuah bendera. Lafadz suci ‘Laa ilaaha illallaah’ berwarna putih terlukis disana. Dengan warna dasar hitam dan menandakan, itu rayah, panji Rasulullah saw.

Dia jatuh terhempas di tanah. Tanganku tak mampu menjangkaunya, apalagi menegakannya. Parahnya, mataku sayu, jantungku cepat memacu,darah masih mengucur deras dari pelipisku. Entah, apa yang akan menimpaku, apakah hidup, atau meninggal-kan hidup dan jasadku, Syahid.

 ***

“Allaahu Akbar..!!”, suara itu  menggema. Merasuki telinga membuatku bangun tiba-tiba. Aku kalap seperti orang yang  tenggelam saja. Lantas ku usap-usap muka dan mengucek mata. Kulihat sekitar, tubuhku terselimuti, dan kepalaku diperban melingkar. Apa? Dimana ini? Tenda? “Ahmad?”, seorang yang berseragam putih, dengan surban dan sabuk yang mengikat pedang. Dia? “Salim?”, aku bertanya, heran saja dengan apa yang dipakainya. Apalagi dengan pedang, tapi, mana senapan yang biasa ia pegang dan gunakan? “Tentu saja,”, dia menatap tak biasa, lantas menghampiriku yang bingung dan linglung. “hey, kau kenapa? Ah…, mungkin karena lukamu yang diperban. Apa itu terlalu erat, kawan?”, ia bergurau, tersenyum.

“Allaahu Akbar..!!!”, untuk kedua kali, pekik itu terdengar lagi. Seperti ribuan pasukan muslimin yang mengaum laksana singa-singa kelaparan. Gema menembus langityang menjulang. Salim menoleh ke tenda, memperhatikan hal yamg tak biasa.

 “Sudahlah, jika kau benar-benar sehat, ayo, pasukan menunggumu.”, seraya menyerahkan seragamku dan bilah pedang untukku. Dia melangkah keluar. Selangkah sebelum itu, dia kembali menoleh kepadaku, tersenyum simpul sinis, “Dan aku tahu, ini yang selalu menjadi angan-anganmu. Ya, saat kita berada di barisan Khalid bin Walid melawan serdadu.” Aku terhenyak. Ditinggal peryataan Salim yang membuat mataku kian membelak. Khalid bin Walid? Tapi, dimana ini? Kapan ini terjadi? Ah, sudahlah, aku mesti mempersiapkan diri. Kupakai seragam putih itu rapi, dengan kepala yang tersemat topeng  besi.

Bilah pedang pun menemaniku di pinggang kiri. Tersarung dan siap menebas lawan yang aku tak tahu, siapa yang kuhadapi kini. Dan setelah tirai tersingkap, diriku terkejut. Apa?! Padang pasir! Matahari kian menyengat, memancar dan melelehkan batuan arab. Tiupan angin berhembus hangat. Batuan dan cadas melepuh karena sinar surya yang ampuh. Aku melangkah seolah dalam keadaan sadar setangah. Benarkah? Tempat ini, berbukit-bukit, dengan lembah di belakang dan sungai di sebelah kanan.

Aku tak salah lagi, ini medan Yarmuk! “Allaahu Akbar..!”, pekik itu kembali terdengar, hatiku bergetar. Di belakang, aku bergabung sengan sebuah barisan. Seregu dengan Salim yang tersenyum di sampingku. Matanya nanar berkaca-kca melihat pemandangan itu. Khalid bin Walid berorasi di hadapan pasukan.

Mengangkat tinggitinggi pedang, menunggang kuda dan memegang tali kekang. Terkesima, aku masih tak percaya juga. Selain itu, bukan hanya para rijal disana, para muslimat pun ada. Ketika kutanya seorang di sampingku, “Mereka ditugaskan untuk melempar kayu dan batu”, jawabannya mengagetkanku, “untuk memukul para pasukan muslim yang mundur dari medan perang lantaran besarnya kekuatan musuh kita itu.” Sekali lagi, aku dibuat terkesima dengan ucapannya. Tak lama setelah itu, genderang perang ditabuh bergemuruh.

“Allaahu Akbar..!”, pekik Khalid selaku panglima pasukan. Aba- aba untuk maju dan menyerang. Serentak, pasukan menyerbu bagai air bah yang membandang. Pasukan Romawi bersenjata lengkap, penunggang kuda, bahkan berbaju besi semua menghantam pasukan ini.

Tentu saja, Heraklius tak tanggung-tanggug mengirim pasukannya. 240.000 pasukan dikirimkan dari negeri adidaya dari sana, Romawi. Aku mengenali ciri mereka berbaju dan berhelm besi yang menutupi hidung dan pipi, dengan celana seperti rok mini juga dari besi. Sedangkan kami, hanya terdiri dari 12.000 pasukan. Bayangkan. 1 banding 20 Dan tentu saja, senjata tak sepadan dengan lawannya. Ada 38 batalion dalam pasukan Islam. Beberapa termasuk veteran Badr, ksatria muslim, dan pasa sahabat nabi saw.

 Aku pun tak mau ketinggalan. Pedang berdentingan, kapak beraduan, tameng memercikkan api menahan gempuran, panah menembus tubuh mematikan. Korban-korban berjatuhan. Angin gurun berhembus, meniup sakaratul maut. Aku tenteng pedang di kanan dan tameng di kiri. Mencoba menghadapi musuh seorang diri. Tapi, tatkala aku mengadah ke depan, aku terperangah. Seorang yang lincah. Menebas, memenggal, menangkis, menyerang. Cepat dan tanggap. Sigap dengan lawan. Dia menari bersama pedang.

Mengayun, banyak musuh yang dibuatnya terembab jatuh tewas tak  terhitung. Belum saja yang lain menembus  dinding tebal Romawi, dia sudah tiba di ujung lain seorang diri. Lantas kembali dan muncul di sisi lain, kembali dan muncul di sisi lain.  Ganas seganas ayahnya saat memusuhi Nabinya, Muhammad. Abu Jahal nama ayahanda. Tapi tidak untuknya, dia berjihad membela agama Muhammad Al Mushthofa.

Ikrimah bin Abu Jahal namanya. Sungguh ketika melihat kepiawaiannya itu, aku terus ingin maju dan maju. Berdiri di garda depan bersama para sahabat yang dimuliakan. Kerena itu, pedang kuayunkan lebih tajam, tameng kuhadapkan. Walau memang, luka tak bisa dihindarkan. Tapi darah pejuang di jalan Allah, adalah tetes misk yang mengantarnya ke surga.

Syahdan, gelora takbir selalu dipekikkan. Membuat para kafir Romawi lari  ketakutan. Pasukan Islam terus maju tak gentar. Bahkan, setengah pasukan Romawi jatuh ke jurang lembah. Lantaran terdesak hanya oleh 12.000 pasukan Islam. “Allaahu Akbar..!”, untuk kesekian kali, lafadz ini membumbung ke langit yang tinggi. Aku berada di pusat ketegangan. Tak ada waktu untuk diam. Semangat jihad semakin berkobaran.

Menyala di sela-sela bayangan ayunan pedang. Beberapa musuh, meski dengan keringat darah dan peluh, berhasil kutumbangkan. Itu belum seberapa dibanding dengan para veteran Badar maupun ksatria muslim yang mengaum bagai singa. Diantara mereka, para sahabat, yang mulia, aku memang bukan bandingannya. Aku tak ragu tentang perang ini. Benar-benar pertempuran Yarmuk yang menakjubkan. Lebih dari apa yang diceritakan. Menunjukan keberanian, kegagahan, kemuliaan pasukan Islam. Dimana jumlah bukan ukuan kemenangan, tapi niat yang menurunkan pertolongan Allah berupa kemenangan.

Perang ini adalah gerbang bagi futuhat Islam di Romawi dan Persia, kedua negara adidaya yang waktu akan membalik mereka, menjadi bagian dari Islam suatu saat nanti. Akan tetapi, tepat sebelum aku menyaksikan kemenangan dan auman takbir yang dipekikkan, sebuah anak panah bersarang di badan. Tepat di dada, menembus punggung di belakang. Entah dari mana. Panah itu membuatku jatuh tak berdaya. Mataku sayup memandang, tubuhku lemah lemas sekarang. Di luar, telinga masih sempat mendengar Salim yang berteriak kencang. “Ahmad.. !!”. Hey, apa yang kau lakukan, sama saja, hidup dan mati tak bisa kita tentukan. Percuma. Jika datang kematian, biarkan surga jadi ganjaran.

***

 Aku terbaring terlentang. Luka di  pelipis masih kembang kempis. Kucoba bangkit. Memegang dahi, pening sekali. Apa? Dimana ini? Ah.., ternyata tadi hanya mimpi. Bukan mimpi biasa (Q.S. Ali Imron : 154). Aku  coba berdiri, walau masih sedikit lemah  tubuh ini. Di luar, masih saja ter dengar teriakan mengerikan setelah ledakan.  Aku melangkah di reruntuhan puing bangunan. Salim? Dimana ia? Entahlah, mungkin sudah mendahuluiku ke surga. Di puing-puing bangunan yang berserakan, aku masih dapat mengambil senapan.

Hatclif. Juga ‘sesuatu’ yang jatuh lalu kuambil dan kulipat. Lalu ku masukan ke kantung jaketku. Lantas ku gantung sniper di punggung. Berjalan menuju gedung. “Hei Bashar Asad, kembalilah kepada Allah segera. Sebelum nereka menjadi tempat kembalimu yang menyiksa.”, bisikku lirih. Aku teguhkan langkah seperti Ikrimah meneguhkan janjinya. Aku tegaskan azam seperti Georgius yang mengikrarkan syahadatnya di tengah kecamuk perang. Aku berdzikir selalu seperti pekikan kalimat langit bagiku.

Aku pimpim tubuhku seperti Abu Ayyub Al-Anshari yang membawa dirimya terjun kedalam syahid ketika itu. Aku eratkan kepalan seerat ingatan Muhammad Al-Fatih tentang bisyarah Nabinya. Aku tiba di atap. Semilir angin menelisik membasuh hati. Aku tak ingin jadi pasukan terbelakang lagi. Di balik laras panjang, aku membidik seraya tidur terlentang. Kuarahkan pucuk senapan ke langit yang hitam menunggu sasaran.

Berharap seperti Sa’ad bin Waqqash yang tak pernah meleset setelah dido’akan Nabi Muhammad saw. Dan ketika benda berkelip itu datang, kutarik pelatuk, dan sebuah peluru meluncur dari magasinku. Dia memburu. Lalu.., Ka-Bomm.. pesawat itu meledak berkeping- keping. “Allahu akbar..”. Hatiku bergetar. Jiwaku terbakar. Dan Rayah akan segera berkibar…[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *