Friday, May 22

Sindrom Nomophobia

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Mbk, kemana – mana sy bawa ponsel. Pernah sy ketinggalan ponsel di rumah, selama di kelas sy cemas, resah, alias tidak tenang. Kenapa ya, sy jadi sangat tergantung dengan handphone? (Rossa, Bulukumba) 

Wa’alaikumussalam Wr.Wr.

 Dik Rossa yang baik,  Saat ini, handphone (ponsel) memang menjadi benda yang hampir setiap orang punya dan selalu membawanya. Selain sebagai alat komunikasi, ia juga berfungsi sebagai sarana hiburan apalagi dengan semakin beragamnya media sosial yang ada. Suatu benda jika digunakan sesuai keperluan, maka akan memberikan banyak manfaat pada kita, termasuk ponsel.

Ponsel adalah alat yang dapat membantu kehidupan kita menjadi semakin mudah dan cepat. Namun jika ponsel sampai menjadikan kita hanya terpaku dan asyik dengannya (facebook, twitter, chatting, dan nonton youtube, dll) dan melupakan hal-hal lain, maka kita harus berhati – hati. Teknologi mampu memberikan manfaat, tetapi jika kita berlebihan, malah akan membawa dampak buruk bagi kita. Berlebih-lebihan dalam segala sesuatu adalah tercela dan dilarang.

“…..Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Dik Rossa yang baik,  Jika Adik merasa resah, gelisah saat tidak bersama handphone, ada kemungkinan Adik terserang sindrom nomophobia. Sindrom nomophobia adalah perasaan takut, gelisah, cemas ketika seseorang berada jauh dari ponselnya. Saat handpone tidak bersamanya ada sesuatu yang hilang, tidak semangat, merasa serba  salah, bahkan stress. Selain panik, cemas saat ponsel tidak ada di dekatnya, tanda nomophobia lainnya yaitu merasa cemas saat baterai handphone hampir habis atau kesal saat tidak ada sinyal.

Biasanya orang – orang nomophobia menggunakan handphone dimanapun, termasuk di tempat yang tidak biasa, seperti kamar mandi, saat menyetir mobil atau motor. Mereka memakai handphone dari bangun tidur hingga tidur lagi. Saat tidurpun handphone di sisi mereka. Suka selfie atau update status. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersama ponsel. Mereka tidak   mematikan handphone kecuali saat kehabisan baterai. Handphone mereka selalu on 24 jam, 7 hari seminggu, 356 hari setahun.

Dik Rossa yang baik, _ Nomophobia adalah efek negatif dari smartphone dan media sosial, yang membuat orang selalu ingin mengecek media sosial, mengecek E-mail, atau ber “hahahihi” chating di instant messenger.

Orang menjadi sulit menahan keinginan melakukan kontak dengan dunia maya. Nomophobia memiliki efek buruk pada sosialisasi di dunia nyata. Ia menjadikan seseorang lebih suka menggunakan handphone untuk berhubungan dengan orang lain, daripada bertemu face to face .

Untuk mencegah nomophobia berpikirlah bahwa ponsel bukan segalanya, kontrolah diri dalam menggunakan ponsel, gunakan sesuai keperluan, matikan ponsel saat tidak dibutuhkan, matikan semua notifikasi yang tidak penting, cobalah seminggu sekali (1 x 24 jam) puasa handphone (phone free day), sibukkan diri dengan banyak aktifitas (olahraga, pengajian, dll), serta banyaklah bergaul di dunia nyata. Semoga ponsel yang kita miliki menjadi wasilah untuk kebaikan dan bukan wasilah dalam keburukan….[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *