Thursday, July 9

The 13th warrior

Ada yang pernah nonton film the 13  warrior? Film tahun 1999 yang dibintangi oleh Antonio Banderas ini  menceritakan kisah petualangan Ahmad ibn Fadlan, seorang diplomat Arab di tengahtengah bangsa Viking di sungai Volga. Film ini diadaptasi dari novel Eaters of the Dead, karya Michael Crichton yang juga mengarang novel Jurassic Park.

Nah, novel  Eaters of the Dead ini terinspirasi dari epik Beowulf dan juga catatan sejarah dari Ahmad bin Fadlan, seorang diplomat khilafah Abbasiyah. Ahmad bin Fadlan bin al-Abbas bin Rasyid bin Hammad adalah nama lengkapnya. Menurut catatan sejarah, ia adalah seorang yang faqih dalam hukum Islam yang hidup pada zaman khalifah alMuqtadir pada abad 10 M.

Selain sebagai orang yang faqih yang juga mengabdi di istana khalifah, sangat sedikit yang diketahui  tentang Ahmad bin Fadlan sebelum tahun 921 M, tahun ketika ia memulai perjalanannya sebagai utusan ke negeri Volga Bulgaria.

Orang Volga Bulgar menempati tepi timur sungai Volga di daerah yang sekarang dikenal  dengan Rusia. Sebelumnya, pada abad 6 M sekelompok orang Bulgar ini menyerang negeri di daerah  Balkan, kemudian mereka  berasimilasi dengan penduduk setempat dan menganut agama Kristen dan menamakan negeri itu Bulgaria. Ibnu Fadlan diutus dari Baghdad untuk menjadi sekretaris duta besar Khilafah Abbasiyah untuk Volga Bulgaria.

Penguasa Volga Bulgaria saat itu adalah Almis, penguasa (emir) muslim pertama bagi bangsa Bulgar di negeri tersebut. Misi utama dari para utusan itu adalah menjelaskan hukum-hukum Islam kepada bangsa Bulgar yang baru memeluk Islam, selain sebagai respon atas permintaan bantuan dari penguasa Volga Bulgar untuk menghadapi musuh mereka yaitu bangsa Khazar.

Selama perjalanan dan masa tugasnya Ibnu Fadlan pun mencatat berbagai pengalaman, masyarakat dan tempat-tempat yang ia kunjungi. Sebagain dari catatan Ibnu Fadlan ia dedikasikan untuk membahas bangsa Rus atau Rusiyyah. Menurut mayoritas para ilmuwan kemungkinan besar yang dimaksud ibnu Fadlan adalah bangsa Rus’ atau Varangian, yang merupakan nama lain dari bangsa Viking. Sehingga catatan Ibnu Fadlan ini menjadi salah satu catatan penting tertua yang menggambarkan bangsa Viking.

Bangsa Rus yang dijumpai oleh Ibnu Fadlan adalah para pedagang yang  mendirikan basis perdagangan mereka di tepi sungai Volga berdekatan dengan perkampungan Volga Bulgar. Menurut Ibnu Fadlan, bangsa Rus memiliki tubuh yang paling sempurna. Badan mereka tinggi bagai pohon kurma, rambut mereka pirang dan kulit mereka kemerahan. Sekujur tubuh mereka mulai dari leher sampai ujung kuku dihiasi berbagai motif tatto berwarna hijau gelap. Sayangnya, walau fisik mereka “sempurna” Ibnu Fadlan menilai gaya hidup mereka sangat menjijikkan, sampai-sampai Ibnu Fadlan menyebut mereka makhluk Allah paling jorok.

Dalam catatannya, disebutkan bahwa bangsa Rus datang dari negeri mereka dengan kapal melalui sungai Volga, dan membangun rumah kayu besar di tepi sungai. Satu rumah itu ditinggali oleh belasan sampai puluhan orang, plus ditemani oleh budak-budak wanita. Ibnu Fadlan menyebutkan bahwa mereka tidak beristinjak, tidak mandi junub, dan tidak mencuci tangan setelah makan. Mereka seperti keledai yang berkeliaran.

Untuk membersihkan diri mereka cukup dengan mencuci muka dan kepala mereka tiap hari, itupun dengan air yang paling menjijikkan sedunia.  Setiap pagi budak itu membawa baskom berisi air yang diserahkan kepada tuannya, yang ia gunakan untuk mencuci tangan, wajah dan rambutnya. Ia kemudian  mencelupkan sisir kedalam baskom dan menyisir rambutnya. Tak lupa ia meludah dan membuang ingus dan dahak ke dalam baskom.

Tak ada satupun hal menjijikkan yang tidak akan dia lakukan dengan air itu. Setelah ia selesai, si budak itupun membawa baskom berisi air berpolusi itu ke orang yang di sebelah tuannya. Ia pun melakukan hal yang sama seperti kawannya. Terus begitu sampai semua orang dalam rumah itu membuang ingus, meludah dan mencuci muka dan rambut mereka dengan sebaskom air yang sama. Hiiy.

Walaupun aktivitas utama mereka berdagang, tapi penampilan bangsa Rus menunjukkan bahwa mereka juga bangsa petarung. Kaum lelaki mereka memakai jubah yang menutupi setengah tubuh mereka, dan membiarkan salah satu lengannya terbuka. Setiap orang dari mereka membawa kapak, pedang dan belati, dan tak pernah tampil tanpa membawa ketiganya. Sebagai penyembah berhala, mereka selalu mengadakan ritual dengan mengorbankan binatang ternak. Bila salah seorang dari mereka mati ia akan dibakar di atas perahu kecil.

Namun bila yang mati adalah petinggi mereka, maka salah satu budaknya harus ikut mati dan dikremasi bersama tuannya. Itulah sebagian catatan Ibnu Fadlan mengenai perjalanan dan  pertemuannya dengan bangsa Viking yang Ia tulis setelah kembali ke Baghdad. Sayangnya sebagian dari catatan nya itu hilang. Namun fragmen-fragmen yang bertahan bisa menunjukkan betapa tingginya peradaban Islam, dan sebaliknya betapa rendahnya peradaban Eropa pada masa itu. Rasul saw bersabda “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam” (HR. AdDaruquthni). Setuju?[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *