Thursday, October 17

‘Wajah Plastik’ Orang Korea

tak terasa sudah memasuki tahun keempat kehadiranku dan keluargakecilku di Korea Selatan Aku menemani suamiku yang melanjutkan studi doctoral (S3) di kota Busan, sebuah kota metropolitan yang letaknya sekitar 5 jam dari Ibukota Seoul.

Meski jarak Busan – Seoul cukup jauh tetapi kebudayaan dan gaya hidup penduduk Busan tidak jauh berbeda dengan penduduk Seoul. Bisa dibilang kalau negara Korea Selatan adalah negara yang paling homogen setelah Korea Utara. Para penduduknya memiliki karakter yang khas yaitu mereka tidak ingin tampil berbeda dengan orang lain.

Pokoknya orang selalu ingin sama dengan orang lain. Ketika media Korea Selatan memuji artis Jang Geun Seok sebagai pria terganteng dan artis Kim Hyo Jin sebagai artis tercantik maka semua orang berbondong datang ke klinik kecantikan untuk mengubah wajahnya seperti dua artis tersebut. Wajar jika wajah orang Korea Selatan bisa dibilang “mirip semua” ‘cetakan wajah’ yang ada di klinik operasi sama dengan artis-artis idolanya.

Kebanyakan orang Korea Selatan memandang bahwa operasi plastik itu sahsah saja. Mereka sudah tidak segan-segan  lagi melakukan operasi plastik untuk  mengubah dan menyempurnakan bentuk  tubuhnya sesuai keinginan hatinya. Klinik operasi plastik menjamur dimana-mana.

Di daerah Gangnam yang terkenal dengan klinik operasi plastik terbaik di Korea, sangat  mudah menemui klinik yang tersebar di daerah itu. Sekitar 500 klinik operasi plastik  yang besar dan kecil ada disana. Kota kecil  dan pedesaan juga tak luput dari keberadaan  klinik operasi plastik. Aku sendiri sempat  kaget ketika pertama kali datang ke Korea  dimana banyak kutemui iklan klinik operasi  plastik yang tersebar di tempat umum, baik di transportasi, iklan layanan masyarakat,  iklan di surat kabar, iklan televisi dan di rumah sakit.

Aku yang selama ini menganggap bahwa operasi plastik adalah sebuah upaya penipuan diri dan tentu saja  berdosa di dalam Islam sangat membenci keberadaan operasi plastik yang ada di kota Busan. Menurut pendapatku, orang yang melalukan operasi plastik sebenarnya memiliki kepribadian yang rapuh, tidak mensyukuri anugrah Allah dan memandang rendah dirinya sendiri.  Operasi plastik di Korea Selatan dianggap sebagai mekanisme survival mereka.

Artinya  seseorang sangat menggantungkan operasi plastik sebagai cara agar mereka bisa tetap bertahan hidup dan eksis di dunia. Seseorang dikatakan bahagia jika dia sudah melakukan operasi plastik dan jika kita berusaha tampil apa adanya saja, maka kita akan tersingkir dari kultur sosial. Miris tapi ini nyata terjadi. Sungguh menyedihkan ketika seorang teman atau kerabat yang kita kenal hanya memandang kebaikan dan kesuksesan hidup dari tampang yang dimiliki. Bisa dikatakan kalau warga Korea sendiri sangat rasis terhadap rasnya sendiri.

Mereka memiliki penilaian subjektif yang tidak bisa ditawar dan dinegosiasikan.  Kabarnya seseorang yang melamar pekerjaan akan menghabiskan uang yang banyak untuk melakukan operasi plastik agar penampilan mereka cantik, langsing dan menarik. Keahlian dan prestasi bukanlah alasan kuat diterimanya mereka di tempat kerja.

Makin cantik dan ganteng, maka dia berpeluang besar untuk diterima. Inilah yang mendorong para orang tua untuk memberikan hadiah operasi plastik saat anaknya libur panjang sekolah, dimana mereka bisa menjalani operasi plastik dan pemulihannya selama liburan.

Saat anakanak lulus SMA, orang tua juga segera  mengantar anaknya pergi ke klinik kecantikan  untuk mengubah penampilannya agar lebih  menarik.

Operasi paling dasar yang dilakukan anak-anak SMA adalah membuat lipatan mata agar mata terlihat besar dan kelopak mata terbentuk. Saat melihat anak-anak SMP, aku sering melihat wajah yang masih alami dan bentuk wajah yang masih kotak, dan tubuh yang sedikit gempal.

Namun buatku itu terlihat lebih cantik dan sehat. Ada satu pola pikir yang cukup “menonjol” di Korea Selatan yaitu, sesorang akan memandang orang lain dari penampilan luarnya saja. Pepatah “Don’t judge a book by its cover ” tidak berlaku disini. Mereka mengaku bisa menilai baik buruk seseorang hanya dengan melihat penampilannya saja.

Ini sangat menarik karena selama ini kita beranggapan kalau kita sulit menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Penampilan luar sangatlah menipu. Seseorang yang sederhana dan tidak cantik bukan berarti dia orang yang buruk akhlaqnya.

Kita sering menilai kalau kecantikan wajah yang tidak dibarengi inner beauty (kecantikan jiwa) maka bukanlah apaapa. Seseorang yang memiliki akhlaq mulia dan perilaku yang baik tentu lebih baik kepribadiannya.  Red: Ikuti Cerita seru ‘Berjilbab di Negeri Ginseng’di edisi berikutnya. Jangan sampai ketinggalan ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *