Sunday, December 8

Waktu Akan Membunuhmu!

Meski makna secara bahasa “arti” waktu sama bagi setiap orang berbeda. Karena, setiap orang punya kegiatan masingmasing dalam mengisi dan memanfaatkan waktunya. Ada yang  asyik memadati waktunya dengan  aktivitas having fun. Nongkrong, dugem,  hang out, atau nonton konser musik.

Nggak sedikit juga yang pake waktunya  buat belajar, ngaji, kerja, atau aktif di lembaga sosial. Atau kombinasi  keduanya. Bagaimana dengan para  shahabat? Lets cekidot Sebelum menemui ajalnya, khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq RA. pernah memanggil Umar ibn al-Khaththab RA lalu menyampaikan wasiat kepadanya.

 “Wahai Umar, Allah itu mempunyai hak (diibadahi) pada siang hari yang Dia tidak menerimanya di malam hari. Sebaliknya, Allah Swt juga mempunyai hak (diibadahi) pada malam hari yang Dia tidak mau menerima di siang hari. Ibadah sunnah itu tidak diterima sebelum ibadah wajib itu dilaksanakan.”

Wasiat Abu Bakar tersebut menyadarkan Umar bahwa rotasi waktu itu penuh nilai dan harus dimaknai sedemikian rupa,  sehingga manusia tidak merugi dalam hidupnya. Umar  melihat pesan Abu Bakar tersebut  sebagai isyarat pentingnya manajemen waktu dalam memimpin umat. Menurut Yusuf alQaradhawi, pesan Abu Bakar tersebut  mengandung arti bahwa sebagai calon  khalifah,

Umar harus bisa membagi waktu:  kapan harus menunaikan kewajibannya  kepada Allah SWT, kewajiban kepada  rakyatnya, dan kewajiban kepada  dirinya sendiri. Saking pentingnya waktu, Ibn al-Qayyim al-Jauziyah mengingatkan, menyianyiakan waktu (idha’atul  waqti) itu lebih berbahaya  daripada sebuah kematian,  karena menyia-nyiakan waktu  itu dapat memutus hubungan engkau dengan  Allah dan akhirat. 

Sedangkan kematian  hanya memutusmu dari kehidupan  dunia dan keluarga  saja. Orang yang  menyia-nyiakan  waktu akan  kehilangan  kesempatan  untuk  berinvestasi  bagi kehidupan  akhiratnya. Oleh karena itu, Ibn Mas’ud ra pernah berkata: “Aku tidak menyesali sesuatu selain kepada hari yang mataharinya telah terbenam dan umurku berkurang, tetapi di hari itu amalku tidak bertambah.”

 Kalo kita mau meraih kesuksesan dunia akhirat, sudah pasti kita mesti melek manajemen waktu. Sayangnya, banyak orang terlena dan mengabaikan nilai waktu. Waktu berlalu tanpa makna dan amal shaleh.  Tidak sedikit temen-temen kita yang banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, bermain-main, dan berleha-leha. Just having fun. Dalam memanajemeni waktu,

 Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Siang dan malam itu bekerja untukmu, karena itu beramallah dalam keduanya.” Sebagai manifestasi dari aplikasi manajemen waktu, ketika diamanahi sebagai khalifah, Umar bin al-Khaththab  pernah memberikan nasehat kepada Abu Musa al-Asy’ari: “Pemimpin yang paling bahagia menurut Allah SWT adalah orang yang mampu membuat rakyatnya bahagia. Pemimpin yang paling menderita menurut Allah adalah pemimpin  yang membuat rakyatnya sengsara.  

Hendaklah engkau tidak melakukan penyimpangan,  sehingga engkau dapat menyimpangkan para pekerjamu, tak ubahnya engkau seperti binatang ternak.” Ngurus umat yang segitu banyaknya, nggak mungkin bisa kelar dan berlaku  adil kalo pemimpinnya tak pandai memanajemen waktu yang efisien dan efektif.

Biar waktu tetep bermutu, kata kuncinya adalah disiplin dan penyegeraan penyelesaian  kewajiban, tugas, dan pekerjaan. Jangan ditunga-tunda dan nggak pake lama. Untuk urusan ini, kita bisa meneladani Rasulullah saw yang tidak hanya memerintahkan umatnya untuk bersegera membayar hutang, mengurus janazah, atau berdakwah Dalam hal ini Nabi SAW bersabda: “Tidaklah kedua kaki seorang hamba itu melangkah sebelum ditanya tentang empat hal:  tentang umur, untuk apa  dihabiskan? Tentang (kesehatan) fisik, untuk dipergunakan? Tentang harta, darimana  diperoleh? Dan Untuk apa  dibelanjakan? Dan tentang ilmu, apakah sudah diamalkan?”  (HR. al-Turmudzi dan al-Thabarani).

Driser, yuk kita belajar mengoptimasi  waktu agar bernilai keberkahan dan bikin hidup lebih hidup. Mulailah belajar mengerjakan aktivitas berdasarkan skala prioritas. Pilah kegiatan yang penting mendesak, penting tidak mendesak, tidak penting mendesak, dan tidak penting tidak mendesak. Lalu buat daftar kegiatan yang diutamakan.

Dengan begitu, waktu akan membantumu tunaikan kewajiban meraih keberkahan. Bukan malah membunuhmu dengan kegiatan yang minim manfaat dan cenderung maksiat. Hati-hati! [341

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *