Saturday, December 7

Yuk Berhijab : Hijab tanpa Nanti, Taat tanpa Tapi

Masih inget buku UPA (#Udah Putusin Aja) yang ditulis Felix Siauw? Udah ngerasain asiknya  nuansa komik digabungin dengan tausiah? Nah, buku kali ini mengulangi suksesnya buku UPA di pasaran nusantara. Tentu saja dengan tema yang berbeda dong. Seru? Banget! Ngena? Pastinya!

Masih menggandeng visualis yang sama yaitu Mba Emeralda Noor Achni (udah pernah kita interview lho..!), yang membuat buku ini tidak tampak seperti buku agama, malah penuh gambar konyol dan dialog lucu yang belum tentu ditemukan di buku lain. Ustadz Felix : ” Yuk, berhijab!” Mrs.XXX : “ Tapi ustadz, saya masih belum siap nih”

Ustadz Felix : “Yuk, berhijab!” Mrs.XXX : “Nanti deh, kalau udah lulus. Terus kerja, gaji 30 juta per bulan, punya suami kaya raya, anak yang lucu-lucu, rumah mewah, mobil keren, kapal pesiar, keliling dunia, naik haji..” Ternyata…. Boro-boro naik haji, belum sempat lulus, belum sempet kerja, apalagi punya apa-apa, eh keburu begini (alias koit bin wafat). Inilah hijabku yang pertama dan yang terakhir. Nah, isi buku ini dibuka dengan pandangan berbagai peradaban dunia terhadap wanita.

Mencengangkan! Udah dari dulu wanita emang jadi warga kelas dua dibandingkan laki-laki. Contohnya aja, peradaban Yunani Kuno yang menganggap wanita sebagai budak sehingga boleh diperjualbelikan. Di India, ada salah satu tradisi Hindu yang disebut Sati dimana seorang janda dibakar setelah kematian suaminya. Sebab, dianggap masa hidupnya sudah berakhir dengan matinya sang suami.

Wuihhh,,, syerem ya. Yup, sodara-sodara. Ada juga sekelompok orang yang kebablasan yang berlagak memperjuangkan hak-hak wanita. Mereka disebut kaum feminis (pemahamannya disebut feminisme). Bukannya menaikkan derajat wanita, yang ada malah menjadikan wanita sebagai budak atas nafsu dan egonya.

Hemmm, lantas gimana dengan peradaban islam yang kental dengan kewajiban berhijab? Apa itu bagian dari diskriminasi wanita. Terjawab deh di buku ini. Justru keberadaan hijab dalam rangka melindungi kehormatan dan keindahan wanita. Keindahan itu bukan untuk diobral tapi dijaga. Makanya tidak boleh semua lelaki melihat apalagi menjamah. Itu sih namanya murahan. Sepakat?! “Tapi gimana dong, shalatku aja masih bolong-bolong, masa udah mau berhijab?” Jawabnya:”Justru dengan adanya hijab bikin kita termotivasi supaya shalat ngga bolongbolong” “Entar kalau sudah berhijab, ngga bisa macem-macem lagi loh” Jawab :”Nah loh, emang mau berapa  macem? Kan niatnya untuk hidup lebih baik” Masih banyak alasan yang sering  dilontarkan untuk ngga berhijab.

Sayangnya, buku ini juga dengan cantik ngasi seribu satu alasan supaya kita berhijab tanpa nanti, taat tanpa tapi. Pokoknya mati kutu alias ngeJLEB! Yang tak kalah penting untuk dibahas ialah bagaimana hijab yang sesuai tuntunan agama. Mengingat banyaknya model dan tren hijab sekarang ini. Seolah-olah berhijab udah bergeser dari ‘menutup aurat’ menjadi ‘membalut aurat’, melaksakan kewajiban agama dengan kewajibab tren.

Alhamdulillah ada bab kupas tuntas seputar hijab syar’I dan beragam pernak-perniknya. Pembahasan  dikupas dengan dalil-dalil tapi tidak terkesan  menggurui. Apalagi emang full color dan picture. Sobat DRISEr, yuk berhijab!!! Yuk baca buku ini,…. (hehe, ujung-ujungnya). Mumpung masih muda, masih sehat dan masih hidup. Seperti perkataan dialog di atas, “jangan sampai tali pocong dan kain kafan jadi hijab pertama dan terakhirmu”. YUP! [Alga Biru]

Judul : Yuk Berhijab!

Hijab Tanpa Nanti,

Taat Tanpa Tapi

Penulis : Felix Y. Siauw

Visual : Emeralda Noor Achni

Penerbit : Mizania

Harga : Rp. 52.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *