Friday, May 22

Ais, Sudariku…

Entah sudah berapa kali aku membacakan ayat-ayat Al-Quran beserta artinya kepada Ais. Setiap tiga hari dalam seminggu,  selepas sholat ashar, aku akan berangkat menuju rumah sahabat terbaikku itu untuk membacakan kepadanya kitab suci umat Islam tersebut, mukjizat terbesar Rasulullah saw. yang kelak akan menjadi syafaat bagi siapa saja yang beriman kepadanya.

Keadaan Ais yang kedua matanya buta membuat Ais kesulitan untuk membaca AlQuran. Sebagai seorang sahabat, tergerak rasa  empatiku dan mulai membantu sahabatku supaya ia dapat mendengar dan mendalami isi Al-Quran sama seperti anak normal pada umumnya. Keberadaanku ke dunia ini semata-mata karena Allah. Rasa syukurku kepada-Nya akan melekat dalam hatiku selama-lamanya. Aku sangat bersyukur Dia masih menyelamatkanku dari kecelakaan yang menimpaku dan Ais dua tahun yang lalu.

Kami berdua tertabrak mobil saat sedang berjalan pulang sekolah. Kata orangtuaku pengemudi mobil tersebut mabuk dan tewas setelah beberapa jam dirawat di rumah sakit. Kecelakaan itulah yang kini membuat mata Ais tidak dapat berfungsi lagi.

Walaupun demikian, rasa syukur Ais tidak kalah besarnya dariku. Setelah divonis dokter bahwa ia sudah tidak bisa melihat lagi, ia justru lebih meningkatkan keimanannya kepada Allah. “Nur, semua ini merupakan ujian dari Allah. Alhamdulillah, kita berdua selamat dari kecelakaan itu. Itu tandanya, Allah sayang terhadap kita agar kita dapat memperbanyak amal shalih di dunia ini.” Itulah yang diucapkan Ais ketika aku menangisi keadaannya yang buta.  

Subhanallah! Sungguh baik hati sahabatku ini. Dalam keterpurukannya, ia selalu ber-husnuzhon kepada Allah. Ais pulalah yang telah memotivasiku agar selalu tegar dan bersabar dalam segala keadaan yang menimpaku.

 “Sekarang sudah jam berapa, Nur?” tanya Ais. “Jam 4 pas…,” jawabku. “Sudah waktunya kamu pulang. Abimu pasti  khawatir.” Ais memintaku pulang setelah selesai membacakan arti surah As-Syuara ayat 4. “Biar aku lanjutkan surahnya sampai ayat sepuluh, ya? Abi pasti tahu kalau aku sedang berada di rumahmu,” pintaku. “Tidak apa-apa, Nur. Biar kamu pulang saja. Insya Allah nanti malam aku meminta Umi untuk membacakannya.

Sudah sore, aku takut terjadi apa-apa padamu.” Aku pun pulang ke rumah atas permintaan Ais. Aneh, biasanya ia tidak pernah memintaku pulang cepat, bahkan aku biasa menginap di rumahnya. Entah ada apa, aku hanya berpikir mungkin ia sedang lelah atau mengkhawatirkanku. Dengan memeluk erat AlQuranku, aku berjalan pulang ke rumahku yang hanya beberapa blok dari rumahnya. Menunggu besok sore untuk berjumpa dengannya kembali  dan membacakan Al-Quran untuknya.

Setelah  selesai sholat isya, beberapa menit kemudian aku tidur dan terlelap untuk sejenak hingga umiku membangunkanku. Jam dindingku menunjukkan pukul 9.20. Dalam sayup pandanganku, kulihat umi duduk di sampingku dengan berpakaian rapi. “Ais, Nak… Ais masuk rumah sakit..,” kata Umi lirih. Ya Allah! Apalagi yang kini harus dialami Ais. Segera aku bersiap-siap dan dengan perasaan was-was kami sekeluarga berangkat menuju rumah sakit.

Di depan ruangan tempat Ais dirawat tampak masih sedikit alas kaki dan pintunya dibiarkan terbuka setengah. Bergetar hatiku memasuki ruangan tersebut. Di sana kulihat Ais terbaring lemah, sedangkan pipi orangtuanya basah. Sesekali terdengar isak tangis mereka. “Apa yang terjadi padanya?” tanyaku lirih.

“Sejak kamu pulang dari rumah Bibi, Ais  sudah terlihat mengelus-elus kepalanya. Awalnya dia bilang hanya sakit kepala biasa. Tapi… Tapi, jam 8 tadi dia menangis terisak-isak di kamarnya. Katanya sakit kepalanya bertambah parah. Butuh beberapa menit untuk membujuknya pergi ke rumah sakit.. Ais, anakku…. Ais..,” jelas Umi Ais. Beliau yang tidak sanggup lagi menahan tangis, kemudian meneteskan air mata lagi.

“Apakah ini yang pertama kalinya?” tanya Abiku. “Bukan. Beberapa bulan setelah kecelakaan, Ais mulai mengeluh sakit kepala. Setelah diperiksa ke dokter, ternyata ada semacam pembengkakan di otaknya..,” jawab Abi Ais. “Kami pikir Ais sudah sembuh. Ia telah menjalani pengobatan dari dokter dan selalu rutin minum obat. Sekarang setelah hampir setahun lebih, pembengkakan di otaknya muncul kembali,” sambung Abi Ais.  “Kasihan Ais.. Ia bahkan…tidak haid lagi setelah kecelakaan itu. Sebagian sistem organ dalam tubuhnya mengalami kerusakan parah,” Umi Ais menambahi.

Aku terdiam. Selama ini apa yang kulakukan? Bagaimana bisa aku tidak mengetahui kondisi sahabatku? Kenyataan bahwa ia berhenti haid saja aku tidak mengetahuinya. Dalam benakku aku terus berkata, “Apabila Ais telah sembuh, aku akan berkunjung ke rumahnya setiap hari. Aku akan lebih memperhatikan kondisinya…. Aku akan membacakannya Al-Quran…… Aku akan….melakukan yang terbaik untuk menyenangkannya.” Tapi, Ya Allah!

Lihatlah ia sekarang…. kondisinya kritis… Aku tidak tahan lagi. Setiap  kali melihatnya, mataku berkaca-kaca. Tanpa ragu kuizinkan air mataku menetes hingga membasahi pipiku. Ya Allah, sembuhkanlah Ais… Umi dan Abiku mengajakku pulang ke rumah. Namun aku bersikeras untuk menemaninya di rumah sakit. Aku tidak mampu memejamkan mata. Aku duduk di kursi di dekat kasur Ais, memanjatkan doa untuk sahabatku yang kucintai. Sedangkan orangtua Ais sibuk mengurus biaya administrasi yang membutuhkan waktu cukup lama.

Dalam keheningan rumah sakit, tiba-tiba Ais memanggilku. “Nur… Apa itu suaramu yang mendoakanku?” tanya Ais. “Bagaimana kau tahu, Ais? Aku berdoa dalam hati.” Aku bingung sekaligus senang melihat Ais yang sudah sadar. “Alhamdulillah, Allah memperdengarkan seluruh doamu dalam mimpiku.. Nur, aku senang  kau di sini,” jawab Ais. “Kenapa kau tidak pernah bilang padaku  tentang kondisimu?” tanyaku. “Aku tidak ingin kau sedih. Saat mendengar  bahwa aku buta saja kamu menangis terisakisak…,” jawab Ais lembut.

Berusaha untuk tersenyum. “Demi Allah, Ais.. Aku akan lebih sedih apabila kau tidak memberitahuku.” Aku menangis. “Semua sudah terjadi, ini adalah ujian dari Allah untuk menghapus dosa-dosaku,” kata Ais menghiburku. “Ya Allah… Kau bahkan tidak bisa melihat, dosa apa yang bisa kau perbuat…,” sahutku sedih. Ais pun menangis. Air matanya terus mengalir. “Walaupun aku buta…. walaupun semua pandanganku gelap… tapi.. Allah selalu menerangi hatiku. Dan ayat-ayat Al-Quran yang selalu kau bacakan kepadaku, itu juga membuat hatiku terang…,” kata Ais sambil menangis.

Begitu pula dengan diriku yang hanyut dalam kesedihan. Sempat beberapa detik kami bergelayut dalam duka. Suara  Ais pun tidak terdengar lagi. “Ais… sadarlah…” ujarku membangunkannya dari kalap-kalap matanya. “Aku akan memberikan setengah pahalaku untukmu, Ais… Kau tidak bisa mengaji, menghapal Al-Quran apalagi….” lanjutku.

“Kau tidak akan bisa, Nur. Setiap manusia dihisab berdasarkan amalannya masing-masing. Apa kau lupa, walaupun aku tidak bisa lagi membaca Al-Quran, aku masih bisa sholat dan berpuasa serta mengerjakan amal sholeh lainnya… aku juga sering mendengarkan murrotal Al-Quran di tv, dari situ aku belajar mengingat dan menghapalnya dengan bantuan dari ibuku untuk memperbaiki tajwidnya… kau salah menduga apabila kau pikir aku tidak mampu berbuat apa-apa karena kebutaanku… Istighfar, Nur,” jawab Ais dengan nada yang tegas. “Allah bukan hanya mengujiku dengan cobaan ini.

 Tapi, Allah juga menguji kamu dan keluargaku agar kalian bersabar atas takdirnya yang menimpaku. Supaya kita lebih bertaqwa karena beriman terhadap takdir-Nya. Dan agar kita semua mengambil hikmah atas semua ini…” lanjut Ais.  “Demi Allah, sungguh aku mencintaimu karena Allah, wahai Ais, saudariku….” sahutku atas semua nasehat baiknya kepadaku. “Begitu pula aku, wahai Nur, saudariku….. Semoga Allah mempersatukan kita di surganya  kelak dalam keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang… ingatlah kepada Allah, Robb yang menciptakanmu. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi.

Dan kepada-Nyalah kelak kita semua akan kembali,” jawab Ais.  Nasehatnya begitu menyentuh hati. Kini, tak ada lagi isak tangis di antara kami. Semua kesedihan berubah menjadi kekuatan serta ketegaran terhadap ujian yang menimpa kami semua. Ais pun melanjutkan tidurnya, sama halnya denganku yang mulai mengantuk. Aku mendengar desahan nafas seseorang.

Suara itu membuatku terbangun. “Hanya mimpi,” ucapku dalam hati. Ku lihat jam tanganku, menunjukkan pukul 2.16 pagi. Sudah cukup lama aku tertidur. Dan kulihat orang tua Ais tertidur di lantai beralaskan kasur tipis tanpa selimut. Ais tampak tertidur lelap.

Kemudian datang seorang dokter yang hendak memeriksa Ais. Ia membuka pintu kamar dengan pelan sehingga tidak membangunkan orang tuanya Ais. Sambil memegang beberapa botol obat dan sebuah suntikkan di tangannya.

Dokter wanita tersebut tampak terdiam kaku saat memegang tangan Ais. Aku yang tidak mengetahui apa-apa pun juga ikut terdiam, namun aku enggan membangunkan Umi atau Abinya Ais, takut kalau mereka masih kelelahan mengurusi Ais sejak tadi. Dokterlah yang kemudian membangunkan Umi Ais. Diletakkannya obat dan suntikkan di atas meja. Lalu berusaha membangunkan Umi Ais dengan pelan. Umi Ais terbangun dan menatap dokter.

Dalam hatinya mungkin Umi Ais bertanya-tanya ada apa gerangan? Namun tanpa mendengar pertanyaan itu, naluri sang dokter sudah tahu akan menjawab apa. “Ais telah tiada..” ucap dokter. Aku beranjak dari tempat dudukku. Umi  Ais  membangunkan suaminya dan dengan gesit bangkit dan melihat putri semata wayangnya yang terbaring di kasur. Aku sendiri masih belum percaya. “Dokter bohong!” ucapku menenangkan diri sendiri.

Tapi, setelah…. ku sentuh pipi Ais, terasa dingin. Apakah ini nyata? Baru sebentar aku dan Ais berbincang-bincang, betapa cepatnya ia meninggalkan kami semua….. Malam itu aku tidak dapat berbuat apaapa. Tubuhku lemas dan bergetar, seperti akulah yang ingin meninggal. Aku merasa kesedihan  yang mendalam pada batinku. Kemudian aku teringat suara nafas yang berdesah yang kudengar sewaktu tidur.

Mungkinkah itu nafas terakhir Ais..? Arghh…! aku tak dapat berpikir lebih banyak! 30 Air mataku bercucuran, nafasku terenggal-enggal melepas kepergian Ais. Ternyata pembicaraanku malam tadi adalah yang terakhir kalinya dengan Ais. Pantas saja ia menasehatiku begitu menyentuh hati. Seandainya aku tahu itu kali terakhir kami bisa bertemu di dunia, aku akan memeluknya erat…. semua sudah terlambat… Ais sudah tiada.

Paginya adalah saat Ais dimakamkan. Sebagai seorang perempuan aku tidak diperbolehkan ikut melayat. Aku hanya berdiam diri di rumah, sesekali air mataku menetes mengingat sosok sahabatku itu.  “Semua sudah takdir, Nak.. Ais tidak membutuhkan air mata kita.. Yang dia butuhkan sekarang adalah doa. Maka dari itu, doakanlah ia karena ia sedang ditanya di alam kubur..” Umi mencoba menegurku ketika melihat aku menangis. Umi benar.

Aku harus mendoakan Ais. Mulutku pun tak henti memohonkan ampun untuknya. Semoga Allah mengokohkan jawaban Ais ketika ia ditanyai oleh malaikat. Sehingga ia dapat menjawabnya dengan benar. “Allahummaghfirlaha…… Allahumma tsabbitha…..” Ya Allah, ampunilah ia… Ya Allah, tetapkanlah jawabannya…. Hari itu aku terus teringat nasehat indahnya yang terakhir untukku. Nasehat yang membuat hatiku bergetar setiap saat.

Membuatku tegar dalam menjalani ujian yang akan datang menimpaku setelah kejadian ini. Membuatku ingat, bahwasanya Allah akan mengumpulkan seseorang dengan orang yang dicintainya kelak di surga.

Begitu pula aku yang berharap semoga Allah berkenan mempertemukan aku kembali dengan Ais, serta Dia mengumpulkan kami dengan Rasulullah saw. dan para sahabat yang mulia. Amin. “Ingatlah kepada Allah, Robb yang menciptakanmu. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan kepada-Nyalah kelak kita semua akan kembali.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *