Waktu Akan Membunuhmu!

Meski makna secara bahasa “arti” waktu sama bagi setiap orang berbeda. Karena, setiap orang punya kegiatan masingmasing dalam mengisi dan memanfaatkan waktunya. Ada yang  asyik memadati waktunya dengan  aktivitas having fun. Nongkrong, dugem,  hang out, atau nonton konser musik.

Nggak sedikit juga yang pake waktunya  buat belajar, ngaji, kerja, atau aktif di lembaga sosial. Atau kombinasi  keduanya. Bagaimana dengan para  shahabat? Lets cekidot Sebelum menemui ajalnya, khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq RA. pernah memanggil Umar ibn al-Khaththab RA lalu menyampaikan wasiat kepadanya.

 “Wahai Umar, Allah itu mempunyai hak (diibadahi) pada siang hari yang Dia tidak menerimanya di malam hari. Sebaliknya, Allah Swt juga mempunyai hak (diibadahi) pada malam hari yang Dia tidak mau menerima di siang hari. Ibadah sunnah itu tidak diterima sebelum ibadah wajib itu dilaksanakan.”

Wasiat Abu Bakar tersebut menyadarkan Umar bahwa rotasi waktu itu penuh nilai dan harus dimaknai sedemikian rupa,  sehingga manusia tidak merugi dalam hidupnya. Umar  melihat pesan Abu Bakar tersebut  sebagai isyarat pentingnya manajemen waktu dalam memimpin umat. Menurut Yusuf alQaradhawi, pesan Abu Bakar tersebut  mengandung arti bahwa sebagai calon  khalifah,

Umar harus bisa membagi waktu:  kapan harus menunaikan kewajibannya  kepada Allah SWT, kewajiban kepada  rakyatnya, dan kewajiban kepada  dirinya sendiri. Saking pentingnya waktu, Ibn al-Qayyim al-Jauziyah mengingatkan, menyianyiakan waktu (idha’atul  waqti) itu lebih berbahaya  daripada sebuah kematian,  karena menyia-nyiakan waktu  itu dapat memutus hubungan engkau dengan  Allah dan akhirat. 

Sedangkan kematian  hanya memutusmu dari kehidupan  dunia dan keluarga  saja. Orang yang  menyia-nyiakan  waktu akan  kehilangan  kesempatan  untuk  berinvestasi  bagi kehidupan  akhiratnya. Oleh karena itu, Ibn Mas’ud ra pernah berkata: “Aku tidak menyesali sesuatu selain kepada hari yang mataharinya telah terbenam dan umurku berkurang, tetapi di hari itu amalku tidak bertambah.”

 Kalo kita mau meraih kesuksesan dunia akhirat, sudah pasti kita mesti melek manajemen waktu. Sayangnya, banyak orang terlena dan mengabaikan nilai waktu. Waktu berlalu tanpa makna dan amal shaleh.  Tidak sedikit temen-temen kita yang banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, bermain-main, dan berleha-leha. Just having fun. Dalam memanajemeni waktu,

 Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Siang dan malam itu bekerja untukmu, karena itu beramallah dalam keduanya.” Sebagai manifestasi dari aplikasi manajemen waktu, ketika diamanahi sebagai khalifah, Umar bin al-Khaththab  pernah memberikan nasehat kepada Abu Musa al-Asy’ari: “Pemimpin yang paling bahagia menurut Allah SWT adalah orang yang mampu membuat rakyatnya bahagia. Pemimpin yang paling menderita menurut Allah adalah pemimpin  yang membuat rakyatnya sengsara.  

Hendaklah engkau tidak melakukan penyimpangan,  sehingga engkau dapat menyimpangkan para pekerjamu, tak ubahnya engkau seperti binatang ternak.” Ngurus umat yang segitu banyaknya, nggak mungkin bisa kelar dan berlaku  adil kalo pemimpinnya tak pandai memanajemen waktu yang efisien dan efektif.

Biar waktu tetep bermutu, kata kuncinya adalah disiplin dan penyegeraan penyelesaian  kewajiban, tugas, dan pekerjaan. Jangan ditunga-tunda dan nggak pake lama. Untuk urusan ini, kita bisa meneladani Rasulullah saw yang tidak hanya memerintahkan umatnya untuk bersegera membayar hutang, mengurus janazah, atau berdakwah Dalam hal ini Nabi SAW bersabda: “Tidaklah kedua kaki seorang hamba itu melangkah sebelum ditanya tentang empat hal:  tentang umur, untuk apa  dihabiskan? Tentang (kesehatan) fisik, untuk dipergunakan? Tentang harta, darimana  diperoleh? Dan Untuk apa  dibelanjakan? Dan tentang ilmu, apakah sudah diamalkan?”  (HR. al-Turmudzi dan al-Thabarani).

Driser, yuk kita belajar mengoptimasi  waktu agar bernilai keberkahan dan bikin hidup lebih hidup. Mulailah belajar mengerjakan aktivitas berdasarkan skala prioritas. Pilah kegiatan yang penting mendesak, penting tidak mendesak, tidak penting mendesak, dan tidak penting tidak mendesak. Lalu buat daftar kegiatan yang diutamakan.

Dengan begitu, waktu akan membantumu tunaikan kewajiban meraih keberkahan. Bukan malah membunuhmu dengan kegiatan yang minim manfaat dan cenderung maksiat. Hati-hati! [341

Gubenrnur “kuli”

Pada masa pemerintah Umar bin Khattab, salman al farisi mendaftar diri ikut dalam ekspedisi militer ke peria ia ingin membebaskan bangsanya dari genggaman kelaliman Kisra, Imperium Persia yang mencekik rakyatnya dengan penindasan dan kekejaman. Untuk membangun istana Kisra saja, ribuan rakyat jelata terpaksa dikorbankan, tidak setitik pun rasa iba terselip di hati sang raja. Di bawah pimpinan Panglima Saad bin Abu Waqqash, tentara muslim akhirnya berhasil menduduki Persia, dan menuntun rakyatnya dengan bijaksana menuju kedamaian Islam.

Di Qadisiyah, keberanian dan keperwiraan Salman Al Farisi sungguh mengagumkan sehingga kawan dan lawan menaruh menaruh hormat padanya. Tapi bukan itu yang membuat Salman meneteskan air mata keharuan pada waktu ia menerima kedatangan kurir Khalifah dari Madinah. Ia merasa jasanya belum seberapa besar, namun Khalifah telah dengan teguh hati mengeluarkan keputusan bahwa Salman diangkat menjadi amir di negeri Madain.

Umar secara bijak telah mengangkat seorang amir yang berasal dari suku dan daerah setempat. Oleh sebab itu, ia tidak ingin mengecewakan pimpinan yang memilihnya, lebih-lebih ia tidak ingin dimurkai Allah karena tidak menunaikan kewajibannya secara bertanggung jawab. Maka Salman pun berbaur di tengah masyarakat tanpa menampilkan diri sebagai seorang amir. Sehingga banyak yang tidak tahu bahwa yang sedang keluar masuk pasar, yang duduk-duduk di kedai, bercengkrama dengan para kuli itu adalah sang gubernur. Pada suatu siang yang terik, seorang pedagang dari Syam sedang kerepotan mengurus barang bawaannya. Tiba-tiba ia melihat seorang pria bertubuh kekar dengan pakaian lusuh.

Orang itu segera dipanggilnya; “Hai, kuli, kemari! Bawakan barang ini ke kedai di seberang jalan itu.” Tanpa membantah sedikit pun, dengan patuh pria berpakaian lusuh itu mengangkut bungkusan berat dan besar tersebut ke kedai yang dituju. Saat sedang menyeberang jalan, seseorang mengenali kuli tadi. Ia segera menyapa dengan hormat, “Wahai Amir. Biarlah saya yang mengangkatnya.” Si pedagang terperanjat seraya bertanya pada orang itu, “Siapa dia? Mengapa seorang kuli kau panggil Amir?”. Ia menjawab, “Tidak tahukah Anda, kalau orang itu adalah gubernur kami?”.

 Dengan tubuh lemas seraya membungkuk-bungkuk ia memohon maaf pada ‘kuli upahannya’ yang ternyata adalah Salman Al Farisi. “Ampunilah saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu bahwa Tuan adalah amir negeri Madain.” ucap si pedagang. “Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang mengangkutnya sendiri.” Salman menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi sejak awal, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”

Setelah sekujur badannya penuh dengan keringat, Salman menaruh barang bawaannya di kedai itu, ia lantas berkata, “Kerja ini tidak ada hubungannya dengan jabatanku. Aku sudah berjanji mengangkat barang ini kemari. Maka aku wajib melaksanakannya hingga selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meringankan beban saudaranya?” Pedagang itu hanya menggeleng. Ia tidak mengerti bagaimana seorang berpangkat tinggi bersedia disuruh sebagai kuli. Mengapa tidak ada pengawal atau tandatanda kebesaran yang menunjukkan kalau ia seorang gubernur? Ia barangkali belum tahu, begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin menurut ajaran Islam. Tidak bersombong diri dengan kedudukannya, namun ia dituntut merendah di depan rakyatnya. Karena sejatinya, menjadi pemimpin adalah pelayan. Ya seperti, Salman Al Farisi, Gubernur Zuhud yang menjadi kuli di Pasar.[AgusTrisa]

*Sumber: Kisah Orang-orang Sabar, dengan editing tanpa mengurangi esensi

Omar Muhtar Lion of the Dessert

Lion of the Dessert alias Singa Padang Pasir, itulah julukannya. Sosok ulama asal Libya komandan jempolan saat  angkat senjata Beliau adalah Omar Al- ama, tapi Mokhtar. Seorang tokoh dan figur yang memiliki semangat juang pantang menyerah, intelektual, cerdas dan berdedikasi tinggi pada agamanya. Dilahirkan tahun 1861 di kota kecil di Libya bernama Zawia Janzour.

Nama lengkapnya Omar al-Mokhtar Muhammad Farhat Abri dan Muhammad Mukmin Buhadimeh Abdullah. Beliau lahir dalam keadaan yatim piatu karena ayah dan ibunya meninggal dunia semasa dalam perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Omar kecil mendapat pendidikan awal di desanya sebelum melanjutkan di peringkat menengah di bandar alJaghbub kira-kira 500 kilometer dari ibu negara Libya, Tripoli.

Tahun 1911, kapal-kapal perang Itali berlabuh di pantai Tripoli, Libya. Mereka menginginkan kekhalifahan Turki Ustmaniyah untuk menyerahkan Tripoli kepada Italia. Kalau tidak kota itu akan dihancurkan. Menyadari bahwa tanah ini adalah tanah kaum muslimin dan tidak mau menyerahkan begitu saja pada Italia, bersama rakyat Libya, kekhalifahan menolaknya mentah–mentah permintaan itu. Konsekuensinya, negeri pizza itu mengebom kota Tripoli tiga hari tiga malam. Peristiwa ini menjadi seri perjuangan mujahidin Libya, bersama tentara Turki melawan pasukan Italia. Bagi Italia, nama Omar Al-Mokhtar adalah sejarah kelam. Bagaimana tidak?

Ia memang dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan Italia bagi rakyat Libya. Bayangkan saja, sejak negara yang terkenal dengan Menara Pisa-nya itu bercokol di bumi Libya pada Oktober 1911, tidak sebentarpun Omar Mukhtar diam. Malah ia jadi pionir untuk membakar semangat dan bara perjuangan rakyat Libya.

Pionir karena setelah kemunculannya itulah, muncul mujahid-mujahid Islam Libya lainnya seperti Ramadan As-Swaihli, Mohammad Farhat Az-Zawi, Al-Fadeel Bo-Omar, Solaiman Al-Barouni dan Silima An-Nailiah. Julukan Lion of the Dessert diperoleh Omar al-Mokhtar karena beliau master dalam strategi perang gerilya di padang pasir. Ia memanfaatkan pengetahuannya tentang peta geografi Libya,untuk memenangi pertempuran.

Terlebih pasukan Italia ‘buta’ dengan padang pasir. Beliau benar-benar memanfaatkan keterbatasan itu sebagai area menjadi sebuah titik kemenangan. Karena ia menyadari, ia bergerak dalam ruang lingkup hukum alam atau sunnatullah. “Jangan pernah melawan sunnatullah pada alam, sebab ia pasti akan mengalahkanmu. Tapi gunakanlah sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai tujuan”,kaedah indah yang dipakai imam syahid Hasan Al-Banna. Umar Mukhtar memiliki sekitar 6000 pasukan. Beliau juga membentuk pasukan elit kecil yang mempunyai mobility dan keterampilan perang yang tinggi.

Keistimewaanya, berani tampil menjemput syahid. Peperangan yang berkisar pada tahun 1923– 931, menyebabkan Italia menderita kerugian yang amat sangat. Italia kalah perang di mana-mana. Setelah mendapat laporan dari Libya, Benito Musollini turun tangan. Ia mengirim 400.000 pasukannya ke Libya. Perang menjadi sangat tidak seimbang. Ibarat David versus Goliath.

Pasukan Umar Mukhtar ‘hanya’ 10.000 orang. Sangat wajar 10.000:400.000 mengakibatkan kekalahan mujahidin Libya. Tahun 1931, Umar Mukhtar tertangkap. Di usia tuanya, tiang gantungan menjerat leher Omar Al-Mokhtar. Singa Padang Pasir itu, berpulang ke Rahmatullah, pada 16 September 1931 di Kota Solouq. Usai sudah perjuangannya melawan penjajahan Italia. Ratusan ribu rakyat Libya pun tak kuasa menahan tangisnya. Sedih karena sang teladan telah tiada. Tetapi terharu melihat sang Singa Padang Pasir tersenyum menemui Robb-nya. Mereka semua mempunyai alasan untuk menitikkan air mata kesedihan. Sebagaimana kesedihan yang dirasakan wanita-wanita Madinah ketika mendengar berita kematian Khalid bin Walid di Syam.

Sebab, orang-orang seperti itu memang layak ditangisi. Driser, semoga kita kecipratan semangat juang seorang Omar al-Mokhtar. Yang tak rela negerinya dijajah oleh musuh-musuh Islam. Tak rela hukum Islam dinistakan oleh orang-orang kafir. Dan berupaya melawan para penjajah untuk mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Ayo, kita tanamkan semangat dakwah seperti The Lion of The Dessert dengan mengenal Islam lebih dalam. Yuk! [Ridwan

FATIMAH AZ ZAHRA : PENGHULU WANITA ALAM SEMESTA

fatimah Azahra, Adalah puti Rasul dari istri Saidina Khodijah.  Fatimah adalah putri kesayangannya hingga belaiu  Fbersabda: “Fatimah adalah sebahagian daripadaku. Barang  siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah.” [a-Bukhari, Jilid II, hlm.185]

Fatimah dilahirkan pada 20 Jamadil Akhir  di Mekah yaitu pada Hari Juma’at, tahun kelima selepas kerasulan  Nabi Muhammad S.A.W. Fatima ialah anak yang keempat, adik  dari Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum. Kelahiran Fatimah AH amat menggembirakan Rasulullah SAW.  Beliau bersabda tentang Fatimah: “Dia adalah daripadaku dan aku  mencium bau syurga dari kehadirannya.”[Kasyf al-Qummah, Juzuk  2, hlm.24].

Fatimah as memiliki beberapa sebutan mulia,  disamping banyak nama dan sebutan lain yang disematkan pada  pribadi agung ini. Di antaranya ialah; Fatimah, Zahra,  Muhaddatsah, Mardhiyah, Siddiqah Kubra, Raihanah, Bathul,  Rasyidah, Haura Insiyah (bidadari berbentuk manusia), dan  Thahirah. Allamah al-Majlisi dalam kitab Bihar al-Anwar menukil  sebuah riwayat dari Imam Jakfar Shadiq as, yang menyatakan  bahwa “Ia dinamakan Fatimah, karena tidak terdapat keburukan  dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali as, maka sampai  hari kiamat tidak akan ada seorang pun yang sepadan dengannya  (untuk menjadi pasangannya)”. (Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 10)

Imam Ali as berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw  bersabda, ia dinamakan Fatimah, karena Allah Swt akan  menyingkirkan api neraka darinya dan dari keturunannya. Tentu  keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan  meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku.” (Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 18-19)

Fatimah menjadi saksi di malam Rasululah hijrah, yaitu ketika  Ali menggantikan Rasul di tempat tidurnya untuk mengelabui  orang-orang kafir qurais yang tengah mengepung rumah Rasul.  Saat itu Fatimah tengah menginap di di rumah ayahandanya dan  mengetahui semua kejadian tersebut. Fatimah bertahan pada  malam itu dengan penuh perjuangan, kesabaran, dan keberanian  segala kemungkinan yang akan berlaku kepada mereka.

Dalam peperangan juga Fatimah menjadi saksi terutama ketika  Rasul terluka di dahi dan gigi yaitu saat perang uhud. Setelah  perang berakhir, Fatimah a.s. menemui ayahandanya Rasulullah  S.A.W, dan membersihkan wajah baginda dari luka-luka. Dalam  peperangan ini juga, Fatimah a.s. menyaksikan bapa saudara  ayahnya, Hamzah syahid di medan perang.

Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada  siapa pun. Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah  yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau  senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi  ayahnya itu. Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai  ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh  orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang  membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah  ayahanda tercinta. Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan  menyenangkan hatinya.

Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya  dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih  sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya. Apakah saidina Fatimah di manjakan oleh Rasul karena beliau  adalah putri kesayanganya? Ternyata tidak. Pernah suatu ketika  Fatimah meminta seseorang agar membantu pekerjaan rumah  tangganya. Namun yang di katakan Rasul adalah “Anakku  tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun di antara  mereka yang terlibat dalam pengabdian ‘Ashab-e Suffa. Sudah  semestinya kau dapat menanggung segala hal yang berat di dunia  ini, agar kau mendapat pahalanya di akhirat nanti.” Dan Rasul juga  pernah bersabda bahwa jika fatimah mencuri maka ayahnya yang  akan memotong tanganya. Itulah ketegasan Rasul. Fatimah menikah dengan saidina Ali bin Abi Thalib yang  dianugerahi lima orang anak, tiga putra: Hasan, Husein, dan  Muhsin, dan dua putri: Zainab dan Umi Kalsum.

Hasan lahir pada  tahun ketiga dan Husein pada tahun keempat Hijrah. Muhsin  meninggal dunia waktu masih kecil. Fatimah wafat setelah 8 bulan  Rasulullah wafat tepatnya ada yang mengatakan tempat  pemakamanya tidak di ketahui karena memang Fatimah pernah  berwasiat agar pemakamanya dirahasiakan. Agar tidak banyak  orang yang mengetahui. Itulah kisah seorang putri Rasul yang  menjadi kesayangan Rasulullah dan menjadi saksi hidup  perjalanan Rasul.  Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah  membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah  panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita.

Beliau adalah  pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi  seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang  dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni  Penghulu Wanita Alam Semesta. [Ridwan]