Friday, May 22

Di Bawah Semburat Senja

Bias lembut surya mulai mencuat,  dibalik helaian-helaian daun. Dibalik kokohnya gedung-gedung pencakar  langit. Sejuk udara pagipun perlahan pergi, menjauh meninggalkan hiruk pikuk kota yang sebentar lagi akan dimulai. Akupun tengah bersiap-siap untuk pergi hari ini dengan seragam putih abuabu. Aku berangkat menuntaskan pekerjaanku. Tak lupa segendong tas hitam yang menemaniku kemana-mana. Kau pasti tau aku siapa.

Ya, aku seorang siswa SMA yang tengah merentas pendidikan. Pagi ini Aku telah berdiri tegak di halte bus. kutengok jam yang melingkar di lenganku. Masih pukul 06.15. Orang-orang di sekitarku mulai berdatanganmenenteng barang-barang yang serasa diperlukan untuk misi mereka. Mencari suapan-suapan nasi. Kupandang orang-orang di sebelahku yang turut menunggu angkutan umum. Nampak seorang gadis di pojok selatan dengan warna seragam yang sama. Oh aku tahu! Dia adalah Amira, teman sekelasku yang ikut dalam gerakan dakwah denganku. Gadis yang dirasa paling aneh seisi kelas, kecuali aku. Dia di jauhi banyak anak.

Dia dianggap aneh karena beberapa pandangannya. Salah satunya ialah tentang pergaulan. Ia adalah gadis yang paling menjaga pergaulan antara kaum adam dan hawa. Sebenarnya aku juga iba, tapi mau bagaimana lagi? Aku bukan siapa-siapa. Mahrom saja tidak. Lalu  bagaimana aku menemaninya? Bus yang kami tunggu pun tiba.  

Segera aku menaikinya. Ya Allah! Baru saja aku masuk, semua tempat sudah ramai oleh para penumpangnya. Kucoba menelisik lagi. Ada! Aku menenemukannya dengan seorang nenek yang duduk disana. Aku berjalan menuju tempat duduk itu kemudian duduk manis di samping sang nenek. “Permisi,nek. Saya izin duduk di sini ya?”

Sapaku ramah pada sang Nenek. Sang Nenek hanya tersenyum dan mengangguk ramah. Di dalam bus yg penuh sesak aku melihat Amira berdiri bergelantungan. Di sebelahnya ada Ibu-ibu gendut dan kulihat dia hampir kegencet dengan pedagang asongan kacang rebus. Hingga akupun tak tega melihat pemandangan menyedihkan itu dihadapan mataku. Baiklah Aku mengalah.

 “Amira!” Panggilku dengan volume agak tinggi, yang membuat seisi bus menoleh kepadaku. Amira menoleh. Wajahnya merona malu. “Kemari!” kataku sambil melambaikan tangan ke arahnya dan mempersilahkannya duduk. Ia berjalan ke arahku “Ada apa?” Tanyanya “Duduklah di sini.” Kataku sembari  mempersilahkannya “Syukron” ujarnya pelan.

Aku  mengangguk dan mengalihkan  pandanganku darinya.  Lama-lama penumpang banyak juga. Aku yang berdiri berhimpit-himpitan merasa sesak. Terlihat seorang Ibu-Ibu yang nampak letih tengah berdiri senasib denganku. Tapi aku bisa apa? Duduk pun tidak. Aku tak bisa mempersilahkannya duduk. Supir bus menghentikan kendaraannya.

Para penumpang yang berbeda beda tujuan pun turun. Termasuk aku dan Amira. Ketika aku sampai di depan pintu keluar, tiba-tiba ada seseorang yang mencurigakan. Dia tepat di belakang sang ibu. Kuperhatikan saja ia. Ketika sang ibu mulai turun, tiba-tiba saja orang misterius itu mendorong sang ibu. Untung saja sang ibu tak terjungkal. Sang ibu hanya beristighfar pelan. Setelah aku menjejakan kaki di tempat pemberhentian, kulihat orang misterius tadi berjalan cepat mendahuluiku. Aku memandang heran.

Sampai tersadar jika dia adalah copet ketika sang Ibu berteriak. “Copet! Copet! “ Aku yang mendengarnya segera bergegas ke pos polisi yang memang berada dekat di tempat pemberhetian, tanpa menunggu lama, beberapa polisi mengejarnya. “Bagaimana Ibu?” tanyaku harapharap cemas, sementara Amira yang berada  di samping sang ibu terlihat khawatir. ”Tas saya di robek nak.” Kata sang Ibu sambil memperlihatkan tasnya yang telah dirobek lebar. “Ibu sabar ya..” Ucap Amira menenangkan sang Ibu. Aku mendengus, picik sekali caranya! “Ibu tenang ya, Ibu tunggu dulu di pos polisi” Amira mengantar sang Ibu menuju Pos polisi. Aku masih menunngu, menunggu sang Polisi kembali.. Tak lama polisi-polisi tadi kembali, dengan mangsa barunya.

Sang Copet menatapku tajam, seperti tak terima dan ingin membalas dendam. Kuacuhkan saja dia. “Terimakasih ya nak! Tersangka berhasil tertangkap.” Ujar seorang Polisi “Sama-sama pak” “Namamu siapa?” “Haris pak” “Baiklah, bapak ucapkan  terimakasih sekali lagi. Bapak pamit undur  diri ya nak” “Oh,,, silahkan pak” leganya,  semuanya selesai.

***  

Senja mulai menunjukkan sinarnya, memuncratkan semburatsemburat warna yang menyejukkan mata, kawanan burung membelah langit sore,  sayap kukuhnya seperti memoles awan. Hingga sempurna dengan warna memukaunya. Hari ini penuh kejutan, kejutan yang memukau. Yang membuatku lebih berhati-hati. Aku berjalan pulang dari Sekolah melewati gang-gang perumahan. Sore yang sepi, tapi cukup nyaman. Awalnya Aku merasa biasa saja, sampai 3 orang preman menjebakku di perempatan jalan “Hei bocah! Berhenti kau!” kata seorang dari mereka yang tinggi kekar langsung saja Aku bergidik ngeri. “Ada apa? Apakah Aku melakukan kesalahan?” tanyaku “Halah! Berlagak bodoh pula! Karena kau salah seorang teman kami ditangkap polisi” kata seorang lagi yang kurus tapi ber bisept besar.

 “Oh…jadi karena itu? Lalu kalian menuntutku?” “Pastinya lah! Berlagak tak berdosa pula!” “Cih! Dasar tak tahu malu,  bukankah kalian yang berlagak tak berdosa? Kalian kira itu pekerjaan mulia??” kataku angkuh tanpa takut “Eh bocah ingusan. kau melawan kami???” “Ayo! Maju saja , Aku tak takut!” kataku tanpa takut. Tanpa aba-aba, mereka maju menyerangku. Seorang yang Botak menghantam pipiku, tapi dengan cepat aku melesat menendang punggungnya kuatkuat, hingga ia pun terjungkal.  Maju lagi tanpa jeda, si Bisep menghujamkan belatinya tepat kearah perutku. Langsung saja aku meliuk dan tanpa disadari si Kekar bersiap menerkamku dari belakang. Aku meliuk cepat namun, kakiku terjagal oleh si Kekar.

Hingga lengkap saja, aku tersungkur berdebam.  Aku tak bisa meremehkan, tenaganya bukan main. Aku benar-benar tak sanggup jika harus melayani tiga sekaligus. Dari arah yang tak terduga, si Kekar menghantam keras-keras wajahku yang membuatku harus terhuyung lagi dan konsentrasiku pecah tak sempat melihat aksi cepat. Saat itu pula si Botak melesatkan belatinya pas kearah perutku lagi, hap! Hampir saja, belati itu bersemayam manis di perutku.

Tapi karena kelincahan ku, aku berhasil melesat, tapi memang tak ayal Si Kekar berhasil menggores perutku.  Walaupun itu hanya goresan, tapi cukup membuatku sulit berkonsentrasi. Lagi-lagi aku harus menerima kejutan. Si Kekar berhasil memanfaatkan kelengahanku hingga ia sukses menghatam wajahku keraskeras. Aku yang mulai lemah terhuyung di tanah. Aliran darah segar mengucur dari lubang hidungku,kepalaku pening, pelipisku pecah, dan bibirku robek berdarah. “AARRGHHH!!! Sial” kataku lemah terkulai. Aku sudah tak kuat melayani mereka lagi. Napasku masih memburu. Kutatap mereka nanar, lelah sudah merayap.

Aku tak kuat! Mungkin inilah akhir riwayatku. Jika memang ini akhirnya aku ikhlas. Aku membutuhkan pertolonganmu Tuhan. Dengan sigap si Bisep dan si Kekar mendekatiku, mereka memangangkatku paksa. Aku diam tak membalas, tak ada tenaga, terlalu lelah, terlalu lemah. Saat itu pula, aku menerima, pukulan, tendangan, tamparan, tonjokkan. Semua rasa sakit bercampur, mau mati saja rasanya. Aku sudah tak tahu bagaimana bentuk rupaku.

“Hh..hh….h….hh….hhh….”napasku menderu. Pandanganku perlahan gelap. Tak jelas. “PUAS KAUU????” tanyaku sengit “BUA….HA…..HA…..HA….!!!!!! Aku  belum puas sebelum kau mati di ujung belati ku” “Tikam saja Aku, biarlah Allah yang melaknatmu!!!” ucapku lantang. Sebenarnya tak sampai hati aku mengucapkannya. Ini juga karena pemerintah yang kurang bahkan tidak meri’ayah rakyatnya, sehingga mereka  memilih jalan tak halal ini, mencopet.

Hanya  demi sesuap nasi! “APA??? BERANINYA KAU CAKAP MACAM TU!!!!!” suaranya mengeras, mendengung di telingaku, ia mengacungkan belatinya tepat ke jantung ku. “HEAHHHH!!!!!!! ”

 ***

Mataku membelalak. Napasku memburu. Ternyata itu hanya mimpi. Peluh juga turut membasahi wajahku, mimpi yang mendebarkan.

Tentang kejahatan yang ada di negeri ku, tak habis pikir aku. Benarbenar parah, sampai-sampai orang baik dan buruk tak bisa dibedakan karena mereka  semua juga busuk. Ini semua berkat kelalaian pemerintah yang kurang meriayah para rakyat, sampai-sampai pekerjaan  haram pun jadi pilihan. Aih!  Betapa dzolimnya mereka, para penguasa yang duduk nyaman menjilati kekayaan sementara rakyatnya? Melenguh meronta. Mana keadilan? Yang dulu pernah berdiri tegak dangan lamanya, mana kemuliaan?? Yang dulu pernah berjaya. Aku merindukannya.

Kau tahu? Masih banyak catatan busuk yang berhasil ditorehkan oleh para penguasa negeri ini. Aku juga turut berduka, karena Negeri ini. Surga Asia Tenggara yang dilimpahi rahmat, tetapi rahmat yang berbentuk segala kekayaan alamnya berhasil dibondong ke negeri barat. Menurutku, mungkin sangat cocok, jika salah satu ataupun semua penulis Indonesia, yang pernah menulis negeri di ujung tanduk dan negeri para bedebah, diperuntukkan kepada para penguasa negeriku. Indonesia permai.

END

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *